
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
*Spesial update hari ini ya gais, Jangan lupa untuk vote*
***
Senyum di wajah nya kini berubah masam. Bagaimana dia hanya bisa menggunakan sekali. Artinya siapa yang akan ditembus benteng pertahanannya. Apakah menghancurkan benteng ilusi Istana Medang. Atau kah menghancurkan benteng Kerajaan Ilusi Ardana?
Adhiraksa pun sangat dilema.
"Pangeran, terlebih dahulu kita tembus benteng penghalang Medang. Terbebasnya Satria dan Prasta, akan bisa membantu buka gerbang ilusi." usul Puspa.
"Ah iya, 5 ksatria." kata Adhiraksa.
Dewa Surya pun lalu tersenyum dan memberikan senjata Kunta.
"Pangeran, senjata ini hanya bisa digunakan sekali saja. Pergunakan dengan baik" kata Dewa Surya.
"Baik dewa, terimakasih." kata Adhiraksa.
Setelah itu, mereka pun langsung menuju Jerman. Ternyata kedatangan Adhir sudah di tunggu oleh Dika dan yang lainnya.
"Kalian kenapa lama sekali?" tanya Ivan.
"Nara sudah hampir menikah. Kita harus segera menolong dia." kata Dika
"Iya bawel! Ratu, aku akan menembus benteng gaib Medang. Kalau begitu tolong tunjukan pintu gaib nya" kata Adhiraksa.
Ratu Bang pun lalu mengarahkan pasu nya menuju gerbang masuk Istana Medang. Setelah tahu lokasinya, Ratu Bang mengajak Adhiraksa, Puspa, dan Kencana menghilang. Sedangkan yang lainnya bisa mengamati melalui pasu.
"Huh! Kenapa aku ditinggalkan sih? batin Dika.
"Sabar pangeran, ini urusan keluarga kerajaan." sahut Senopati.
Dika lupa, jika Senopati bisa membaca isi hati nya.
*
Gerbang ghaib Istana Medang.
Adhiraksa dan yang lain sedang menuju gerbang utama ke Istana Medang.
"Pangeran cepat lepas senjata Kunta Wijaya Danu." kata Puspa.
"Tunggu, seperti nya kita harus menyingkirkan dedemit itu." kata Ratu Bang.
Ucapannya pun langsung kenyataan. Tak berapa lama, muncullah para Denawa. Mereka adalah prajurit kegelapan. tentu saja mereka ditugasi i oleh Arda untuk menjaga pagar ghaib itu.
"Mau apa kalian mendekati pintu gaib ini. Pergi!!" bentak Denawa
Ratu Bang pun langsung mrngibaskan selendangnya. Seketika itu, Denawa musnah.
"Hebaaat... bagaimana bisa ratu? Bukankah prajurit kegelapan adalah pasukan Candrabhairawa." kata Adhiraksa.
"Hehehe... bukan masalah pangeran, aku adalah Ratu Bang. Hutan Dandaka memiliki aturan bagi prajurit Candrabhairawa. Itu terjadi karena Putri Sanjiwani yang memberikanku sebuah mustika mawar mas." kata Ratu Bang.
"Itu mustika kehidupan bukan?" tanya Adhiraksa.
"Ya, putri Sanjiwani menukar dengan mustika hijau. Yang mana mustika hijau sekarang ada di dalam tubuh Pangeran Pasopati." kata Ratu Bang.
Setelah mengetahui hal itu. Adhiraksa lalu mengeluarkan senjata Kunta Wijaya Danu.
"Lemparkan sekarang, pangeran" kata Ratu Bang
Dengan kekuatan penuh, Adhiraksa melemparkan senjata itu. Suaranya meraung - raung seperti singa yang sedang marah. Senjata itu segera melesat dan menghancurkan benteng gaib.
"Pangeran kalian masuklah bertiga. Aku akan segera kembali ke Jerman." kata Ratu Bang
__ADS_1
"Baik ratu" kata Adhiraksa.
Adhiraksa, Kencana, dan Puspa lalu melesat menuju Istana Medang. Ketika Adhir memasuki gerbang istana. Dia lalu mengenang masa lalu. Ketika dirinya menghianati kembarannya.
"Betapa bodohnya aku dulu" kata Adhiraksa.
"Sudah pangeran, jangan dipikirkan lagi. Sekarang, kita harus mencari Jatiningrat." kata Kencana
"Baik pangeran Kencana." kata Adhiraksa.
Mereka pun lalu menuju Istana utama. Tapi sebelum sampai, terlebih dahulu Prasta dan Satria sudah menjemput.
"Syukurlah kalian segera datang. Terimakaish Adhiraksa." kata Satria.
Mereka pun lalu melepas kangen. Bagaimana tidak, Adhiraksa sekarang memiliki tubuh ksatria yang tampan.
"Maaf pangeran, kita harus segera masuk ke Istana Ilusi. Sebelum pernikahan terjadi. Cepatlah waktu kita tak banyak" kata Ratu Bang.
"Kalau begitu ayo kita menuju gerbang ilusi." ajak Satria.
"Kita harus ke Jerman untuk menjemput Dika dan Ivan." kata Adhiraksa.
"Tidak usah pangeran, saya sudah meminta kepada Senopati untuk membawa mereka berdua." kata Ratu Bang.
Setelah sepakat, mereka berdua lalu pergi ke tempat yang ditentukan.
*
"Pangeran Dika dan Ivan, mari kita ke gerbang istana ilusi. Pangeran Prasta dan Satria berhasil dibebaskan. Sekarang tugas kalian berdua untuk membantu menyelamatkan putri Nara." kata Senopati.
"Baik senopati, Ivan persiapkan dirimu. Kita pasti nanti akan bertarung." kata Dika.
Setelah semuanya siap, mereka juga menuju tempat yang ditentukan.
*
Istana Ilusi.
Setelah sarapan, Arda pun lalu meminta pengawalnya untuk memastikan persiapan.
"Pengawal, coba lihat apakah persiapan sudah siap." titah Arda
Tak berapa lama, dayang kembali datang serta melaporkan, jika persiapan sudah siap.
"Permaisuriku, ayo kita segera ke pelaminan." kata Dipta.
"Tidak Dipta, kau harus mengikuti tradisi di budayaku. Kau belum meminangku. Kau belum memberikan aku mahar. Serta kita belum melakukan malam midodari. Aku harus kena pinggit terlebih dahulu. Jadi smalam ini, kita tidak boleh ketemu. Aku juga harus menjalani perawatan buat tubuhku. Aku tidak mau mengecewakanmu" kataku
Aku memang sengaja sengaja mengulur waktu. Aku yakin bahwa 5 ksatria akan segera menolongku. Aku bisa merasakan hawa dan aura dari para ksatriaku.
"Putri, apakah kau ingin mengulur waktu? Apakah kau menunggu teman - teman mu menyelamatmu??" tanya Dipta.
Deg... tapi aku harus tenang dan jangan panik.
"Dipta? Apa maksudmu? teman - teman ku yang mana yang kau maksud? Apakah kau menyembunyikan sesuatu?" tanyaku
Dipta pun segera menyadari kesalahannya. Ternyata dia telah membongkar sendiri.
"Dipta, kamu Rakai kan?" tanyaku Sekali lagi.
"Iy - iya ini aku Rakai. Nara, ayo segera kita menikah. Jangan ditunda lagi." kata Dipta.
"Maka kau harus menghargai tradisi ku. Jika tidak, aku tidak mau menikah denganmu" kataku
"Baiklah, kalau begitu... Aku akan meminangmu di depan orang tua mu." kata Dipta.
Aku pun lalu tersenyum dan menghamburkan diri memeluk Dipta. Hanya dengan cara seperti ini. Aku bisa memenangkan hati Dipta. Aku berharap, bisa memberikan waktu kepada 5 ksatria.
Acara lamaran pun berjalan dengan lancar. Setelah itu dilanjut dengan acara midodareni.
"Dipta, malam ini kita tidak boleh ketemu. Kamu tenang saja, aku akan bersama ibu dan para dayang mu. Aku akan menjalankan ritual perawatan tubuhku. Aku harap kau mau menunggu dan bersabar mengikuti acara ini." pintaku
"Tentu saja, hanya semalam. Aku akan menunggu mu. Bahkan ribuan tahun pun. Aku rela menunggu mu." kata Dipta
"Maaf, Maharaja ... sesuai dengan tradisi putri Nara. Bahwa Maharaja juga harus menjalani ritual perawatan tubuh. Agar besok saat bersama putri Nara. Kalian akan menjadi insan manusia yang akan menghasilkan keturunan unggul." kata pandita Istana Ilusi.
Dipta pun mungkin membayangkan malam bersama ku. Sehingga, dia pun menuruti apa saran pandita.
__ADS_1
"Sampai jumpa besok siang, Maharaja. Jangan kecewakan aku. Kau harus merawat tubuh mu." kataku dengan nada genit.
"Tentu permaisuri, kau juga harus berdandan cantik. Sudah tidak sabar untuk bertemu dengan mu." kata Dipta.
Setelah itu, aku masuk ke dalam kamarku. Tentu saja ibu palsu dan para dayang ikut bersamaku.
"Aku harus menghindari mereka. Agar bisa meditasi dan melihat situasi" batinku.
Tapi aku harus memikirkan cara. Agar mereka tidak curiga denganku. Jika aku mengusir mereka. Pasti akan curiga. Aku pun punya ide.
"Ibu dan dayang, aku mau mandi dulu ya. Kalian tunggu saja di sini. Kalian siapkan ramuan untuk perawatanku." kataku
"Putri, apakah perlu kami bantu?" tanya ibuku
"Tidak usah, ibu ... sebaiknya ibu awasi para dayang. Agar temuannya tidak salah. Aku tidak mau mengecewakan Dipta. Ibu harus mengawasi dengan ketat." kataku
Akhirnya setelah melakukan negosiasi. Aku berhasil, Aku lalu masuk ke kamar mandi. Aku tahu, bahwa setiap jengkal dinding dipenuhi ilusi. Jadi Dipta pasti akan tahu apa yang aku lakukan. Aku lalu menulis surat untuknya.
"Dayang tolong berikan surat ini pada Dipta." kataku
"Baik putri" katanya
Dayang pun lalu keluar kamar dan membawakan surat ku pada Dipta.
"Wah, baru beberapa menit saja permaisuriku sudah rindu denganku. Bagaimana perkembangannya dayang? Apakah mencurigakan?" tanya Dipta
"Tidak Maharaja, semua berjalan dengan baik. Bahkan putri menyuruh ibu nya untuk mengawasi kami. Agar ramuan perawatan tubuh tidak salah. Sehingga tidak akan mengecewakan Maharaja." kata dayang.
"Bagus sekali dayang, awasi terus putri Nara." kata Dipta.
Dia pun lalu membaca suratku. Isi surat ialah aku ingin privasi di kamar mandi. Jadi aku tidak mau di kamar mandi ku diawasi oleh Denawa tak kasat mata. Aku terus mengompori dia, agar dia mendukung permintaanku.
"Aku turuti permintaanmu, permaisuri. Pengawal, tarik semua pasukan yang ada di kamar permaisuri. Aku tidak mau para Denawa melihat kemolekan tubuh permaisuriku." titah Dipta.
Dayang pun lalu kembali ke kamarku dan melaporkan apa yang dikatakan Dipta. Aku pun tersenyum dan sekarang ke kamar mandi.
Aku melihat apa yang sedang dilakukan oleh para ksatriaku. Mereka berkumpul di gerbang timur kerajaan ilusi. Mereka bersiap menembus benteng gaib nya. Tapi entah kenapa, mereka masih belum bisa menerobos masuk.
Sisi lain
"Maharaja, lapor ... para Ksatria Medang ada di benteng sebelah timur. Mereka berkumpul untuk menerobos masuk Istana." kata pengawal perbatasan.
"Hahahaha... Mereka tidak akan bisa masuk kemari. Meskipun 5 ksatria telah berkumpul. Ilusi ku terlalu kuat, mereka tidak akan sanggup. Kalian tenang saja, malahan aku ingin mengundang mereka untuk menyaksikan pernikahanku." kata Dipta.
"Tapi, apakah itu tidak beresiko putri Nara akan tersadar?" tanya pengawal.
Dipta pun tertawa mendengar perkataan dari pengawal dan punggawanya.
"Ada atau tidaknya para Ksatria keparat itu. Putri Nara telah sadar. Dia telah lepas dari ikatan ilusiku" kata Dipta.
Semua yang hadir pun terkejut. Dipta tahu, bahwa Nara telah terbebas dari ilusi.
"Lalu apa yang akan raja lakukan?" tanya Patih.
"Aku sudah mempersiapkan rencana yang luar biasa, hahaha" kata Dipta
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next:
Rencana apa yang Dipta siapkan untuk Nara dan teman - temannya?
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
__ADS_1
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"