Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Selamat Jalan Pangeran


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik like, vote, rate bintang 5, dan coin juga boleh.***


Happy reading


.


.


Malam ini adalah malam terakhir buat aku melihat senyum Satria. Besok malam dia sudah berangkat ke wana Taas untuk menjalankan perintah dari Dewa Indra. Ada rasa senang dan bangga tatkala Satria diperhatikan oleh dewa. Tapi ada rasa sedih karena harus berpisah dengan dia.


(tok tok tok)


pintu kamarku diketok seseorang. Aku segera membukakan pintu.


"Selamat malam, putri cantikku." sapa Satria


"Selamat malam pangeran ganteng." kata ku


"Ini adalah malam terakhir kebersamaan sebelum aku berangkat ke Wana Taas." katanya


Aku sedih karena dia akan pergi. Tapi aku harus kuat dan tidak boleh menunjukan kesedihanku di depan dia. Tiba - tiba Satria menarik tanganku ke dalam bilik kamar.


"Kenapa?" tanyaku


"Jaga dirimu baik - baik selama aku pergi." katanya


Dia langsung memelukku. Rasa nyaman yang kurasakan. Aku pasti akan merindukan suasana seperti ini.


"Berjanjilah untuk terus menunggu hingga aku kembali dan kita akan segera menikah." kata Satria


"Iya, aku pasti akan menunggu mu. Kakak jaga diri dengan baik. Jangan tergoda oleh rayuan wanita manapun. Jika nanti ada seseorang yang mirip denganku. Jangan mudah percaya, tapi ujilah dia dulu tentang kita." pesanku


Jujur, aku masih trauma dengan kejadian tempo hari. Tak berapa lama pintu kamarku kembali di ketok oleh seseorang.


tok tok tok


Kami kaget, karena kami berada di dalam bilik berdua eh berempat (sama Puspa dan Kencana).


"Haduh gimana ni kak?" tanyaku


"Tenang ... Kakak lewat jendela." katanya


Dia terus mengetuk pintunya dengan semakin keras. Tapi Aku belum mau membukakan pintu sebelum Satria aman. Setelah semuanya aman, aku baru membuka pintu.


"Wida, ada apa?" tanyaku


"Kakak, katanya mau kemah. Ayo aku sudah siap. Oiya kenapa harus pakai kemah segala, kak?" tanya Wida


"Merindukan suasana perkemahan.m" kataku


"Tapi kenapa lemahnya di istana?" tanya Wida


Ternyata Widasari tidak diberitahu oleh Pasopati tentang alasan berkemah di istana. Karena keberangkatan Satria akan dirahasiakan. Kami takut t akan terjadi hal buruk dan akan digagalkan oleh orang yang tidak suka padanya.


Aku kemudian mengambil beberapa perlengkapan. Bantal, selimut, dan aku juga meminta dayang untuk mempersiapkan yang lainnya.


"Putri, kenapa kemah di dalam istana?" tanya salah satu dayang.

__ADS_1


"Iya jika di luar istana pasti akan dilarang oleh ayah dan bunda." jawabku


"Baiklah putri segera kami siapkan." kata dayang


Setelah semuanya siap, aku segera keluar. Ternyata di luar sudah ada Pasopati dan Satria yang sudah siap mendirikan tenda yang ukurannya lebih kecil. Tenda yang hanya muat untuk masing - masing dua orang.


Pada saat melakukan persiapan kemah. Adikku datang menghampiri. Mungkin dia diberitahu oleh prajurit mata - matanya. Aku mulai waspada dengan kehadiran dia.


"Selamat malam kakak dan kakak ipar. Ada ala ini? kenapa kemah di dalam istana?" tanya Balaputra


"Iya kami merindukan suasana kemah. Jadi buat di dalam istana saja." jawabku


"Apakah kalau kemah di hutan beneran, kakak ipar tidak bisa melindungi kakak dengan baik? sehingga takut terjadi sesuatu dan kemah di dalam istana?" tanya Bala


"Aku takut ada yang menyabotase dan memerintahkan pasukan rahasianya untuk mencelakai kami." kataku


Mendengar perkataan dariku. Dia segera minta ozon untuk pergi dan tidak akan menganggu. Tapi sebelum itu, nampaknya Pasopati curiga kenapa Balaputra tiba - tiba sudah ada di dalam Keputren .


"Tunggu pangeran Balaputra. Ala yang membuat anda bisa datang ke Keputren?" tanya Pasopati


"Aku hanya jalan - jalan dan tak sengaja melihat perkemahan di dalam istana, yaudah aku mau lihat saja" katanya


Setelah itu, dia langsung pergi. Mungkin takut ditanya macam - macam lagi oleh kami. Kami kemudian tidak menghiraukan lagi tentang Balaputra. Tapi aku sudah minta tolong kepada Puspa dan Kencana untuk membuat pagar perlindungan.


"Puspa dan Kencana, apa aku bisa merepotkan kalian?" tanyaku


"Apa putri, katakan saja. Kami akan melakukannya dengan sebaik mungkin." kata Puspa


"Tolong berikan pagar ghaib dengan ajian halimunan agar tidak terlihat dari luar sana." kataku


Setelah itu, aku merasakan jika Puspa dan Kencana bersiap untuk memasang pagar ghaib. Jadi sekarang aman, orang di luar Keputren tidak akan melihat aktivitas kami di dalam lokasi perkemahan.


"Jangan ada yang keluar dari sini ya, karena sudah ku pasang pagar ghaib." kataku


"Kenapa harus dikasih aji halimunan?" tanya Pasopati


"untuk keamanan kita." kataku


Mendengar hal itu, Satria nampaknya penasaran dengan ajian halimunan yang aku dapatkan. Dia memastikan sekali lagi jika akulah yang memasang ajian itu. Tapi Pasopati cepat berkilah dan membuat dirinya lah yang melakukan hal itu.


"Tadi aku dengar, kamu mengeluarkan aji halimunan, putri?" tanya Satria


"Putri minta, agar aku lah yang melakukan hal itu. Demi keamanan kita, ayo Ya kita keluarkan ajian halimunan milik kita." ajak Pasopati


"Untuk apa dikabari dengan halimunan?" tanya Satria


"Iya kak, lagian ini kan di dalam istana juga. Kita pasti aman di sini. Tidak akan pernah terjadi sesuatu seperti di hutan kemarin." kata Widasari


"Agar kita aman dari orang luar saja dan biar tidak terganggu oleh yang lain. Aku mau menghabiskan malam ini bersama pangeranku." kataku manja


Akhirnya Widasari juga menyetujuinya. Dia pasti setuju, karena bisa berduaan dengan Pasopati. Setelah semua siap. Kami makan malam bersama. Seperti biasanya kami bercanda dengan penuh kasih pada malam ini.


Aku dan Widasari kemudian menyingkirkan piring yang kami gunakan tadi. Setelah itu kami mencuci tangan dan kembali pada pasangan masing- masing. Kami sepakat bahwa aku dan Satria ada di depan tenda. Sedangkan Pasopati dan Widasari di belakang tenda.


"Udah kalian minggir sana ke belakang tenda." kata Satria


"Kakak ngusir kami?" tanya Widasari tak suka

__ADS_1


"Ganggu orang mau berduaan saja." goda Satria.


"Justru kakak yang ganggu kami, tau. Ayo pangeran kita menyingkir, menyebalkan sekali kakak ipar." KATA Widasari.


Kami hanya tertawa melihat tingkah Widasari yang sangat lucu. Setelah mereka pergi, ini adalah yang sangat mendebarkan buat ku. Meskipun kita sudah sering bersama. Tapi ada perasaan yang lain di malam ini.


Aku manja padanya, maklum saja di masa depan, aku tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah. Jadi aku menganggap jika Satria bisa jadi sosok ayah yang selama ini dirindukan.


Malam dengan bintang indah membuat suasana syahdu malam ini nampak indah. Kami lewati malam ini dengan penuh kehangatan. Aku bahkan tidur dipangkuannya sambil melihat bintang di angkasa.


...


Malam berlalu berganti pagi. Satria telah mempersiapkan beberapa benda yang akan dia pakai. Pasopati mengusulkan agar Satria menyamar selama dalam perjalanan untuk menghindari warok hang mungkin mengincar nyawa Satria. Demikian juga denganku, meskipun Kencana ikut bersama dia


Tapi menyamar adalah hal yang tepat.


...


Sore hari adalah sore yang sebenarnya sangat tidak aku nantikan. Satria dan Pasopati segera menemuiku. Kami ini Pasopati yang berjaga di dalam bilik kamarku.


"Kakak aku minta maaf, tali pesan dari sang rsi Narada. Gelang pemberian Dewa Indra harus ditinggal di istana. Kakak harus bisa mawas diri dengan makhluk ghaib." kataku


"Iya, ambillah sayang. Semoga gelang ini dapat melindungimu selama aku pergi." katanya


Segera aku mengucapkan mantra dan tak butuh waktu lama. Gelang itu berada di telapak tanganku. Setelah itu dia tiba - tiba memelukku dengan sangat erat.


"Jaga dirimu baik - baik dan tunggu aku kembali, ya?" katanya


"Aku akan sangat merindukan kakak. Setelah semuanya berakhir segera kembali ke Istana." kataku


"Aku sekarang tenang, kamu di dalam istana ada yang melindungi secara ghaib dan fisik. Aku percaya bahwa Pasopati akan melaksanakan tugas dengan baik. Dia akan melindungi dan ingat jangan keluar istana selama aku pergi." kata Satria.


Cukup lama, kami berada di dalam bilik kamar. Setelah itu, kami keluar, nampak Pasopati sangat kesal. Dia telah menghabiskan dua kendi air nira.


"Sudah putri dan pangeran. Selamat Jalan Satria semoga kau berhasil dan segera pulang ke istana." kata Pasopati


Mereka kemudian berpelukan dan saling memberikan pesan.


"So, aku minta sekarang tolong jaga prameswariku. Sampai terjadi sesuatu dengan dia, aku tidak akan mengampunimu." pesan Satria


"Tenang saja, dia akan aman bersamaku." kata Pasopati


Setelah semuanya siap. Satria segera keluar istana dengan berpakaian seorang pemburu. Pasopati juga telah menyiapkan jalan yang akan di lalui Satria dengan aman menuju luar istana.


Aku hanya bisa melihat dia pergi dan me jauh dari pandanganku.


**


Episode kali ini cukup ya, terimakasih.


sehari up 3, Selamat HUT PURBAKALA yang ke 107 tahun ya teman - teman. Terimakasih dukungannya, karya ini sudah dikontrak .


jangan lupa like, vote, dan saran ya. Aku rela bangun di tengah malam untuk update, agar nanti pagi dapat dibaca. hehehe


with love


Citralekha

__ADS_1


__ADS_2