Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Jalan - jalan ke Abad 9 Part 1


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa like, comment, dan vote ya*


Happy reading*


.


Aku masih berada di atas kereta kencana. Aku jadi malu ketika berfikir jika Satria akan menciumku. Dia menyuruhku untuk melihat apa yang terjadi padaku.


"Wo ... ini luar biasa. Bagaimana mungkin!" kataku sambil terus melihat apa yang sedang ku gunakan.


"Apa ini mimpi?" tanyaku penuh penasaran.


"Tidak Nararia. Ini kamu di masa lalu. Kamu adalah seorang ratu." kata Satria


Aku berubah mengenakan kemben dan kain wastra. Aku juga menggunakan asesoris kerajaan yang lengkap. Mahkota, gelang tangan, gelang kaki, cincin, kalung, ikatan bahu. Aku kemudian ingat dengan temuan emas dari Wonoboyo. Aku ingat ini seperti emas yang ada di museum tadi.


"Kak Satria, perhiasan ini aku pernah lihat di Museum Prambanan." kataku.


"Iya, kamu kemarin ingin menggunakan perhiasan itu kan?" tanyanya


Aku kemudian tertunduk malu. Aku juga melihat Kak Satria mengenakan perhiasan dada yang lengkap. Ia juga menggunakan mahkota lapis emas dan ada batu permatanya. Ia seperti seorang raja bak di negeri dongen.


"Kenapa kamu memandangiku?" tanya Satria.


Aku kemudian menggelengkan kepala dan tersenyum sambil meliriknya.


"Apa aku tampan?" tanyanya lagi.


"Iya Kak, sangat tampan. Kakak seperti seorang pangeran." kataku.


"Kamu juga cantik, kamu lah perhiasan Wangsa Syailendra." katanya memujiku.


"Maksud kakak apa?" tanyaku yang penasaran dengan omongannya.


Satria kemudian menjelaskan tentang Keluarga Wangsa Syailendra. Dia juga memberitahu bahwa aku adalah salah satu putri raja yang pernah memerintah di Mataram.


"Lalu kenapa Aku lahir kembali, Kak?" tanyaku.


"Kita harus mengembalikan aura dan kejayaan Mataram lagi." katanya.


"Maksud Kakak?" tanyaku.


Satria juga menjelaskan kenapa Aku lahir kembali di Abad 21. Permintaan kakekku, serta hancurnya kerajaan Mataram.


"Kakak coba lihat itu. Itu rusa dan merak kan?" tanyaku sambil menunjukan segerombolan rusa yang sedang merumput.

__ADS_1


"Coba lihat merak itu?" tunjuk Satria ke arah merak yang sedang menggerakan tubuhnya kemudian ekor belakang mekar.


"Cantik banget, Kak." kataku


Satria kemudian menjelaskan kepadaku. Merak seperti itu karena ingin menarik pasangannya.


"Kakak, merak juga kendaraan Dewa Kartikeya, lho." kataku


"Benarkah? berarti merak raksasa ya? " tanyanya.


"Enggak, Kartikeya dikutuk oleh Dewa Siwa untuk menjadi anak kecil selamanya." kataku


Dia kemudian tersenyum dan menyuruh sais kereta menuju ke rumah gerabah.


"Ini apa kak?" tanyaku


"Ini adalah rumah pembuatan wadah dari tanah liat untuk upacara dan keperluan perdagangan." katanya


Aku kemudian meminta Satria untuk membawaku ke pasar. Aku ingin melihat potret pasar pada masa lalu.


"Kak, bisakah kita ke pasar?" kataku


Sais kemudian membelokan arah keretanya menuju pasar. Kanan kiri jalan menuju pasar terlihat banyak sawah dengan berbagai jenis tanaman. Masyarakat yang melihat kami segera berhenti bekerja dan menghampiri kami sambil jalan jongkok dan menghaturkan sembah.


"Kenapa mereka seperti itu, kak?" tanyaku heran.


"Eh itu apa kak?" tunjuku


"Itu adalah taman kesucian bunga." katanya


"Apa itu?" tanyaku


"Di sana adalah taman bunga yang kita anggap suci dan layak dipersembahkan kepada dewa." katanya.


Aku kemudian meminta sais kereta untuk berhenti sejenak ke kebun bunga. Aku penasaran, bunga apa saja yang disucikan oleh masyarakat Mataram.


"Rakyan peganglah tanganku." katanya


Aku kemudian menuruni kereta dan dibantu oleh Kak Satria. Dia menggendongku dan menurunkanku pelan.


"Ayo masuk." ajaknya


Aku kemudian masuk dan seperti biasanya semua orang berjongkok.


"Sama seperti adegan Kethoprak dan Wayang Orang." kataku.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Satria.


Aku kemudian menjelaskan kepada Kak Satria bahwa kejadian ini sama seperti pertunjukan budaya. Bahkan pakaian yang aku gunakan juga mirip dengan kostum wayang orang.


"Di kerajaanku juga ada pertunjukan seperti itu kok. Kalau kamu ingin melihatnya aku akan menggundang seniman kerajaan." katanya


"Boleh Kak." kataku


Aku dan dia langsung masuk ke kebun bunga kesucian. Ada banyak bunga berwarna - warni yang sedang mekar. Tak berapa lama, kami didatangi oleh seorang pendeta yang diikuti oleh murid dan dayang.


"Selamat datang paduka Rakai dan Rakyan." katanya


Aku kemudian tersenyum serta menghaturkan salam kepadanya. Aku dan Satria berjalan melihat - lihat bunga. Ada beberapa bunga yang aku kenal. Bunganya meliputi teratai, mawar, melati, kantil, kenangga, pohon cendana, pandan wangi. Ada beberapa bunga yang tidak aku kenal.


"Kak, ini bunga apa?" tanyaku


"Ini adalah bunga widasari". katanya


"Paduka ini adalah bunga bidadari yang dapat digunakan untuk merawat kecantikan putri." kata seorang dayang.


"Kalau ini?" tanyaku yang sedang menunjuk pada sebuah bunga berwarna hijau dan batangnya seperti anggrek.


"Ini bunga widara." kata Satria


"Bunga ini bisa digunakan sebagai obat. Bunga ini adalah kesukaan Dewa Siwa." kata seorang pendeta.


Aku kemudian berjalan menuju sebuah deret tanaman yang kukenal sebagai ilalang.


"Ini untuk apa?" tanyaku


"Ini untuk membuat kawittha". kata dayang.


"Apa itu kawittha?" tanyaku


Aku melihat asisten pendeta mengambil contoh barang jadi yang siyap digunakan.


"Oh untuk Sirawista." kataku


"ini nanti dipakai di kepala. Orang yang menggunakan ini dipercaya akan terhindar dari ilmu hitam dan memberikan perlindungan, serta kemakmuran." kata Satria.


Kami puas dengan mengunjungi taman bunga kesucian. Selanjutnya adalah pasar tradisional. Dalam benakku akan menemukan barang - barang menarik untuk oleh - oleh Dika dan Ivan. Aku kemudian mengingat bahwa aku memiliki cukup banyak uang untuk membeli oleh - oleh.


*


Episode kali ini cukup ya teman - teman. Terimaaksih sudah berkenan mampir.

__ADS_1


With Lova


Citralekha


__ADS_2