
Sebelum membaca jangan lupa like, vote, dan comment ya.
Happy reading
.
.
Setelah pengumuman kalau kami bertiga (Aku, Dika, dan Ivan) menjadi sahabat baik. Ivan dan Dika sering main ke rumahku. Kami memiliki anggota baru bersepeda yaitu Ivan.
"Rara, ayo main." teriak dua orang lelaki.
Dari dalam rumah aku sudah mengetahui siapa mereka berdua. Ya, mereka berdua adalah Dika dan Ivan. Aku kemudian keluar dari rumah.
"Ayo." kataku
Aku kemudian mengeluarkan sepedaku dan bersiap akan bersepeda bersama mereka.
"Ma, aku pergi dulu ya sama Dika dan Ivan." kataku
"Ya, jangan sore - sore." kata mama
Sebelum itu, aku mengambil 3 bungkus susu kedelai. Aku kemudian membagikan kepada dua orang sahabatku itu.
Aku seperti seorang putri raja karena dikawal oleh dua orang lelaki. Ardika cakep dan kulitnya putih bersih. Ivan meskipun nggak putih, tapi dia imut dan hitam manis.
"Mau kemana nih kita?" tanya Dika
"Keliling desa saja" sahutku.
Ivan kemudian mengusulkan untuk ke rumah salah seorang anak cewek cantik. Anak itu namanya Diyah. Rumahnya nggak begitu jauh dari rumahku.
"Yaudah ayo, tapikan kita nggak tau dimana rumahnya" kataku bohong.
Aku memang agak gimana gitu karena dua lelaki itu perhatian dengan orang lain. Sebenarnya aku tahu dimana rumah Diah, hehehehe. Tapi aku bohong sama mereka. Akhirnya kita sepedaan ke tengah sawah desa. Kami berhenti di gubuk sawah yang ada di pinggir jalan.
"Eh, sebelum kita masuk sekolah SMP gimana kalau kita main dulu?" ajak Ivan.
"Kemana?" tanya Dika.
Kami kemudian diam beberapa saat dan aku pun usul.
"Candi Prambanan saja gimana?" usulku.
"Tapi tiketnya mahal" kata Ivan agak kecewa.
"Kalau kita pas Nyepi di Prambanan gratis ya Dik". kataku.
"Iya, tapi kan ini nggak lagi Nyepi" sahut Dika.
"Brapa sih tiket masuknya?" tanya Ivan.
"Rp 15.000 kalau nggak salah, trus buat anak - anak Rp 7.500" kataku.
------
Rencana ke Prambanan akhirnya kita setujui. Kita bagi tugas untuk membawa bekal. Agar kita tidak boros dan jajan sembarangan. Mama memang mengajarkanku untuk tidak jajan makanan sembarangan.
__ADS_1
Mamaku bilang, kalau aku jajan sembarangan bisa celaka. Makanan bisa dikasih racun, diculik, diiket, dan mataku dicungkil untuk dijadikan cendol. Makanya sampe mau SMP, aku nggak mau minum es cendol. Aku membayangkan cendol itu adalah irisan mata anak - anak yang diculik oleh penculik.
(Kalau sekarang aku inget kejadian itu. Aku ketawa sendiri. Ternyata aku sudah dibohongi oleh mama.
----
Satu hari sebelum keberangkatan ke Prambanan. Aku sudah janjian dengan Ivan di pojok desa. Kami rencana ke rumah Ardika.
"Dah lama, Van?" tanyaku.
Aku datang sedikit terlambat, karena harus nungguin mama pulang dari jualan keliling.
"Lumayan, panas banget nie. Jajan es dulu yuk" ajak Ivan.
"Ntar saja lah sama Dika, masa dia nggak kita ajak" sanggahku.
kami pun segera melaju ke rumah Ardika. Setibanya di rumah Dika, kami disambut oleh Arya (adiknya Ardika).
"Dika itu 3 saudara, Ari, Ardika, dan Arya" kataku pada Ivan.
"Yak, Mas Dika ada nggak?" tanyaku pada Arya.
"Maaas...maaaas... Mas Dika" teriak Arya. Dia kemudiam berlari masuk ke dalam rumah mencari Dika.
Tak berapa lama ibuknya Dika keluar dari samping rumah.
"Dika tadi baru di tempat Nuri. Dia lagi nganterin emping melinjo". kata Ibunya Dika.
Profesi ibunya Dika adalah pembuat emping melinjo. Ia sudah terkenal di desaku dan sekitar. Makhlum kalau di depan rumahnya banyak melinjo dari pelanggannya.
"Hei, dah lama?" sapa Dika.
Dika kemudian menyuruh kami berdua ke teras rumahnya. Kami mulai membicarakan bekal yang akan kita bawa besok pagi.
"Masing - masing orang bawa minum sendiri - sendiri ya" usul Ivan.
Aku dan Dika mengangguk sebagai tanda setuju. Bagiku minuman adalah kebutuhan pribadi yang harus dibawa.
"Aku bawa buah dan roti" usul Ivan.
"Aku bawa cemilan ya, nanti aku minta bapakku belikan di warung" kata Dika.
"Aku bawa nasi dan lauk ya. Besok aku minta mama belikan di pasar" usulku.
Setelah semuanya sepakat, masing - masing anak iuran Rp 10.000. Uang itu dikumpulkan kepadaku. Iuran ini untuk memudahkan kita dalam pembelian tiket besok paginya.
"Besok kumpul di rumahku jam 08.00 ya" kataku.
"Apa nggak sebaiknya di rumahku saja, kan lebih mudah" usul Ivan.
Aku dan Dika pun kemudian setuju. Rumah Ivan memang berada di pinggir jalan utama menuju Prambanan. Kita sudah sepakat kalau besok akan lewat jalan desa yang lebih aman dari kendaraan bermotor dan lebih teduh.
"Oh hya jangan lupa bawa topi" usulku.
Sesampainya di rumah, aku minta izin kepada mama dan bapak tiri ku.
"Ma, besok aku mau ke Prambanan." kataku
__ADS_1
"Sama siapa?" tanya bapak
"Sama Dika dan Ivan." jawabku
Tat kala mama mendengar kata Prambanan. Mama jadi sedih, karena mama mungkin teringat akan pesan dari Simbok bahwa cepat atau lambat aku pasti menuju Prambanan.
"Jangan melakukan hal aneh - aneh di sana." pesan mama
"Iya." kataku
"Cari Mas Parji saja, dia kerja di sana. Siapa tahu ntar masuk gratis." usul mama
Mama kemudian menceritakan kalau kami memiliki seorang kerabat yang kerja di Candi Prambanan. Dia saudara misanku yang rumahnya sekitar 3 km dari rumah kami.
Malam ini aku tidak bisa tidur, karena memikirkan tentang perjalanan yang akan kami lakukan besok. Perasaan aneh dan terasa darahku mendidih tatkala mendengar kata Prambanan.
"Kenapa ya, hatiku tidak tenang dan ingin segera ke Prambanan." kataku
Aku kemudian mengingat kejadian di makam dan pesan dari kakungku. Katanya aku harus segera ke Prambanan.
"Apa hubungannya antara aku dan Prambanan, ya" tanyaku dalam hati.
Aku masih bingung dan tidak tahu tentang rahasia hidupku yang mama belum menceritakannya. Malam itu, mama tiba - tiba masuk ke kamarku.
"Kenapa, ma?" tanyaku
"Besok mau ke Prambanan?" tanya mama
Aku hanya menganggukan kepala. Aku takut jika mama tiba - tiba akan melarang kepergianku ke Prambanan. Mama kemudian membelai rambutku dan menangis. Aku bingung karena tiba - tiba mama menangis.
"Kenapa, ma?" tanyaku
"Mungkin ini saat yang tepat untuk menceritakannya pada mu." kata mama
"Cerita apa, ma?" tanyaku
Mama kemudian menceritakan tentang rahasia hidupku. Cerita tentang Simbok dan Kakung. Cerita tentang mati suri mama dan cerita bahwa aku selamanya akan menjadi anak tunggal. Mama menceritakan bahwa kehidupannya sebelumnya berhubungan dengan Prambanan.
Mama juga menceritakan tentang mati suri, dan pesan dari pangeran.
"Maksud mama Aku akan berjodoh dengan hantu?" tanyaku
"Bukan hantu, tapi reinkarnasi dari seorang pangeran yang membangun Candi Prambanan." kata mama
Aku semakin bingung dengan penjelasan mama. Hingga akhirnya mama menyuruh aku untuk tidur. Agar besok tidak terlambat.
Sebelum aku tidur. Mama tak lupa mengecup keningku. Sejak mama menikah dengan suaminya. Ini adalah kali pertama mama mencium ku lagi. Mama juga memasang selimut pada ku. Kebiasaan burukku adalah tidak memakai selimut saat tidur.
"Ma, makasih ya." kataku
Aku kemudian memeluk mama dan tak terasa aku menangis. Ada rasa sedih dan haru. Jujur aku kangen dengan perlakuan mama seperti ini.
**
Terimakasih ya sudah berkenan membaca
See you di Candi Prambanan
__ADS_1
with love
Citralekha