Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Pesan dari Rsi Narada


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik like, vote, dan comment ya.


coin seikhlasnya juga boleh.


Happy reading


.


.


Saat mendengarkan cerita dari Satria. Tiba- tiba seberkas cahaya muncul. Cahaya tersebut berubah menjadi Rsi Narada.


"Narayan... Narayan... Narayan." kata Rsi Narada


Kami segera menghaturkan sembah sungkem kepada rsi suci tersebut. Kami berpikir, jika Rsi Narada datang pasti telah terjadi suatu hal. Atau bahkan menyampaikan pesan penting.


"Matur sembah sujud kepada Rsi Narada." kata Satria mewakili kami.


Rsi Narada segera menerima sembah kami. Beliau kemudian meminta kami untuk segera berdiri.


"Berdirilah." katanya


"Ada apa gerangan sang rsi yang agung turun ke marcapada?" tanyaku


Dia masih saja memainkan wina (alat musik seperti gitar).


"Aku membawa pesan dari Dewa Indra, anak mas." mata sang rsi


Kami bertiga saling beradu pandang. Aku semakin deg - degan dengan pesan yang dibawa oleh sang rsi. Aku takut jika kabar itu merupakan kabar buruk.


"Pesan apa sang rsi? apakah kabar baik atau buruk?" tanya Pasopati juga penasaran


Sang rsi kemudian mendekati Satria. Aku semakin takut jika akan terjadi hal buruk pada Satria.


"Sang rsi apakah ini berkaitan dengan Aku?" tanya Satria.


"Iya, anak mas." kata sang rsi


Aku semakin penasaran apalagi yang berkaitan dengan Satria. Apakah dia akan dihukum Dewa Indra karena telah melepaskan gelang pemberiannya. Dugaan demi dugaan terus membuatku takut.


"Ada apa rsi?" tanyaku


"Anak mas Rakai harus bertapa dan menambah kesaktian. Seorang calon maharaja harus mampu melindungi rakyat dan negaranya dari gangguan pengacau. " kata sang rsi


Aku akhirnya bisa bernapas lega karena bukan kabar buruk akibat hukuman dari Dewa. Tapi tetap saja aku khawatir, karena dia akan bertapa.


"Dimanakah hamba harus bertapa, rsi?" tanya Satria


"Berapakah di hutan pancerin bumi." kata sang rsi


Aku bingung dengan maksud sang rsi. Hutan tersebut belum pernah aku dengar sama sekali.


"Hutan pancerin bumi, dimana itu rsi?" tanya Pasopati


"Wana Taas. Berangkatlah pada bulan badrawada suklapaksa. Berangkatlah pada saat tengah malam. Maka kamu akan tiba di sana pada pagi hari. Setelah itu berendamlah di sumber air Tangar." kata sang rsi


Bulan badrawada artinya bulan ini dan Suklapaksa adalah purnama. itu artinya adalah lusa. Terlalu cepat bagiku untuk berpisah dengan dia. Pasalnya kami baru saja bertemu sejak perpisahan beberapa minggu yang lalu.

__ADS_1


"Apakah hamba boleh ikut, sang rsi?" tanyaku


"Tidak, hanya pangeran Pikatan saja yang boleh berangkat. Termasuk kau, Pasopati. Tugasmu adalah menjaga putri Nararia di istana, selama pangeran Pikatan pergi bertapa." pesan sang rsi


Setelah menyampaikan pesan itu. Sang rsi kemudian pamit kembali ke Swargaloka. Sebelum itu, kami menghaturkan sembah sungkem. Sang rsi kemudian menghilang dari hadapan kami.


Sepeninggalnya sang rsi dari hadapan kami. Kemudian kami berdiskusi tentang rencana keberangkatan Satria ke wana Taas dan berendam di Tanggar.


"Pangeran apa kau sanggup bertapa sendiri di wana Taas?" tanya Pasopati


"Iya, So. Kalau memang itu adalah perintah dewa. Maka aku akan berangkat. Betul apa yang disampaikan sang rsi. Aku harus menambah kesaktian untuk dapat melindungi negara dan rakyatku." kata Satria


Aku masih diam tak berkutik begitu mendengar dan Satria sangat antusias untuk pergi bertapa ke wana Taas. Tempat yang sangat jauh ada di sebelah selatan, dekat dengan pantai selatan.


Kalau di masa depan, kemungkinan wana Taas ada di daerah Wonogiri. Butuh waktu sekitar 2 - 3 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Tapi di abad ini perjalanan di tempuh dengan menggunakan kuda. Bisa memakan waktu seharian.


"Putri, kenapa mau diam?" tanya Satria


"Kita baru saja bertemu dan kita akan berpisah kembali." kataku sambil tertunduk


Satria menghela nafas lega. Tapi aku masih tertunduk dengan mata berkaca - kaca. Meskipun aku bisa berada di tempat yang aku inginkan di abad ini. Tapi kalau yang diizinkan hanya Satria. Sesakti apa diriku pasti tidak akan sampai ke sana. Dia kemudian mendekatiku.


"Dengarkan aku, ini hanya sementara." katanya


"Sampai kapan?" tanyaku


"Aku juga tidak tahu sampai kapan. Tadi kan sang rsi tidak menyampaikan sampai kapan aku akan bertapa." kata Satria


"Aku mau mencari Widasari dulu ya." kata Pasopati


"Pernikahan berarti akan diundur?" tanyaku


"Aku kurang tahu." kata Satria


Aku harus bertahan beberapa minggu untuk menunggu dia pulang. Jika pernikahan kami di bulan Margasira. Maka kami akan menikah 3 minggu lagi. Perhitungan di sini menggunakan sistem kalender sebulan 35 hari. Menggunakan perhitungan pancawara dan saptawara.


"Aku akan mempersiapkan diriku untuk pergi bertapa." kata Satria


"Baiklah ... Setelah itu kembalilah ke sini. Aku ingin menghabiskan malam ini bersamamu." kataku


"Kita akan membuat perkemahan di sini bersama Pasopati dan Widasari." kata Satria


Satria kemudian meninggalkan ku seorang diri di pendopo. Aku pun segera masuk ke bilik dan duduk di ranjang. Kencana dan Puspa pun segera keluar dari tubuhku. Aku langsung tersenyum tatkala melihat mereka berdua muncul.


"Puspa Kencana." sapaku


Aku langsung memeluk Puspa. Sepertinya Puspa tahu apa yang sedang aku pikirkan.


"Tenangkan dirimu putri. Itu yang terbaik untuk pangeran Satria sebelum dia menjadi maharaja." kata Puspa


"Tapi aku khawatir jika selama dalam perjalanan, dia akan terhambat seperti kemarin." kataku


Aku masih was - was, jika dalam perjalanan menuju wana Taas. Satria akan dihadang oleh makhluk ghaib lagi. Peristiwa dengan Kala Srengi membuatku trauma melepas seorang diri Satria ke Hutan yang jaraknya lumayan jauh dari istana.


"Putri, aku akan mengawal pangeran Pikatan sampai ke Hutan Taas." kata Kencana


Mendengar tawaran dari Kencana, aku menjadi semangat. Pasti Satria akan baik - baik saja jika ada Kencana bersama dia selama dalam perjalanan.

__ADS_1


"Apa itu benar?" tanyaku


"Jika kau mengizinkan aku pergi sejenak dari tubuh mu." kata Kencana


Tentu saya aku mengizinkan Kencana untuk mengawal pangeranku. Aku berharap pangeran bisa sampai di Taas dengan selamat. Entah itu bagaimana nantinya di Taas itu menjadi tanggung jawab Satria.


"Tentu saja Kencana, aku mengizinkanmu mengawal dia." kataku semangat


"Putri juga tidak perlu khawatir. Bukankah pangeran sudah memakai gelang pemberian Dewa Indra?" tanya Puspa


"Iya benar, dia akan terhindar dari makhluk ghaib." kataku


Aku semakin tenang dengan keberadaan gelang sakti dan kawalan dari Kencana. Pasti Satria akan sampai ke Taas dengan selamat. Apalagi Kencana nanti bisa menceritakan padaku bagaimana keadaan Satria selama dia dalam perjalanan.


Tapi kesenangan kami dikejutkan oleh hadirnya Rsi Narada.


"Narayan ... Narayan... Narayan." kata Rsi


Kami bertiga kemudian menghaturkan salam kepada sang rsi yang agung. Aku jadi kaget ada apakah gerangan sang rsi muncul dua kali selama sehari ini.


"Ada apakah gerangan sang rsi kembali ke marcapada?" tanyaku


"Anak mas, Kencana boleh mengawal Satria sampai ke wana Taas. Tapi ada satu hal yang harus anak mas lakukan." kata sang rsi


Aku dah- degan dengan ucapan sang rsi.


"Apa yang hamba lakukan sang rsi?" tanyaku


"Anak mas harus memanggil gelang sakti pemberian Dewa Indra dari tangan pangeran Satria." kata sang rsi


Seperti disambar petir di siang bolong. Itu hal yang harus aku lakukan. Satria bisa celaka oleh makhluk ghaib tanpa gelang perlindungan itu.


"Tapi rsi, gelang itu adalah perlindungan untuk Satria. Jika hamba memanggilnya, bagaimana dengan dia nantinya?" tanyaku sedih


"Anak mas tidak perlu khawatir, justru itu yang harus pangeran lakukan. Dia harus bisa mawas diri dan membedakan mana musuh mana kawan. Mana makhluk ghaib yang sifatnya jahat dan baik. Insting dia harus diasah. Jika dia menggunakan gelang itu. Maka dia tidak akan mawas dan akan menjadi jumawa." kata sang rsi


Mendengar pertanyaan sang rsi. Aku jadi sadar, bahwa aku bisa menyala di kodrat dalam pertapaan. Slama bertapa seseorang akan diuji secara lahir dan batin. Jadi dia harus mawas diri dalam menghadapi situasi apapun juga.


"Baik rsi, kapan kah hamba harus melakukannya?" tanyaku


"Besok malam sebelum dia berangkat. Ambillah, agar dia menjadi mawas diri dan hati - hati selama perjalanan. Anak ma aku juga jangan memberitahu dia, jika pangeran mendapatkan pengawalan dari Kencana. Pangeran Kencana jangan membantu Satria jika dia tidak terdesak slama kau mengawal. Begitu sampai di goa pertapaan. Kamu harus segera kembali." pesan sang rsi


Kami bertiga paham dengan nasihat dan arahan sang rsi. Setelah itu sang rsi menghilang dan kembali ke Swargaloka.


"Putri, ini sudah hampir malam, istirahatlah." kata Puspa


"Tapi malam ini kami hendak kemah. Menghabiskan malam terakhir bersama Satria sebelum dia berangkat ke wana Taas." kataku.


**


Episode kali ini cukup ya. Spesial long episode and crazy up ya,. karena hari ini adalah tangal 14 juni.


Hari diperingatinya sebagai HUT Purbakala yang ke 107 tahun. Semoga purbakala indonesia dapat memberikan warna bagi Indonesia. Selain itu, karya ini sudah dikontrak lho sama Mangga Toon. Terima kasih ya atas kesetiaannya membaca karya ini.


with love


Citralekha

__ADS_1


__ADS_2