Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Widasari dan Rakyan Sanjiwani


__ADS_3

**Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**


Happy reading.


.


.


"Ada apa putri?" tanya Pasopati


"Tapi hamba hanyalah seorang pengembara. Apakah saya pantas menjadi pelindung putri mahkota?" tanya Sanjiwani


"Tak masalah" kata Pasopati


Setelah itu, rombongan kembali ke Istana. Dalam perjalanan Pasopati terus mencuri perhatian Sanjiwani.


"Pangeran, kenapa kau dari tadi memandangku?" tanya Sanjiwani


"Eh... kau cantik sekali" kata Pasopati


"Apa pangeran?" tanya Sanjiwani


"Eng ... enggk, putri. Maaf, oh iya sebentar lagi kita akan sampai istana." kata Pasopati masih gugup.


Setelah percakapan itu mereka memilih diam. Tak berapa lama mereka sampai di gerbang kota raja. Rombongan Pasopati di sambut oleh prajurit penjaga gerbang.


"Selamat datang pangeran" kata masyarakat serempak


Pasopati tersenyum dan melambaikan tangan. Setelah itu masyarakat tertegun dengan seorang putri yang di bawa Pasopati.


Pasopati kemudian mempersilahkan putri Sanjiwani.


"Selamat datang di istana Medang, putri." kata Pasopati


"Terimakasih pangeran." kata Sanjiwani sambil tersenyum manis.


Sanjiwani sejenak menatap gerbang istana. Matanya berkaca - kaca. Dia juga menutup mata dan merasakan kehangatan istana Medang.


"Putri, kenapa menangis?" tanya Pasopati


"Aku tidak menyangka bisa melangkahkan kembali ke Istana." kata Sanjiwani


"Maksud putri? Apakah putri pernah ke sini?" tanya Pasopati heran


"Tidak pangeran, aku hanya terharu saja." kata Sanjiwani sambil tersenyum.


Setelah itu mereka terus melangkah masuk ke istana. Langkah pertama adalah ke pendopo utama. Mereka sepakat akan menemui Raja Samaratungga untuk minta izin.


**


Balaputra dan Widasari


Balaputra menuju Keputren (tempat dimana Widasari tinggal).


"Maaf pangeran ke dua, apakah anda mencari putri Widasari?" tanya dayang


"Betul, dayang. Apakah Wida ada di dalam?" tanya Balaputra


"Ampun pangeran, putri Widasari sedang menangis. Sepertinya patah hati."


Mendengar penuturan dayang, Bala segera masuk ke kamar Wida.


"Wida" sapa Balaputra


"Apa? sudah tau salahmu dimana?" tanya Wida yang tak mau menoleh ke arah orang yang membuka pintu.


Dia menganggap bahwa orang yang membuka pintu adalah Pasopati. Dalam hatinya sangat girang. Ternyata Pasopati secepat itu kembali dari berburu. Dia beranggapan bahwa Pasopati merasa bersalah. Sehingga dia datang ke kamar Wida untuk minta maaf.


Balaputra segera berbaring disamping Wida. Dia kemudian membelai rambut Wida yang halus.


"Aku tau kau ke sini pasti untuk minta maaf, kan? tapi aku nggak mau maafin kakak." kata Widasari terus merancau.


"Wida, ini aku Balaputra. Bukan si tengik Pasopati." kata Balaputra


Dia merasa sebal, karena ternyata yang diharapkan Wida adalah Pasopati. Widasari pun kemudian membalikan tubuhnya dan ternyata...


"Kak Bala, kenapa kakak ada di kamarku?" tanya Widasari

__ADS_1


"Wida, apa kah di hatimu hanya ada Pasopati, saja?" tanya Balaputra


"Kak Balaaa" kata Widasari


Wida segera memeluk Balaputra. Dia mengadu kelakuan Pasopati. Wida sangat sangat hati, karena sudah berdandan cantik tapi malah ditinggal.


"Sudah Wida, Pasopati tidak pantas menerima cintamu. Tinggalkan dia" kata Balaputra


"Tapi Wida sangat sayang dengan Kak Paso." kata Wida yang masih menangis.


Pada saat itu juga, kamar Widasari diketok oleh dayang. Suara ketokannya seperti sedang terjadi sesuatu hal yang penting. Wida dan Bala kemudian turun dari ranjang.


"Ada apa dayang?" tanya Widasari


"Ampun pangeran dan putri jika kami menganggu." kata dayang kemudian tertunduk


"Tidak apa - pa, apa yang ingin kau laporkan?" tanya Balaputra


Dayang nampak ragu memberitahu tentang Pasopati. Tapi akhirnya dia harus berbicara, karena terus di desak oleh Bala dan Wida.


"Ampun pangeran dan putri, ini terkait pangeran Pasopati." kata dayang ketakutan


"Ada apa dengan Pasopati?" tanya Balaputra


"Apakah dia sudah kembali berburu? apakah dia membawa buruan yang indah?" tanya Wida.


"Sangat cantik, putri." kata dayang keceplosan


"Maksudnya apa?" tanya Widasari tidak sabar


Dayang kemudian angkat bicara. Dia menceritakan tentang kedatangan Pasopati. Serta menceritakan keberadaan Pasopati bersama seorang wanita cantik.


"Wanita cantik?" tanya Wida dan Bala bersamaan


"Siapa wanita itu?" tanya Wida mulai gusar.


Melihat Wida gusar, Bala pun mengelus pundak Wida. Dia berusaha menenangkan tapi juga memprovokasi.


"Bisa jadi itu adalah wanita simpanan Pasopati, Wida." kata Bala


"Kurang ajar, akan ku bunuh wanita itu. Dayang dimana mereka sekarang??" tanya Wida.


Tanpa pikir panjang, Wida segera berlari menuju singgasana. Balaputra pun kemudian tersenyum licik.


"Terimakasih dayang, ini terima uang emas untukmu." kata Balaputra


"Terimakasih pangeran" kata dayang yang merasa heran, karena tidak seperti biasanya Bala memberikan uang emas kepada orang lain.


Balaputra pun mengejar Widasari menuju singgasana maharaja.


"Pertunjukan yang bagus, aku bisa memanfaatkan keadaan ini." kata Balaputra.


"Wida tunggu ... hati - hati" teriak Bala sambil berlari.


Tapi Widasari tidak menghiraukan panggilan Balaputra. Dia terus berlari semakin kencang menuju singgasana.


**


(Singgasana maharaja Rakai Garung)


Sanjiwani dan Pasopati sudah sampai ke singgasana. Di sama ada raja, ratu, patih, dan pembesar kerajaan Medang. Mereka nampak kaget dengan kehadiran Pasopati dengan seorang wanita.


"Siapa dia Pasopati?" tanya ayah Garung


Rakai Garung mengeryitkan dahi. Dia merasa kenal baik dengan seorang wanita yang di bawa oleh Pasopati. Demikian juga dengan ibu Tara yang seperti sedang mengingat siapakah wanita it


Sebelum memperkenalkan Sanjiwani. Wida nampak kelelahan dan terus menerobos masuk ke singasana. Dia melihat sinis wanita yang ada di samping Pasopati.


"Widasari, kamu kenapa nak?" tanya Dewi Tara


"Maaf kanjeng bibi, Widasari sudah tidak sopan." kata Wida.


Ayah Rakai kemudian mempersilahkan Wida untuk duduk. Tak lama kemudian, Bala datang. Demikian juga dengan aku yang datang bersama Anupali. Aku terus mengamati wanita itu. Adhiraksa kebetulan sedang berlatih yoga. Sehinga dia tidak bisa hadir. Mungkin akan menyusul.


"Ampun paman Rakai, perkenalkan ini adalah Rakyan Sanjiwani. Beliau seorang penggembara. Beliau juga telah menyelamatkan hamba dan pasukan. Kami diserang oleh ajian Candrabhairawa." jelas Pasopati


"Rakyan Sanjiwani? dari kerajaan mana kamu, nak?" tanya Dewi Tara

__ADS_1


Semua orang pasti akan bertanya asal usul sang Rakyan. Mengingat nama atau gelar Rakyan hanya digunakan oleh penguasa daerah atau keturunan raja.


"Ampun paduka permaisuri, hamba hanyalah seorang pengembaraa kecil. Kerajaan hamba diserang oleh pasukan pemberontak. Sehingga keluarga hamba menjadi korban. Tinggalah hamba seorang diri. Hamba dari daerah ujung timur Jawa." kata Sanjiwani


"Lalu apa maksud mu, Pasopati membawa Sanjiwani kemari?" tanya ayah raja


"Ampun paman, jika diizinkan. Bolehlah jika Dewi Sanjiwani mengabdi di istana Medang. Beliau bisa menjadi pengawal putri mahkota." kata Pasopati sambil melirik ke arahku.


Aku terkejut dengan tawaran Pasopati. Aku juga baru ingat, bahwa semua perkataan Adhiraksa benar. Pasopati akan kembali membawa seorang wanita cantik. Sebenarnya, aku tidak perlu pengawalan. Aku sudah punya 2 pelindung yang hebat. Tapi melihat sorot mata Pasopati. Serta cerita dari Sanjiwani. Aku tersentuh hati dan berniat mengiyakan.


"Tapi paman, tidak seharusnya kita menerima wanita sembarangan. Apalagi jika wanita itu akan berdekatan dengan kak Rakyan. Widha tidak setuju. Sebaiknya usir saja wanita itu keluar istana." usul Widasari


"Widasari!! Aku hanya ingin balas budi kepada Dewi Sanjiwani. Tolong putri, terima dia menjadi penjagamu" kata Pasopati sambil memohon


Setelah itu Pasopati menuju ayah dan ibu untuk memohon izin.


"Paman dan bibi, tolong terima Dewi Sanjiwani. Hamba mohon, sebagai tanda dan ucapan terimakasih hamba." kara Pasopati


"Secara tata krama, saya akan menerima dia menjadi pungawa Medang. Tapi jika harus menjaga putriku, itu keputusan dia, So." kata ayah Garung


Aku kemudian berjalan mendekati Pasopati. Tak tahan aku melihat Pasopati berlutut seperti itu.


"Paso bangun, baiklah. Aku akan menerima Dewi Sanjiwani untuk menjadi penjagaku. " kataku


Mendengar perkataanku, Pasopati menjadi bahagia. Senyum merekah keluar dari bibirnya.


"Terimakasih putri mahkota." kata Pasopati


Setelah itu, ayah dan ibu menyuruhku untuk mengantar Sanjiwani istirahat. Dia mengikutiku dari belakang serta mengucapkan terimakasih. Aku seperti familiar dengan wajah Rakyan Sanjiwani. Terasa adem dan nyaman ketika berdekatan dengan dia.


Tujuan kami adalah Keputren. Kebetulan masih ada 1 bilik kosong.


"Maaf putri mahkota, hamba ingin mengucapkan terimakasih atas kebaikan putri." katanya


"Rakyan, terimakasihlah pada Pasopati. Aku senang mempunyai teman baru. Jangan anggap aku seperti seorang ratu. Tapi anggap saja aku temanmu." kataku


Belum sempat kami sampai gerbang keputrenku. Widasari sudah mendorong Sanjiwani. Sehingga dia tersungkur.


"Rakyan Sanjiwani." teriakku


Aku kemudian menolongnya dan ku lihat orang yang mendorong dia.


"Widasari, apa yang kau lakukan? Kau bisa melukainya." kataku geram


"Kakak, dia itu pasti punya niat jelek. Dia pasti akan merebut Kak Paso. Aku harus bunuh dia." kata Widasari sambil mengambil clundrik yang ada di sanggulnya.


Tapi keajaiban datang. Sebelum clundrik itu melukai wajah Sanjiwani. Tangan Widasari seperti terbakar. Sehingga benda tajam itu jatuh.


"Awwww... panas, kau penyihir ya?" tanya Widasari mulai geram.


"Sudah Wida, hentikan. Tidak ada yang akan merebut Pasopati dari mu. Kembalilah dan beristirahat, aku akan mengawasi Sanjiwani. Sehingga dia tidak aka mendekati Pasopati." kataku mencoba merayu Widasari.


Setelah itu, Wida tenang. Dia kembali ke tempatnya. Tak lupa aku berusaha mengobati luka Sanjiwani.


"Maaf Rakyan, kamu terluka karena Widasari." kataku


"Tidak apa putri" katanya


Setelah itu, aku meminta izin untuk masuk kamar. Tiba - tiba, aku merasa gatal dan ingin mandi. Adhiraksa sudah ada di sampingku.


"Mau kemana putri?" tanya Adhiraksa


"Maaf pangeran, aku mau mandi dulu. Oh iya di sana ada penjagaku yang baru. Kamu tolong bantu obati luka dia akibat Widasari." kataku


Setelah itu, aku masuk kamar dan bersiap untuk mandi. Adhiraksa pun kemudian menuju balai alit samping kamarku. Dia mendekati Sanjiwani yang tertunduk. Dia mengamati tentang wanita yang sedang membelakangi dia. Mendengar langkah kaki, Sanjiwani kemudian berbalik badan.


"Kau??" kata mereka secara bersamaan


***


Episode kali ini cukup ya, maaf telat update. Karena saya baru saja selesai ke kantor Notaris untuk mendaftarkan CV. Semoga terhibur,.


Apakah Adhiraksa dan Sanjiwani saling kenal?


Apa yang akan Widasari lakukan terhadap Sanjiwani?


Tunggu episode selanjutnya.

__ADS_1


With love


Citralekha


__ADS_2