
*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya. Rate bintang 5 juga boleh lho.*
Happy reading
.
.
Aku sangat khusuk dalam meditasi. Alunan gentha dan aroma cendana membuatku semakin dalam di meditasi. Aku mulai membayangkan pernikahan yang sakral, megah, dan indah. Aku berharap bisa bertemu dengan Kalyana Sundara Murti. Tapi sepertinya susah untuk menembus masuk ke Istana Dewa Siwa.
Dalam bayanganku hanya fokus pada Kalyana. Tiba - tiba seberkas cahaya menyinari. Aku rasanya tidak kuat melihat kilauan cahaya itu. Aku kemudian menutup mata dan menyebutkan "Om nama siwaya". Cahaya itu hilang, aku juga merasakan dingin dan angin yang sangat kencang. Perasaanku tidak enak, karena di Kalyana Grha tempatnya hangat dan tidak dingin.
Aku membuka mata pelan - pelan. Betapa kagetnya aku setelah membuka mata. Aku berada di pegunungan yang penuh salju dan sangat dingin.
"Dimana ini?" tanyaku
Aku berjalan melihat lihat sekitar tapi aku tak menemukan satu orang pun. Aku teriak - teriak juga tidak ada yang menyahut.
"Satria ... Satria... Satria " teriakku
Aku terus kesana ke sini tapi tak ku jumpai satu orang pun. Aku akhirnya capek ditambah dengan udara yang sangat dingin. Aku mencoba tenang dan kembali meditasi. Berharap akan kembali ke kalyana. Aku terus memusatkan pikiranku pada Kalyana grha. Tak berapa lama aku merasakan udara tidak sedingin tadi.
"Yes, aku kembali." batinku
Aku kemudian membuka mata dan di depanku ada manusia berkepala lembu. Aku mundur beberapa langkah.
"Jangan takut." katanya
"Si ... Si... siapa kamu?" tanyaku terbata - bata.
Makhluk itu hanya tersenyum dan kemudian menari - menari. Dia menggodaku sambil membunyikan gendang tangan kecil. Aku jadi ingat dengan alat musik itu. Alat musik yang ada di Trisula Dewa Siwa.
"Damaru" kataku
"Betul, ini damaru. Putri ayo ikut dengan kami, Dewa sudah menunggu." katanya
"Dewa? dewa siapa?" tanyaku
Aku masih bingung dengan perkataan makhluk itu. Aku takut jika dia adalah siluman atau makhluk gaib.
"Tunggu, manusia berkepala lembu, memainkan Damaru. Kau Nandi??" tanyaku
Dia berhenti menari dan kemudian memandangku.
"Ya, aku Nandi." jawabnya
Nandi adalah pengikut Dewa Siwa yang setia. Dia berwujud lembu. Pada saat pengarcaan atau di candi - Candi Indonesia. Nandi digambarkan berbentuk lembu dan mengiring Dewa Siwa.
"Kau ada di Istana Sang Dewa." katanya lagi
"Berarti ini Kailasha?" tanyaku
Dia hanya mengangguk dan menjelaskan tentang istana Dewa Siwa. Aku sangat kagum, karena istana ini sesuai di sastra dan kitab. Jika Siwa tinggal di puncak gunung Mahameru (Himalaya). Tinggal di salju abadi dan hidup seperti pertapa. Karena memang Dewa Siwa adalah Dewa yang terkenal dengan kesederhanaannya.
"Bagaimana mungkin aku bisa sampai sini, Dewa Nandi?" tanyaku
"Bukankah kau ingin sekali bertemu dengan sang dewa?" tanyanya balik
__ADS_1
"Tapi aku ingin bertemu dengan Kalyana Sundara Murti." kataku
"Untuk apa?" tanyanya
Aku kemudian menjelaskan, bahwa aku ingin memohon anugrah agar pernikahanku dengan Satria diberkahi. Aku juga akan minta untuk terus memasangkan aku dengan Satria, di kehidupan sekarang, mendatang, dan seterusnya.
"Aku sangat senang bisa sampai sini, Nandi. Tapi bisakah kau memberitahu aku, bagaimana aku kembali?" tanyaku
"Kenapa kau ingin segera kembali?" tanyanya
"Aku khawatir, Kak Satria akan mencariku." kataku
"Apakah kau tidak ingin bertemu dengan Sang Dewa?" tanya Nandi
Aku tertegun dengan tawaran Nandi. Tentu saja aku sangat ingin bertemu dengan Dewa Siwa dan Dewi Parwati. Tapi aku sadar, aku bukanlah siapa - siapa. Mana mungkin aku layak bertemu dewa.
"Aku tidak layak, Nandi." kataku sambil tertunduk
"Kenapa? bukankah kau sangat ingin bertemu?" tanyanya
"Iya, tapi aku bisa sampai di Kailasha seneng banget." kataku sambil mengamati sekeliling.
Nandi tersenyum dan membunyikan damarunya kembali.
"Ayo ikut denganku." katanya
"Kemana?" tanyaku
"Katanya ingin ketemu dewa." jawab Nandi.
"Hey, jadi nggak? atau aku berubah pikiran!" katanya
"Iya iya, aku mau." kataku
Aku langsung mengikuti Nandi. Di perjalanan, dia banyak menjelaskan tentang Kailasha. Dia juga menceritakan kehebatan dan kemurahan hati Sang Ardhanareswari (perwujudan atau bersatunya Siwa dan Parwati). Tubuh sebelah kiri berwajah Siwa dan sebelah kanan berwajah Parwati.
"Nandi, kenapa kau menceritakan ini kepadaku?. Aku sangat bahagia" kataku
"Karena kau salah satu yang terkasih oleh dewa." katanya
"Terkasih? kok bisa?" tanyaku
Nandi menjelaskan kepadaku, kalau aku salah satu dari sekian orang yang bisa kembali lagi ke hidupkan sebelumnya.
"Nandi, aku sangat bersyukur bisa melihat dan bertemu denganmu. Selama ini, aku hanya melihatmu melalui arca batu." kataku
"Aku akan selalu ada di setiap saat. Setiap kau memanggil namaku, aku akan hadir. Meskipun kau tidak melihatku. " kata Nandi.
Aku juga bercerita kalau nantinya, Satria akan membangun sebuah kompleks percandian yang indah dan agung. Salah satu bangunan itu khusus diperuntukan untuk dirinya. Aku juga bertanya kepadanya tentang Kailasha.
"Nandi, kenapa Dewa Siwa tinggalnya di puncak Himalaya?. Ini puncak tertinggi dan sulit untuk dicapai. Banyak orang yang meninggal di perjalanan ketika hendak menuju ke sini." kataku
"Ketahuilah olehmu, anak manis. Kalau hanya yang berjiwa tulus dan tanpa pamrih lah yang akan sampai ke sini." jelas Nandi.
"Tapi Nandi, aku ke sini dengan pamrih." kataku tertunduk
Nandi tersenyum dan menghentikan langkah kakinya. Dia langsung menoleh ke arahku.
__ADS_1
"Pamrihmu karena rasa cinta dan kasih sayang." kata Nandi.
"Suatu saat, kau lah yang akan menjaga bangunan suci untuk memuliakan Sang Dewa di Siwa Grha." kata Nandi lagi.
Aku sejenak ingat dengan penjelasan Fais, tentang Siwa Grha. Ya, itu adalah nama asli dari Candi Prambanan.
"Apa aku mampu, Nandi. Aku hanyalah anak kecil yang tak memiliki kemampuan apa - apa." kataku dan tak terasa aku meneteskan air mata.
Nandi mengetahui jika aku sedang menangis. Dia berusaha menghiburku dengan membunyikan damaru. Dia juga memberikanku sebuah damaru untuk dimainkan.
"Seseorang akan hilang kesedihannya, jika dia membunyikan damaru ini." jelas Nandi.
Aku mengambil damaru dari tangan Nandi. Aku juga mencoba memainkan damaru itu dan benar saja. Sedihku hilang, suara itu membuatku tenang dan nyaman.
"Oh iya Nandi, kenapa aku tidak kedinginan seperti saat aku baru tiba di sini?" tanyaku penasaran.
"Kau benar, putri. Tempat ini adalah puncak tertinggi di Jambu Dwipa. Udara di sini bisa mencapai min derajat. Tapi, kau sudah mendapatkan anugrah. Makanya kau bisa bertahan." jelas Nandi.
Aku sangat senang sekali mendengar penuturan Nandi. Tempat yang mengerikan bagi manusia biasa. Salju ada dimana dan gunung es yang runcing terpampang di depanku.
"Nandi, apa Dewi Parwati cantik?" tanyaku
"Tentu saja, sang dewi adalah ratu kecantikan. Dia sangat lembut, cantik, tapi jika dewi sedang marah, akan mengerikan dan bisa membahayakan tiga dunia." terang Nandi.
Aku memang tahu, ketika Parwati marah maka dia akan berubah menjadi menjadi Dewi Kali. Dewi yang menyeramkan.
"Kalau Kartikkeya apakah tampan?" tanyaku
"Tentu saja, pangeran Kartikkeya sangat tampan dan gagah perkasa. Dia adalah seorang dewa perang yang sangat hebat." kata Nandi.
Nandi mengajakku untuk berjalan lagi. Hingga akhirnya, kami sampai di sebuah goa yang terbuat dari es.
"Apakah ini tempat tinggal Dewa Siwa, seperti dalam cerita?"tanyaku dalam hati.
"Ya betul, di dalam sanalah Sang Dewa bersamadi dan bercengkerama dengan keluarganya." kata Nandi.
"Nandi, kau bisa membaca pikiranku?" tanyaku
Nandi kemudian menjelaskan kalau dia diberkahi oleh akal dan budi. Penajaman semua indra ia dapatkan tatkala mulai mengabdi kepada Dewa Siwa.
"Tentu saja, sama sepertimu. Kau juga bisa dengar pembicaraan orang lain kan, karena kalungmu itu?" tanya Nandi.
Aku hanya mengangguk dan tak perlu menjelaskan panjang lebar. Dia pasti sudah tahu apa yang terjadi dan bagaimana aku bisa mendapatkan kalung sakti itu.
"Ayo masuk." ajak Nandi.
"Tapi, Nandi. Aku malu, aku datang ke sini tidak membawa persembahan apapun untuk dewa." kataku tertunduk.
Nandi tersenyum.
**
Episode kali ini cukup ya teman - teman. Terimakasih atas waktunya.
With love
Citralekha
__ADS_1