Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Kecurigaan Balaputra


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate*.


Happy reading.


.


.


"Puspa Kencana." kataku


"Tidak putri, kau harus segera kembali ke Istana." kata Puspa


Sepertinya mereka tahu aku akan minta kemana. Tapi benar saja, aku tidak diizinkan menemui Satria sebelum dia menyelesaikan bratanya. Akhirnya aku pasrah dan siyap kembali ke Istana


Aku menoleh kepada goa pertapa tadi. Pagar gaib kembali tebal. Tak berapa lama, aku sudah ada di kamarku.


Aku seperti bangun dari tidur. Perjalanan spiritual membuat aku lelah. Mungkin aku mengeluarkan energi yang banyak. Segera aku memanggil Puspa dan Kencana.


"Puspa, Kencana keluar lah." kataku lirih


Mereka segera keluar dan menemui ku.


"Ada apa putri, kau memanggil kami?" tanya Puspa


"Puspa, kenapa badanku lemas sekali. Seperti tidak ada tenaga sama sekali." kataku lirih


Puspa segera menjelaskan kalau perjalanan spiritual yang baru saja kita alamai menguras banyak energi. Perbedaan waktu dalam kunjungan telah menghabiskan energi.


"Sampai kapan aku akan seperti ini?" tanyaku


"Kami bisa mengembalikan energi mu putri." kata Kencana


Aku segera meminta Kencana untuk mengembalikan energiku. Tapi ternyata harus melalui perantara terlebih dahulu.


"Kami bisa, putri. Tapi putri harus mengeluarkan teratai emas. Putri harus meminum air dari teratai emas." jelas Kencana


Aku bingung, untuk bergerak saja aku susah. Bagaimana kalau harus mengeluarkan pusaka itu. Pasti butuh banyak energi yang harus aku keluarkan.


"Tapi mana mungkin?" tanyaku


"Kalau begitu, kami akan salurkan hawa murni terlebih dahulu." kata Puspa.


Mereka berdua segera mengangkat hangat dan keluar seberkas cahaya yang keluar dari tangannya. Cahaya itu kemudian masuk ke tubuhku. Rasanya hangat, dapat meringankan tubuhku. Meskipun belum seutuhnya pulih tapi setidaknya sudah lumayan.


"Gimana putri?" tanya Kencana


"Mendingan." jawabku


(tok tok tok)


Aku segera bangun dari tidur ku. Pintu bilik kamarku diketok oleh seseorang.


"Aku buka pintu dulu, kalian segera pergi. Nanti dia curiga kalau lihat kalian." kataku


Tapi Puspa dan Kencana tertawa terkekeh.


"Ada apa? apanya yang lucu?" tanyaku sambil manyun


"Putri, kami kan bidadari. Hanya kau yang bisa melihat kami." kata Puspa sambil tertawa


Hahaha ... ternyata aku lupa kalau mereka tak kasat mata.


"Baiklah tunggu dulu ya" kataku sambil tertawa.


Aku segera membuka pintu.


"Pasopatiii!!" teriakku


Aku segera menghampiri dia dan ingin memeluknya. Tapi segera di cegah oleh dia.


"Kamu kenapa putri?" tanya Pasopati heran


"Aku rindu sama kamu." kataku

__ADS_1


Pasopati hanya diam dan bingung. Demikian juga dengan Puspa dan Kencana yang masih tertawa.


"Aku kangen kamu, lama kan kita nggak ketemu?" tanyaku


Pasopati masih keheranan dengan tingkahku. Bahkan dia memutari ku sebanyak 2 kali. Dia memastikan tidak terjadi apa - apa padaku.


"Kamu baik - baik saja, kan?" tanya Pasopati


"Iyalah, kau kira aku sakit?" tanyaku mulai kesal


"Putri, kita tu baru saja tidak ketemu sekitar dua jam. Sudah bilang rindu seperti berpisah bertahun - tahun saja." kata Pasopati


Aku menyadari perkataan Pasopati. Bahwa aku telah keceplosan tentang perjalanan waktuku. Ku lihat Puspa dan Kencana juga tertawa. Tapi setelah aku mwliriknya, mereka seolah - olah tidak melihat dan memalingkan muka dari ku.


"Apakah ini efek kau rindu dengan Satria?" tanya Pasopati


Mendengar nama Satria dis sebut. Aku kembali lemas dan lesu. Ini sudah hampir 3 bulan dia menghilang. Tanpa kabar, bahkan Kencana dan Puspa pun tidak mau mengajak aku melihatnya.


"So, apa kita susul Satria saja ya." kataku


"Jangan putri. Ingat pesan dari Rsi Narada. Dia akan menemui kita setelah mendapatkan kesaktian dan siap menjadi maharaja." kata Pasopati


"Tapi sampai kapan So?" tanyaku


"Entahlah, putri." kata Pasopati


Kami ber cakap - cakap diserambi. Aku melihat Widasari datang sambil berlarian. Dia langsung menghampiri dan memeluk Pasopati dari belakang.


"Wida jangan begitu. Jangan buat kakakmu itu iri sama kemesraan kita." kata Pasopati yang tertawa cekikikan.


...


(Sisi lain).


Balaputra sedang bertemu dengan Astana (orang kepercayaannya). Astana adalah salah satu kepala prajurit Medang yang gila jabatan. Dia dan Balaputra bekerjasama untuk mendapatkan tahta Medang. Jika berhasil, maka Balaputra akan menjadi raja dan Astana minta jabatan sebagai mahapatih.


"Astana, kamu sudah tahu keberadaan cungguk Satria?" tanya Balaputra


Mendengar perkataan Astana, Balaputra sangat murka. Dia menendang kursi yang ada di sampingnya. Bahkan beberapa prajurit juga menjadi sasaran kemarahannya.


Astana berusaha membujuk agar Balaputra tidak kalut dan mengorbankan prajurit yang tidak bersalah.


"Sabar pangeran." kata Astana


"Sabar?? sabar?? sabar sampai kapan?" tanya Balaputra sembari mencekik leher Astana


Astana berusaha melepaskan tangan yang mencekik lehernya. Dia berusaha menenangkan Balaputra agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Pangeran hentikan, jika pangeran bersikap seperti ini. Kita akan dicurigai oleh pengikut pangeran Satria." kata Astana.


Balaputra pun akhirnya paham dan duduk kembali. Dia segera menyusun rencana untuk mengetahui keberadaan Satria. Baginya Satria adalah musuh bebuyutan yang harus terus diawasi.


"Astana, apakah kamu sudah menyusuri Kerajaan Pikatan?" tanya Balaputra


"Sudah pangeran, tapi hasilnya nihil." kata Astana.


Balaputra bahkan mulai pusing karena tidak mengetahui dan menemukan jejak Satria.


"Hilang kemana cungguk itu." kata Balaputra sembari memukulkan tangan nya di meja.


"Pangeran, saya punya ide." kata Astana


Mendengar hal itu, Balaputra lantas memajukan wajahnya dan berkata serius pada Astana.


"Ide mu apa, As?" tanya Balaputra


"Tanya kepada kakak anda." kata Astana


"Itu konyol, kakak pasti tidak akan memberitahu." kata Balaputra.


Setelah berbincang tentang ide dan akhirnya mentok juga. Tiba- tiba seorang prajurit telik sandi Astana datang.


"Payau Baya" kata telik sandi

__ADS_1


Payau Baya adalah kata sandi yang harus disebutkan telik sandi ketika bertemu dengan tuannya. Tanpa sandi itu, maka akan dicurigai sebagai telik sandi penyusup.


"Ada berita apa?" tanya Astana


Telik sandi segera menghaturkan sembah kepada Balaputra. Dia bahkan mempersilahkan prajurit itu untuk duduk sejajar dengan dirinya.


"Ampun pangeran dan paduka. Hamba pernah melihat sekilas bahwa pangeran Satria keluar malam - malam dengan kuda nya. Tapi begitu sampai batas kota tiba - tiba kuda dan pengerannya hilang tanpa jejak sama sekali." kata telik sandi


"Hilang?? hilang bagaimana?? ngomong yang jelas." bentak Astana


Kali ini Astana yang tidak sabaran. Dia bersikap seperti itu agar terlihat hebat di mata Balaputra.


"Ampun paduka, hamba mengikuti pangeran Satria sampai gerbang kota raja. Tapi setelah itu seperti di telan bumi, pangeran hilang dari pandangan kami. Kami sudah menyusuri ke setiap arah. Tapi tidak menemukan pangeran sama sekali." kata telik sandi.


Setelah memberikan laporan, Astana meminta telik sandinya untuk segera pergi dan mencari Satria lagi.


"Itu lah pangeran, pangeran Satria hilang tanpa jejak." kata Astana.


"Apakah dia memiliki ajian halimunan?" tanya Balaputra


"Hamba kurang tahu, pangeran. Tapi jika pangeran ingin menyelidiki pangeran Satria. Pangeran mau tidak mau harus mendekati kakak anda." saran Astana.


Balaputra nampak berpikir sambil memainkan gelas yang ada di meja. Dia kemudian melempar gelas perunggu yang ia pegang.


"Kalau memang itu caranya, aku akan coba lakukan." kata Balaputra


"Tapi apakah pangeran tidak mau mendekati Putri Widasari?" tanya Astana


"Putri Widasari?" tanya Balaputra.


Astana kemudian menjelaskan, bahwa putri Widasari mudah dibujuk rayu oleh Balaputra. Terlebih Widasari adalah kekasih Pasopati dan dekat dengan aku dan Satria.


"Astana, kau cerdas sekali. Aku bisa memanfaatkan Widasari." kata Balaputra


"Betul pangeran, kita hancurkan mereka dari dalam." kata Astana sambil tertawa licik.


Balaputra pun juga tertawa puas setelah menemukan cara untuk mengorek informasi dari Widasari.


...


(Taman Ganda Arum)


Putri Widasari bersama dayang sedang berjalan sore menikmati senja. Dia tidak bersama Pasopati, karena Pasopati masih melatih prajurit kerajaan. Balaputra pun mendekatinya.


"Dayang" kata Balaputra sambil melirik


Dayang pun paham dan segera meninggalkan Balaputra dan Widasari di taman.


"Ada apakah gerangan kakak Balaputra menemui hamba?" tanya Widasari


Widasari memang selalu hormat dengan orang yang lebih tua dan memiliki jabatan tinggi.


"Putri Widasari, kau nampak cantik hari ini. Beruntung sekali Pasopati mendapatkan cintamu." kata Balaputra.


"Kakak bisa saja. Saya jadi malu." kata Widasari.


Balaputra terus merayu Widasari dengan kata - kata manisnya. Widasari pun mulai akrab dan bercakap - cakap tentang kehidupan cintanya dengan Pasopati.


"Pangeran pasti ada sesuatu hal yang ingin anda tanyakan pada hamba." kata Widasari.


"Aku hanya ingin mengunjungimu. Berharap kita bisa bersahabat." rayu Balaputra.


Widasari pun senang dan merona ketika terus di rayu oleh Balaputra.


"Putri, apakah kau tahu dimana keberadaan pangeran Satria?" tanya Balaputra.


**


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.


with love


Citralekha

__ADS_1


__ADS_2