Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Geger di Mega Biru


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Happy reading


***


"Hmmm..menarik, tapi sekarang mereka adalah tawananku. Mereka dalam kendaliku. Kita akan uji mereka bertiga. Kita akan mengadu mereka ber tiga. Dengan begitu kita akan tahu kesaktian mereka bertiga." kata Ratu Premoni.


Deg, aku langsung kaget. Bagaimana mungkin aku bisa melukai Prasta dan Satria. Sekali lagi, suara dari pancaroba itu menyakinkanku.


Suara tepukan tangan kemudian membuat Satria dan Prasta bangun. Otomatis aku pun ikut bangun. Aku melihat sorot mata Prasta dan Satria berubah menjadi biru.


"Jadi itu tanda kalau dalam kendali Ratu Premoni." batinku.


"Hei kalian bertiga!!" bentak sang ratu


Kami bertiga pun lalu menoleh ke arah Ratu Premoni. Sungguh cantik tapi sangat menyeramkan.


*


Maaf ya kalau visual Ratu Premoni nggak memuaskan. Soalnya sangat susah mencari padanannya. Aku rasa ini lumayan cocok sebagai penguasa Kerajaan Alas Krendhawahana.



"Hei!! beri hormat kepada sang ratu." teriak senopati


Kami bertiga pun lalu memberikan hormat kepada sang ratu.


"Salam hormat sang ratu" kata kami bertiga.


Sang Ratu pun lalu berjalan menuruni tangga singhasananya. Dia pun lalu berjalan ke arah Satria dan Prasta.


"Mau apa wanita burung itu" batinku


"Hai lelaki tampan, kau sangat cocok untuk menjadi ksatriaku. Namamu siapa cah bagus?" tanya Ratu Premoni.


"Nama saya Prasta, ratu" kata Prasta.


Ternyata Ratu Premoni tertarik dengan Prasta. Geram sekali aku. Tapi aku harus tetap tenang. Prasta dan Satria dalam bahaya. Aku pun hanya menyimak.


"Pangeran Prasta, mau kah kamu menjadi suamiku?" tanya Ratu Premoni


"Baik ratu" kata Prasta.


Prasta pun lalu digiring menuju singgasana ratu. Aku berusaha diam. Meskipun tanganku sangat geram. Ingin sekali memukul wanita itu. Setelah sampai di singhasananya. Sang Ratu meminta Prasta untuk duduk. Keren, seketika itu Prasta berubah menjadi seorang pangeran. Dia menggunakan mahkota, bajunya pun berganti. Sungguh lelaki tampan.


"Hei kau wanita!! berani sekali kau menatap pangeranku!!" bentak ratu Premoni.


Tangannya diangkat kemudian mengeluarkan seberkas cahaya yang langsung menyerangku. Aku pun tersungkur.


"Sial, tunggu pembalasanku" batinku.


"Hey kau lelaki yang di sana, bunuh wanita itu sekarang juga!!" perintah Ratu Premoni kepada Satria.


Seketika itu, Satria lalu berbalik ke arahku. Matanya lalu berubah merah. Sinar mata membunuh.


"Hey kau wanita, kau harus menyerang lelaki itu!!" perintahnya pada ku.


Aku pun lalu bangun dan bersiap menyerang Satria.


"Satria, maafkan aku." batinku


Jelas saja batinku menolak, tapi aku harus memerankan acting ini. Hmmm...andai saja ada seorang sutradara pasti aku akan lolos casting.


Satria pun lalu menyerangku. Otomatis aku juga membalasnya. Kami beneran berperang ini, Satria bener-bener ingin membunuhku. Menyesal aku tidak mengajak Puspa dan Kencana.


"Satria" kataku lirih

__ADS_1


Tapi dia semakin ganas dalam menyerangku. Bener-bener kalau aku terus menghindar. Aku takut Ratu Premoni akan curiga denganku.


"Putri, teruslah menyerang pangeran Satria." kata suara itu.


"Bagaimana bisa aku menyerangnya?" batinku


"Gunakan ajian Padma Ratni. Maka setiap seranganmu. Akan bisa membuat pengaruh sihir Ratu Premoni berkurang." kata suara itu.


Hah?? Padma Ratni??


Ajian macam apa itu, bahkan aku tidak pernah tahu. Kapan aku memiliki ajian itu.


"Suara, ajian Padma Ratni itu ajian macam apa?" tanyaku


Tapi diwaktu aku lengah dan berbicara dengan suara itu. Satria menendangku, sontak aku berteriak. Sakit sekali tendangannya. Sedangkan pada saat aku terhuyung. Aku melihat Ratu Premoni terus mengoda Prasta.


"Huh, kenapa hatiku sakit banget melihat Prasta seperti itu." batinku


"Bunuh wanita itu Satria!!" teriak Ratu Premoni


Satria pun lalu mengeluarkan senjata Naga Padni. Sebuah senjata berupa panah berhias ular cobra.


"Putri ketika senjata itu dilepas segera lepas Padma Ratni." kata suara itu.


Haiyah senjata macam itu, seingat ku aku tidak memilikinya.


*


Mega Biru


Adhiraksa masih bersama Dika. Merek berusaha mengejar Walaing. Tapi ketika sampai di Mega Biru, Perjalanan mereka terhenti. Ya, tahu kan? kalau patih dari Kerajaan Kegelapan datang dengan ribuan prajurit.


"Hey manusia laknat!! Kau telah berani memusnahkan Senopati Kegelapan!! Terima kau akibatnya!!" seru Patih


Dika sebenarnya nyalinya sudah agak ciut. Bagaimana tidak coba, 1 orang eh 2 orang akan melawan ribuan prajurit. Apalagi ini adalah prajurit kegelapan. Prajurit yang tidak mudah musnah.


"Loe takut ya? kok gemetar?" ledek Adhiraksa.


"Siapa yang takut, gue kan Pasukan Khusus." kata Dika.


"Heh!! Kurang ajar kalian!! Apa kalian tidak takut dengan kami??" tanya patih.


"Kami takut banget, patih... takuuuut.. tolong ampuni kami." kata Adhiraksa dengan nada ejekan.


"Setan ciliiik!! berani kau dengan patih?" tanya patih dengan penuh amarah.


Mendengar perkataan patih. Dikadiraksa pun tertawa.


"Apa yang kalian tertawakan?" tanya patih


"Kalian tadi menyebut kami adalah setan cilik. Hey bro yang setan itu siapa? kan kalian yang setan bukan kami." kata Adhiraksa sambil tertawa.


Mendengar ledakan dari mereka berdua. Patih pun langsung naik pitam.


"Kepuuuung mereka!! habisi dan tangkap dia!! kita buat mereka memohon ampun untuk dibunuh!!" teriak patih.


Seketika itu, para prajurit ingin langsung mengepung Dikadiraksa.


"Eiiitss... jika kalian seorang ksatria dan bukan setan. Maka majulah 10 10. Itu baru adil dan bertarung secara jantan." kata Adhiraksa.


Patih pun lalu menuruti perkataan Dikadiraksa. Sungguh sangat konyol. Seorang patih agung mau saja diakali oleh Adhiraksa. Memang pangeran tengik yang sangat cerdik.


"Hahahaha... apa kau takut manusia?? baiklah jumlah kita ada ribuan. Sedangkan kau hanya berdua. Kita akan kabulkan permintaan terakhir kalian. Prajurit maju 10 10. Kita buat mereka kehabisan tenaga." kata Patih.


"Adhiiir!! tenaga kita akan habis nanti." protes Dika.


"Apa kau punya ide lain hah? Apa kau ingin segera mati jika mereka mengepung kita. Mainmu kurang jauh bung." ledek Adhiraksa.


"Hei... kenapa kalian masih diskusi? Apakah kalian mau mengulur waktu untuk kematianmu?" ledek seorang prajurit, disertai tawa seluruh prajurit.


Dikadiraksa pun lalu mengeluarkan Cambuk sakti. Namanya adalah camara buana. Cambuk pemberian dari Dewa Nandi. Tentu saja Dika bisa menggunakannya. Kan dia sudah bersatu dengan Adhiraksa.


10 pertama, kedua, ketiga, sampai ke seratus kali. Baru 50 prajurit yang musnah. Melihat hal tersebut, Dika pun sangat heran. Kenapa cambuk sakti nya hanya mampu memukul setengah.

__ADS_1


"Kenapa ini bisa terjadi? Bukankah ini cambuk sakti?" tanya Dika.


"Kamu gunakan dengan sungguh-sungguh dong. Jangan main-main dan anggap sepele musuh. Jadinya kan kamu sombong. Senjata itu akan lemah jika pemakainya mempunyai sifat sombong." kata Adhiraksa.


Melihat bahwa musuhnya kewalahan, patih pun meledek mereka.


"Hahahahha... cuma segitu kemampuan mu pangeran kedua. Kau baru mengalahkan 50 prajuritku. Padahal dibelakangku masih ada ribuan prajurit lagi. Kau melukai seorang prajurit. Maka pasukanku akan tambah menjadi 5 orang lagi. Jadi jika kau memusnahkan 50 prajuritku. Maka bertambah 250 prajurit dibelakangku." kata Patih disertai tawa ribuan prajurit.


Mendengar penuturan patih. Adhiraksa pun ingat. Bahwa prajurit kegelapan adalah pemilik ajian Candrabhairawa.


"Ajian Candrabhairawa." kata Adhiraksa.


"Ya benar sekali, mereka adalah prajurit Candrabhairawa. Musnah satu tumbuh 5." seru Patih dengan nada sombong.


"Dika, kau jangan memusnahkan mereka. Tapi cukup lukai saja." kata Adhiraksa.


"Apakah tidak ada kekuatan yang mampu mengalahkannya?" tanya Dika yang sudah mulai nggos-nggosan


Adhiraksa pun berpikir sejenak. Tapi fisik Dika terus menyerang prajurit kegelapan.


"Hanya ajian Cakrabuana saja yang bisa mengalahkannya." kata Adhiraksa.


"Cepat keluarkan ajian itu." perintah Dika.


"Masalahnya, ajian itu yang punya adalah Putri Sanjiwani." kata Adhiraksa.


Dika pun semakin geram dengan penuturan Adhiraksa. Bagaimana disaat genting seperti ini dia memberikan solusi yang sulit.


"Kalau gitu, coba panggil Nara." perintah Dika.


Adhiraksa pun mencoba memanggilku. Tapi karena berhubung aku ada di Kerajaan Krendhawahana. Jadi telepati Adhiraksa tidak bisa sampai.


"Dika, sepertinya Nara diluar jangkauan. Aku tidak bisa menghubunginya." kata Adhiraksa.


Dika pun tertawa dengan perkataan Adhiraksa.


"Hahaha...diluar jangkauan? kau pikir jaringan seluler." ledek Dika.


Hmmm..disaat sedang perang saja mereka berdua bisa saling meledek. Astaga ... Dasar lelaki konyol.


"Lalu ini gimana, Adhir. Katamu kau seorang pangeran. Emang kamu nggak punya prajurit yang bisa dipanggil gitu?" kata Dika nyeletuk.


Adhiraksa pun lalu terdiam.


"Tapi yang bisa memanggil prajurit itu adalah pemegang ajian Cakrabuana." kata Adhiraksa.


"Astaga!! kamu jadi pangeran kok nggak berguna sih. Menghubungi Nara nggak bisa, memanggil prajurit nggak bisa. Adhiraksa bener-bener deh, nggak bakalan aku biarkan kau mendekati Nara." ledek Dika.


"Eh Dika kampret lu,.. bukannya bantuin mikir. Malah ngeselin banget." umpat Adhiraksa.


"Eeh hantu, bagaimana aku bisa mikir. Ini fisikku berusaha menahan serangan prajurit Candrabhairawa. Apa kau tidak lihat. Menyesal aku punya partner sepertimu. Cepet berpikir, atau aku akan mati dan kita berdua akan musnah?" kata Dika


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next:


Bagaimana kah nasib Nara dan Dikadiraksa selanjutnya? Apa hang harus mereka lakukan?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".

__ADS_1


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"


__ADS_2