Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Mencari Buah Mahkota Dewa


__ADS_3

"Sekarang segera meluncur ke depan Siwa Grha." kata Adhiraksa.


Setelah itu, Dika pun melesat seperti roket. Dika sangat mengagumkan kali ini. Dia berharap agar segera sampai dan mengurung Walaing.


*


Walaing POV


Aku pun sampai di halaman Siwa Grha. Aku lalu memandang Candi Prambanan.


"Candi yang indah, tapi sayang suatu hari nanti akan aku hancurkan. Sebagaimana kau hancurkan silsilah keturunanku. Biadap kau Pikatan, tunggu pembalasanku." umpatku


Aku lalu mencari dimana letak Daun Bilva. Tentu sangat mudah bagiku untuk mencarinya. Tapi aku merasakan akan ada yang datang.


"Aku merasakan akan ada bahaya." kataku


Instingku memang kuat dalam hal mendeteksi orang. Aku pun lalu dengan cepat mengambil daun bilva.


"Aku akan berganti wajah dan menyamar menjadi manusia." pikirku


Aku pun lalu merubah diriku menjadi seorang lelaki muda. Aku lakukan ini untuk mengelabuhi musuh. Sampai aku tahu, siapa yang akan datang. Tak berapa lama, aku melihat seseorang yang melesat sangat cepat.


"Hebat sekali orang itu." gumamku


Aku pun lalu menyiapkan perisai, untuk berjaga-jaga. Dan benar saya, aku melihat pangeran tengik bersama Dika.


"Sungguh pucuk di cinta ulam pun tiba. Sekali tepuk 2 nyamuk akan mati." kataku


Dika pun lalu berdiri dengan sempurna di hadapanku. Aku merasakan hawa kekuatan yang dasyat.


"Aku harus berhati-hati, kemarin saja dia seorang diri bisa melukai kami bertiga. Sekarang aku merasa kekuatannya berkali kali lipat. Aku harus segera pergi dari sini." batinku


Aku pun lalu menyerangnya secara mendadak. Tapi sayangnya seranganku tidak berarti apa-apa untuk mereka.


"Kurang ajar!! Ilmu ala yang dia gunakan. Apakah aku sangat lemah. Aku akan alihkan perhatian dan segera pergi dari sini. Aku harus segera sampai ke dasar neraka." batinku


Dika pun lalu mengusap lengannya. Tindakannya sangat sombong. Pukulan sakti ku sama sekali tidak mempan.


"Walaing apakah sudah cukup bermain-mainnya?" tanya Dika.


"Pangeran kedua, kau beraninya hanya bersembunyi dibalik tubuh si lemah itu. Keluarlah Adhiraksa, ayo kita bernegosiasi. Bukankah dulu kita bekerjasama untuk menggulingkan tahta Pikatan. Apakah kamu tidak ingat bagaimana aku menyelamatkanku?" tanyaku


Aku berusaha mempengaruhi pikiran Adhiraksa. Aku harus terus mengukir bagaimana dulu kami berjuang bersama. Tapi pangeran pengecut itu memilih menyerah dan berbalik memusuhi.


"Walaing sebaiknya kau menyerah saja. Aku tidak akan melukaimu" kataku


"Dika, jangan sombong ... segera lepas wijaya danu. Agar Walaing bisa segera dikurung." usul Dika


"Tapi..." kata Dika tertahan.


"Serang sekarang juga, atau kita akan kewalahan nantinya." kata Dika


Sepertinya Dika masih ragu. Tapi karena desakan Adhiraksa. Dika pun lalu memanggil Wijaya Danu. Melihat Dika memanggil pusaka itu. Walaing pun mundur beberapa langkah. Kini pusaka Wijaya sudah ada di tangan Dika.


"Walaing jangan kabur kau! Jangaj menjadi pengecut " teriak Adhiraksa.


Aku pun lalu ingat, jika aku terluka. Otomatis Retno akan terluka. Terlukanya Retno pasti membuat putri mahkota marah. Mereka pasti akan salah paham. Akan aku gunakan kesempatan ini.


"Lepaskan wijaya danu, Adhiraksa.. Tapi ingatlah, jika aku terluka. Maka Retno Ayu juga akan terluka. Apakah kau senang membuat putri mahkota menangis?" tanyaku


Aku pun melihat jika Dika kembali Ragu. Aku harus memanfaatkan kesempatan ini.


"Dika, jangan ragu segera lepas wijaya danu." kata Adhiraksa.


"Tapi ..." kata Dika terpotong


"Tapi jika kau tidak lepas wijaya danu sekarang. dunia bisa kacau. Sebaiknya korbankan 1 orang untuk menyelamatkan umat manusia." kata Adhiraksa geram.

__ADS_1


Dika pun kemudian ingat dengan janji setia seorang prajurit. Keamanan negara lebih penting dari nyawanya. Dika hanya menganggukan kepala dan tanpa ragu melepaskan Wijaya Danu. Suara deru angin akibat pusaka itu sangat hebat.


"Sial... ternyata ancamanku tidak digubris. Ini pasti karena pengaruh Adhiraksa." umpat ku


Aku pun berusaha mengeluarkan berbagai macam kesaktian. Tapi semuanya sia-sia. Pusaka Wijaya Danu adalah pusaka dewa. Sehingga tidak ada senjata dan kekuatan lain yang mengalahkannya.


Senjata itu semakin dekat, aku lari pun pasti senjata itu akan mengejar. Aku takut karakter senjata itu. Jika sudah dilepas maka harus membunuh sasarannya. Tapi aku tidak mau m7snah oleh senjata sialan itu.


Tiba - tiba...


Duaaar


Aaaaaahkkkkk


Senjata Wijaya Danu melukai seseorang yang menghadang senjata itu. Aku pun lalu menengok ke belakang. Dan ternyata prajurit kiriman raja kegelapan yang dijadikan umpan. Senopati kegelapan membantuku.


"Pangeran, maaf kami terlambat." kata Senopati.


"Tidak, kau datang tepat waktu... terimakaish senopati." kataku


Setelah itu aku pun menatap Dikadiraksa. Mereka berdua terlihat sangat geram dan marah. Bagaimana tidak, coba. Senjata Wijaya Danu hanya bisa dikeluarkan dalam sekali dalam sehari.


"Sial, kenapa senopati keparat kenapa muncul." umpat Adhiraksa.


"Aku akan coba panggil lagi." kata Dika.


"Wijaya Danu hanya bisa dipanggil sekali dalam sehari." kata Adhiraksa.


Aku pun tertawa puas karena melihat Dika dan Adhiraksa berantem. Ternyata aku masih beruntung. Nasib baik memang berpihak kepadaku.


"Pangeran sebaiknya ayo kita pergi. Saya akan antar pangeran ke lembah neraka." kata Senopati.


"Tapi..." kataku terpotong.


Senopati segera menjentikan jari, seketika itu muncul ratusan prajurit kegelapan. Mereka langsung menyerang Dikadiraksa. Senopati kegelapan memang sangat cerdas. Pasukan yang banyak dikerahkan untuk membuat sibuk Dikadiraksa. Setelah mereka berdua sibuk. Senopati pun lalu memegang tanganku dan segera mengantarku ke lembah neraka.


*


Aku, Prasta, dan Satria menuju ke Alas Krendhawahana.


Alas Krendowahono di Desa Krendowahono, Gondangrejo, Karanganyar memiliki keterkaitan dengan ritual yang masih lestari dilakukan oleh keluarga Keraton Kasunanan Surakata Hadiningrat. Di tempat yang saat ini menjadi Desa Krendowahono tersebut, terdapat Punden Krendowahono yang masih rutin dilakukan ritual Sesaji Mahesa Lawung setiap tahunnya.


Tentu saja dengan kekuatan gaib ya. Jadi lebih cepat sampainya. Tak membutuhkan waktu lama lagi. Kami sampai di pinggir alas itu. Ternyata banyak sekali pengunjung yang ada di alas ini. Makhlum saja, alas ini sekarang menjadi tempat' spiritual.


"Selamat pagi, kalian mau apa kemari? maksudnya apa tujuan kalian bertiga ke alas ini?" tanya seorang lelaki berpakaian serba hitam.


Kemungkinan orang itu adalah juru kunci atau pemandu wisata spiritual.


"Biasanya kalau orang - orang kemari. Tujuannya apa pak?" tanya Satria


"Banyak mas, ada ngalap berkah, minta jodoh, rejeki, pangkat, jabatan, penyepian, meningkatkan kesaktian, dll. Tapi alas ini adalah 'Penjaga Keraton Surakarta'" katanya.


Dia bercerita, dulunya tempat tersebut dipercaya merupakan tempat persemayaman Bathari Durga yang merupakan sosok penunggu gaib pelindung sisi utara wilayah keraton. Sehingga, setiap hari tertentu, diadakan upacara persembahan kepala kerbau di Punden Krendowahono.


"Dewi Durga?" tanyaku


Aku pun ingat sosok Ra Nini yang pernah membelenggu Satria dan Prasta. Bagaimana aku bisa berurusan dengan Dewi Durga lagi. Kekuatan sang dewi sangat luar biasa.


"Pak, maaf... apakah pernah diadakan upacara ritual untuk alas ini?" tanyaku


"Ada mbak, namanya Mahesa Lawung. " kata kuncen


"Mahesa Lawung? mengorbankan kepala kerbau?" tanya Prasta


Sesaji Mahesa Lawung sendiri merupakan ritual adat ketika keluarga keraton mempersembahkan kepala kerbau di Punden Krendowahono kepada Bathara Kalayuwati anak Bathara Durga. Kalayuwati dipercaya melindungi sisi utara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Ritual tersebut bertujuan untuk memohon keselamatan dan agar terhindar dari segala mara bahaya.


"Jadi alas ini kekuasaan dari Keraton Surakarta, pak?" tanyaku

__ADS_1


"Benar mbak, oh iya... apa tujuan kalian datang ke sini?" tanya kuncen


Kami bertiga pun saling bertatap silih berganti. Antara mengatakan atau tidak kepada kuncen ini. Tapi jika mengatakan mungkin beliau bisa membantunya.


"Pak, apakah boleh kita duduk di tempat yang agak sepi?" tanya Satria


"Baik, mari ikut saya." kata kuncen.


Kami pun lalu mengikuti kuncen tersebut ke tempat y asng lumayan rindang. Ya di bawah pohon asam yang perdu.


"Jadi, apa tujuan kalian datang kemari anak muda?" tanya kuncen


"Kami mencari buah Mahkota Dewa, pak." kataku


"Apa?? untuk apa?? kalian tahu buah ala itu??" tanya kuncen yang tiba-tiba suaranya meninggi.


Prasta pun lalu menenangkan kuncen itu lagi. Serta menceritakan tentang suatu penyakit yang diderita oleh teman kita. Tentu saja, kita tidak menceritakan yang sebenarnya.


"Jadi kami mendapat petunjuk dari orang pintar. Kalau teman kami bisa sembuh dengan buah Mahkota Dewa yang tumbuh di Alas Krendhawahana." kata Satria.


"Pulanglah kalian bertiga. Kalian akan menantang bahaya jika meneruskan langkah kalian." kata kuncen itu.


"Kami akan kembali setelah mendapatkan buah Mahkota Dewa, pak." kata Prasta.


Kuncen itu pun terlihat sangat marah. Tapi Aku segera melerai dan berusaha memenangkannya.


"Pak, kami akan kembali.." kataku yang lalu dipotong.


"Nara apa-apaan sih" kata Satria.


Aku pun lalu melirik tajam ke arah Satria. Dia pun lalu diam.


"Maaf pak, kalau boleh kami tahu. Sebenarnya buah Mahkota Dewa alas Krendhawahana itu apa?" tanyaku


Kuncen itu terlihat menarik nafas dan membuangnya dengan kasar.


"Buah Mahkota dewa yang tumbuh di sini adalah pusaka dari kerajaan Dewi Premoni, Dewi Durga. Kalian tidak akan mampu dan saya pastikan tidak akan berhasil mendapatkan buah itu. Sebaiknya kalian pergi dan utungkan niat kalian. Dewi Durga sangat sakti, butuh ritual khusus dan upacara besar untuk menyenangkannya. Jadi sebaiknya kalian kembali." kata kuncen itu.


"Lalu teman kami?" tanyaku


"Itu sudah kehendak takdir, bahwa teman kalian harus seperti itu. Sebaiknya mengorbankan 1 orang dari pada nyawa kalian ber 3 yang menjadi taruhannya. Pulanglah kalian bertiga, karena ada yang sedang mengawasi kalian. Berhati - hatilah, oh iya tolong lepaskan selendang yang kamu pakai mbak. Selendang ini sebagai penebus karena kalian sudah masuk ke alas ini" kata kuncen itu.


Kuncen itu segera menyuruh kita pergi dari alas ini.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next :


kira-kira mereka bakalan kembali dengan tangan kosong atau nekat masuk ke Kerajaan Krendhawahana ?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.

__ADS_1


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"


__ADS_2