
*Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, coin juga boleh, dan beri masukan ya.*
Happy reading
.
.
(Data yang akan kami sajikan merupakan data ilmiah berdasarkan prasasti dan pendapat ahli Arkeologi Indonesia).
...
Puspa kemudian mengajakku ke sebuah tempat yang dia sebut bernama "Sthirangga". Aku memang penasaran dengan nama itu. Nama yang cantik tapi apakah tempat itu secantik namanya.
Puspa dan Kencana kemudian memegang lenganku dan kita menuju Sthirangga. Dalam sekejab kami sudah berpindah tempat. Lagi - lagi kami berada di atas bukit. Kami berjalan tanpa menyentuh tanah. Maklum dua sahabatku ini adalah tak kasat mata. Mereka pun juga membuat aku tak terlihat oleh manusia di bawah kami.
"Kita melayang, apakah nanti tidak membuat masyarakat kaget?" tanyaku
"Tenang putri, kami sudah menggunakan ajian halimunan. Jadi mereka tidak akan melihat kita." kata Kencana
Aku melihat aliran sungai yang berkelok bagaikan sungai Gangga. Tapi kali ini Puspa dan Kencana menurunkan aku.
"Putri bersihkan dirimu dulu di Sang Hyang Kelumpang." kata Kencana
"Sang Hyang Kelumpang?" tanyaku
Kencana menjelaskan bahwa kelumpang adalah sebuah batu bertuah yang diisi dengan air suci. Air tersebut telah disiapkan oleh Pandita untuk keluarga kerajaan. Aku kemudian membasuh muka, kaki, dan tangan.
Setelah selesai, mereka mengajakku kembali melayang dan naik ke bukit. Bukit itu sangat indah, karena aku melihat tangga batu dan terdapat payung - payung kerajaan.
"Apakah ini bukit Sthirangga?" tanyaku
"Iya putri inilah bukit Sthirangga." kata Puspa
Tak berapa lama kami sampai di sebuah halaman percandian yang indah. Candi yang di atasnya terdapat pendopo kayu.
"Candi apa itu?" tanyaku
"Ini lah candi tertua yang dibangun oleh leluhurmu." jelas Puspa.
"Tapi sebelum itu, kami akan menceritakan tentang Dapunta Hyang." potong Kencana
Aku semakin bingung dengan penjelasan Kencana. Siapa sebenarnya Dapunta Hyang itu. Kenapa mendengar nama itu hatiku seperti bergetar.
"Bolehkah aku dijelaskan sebenarnya Dapunta Hyang itu?" tanyaku
"Dia adalah yang di per-Tuhan kan sebagai cikal bakal dinasti Mataram." jelas Puspa
Aku tertegun dan kaget mendengar penjelasan Puspa. Jadi Dapunta Hyang adalah pendiri Dinasti Syailendra.
"Apakah beliau Dapunta Syailendra?" tanyaku
Mereka mengangguk secara bersamaan. Aku sangat senang karena bisa tahu tentang asal usulku.
"Kencana Puspa bolehkah aku dijelaskan tentang Dapunta Syailendra?" tanyaku
...
(penjelasan Kencana tentang pendiri Dinasti Syailendra).
__ADS_1
Raja Syailendra adalah seorang raja besar dari Melayu (Sriwijaya). Dia kemudian pindah ke Jawa Dwipa dan membangun dinasti baru. Dinasti tersebut bernama Syailendra Wangsa (Keturunan raja Syailendra).
Dapunta Syailendra merupakan anak dari pasangan raja Santanu dan permaisuri Bhadrawati. Istri beliau bernama Sampula. Dapunta menganut agama Siwa.
Pernikahan dengan Sampula melahirkan sepasang anak yang bernama Sanna dan Sannaha. Setelah Syailendra meninggal, berdirilah kerajaan baru di Jawa. Dia digantikan oleh anak lelakinya yang bernama raja Sanna.
Raja Sanna memerintah dengan sangat adil dan bijaksana. Raja Sanna juga memerintah dengan lemah lembut bagaikan seorang ayah yang mengasuh anaknya sejak kecil. Dia juga penuh dengan kasih sayang. Dia juga sangat termasyur dan terkenal dimana - mana.
Dia juga dapat menaklukan musuh - musuhnya. Dia membuat kerajaan besar yang disokong oleh Raja takhlukannya. Dia sangat panjang umur dan memerintah dengan waktu yang lama. Dia sangat menjunjung tinggi keadilan bagaikan Manu (manusia pertama).
Tapi beliau membujang dan tidak menikah. Akan tetapi saat beliau mangkat, beliau dijemput oleh dewa dan dewi. Dia menikmati amal dan kebaikannya selama di marcapada. Sepeninggalnya beliau, negara mengalami kekacauan dan raja bawahannya memisahkan diri.
Raja Sanna meninggal karena diserang oleh musuhnya dari Jawa Barat. Dia meninggal karena peperangan besar. Raja Sanna digantikan oleh Sanjaya (keponakannya). Raja Sanjaya adalah putra Sannaha (saudara perempuan Sanna).
Dia adalah seorang raja yang gagah berani. Dia juga telah menaklukan raja - raja sekitarnya. Dia bagaikan Raghu (yang dihormati oleh para pujangga). Selain sebagai raja yang gagah perkasa. Dia juga paham dengan sastra dan kitab - kitab Veda.
Sanjaya bagaikan Meru yang menjulang tinggi. Dia juga meletakan kakinya jauh di atas kepala raja - raja yang lain (maha raja diraja). Dia merupakan raja yang mampu melindungi rakyatnya. Rakyat hidup tentram, makmur, dan bahagia. Tidak ada kejahatan atau perampok yang berkembang di bawah kekuasaan Sanjaya.
...
Mendengar penjelasan Puspa yang panjang lebar membuatku puas dan mengerti sedikit tentang asal usul dinasti.
"Apakah kalian tahu siapa nama lengkap Raja Sanjaya?" tanyaku
"Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya." jawab Kencana
"Kenapa beliau bergelar seperti itu?" tanyaku
"Karena Raja Sanjayalah yang membangun kembali kerajaan baru. Setelah Raja Sanna meninggal. Sanjaya membangun kembali puing - puing kerajaannya. Kerajaan baru tersebut bernama Mataram dan beribukota di Medang." kata Kencana
Kencana kemudian mengalihkan perhatian terhadap bangunan lingga yang ada di depan mata kami. Bangunan yang indah, tapi tidak terdapat hiasan atau relief pada dinding candi.
Candi tersebut namanya candi lingga yang berada di bukit sthiranga. Candi tersebut terdiri dari sebuah candi induk dan 3 buah candi perwara. Pada perwara sebelah depan tengah terdapat arca nandi. Sebelah kiri terdapat padmasana.
"Puspa apa nama daerah ini?" tanyaku
"Namanya Kunjarakunja" jawab Kencana
"Lalu dimana ibu kota Medang itu?" tanyaku
"Letaknya di Poh Ptu" kata Puspa
"Lalu dimana Poh Ptu itu?" tanyaku
Agaknya mereka berdua mencoba mengalihkan pembicaraanku agar tidak mencari tahu tentang Poh Ptu.
"Putri apakah kamu tahu apa artinya Kunjarakunja?" tanya Puspa
Aku hanya menggelengkan kepala, karena memang tahu tahu dan belum pernah tahu.
"Apa artinya?" tanyaku
"Artinya hutan gajah Wanua ing alas i saliman. " kata Kencana.
Aku kemudian mengelilingi bangunan suci itu. Langkah ku terus tertuju pada sebuah batu prasasti yang diletakan di halaman candi lingga.
"Candi ini dibangun pada tahun berapa?" tanyaku
"Tahun 732 M." jawab Kencana
__ADS_1
Aku mengambil bunga dan memercikan air yang disiapkan oleh pendeta. Meskipun aku di dekatnya, tapi para Pandita itu tidak dapat melihatku. Hanya satu Pandita yang aku rasa dapat merasakan kehadiranku.
Dia tersenyum padaku dan mempersilahkan aku untuk melakukan ritual pemujaan pada lingga Dewa Siwa.
"Silahkan tuan putri." katanya
Aku kaget karena kami sudah menggunakan ajian Halimunan. Tapi kenapa Pandita itu bisa melihatku.
"Pandita bisa melihat saya?" tanyaku
"Tentu putri, tapi anda tenang saja. Hanya saya yang dapat melihat kehadiran paduka." katanya
Aku kemudian mulai dengan ritual suci. Memuja kepada Sang Hyang Linga dan kemudian mengelilingi nya sebanyak 3 kali. Setelah itu, aku pamit mundur dan kembali pada Puspa dan Kencana.
"Puspa, kenapa Pandita itu dapat melihatku?" tanyaku penasaran
"Tentu putri, karena beliau adalah Rsi Narada." kata Puspa.
Aku kaget karena Pandita yang tadi adalah Rsi Narada. Pantas saja, beliau bisa melihatku, Puspa, dan Kencana. Sang rsi kemudian tersenyum dan berubah wujud kembali menjadi rsi sakti.
Kami bertiga menghaturkan sembah sujud kepadanya.
"Rsi, maafkan kami telah mengajak putri Pramodhawarddhani ke masa lalu." kata Kencana
"Narayan ... Narayan ... Narayan, tidak apa pangeran. Justru dia harus tahu dan mengenal jati dirinya." kata Sang Rsi.
Setelah itu sang rsi menghilang dan kembali ke surga.
...
(Puspa kemudian menceritakan tentang kematian Raja Sanjaya).
Raja Sanjaya turun takhta karena meninggal dunia. Dalam Prasasti Sangkhara, dijelaskan bahwa :
Sanjaya dalam waktu yang lama karena sakit panas. Badannya lemah, lemas, dan kehabisan tenaga. Setelah menderita karena sakit, panas, dan sedih selama delapan hari dan Dia masuk surga.
"Ritual kematian apakah diperabukan?" tanyaku
"Tentu saja, lalu abu nya dilarung di sungai suci." kata Kencana.
Setelah itu aku penasaran dengan siapa pengganti kakekku itu.
"Lalu siapa pengganti Kakekku?" tanyaku
"Kau akan tahu setelah kita mengunjungi Tara Bawana." kata Kencana.
"Tara Bawana?" tanyaku
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya dan maaf telat update. Candi Lingga tersebut kini bernama Candi Gunung Wukir. Candi tersebut terletak di Magelang dan berada di atas bukit.
oh iya, jangan lupa mampir di novel baru ku ya, judulnya : Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku
Bukan cerita romantis, tapi menceritakan tentang perjuangan anak desa yang ingin mencapai cita - citanya dan kisahnya mendapatkan beasiswa bergengsi di Indonesia.
with love
citralekha
__ADS_1