Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Balabantuan


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Maaf ya baru update,. kemarin full acara.


Happy reading


***


"Eeh hantu, bagaimana aku bisa mikir. Ini fisikku berusaha menahan serangan prajurit Candrabhairawa. Apa kau tidak lihat. Menyesal aku punya partner sepertimu. Cepet berpikir, atau aku akan mati dan kita berdua akan musnah?" kata Dika


"Iya ini juga lagi mikir tau!!" protes Adhiraksa.


Sementara itu Dika hanya bisa melumpuhkan prajurit yang tiada habisnya itu.


hosh hosh hosh


"Adhir!! gue sudah capek. Ini prajurit kapan habisnya sih?" tanya Dika yang sudah tidak sanggup.


Melihat Dika kelelahan, Patih pun tertawa. Dia segera melepas rantai saktinya. Ya seketika itu tubuh Dika terikat.


"Hahahahha...ternyata kau tidak sehebat yang aku kira manusia." ledek Patih.


"Kau curang patih" kata Dika serasa terus memberontak.


"Kau tidak akan bisa melepaskan rantai itu. Karena rantai itu telah diberi mantra." kata Patih.


Dika pun ingin memberontak. Tapi semakin dia memberontak. Ikatannya semakin kuat.


"Adhiiir... kamu tu ya, udah tahu aku di iket gini. Kamu malah tidur. Wooy!!" bentak Dika.


Tapi yang dibentuk tak kunjung nyaut. Entah apa yang dia dilakukan di dalam sana.


"Hahahha... baru terkena ikatan rantai saja kamu sudah lembek. Dasar manusia lemah, Prajuriiit.. Siksa dia, sebelum kita serahkan kepada Maharaja." perintah patih.


Prajurit itu semakin lama semakin mendekat. Tapi jarak sekitar 20 langkah. Mereka terhenti,


"Berhenti!" teriak seorang wanita


Semua prajurit lalu berhenti melangkah.


"Apakah itu Nara? Astungkare... selamat aku." kata Dika.


"Perempuan itu bukan Nara. Tapi dua pasti akan menyiksamu. Kasihan deh loe" kata Adhiraksa.


"Berarti menyiksa kita dong. Kan elo di badan gue." kata Dika.


"Gue kan sukma, gue tidak akan sakit. Tapi fisikmu akan tersiksa, hahaha..." ledek Adhiraksa.


Mereka masih saja saling ledek satu sama lain. Mereka lalu diam tat kala melihat prajurit memberi jalan.


"Bagus ya, kayak yang datang tuan putri saja" ledek Dika.


"Gue memang tuan putri. Lebih tepatnya Rakyan pu Tamer." kata Tamara.


Begitu mendengar namanya dan tahu kalau yang datang Tamara. Dika semakin meledaknya.


"Elo, Tam? nggak takut kulit mulus mu itu terbakar lagi?" tanya Dika


"Eh Dika, elo buta? mulus dari mana nya?" ledek Adhiraksa.


Dika pun lalu mengamati Tamara dari atas sampai bawah. Hingga sesuatu tak terduga oleh Dika.


Plaaaak


Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Dika.

__ADS_1


"Awwww...panas sekali, eh yang meledekmu pangeran tengik ini. Kenapa kau menamparku?" tanya Dika.


Plaaaak


Tamparan mendarat di pipi kanan Dika.


"Hahahahha...keren loe Tam. Kanan dan Kiri pipi Dika loe tampar." ledek Adhiraksa.


"Eh sompret... bukannya melindungi wajah tampanku. Kamu sengaja ingin membuat wajahku jelek?" tanya Dika.


"Emang loe tampan?? dari mana nya??" tanya Adhiraksa.


"Gue tampan ya, bisa disentuh. Sedangkan Elo, berupa sukma. Bahkan gue nggak ngerti wujudmu tampan atau jelek" cibir Dika


Tamara pun lama-lama mendengar ocehan mereka berdua.


"Diaaam!!" bentak Tamara.


"Nggak usah teriak-teriak." kata Adhiraksa


Tamara pun lalu memejamkan matanya.


"Apa yang akan Tamara lakukan?" bisik Dika


"Sesuatu yang tidak menguntungkan" kata Adhiraksa.


Dikadiraksa pun masih memperhatikan, apa yang sedang dilakukan Tamara. Sesuatu terjadi, setiap prajurit kegelapan memegang sebuah tongkat yang di ujungnya terdapat bara api.


"Prajuriiit... Siksa manusia laknat ini!!" perintah Tamara


"Celaka Dir, mereka akan memanggang kita." kata Dika.


"Kan kamu yang sakit, bukan aku, hehehe" ledek Adhiraksa.


"Adhiiir... stop bercanda!! atau aku akan meditasi dan menendangmu dari tubuhku!!" bentak Dika.


Kali ini Dika tidak main-main dengan ancamannya. Tapi pada waktu para prajurit mendekati mereka. Kemarahan, kebencian, serta ketidakadilan membuat kalung Dika bersinar. Ya, mereka melupakan kalung Padma Locana. Kalung itu akan berguna jika yang memakainya merasa terdesak.


Prajurit masih tidak menyadari dengan bersinarnya kalung Dika. Mereka pun lalu perlahan mendekati Dika. Tamara lalu mengangkat tangannya. Dari telapak tangannya mengeluarkan sinar hijau. Saat itu lah tubuh Dikadiraksa terangkat.


"Hari ini kalian akan tersiksa pangeran laknat. Nararia lihat lah, kau akan menanggis. kedua sahabatmu akan mati sia-sia." kata Tamara sambil tertawa.


Kini jarak antara prajurit dengan Dika sangat dekat.


"Sulut tubuh mereka, kita buat mereka mati tersiksa. Jasad mereka harus kita kirim ke Nara dengan keadaan menyedihkan." kata Tamara.


Tiba-tiba keajaiban terjadi, ketika bara api itu hendak menyentuh tubuh Dika. Cahaya kemilauan keluar dari tubuh Dika. Membuat perisai berwarna biru. Seketika itu prajurit kegelapan terpental semua.


"Heh apa yang terjadi?" tanya Patih keheranan.


Belum sempat mereka mendapatkan jawaban. Mereka dikejutkan bahwa Dikadiraksa telah kembali berdiri dan rantai yang mengikatnya terlepas.


"Bagaimana mungkin ini bisa." kata Patih keheranan.


"Seraaang Dikaaa, bunuuuuh diaaa" teriak Tamara dengan lantang.


Prajurit kemudian menyerang Dika. Tapi seketika itu, dari kalung Padma Locana keluar puluhan prajurit. Mereka lalu melindungi Dikadiraksa dan menyerang prajurit kegelapan. Tanpa diberi perintah, prajurit Dika lalu menyerang prajurit kegelapan.


"Prajurit dari mana itu?" tanya Tamara


"Mereka adalah prajurit Padma Locana. Prajurit yang sangat kuat. Satu prajurit kekuatannya setara dengan 100 prajurit kegelapan." kata Patih.


"Tapi prajurit kita sangat kuat. Musnah 1 akan tumbuh 5 prajurit." kata Tamara berbangga diri.


Para prajurit itu lalu saling serang satu sama lain. Patih dan Tamara memperhatikan jalannya perang prajurit. Tapi ada yang aneh, ketika ratusan prajurit kegelapan musnah. Mereka tidak tumbuh lagi.


"Kenapa prajurit kita tidak bangkit?" tanya Tamara keheranan.


"Itu karena prajurit Padma Locana adalah pasukan Mahadewi Kali. Prajurit yang memiliki kekuatan padma suci. Sehingga prajurit kegelapan tidak bisa membelah diri." kata Patih.


"Lalu bagaimana kita mengalahkan prajurit itu?" tanya Tamara.

__ADS_1


"Kita harus membunuh pemilik kalung." kata Patih.


Tamara pun tanpa diaba-aba lalu melesat menuju Dika.


"Putri Tamara jangaaaaan" teriak patih.


Tamara tanpa memperdulikan teriakan patih. Langsung mengeluarkan pedang pusaka nya. Dia lalu menyerang Dika yang masih terkurung dengan cahaya biru. Sama seperti prajurit sebelumnya. Tamara langsung terpental. Patih pun lalu menahan Tamara.


Tamara lalu kembali berdiri dan menyerang lagi. Tapi semua usahanya sia-sia. Tamara kembali mengeluarkan darah segar.


"Putri Tamara, jangan memaksakan diri. Kau baru saja sembuh." kata Patih.


"Patih, kekuatan apa itu, kenapa aku tidak bisa menyentuh Dikadiraksa." kata Tamara.


"Dika terlindungi oleh kekuatan padma. Kekuatan itu sangat dasyat. Bahkan bisa memusnahkan kita semua. Tapi pangeran Dikadiraksa belum bisa menggunakan kekuatannya." kata Patih.


Patih lalu mengajak Tamara untuk kembali ke istana kegelapan. Mereka kembali berdua, karena ribuan prajurit kegelapan telah musnah tanpa sisa.


Prajurit Padma Locana lalu kembali masuk ke kalung Dika. Selanjutnya Dika menghilang.


*


Kerajaan Krendhawahana


"Putri ketika senjata itu dilepas segera lepas Padma Ratni." kata suara itu.


Haiyah senjata macam itu, seingat ku, aku tidak memilikinya.


Satria lalu mengeluarkan senjata Dupa Anglayang. Senjata yang maha dasyat. Kata suara, senjata itu bisa dilawan dengan Padma Ratni.


Melihat pusaka milik Satria, Ratu Premoni pun kaget. Dia langsung menduga bahwa Satria adalah salah satu pangeran dari Kerajaan Mataram.


"Dupa Anglayang, senjata yang sangat sakti. Pusaka milik Kerajaan Mataram." kata Ratu Premoni.


Ratu Premoni kemudian melirik kepadaku. Dia lalu tersenyum.


"Konsentrasi putri (pejamkan matamu) dan panggil padma Ratni." kata suara itu.


Aku pun lalu menuruti permintaan dari suara itu.


"Apa yang akan dilakukan oleh wanita itu. Siapa sebenarnya mereka?" tanya Senopati.


Pada saat aku memanggil pusaka Padma Ratni. Kerajaan Krendhawahana tiba-tiba mengalami gempa yang hebat.


"Apa yang terjadi, kenapa bisa seperti ini" kata Senopati.


Pada saat itu, Senopati Dandaka muncul.


"Pangeran Satria, hentikan... Putri Mahkota bukalah matamu. Istana ini bisa runtuh jika kau mengeluarkan Padma Ratni. Putri buka matamu!!" teriak Senopati Dandaka


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next:


Apakah Nara akan membuka mata?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".

__ADS_1


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"


__ADS_2