
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Happy reading
***
"Itu sudah kehendak takdir, bahwa teman kalian harus seperti itu. Sebaiknya mengorbankan 1 orang dari pada nyawa kalian ber 3 yang menjadi taruhannya. Pulanglah kalian bertiga, karena ada yang sedang mengawasi kalian. Berhati - hatilah, oh iya tolong lepaskan selendang yang kamu pakai mbak. Selendang ini sebagai penebus karena kalian sudah masuk ke alas ini" kata kuncen itu.
Kuncen itu segera menyuruh kita pergi dari alas ini.
"Apakah kita akan kembali dengan tangan kosong?" tanyaku
"Tentu saja tidak" kata Satria dengan tawa nakal nya.
"Kalau begitu ayo kita masuk ke Kerajaan Krendowahono." ajak Prasta.
"Sepertinya nggak perlu deh. Kita akan dijemput kok." kataku
Benar saja, tak berapa lama ada sekitar 6 prajurit laki-laki. Prajurit itu lengkap dengan menggunakan senjata khas kerajaan.
"Hey anak manusia, mau apa kau datang ke sini?" tanya salah satu prajurit.
Dari pakaian dan perhiasannya, prajurit itu pasti seorang pembesar kerajaan Krendhawahana.
"Maaf tuan, apakah kami boleh dipertemukan dengan Ratu Kerajaan Krendhawahana?" tanyaku dengan lembut.
Aku berpikir jika kita bertemu dan bernegosiasi dengan baik. Semuanya akan lancar, semuanya harus di coba kan.
"Untuk apa bertemu dengan Ratu. Kalian tidak pantas ketemu Ratu. Pada awalnya kami akan membiarkan kalian pergi. Tapi sekarang tidak. Kalian harus dihukum." kata kepala prajurit.
"Hukuman? tunggu, apa salah kami?" tanya Prasta.
"Kalian berniat akan mengambil buah Mahkota Dewa dari sini. Berpikir saja tidak boleh. Apalagi sampai punya rencana untuk mencurinya." kata kepala prajurit.
Kami pun lalu menjelaskan tentang maksud dan tujuannya. Tapi kepala prajurit itu tidak menggubris. Malah mereka membawa kita ke dunia nya.
"Sekarang kalian tidak akan bisa kabur sebelum mempertanggungjawabkan niat kalian." kata kepala prajurit.
"Jangan salahkan kami kalau kami melawanmu." kata Prasta.
"Besar sekali nyali mu, anak manusia. Kalian akan ditemukan tinggal nama saja, hahaha" teriak kepala prajurit.
"Putri, tetap lah diam di situ. Biar Aku dan Satria yang melawannya." kata Prasta.
Aku pun lalu mengamati jalannya pertarungan mereka. Aku harus selalu waspada takutnya jika ada yang berbuat curang. Aku hapal dengan karakter prajurit Ra Nini.
Prasta pun lalu melawan kepala prajurit. Sedangkan Satria melawan para prajuritnya. Saling serang dan tendang. Prajurit pun menggunakan pedang dan perisai. Satria lalu melayang dan berdiri di atas lingkaran pedang prajurit. Sungguh gerakan yang indah. Bagaikan elang yang siyap memangsa ular.
"Hiyaaaa" teriak Satria.
Dalam sekali tendang, semua pedang prajurit jatuh. Satria pun lalu mengeluarkan ajiannya untuk memukul mundur para prajurit.
Sedangkan Prasta terus diserang oleh kepala prajurit.
__ADS_1
"Ternyata kau seorang ksatria juga. Katakan siapa kalian?" tanya kepala prajurit.
"Aku bukanlah siapa-siapa tapi aku akan melawan jika kau menyerang kami." kata Prasta.
Kepala prajurit pun mengeluarkan pedang sakti yang bergerigi. Sedangkan Prasta juga mengeluarkan pedang. Pusaka yang digunakan Prasta ialah Bajra Murti. Pusaka dari Dewa Indra yang sangat dasyat. Melihat senjata Prasta, kepala prajurit pun terkejut. Dia tidak menyangka jika anak manusia ini bukanlah sembarang manusia.
"Senjata Bajra Murti, siapa sebenarnya dia?" tanya kepala.
Tapi kepala prajurit tak gentar. Dia pun mengusap pedang bergerigi. Pedang itu lalu bersinar dan dihunuskannya ke arah Prasta. Tentu saja, Prasta bukanlah tandingan kepala prajurit. Dalam sekejap senjata Bajra mematahkan senjata lawan. Kesempatan tak disia-siakan.
Prasta langsung melesat dan meninju kepala prajurit dengan pukulan Agni Maya. Pukulan yang sangat dasyat. Sekali pukul, kepala prajurit langsung memuntahkan darah. Tubuhnya bergetar hebat serta ambruk seketika.
Prasta lalu menghampiri kepala prajurit. Dia hendak menghunuskan Braja Murti.
"Ampun pangeran, saya mengaku kalah. Mohon pangeran memperkenalkan diri. Nama saya adalah Loh Pitu. Saya seorang senopati dari Kerajaan Krendhawahana." kata Loh Pitu.
"Sudah aku bilang, aku adalah seorang anak manusia." kata Prasta.
"Mohon ampun pangeran, tapi pusaka yang anda keluarkan bukanlah pusaka sembarang. Itu adalah pusaka Dewa Indra. Hanya manusia pilih tanding saja yang bisa mendapatkan pusaka itu. Selain itu, pusaka itu adalah pusaka milik Kerajaan Medang" kata Senopati Loh Pitu.
Prasta pun hanya tersenyum dan kemudian menyimpan kembali pusakanya. Dia lalu membantu senopati berdiri.
"Terimakasih pangeran, saya masih penasaran dengan paduka bertiga." kata Senopati Loh Pitu.
Satria lalu mendekati Prasta. Tapi reflek ada sebuah rantai perak yang langsung mengikat Prasta dan Satria. Senopati itu pun lalu tersenyum licik.
"Tidak semudah itu, kau mengalahkan Senopati Kerajaan Krendhawahana." kata Senopati.
"Senopati!! Kurang ajaaar!! kalian bangsa Denawa ternyata sangat licik." gertak Satria.
Aku masih dalam diam dan memperhatikan mereka. Sebuah panah rantai pun lalu mengarah kepadaku.
"Putriii!! awas panah rantai." teriak Prasta.
"Ternyata wanita itu juga seorang ksatria." kata Senopati Loh Pitu.
Senopati itu lalu mengeluarkan ajian tapak seribu. Sebuah ajian berupa tamparan tangan seribu. Aku lalu memejamkan mata dan perisai Pancaroba langsung melindungiku. Ajian itu seketika rontok dan membuat si empunya merasakan panas yang luar biasa.
"Kurang ajar wanita itu, ternyata berilmu tinggi." kata Senopati.
"Heh Senopati, kau tidak akan bisa melukai putri mahkota." ledek Satria.
"Putri Mahkota??" tanya Senopati.
Ketika Senopati lengah, aku lalu mengangkat telapak tanganku. Dari telapak ku keluar sebuah jerat. Jerat tali emas, jerat itu adalah jerat sukma. Tentu saja aku bisa mengeluarkan banyak kesaktian.
"Uuuukkkkh, sial jerat ini sangat kuat" umpat Senopati
"Senopati, semakin kau bergerak. Maka jerat itu akan semakin kuat." kataku
Aku lalu bergerak dan mendekati Prasta Satria. Aku pun segera mengeluarkan Panah Pancaroba. Serta memotong rantai yang mengikat mereka. Sekali gores, rantai itu langsung lepas.
"Terimakasih putri mahkota." kata Prasta.
Aku pun hanya tersenyum lalu mendekat ke arah Senopati.
"Apakah kau masih mempunyai pikiran licik dan curang?" tanyaku
"Ti...tidak Putri, ampuni hamba." kata Senopati.
__ADS_1
"Sekarang bawa kami ke Kerajaan Krendhawahana. Pertemukan kami dengan sang ratu." kataku
Senopati lalu menyetujui permintaanku. Serta membawa kami ke istananya.
*
Ivan terlihat sangat gelisah. Soalnya dia tidak menemukan Dika di kamarnya. Dia pun lalu memanggil Senopati Dandaka. Tak berapa lama yang dipanggil segera muncul.
"Ada apa pangeran Ivan?" tanya Senopati.
"Senopati, apakah kau tahu dimana Dika berada? Aku sudah mencarinya di seluruh asrama ini tapi tidak ketemu. Aku khawatir dengannya." kata Ivan.
Senopati pun lalu diam dan memejamkan mata.
"Pangeran Dikadiraksa sedang mengejar pangeran Walaing menuju dasar neraka." kata Senopati
"Dasar neraka??" tanya Ivan kaget.
"Ya, mereka sedang berusaha menggagalkan tapa dari pangeran Walaing. Jika pangeran Walaing bisa masuk ke dasar neraka. Maka kekuatan kegelapan akan bersatu dengannya. Kita akan sulit mengalahkannya." kata Senopati.
Ivan pun lalu marah-marah karena merasa dirinya tidak diajak.
"Tenanglah pangeran, itu sudah menjadi tugas pangeran Dikadiraksa. Sebaik nya kamu meningkatkan kekuatanmu. Sehingga saat perang nanti, kamu lebih siap." saran Senopati.
"Baiklah kalau begitu, aku akan bermeditasi dan meningkatkan kekuatanku. Senopati, mau kah kamu membantuku?" tanya Ivan.
"Tidak pangeran, saya minta maaf. Saya harus segera ke Kerajaan Krendhawahana." kata Senopati.
Ivan pun lalu bertanya tentang kerajaan itu. Serta ingin tahu kenapa Senopati harus ke Kerajaan itu. Sementara tugas utama Senopati adalah menjaga dirinya.
"Ivan, kali ini kau bisa jaga diri. Aku lihat tidak ada pergerakan musuh. Karena Tamara dan Aura masih terluka. Selain itu, kamu sudah memiliki kesaktian. Sehingga, aku harus pergi sebentar. Ini menyangkut putri Nararia." kata Senopati.
"Ada apa dengan Nara??" tanya Ivan
"Nanti saya jelaskan setelah tahu apa yang terjadi. Sekarang saya pamit dulu." kata Senopati.
Senopati lalu menghilang dari hadapan Ivan. Sepeninggalnya Senopati, Ivan lalu mengajak temen-temen pasukan khusus nya dari berbagai negara untuk latihan bela diri. Tentu saja kawan nya sangat senang.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Kenapa Senopati Dandaka menyusul ke Kerajaan Krendhawahana? Apa yang terjadi disana?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
__ADS_1
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"