
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
*Spesial update hari ini ya gais, hayooo..jangan lupa vote nya lho*
***
"Bagaimana, mau kah kamu menikah denganku?" tanya Dipta.
"Iya" kataku dengan mantap.
Apa yang harus aku ragukan, coba? Dia adalah Rakai ku. Jadi tanpa pikir panjang aku bilang iya. Tinggal besok kita menuju ke rumahku. Aku sudah membayangkan betapa bahagia nya aku. Berjodoh dengan suamiku kembali.
"Kau tidak salah telah memilihku, sayang." kata Dipta.
Kami pun lalu berpelukan. Hmmm... Dipta juga membawa ku ala bridal gitu.
"Mau kemana kita?" tanyaku
"Kamar kita, sayang." katanya.
Aku hanya mengikuti apa yang dikatakan oleh Dipta. Ketika sampai di kamar. Dipta pun ingin mencium ku. Tentu saja, aku menolak. Entah kenapa, aku tidak ingin melakukan itu dengannya. Aku pun bangun dari tidur ku dan mendorong Dipta.
"Kenapa?" tanya Dipta
"Aku tidak ingin melakukan ini sebelum kita menikah." kataku
"Kita besok akan menikah, sayang. Percayalah" kata Dipta.
Tapi entah kenapa, aku tidak mau dengannya. Ada rasa ragu. Jika benar dia Rakai. Pasti dia tidak akan melakukan hal itu.
"Nara ... Nara ... maafkan aku. Aku terbawa nafsu tadi. Kamu istirahat saja. Aku akan keluar dari kamarmu" kata Dipta.
"Iya" kataku singkat.
Dipta pun keluar dari kamar nya. Kini tinggalah aku sendiri. Dalam malam gelap ini. Aku mencoba melihat suasana luar istana. Tapi tiba - tiba aku mendengar suara auman singa.
"Kenapa aku mendengar suara singa?" tanyaku
Ketika aku melihat ke luar jendela kamarku. Tiba - tiba singa gunung melompat ke arah ku. Aku pun kaget, ingin teriak. Tapi sayang nya, suara ku seperti tidak keluar. Padahal aku sudah berteriak.
Singa itu terus mendekatiku. Pelan - pelan aku mundur. Tapi aku kepentok sama ranjang. Aku sangat ketakutan. Lalu aku memegang leher ku. Secara tak sengaja, aku menyentuh liontin Pancaroba. Seketika itu, singa gunung berubah menjadi seorang dewi.
"Dewi Sakti" kataku
Aku pun lalu menghaturkan sembah kepada nya. Serta meneteskan air mata. Karena lama sekali sang dewi tidak menemuiku.
"Bunda Dewi Sakti" kataku
Aku hendak memeluknya tapi aku tertahan oleh dinding tipis. Aku pun tidak bisa menjangkau sang dewi.
"Dewi Sakti, kenapa saya tidak bisa menghampirimu?" tanyaku
"Kamu telah ternoda, putri ku. Bersihkan diri mu terlebih dahulu. Aku ingatkan pada mu. Gunakan mata hati dan kekuatanmu. Maka kau akan tahu dimana kau berada saat ini. Tapi setelah kau tahu, maka pura - pura lah tidak tahu. Agar kau tahu cara nya kembali." kata Dewi Sakti.
Setelah itu Dewi Sakti menghilang dari pandanganku. Aku masih memikirkan, perkataan Dewi Sakti. Sebenarnya, aku ada dimana? Apakah aku kembali ke masa lalu?
Ketika aku berusaha mencari tahu. Tiba - tiba pintu kamarku diketok seseorang.
"Siapa?" tanyaku
__ADS_1
"Saya dayang, putri. Pangeran meminta mu untuk makan malam." kata dayang.
"Bukankah tadi habis makan malam? Aku masih kenyang. Sekarang aku mau mandi." kataku
"Baiklah putri, apakah perlu saya bantu untuk mandinya?" tanya dayang.
"Tidak, terimakasih. Aku bisa sendiri" kataku
Setelah itu, dayang pun tidak terdengar suaranya. Tapi aku mendengar suara dari seseorang.
"Putri, setelah mandi, bisakah kita menikmati pemandangan malam ini?" tanya Dipta.
Aku harus bisa menolak, karena aku ingin menyelidiki sesuatu.
"Maaf pangeran, aku sangat capek dan ngantuk. Bukankah besok hari pertunangan kita? Aku mau tidur." kataku mencoba bohong.
"Baiklah permaisuriku, kamu istirahatlah. Sampai jumpa besok pagi." kata Dipta.
Sepeninggalnya Dipta, aku pun lalu bermeditasi. Memusatkan pikiranku pada Otipati dan Dewi Sakti. Mantra suci aku ucapkan. Lalu suara deru angin terdengar.
2 jam kemudian.
Aku membuka mata, dan betapa kaget nya aku. Istana nya berubah. Meskipun kemegahan masih terpancar. Tapi istana ini berubah berwarna hitam keemasan. Aura menyeramkan terpancar dari setiap sudut ruangan ini.
"Dimana aku sebenarnya?" batinku.
*
Kencana POV.
Aku terus mencari keberadaan putri Sanjiwani. Sejak masuk ke dalam bandara. Dia menjadi tidak terdeteksi. Sedangkan, aku berusaha menembusnya. Tapi tidak ketemu juga. Kemana sebenarnya putri Nara ini. Apakah putri Nara ke Jerman menyusul Puspa. Sedangkan aku hanya menemukan Retno Kartika pulang sendirian.
Aku sudah mengerahkan seluruh kesaktianku. Tapi tak kunjung aku temukan. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku akan ke Jerman sekarang juga.
Kencana pun menembus ruang dan waktu. Kira - kira 10 menit, dia sampai di markas para Ksatria muda. Tentu saja kedatangan Kencana menjadi bahan pertanyaan. Terutama oleh Adhiraksa.
"Pangeran Kencana kenapa kau datang sendirian? Dimana Nararia?" tanya Adhiraksa.
"Ada apa? Apakah terjadi masalah?" tanya Puspa.
"Aku kehilangan jejak putri Nararia. Aku sudah berusaha mencari nya. Tapi penglihatan batinku tidak sampai. Aneh sekali.. bahkan telah aku gunakan ajian mata dewa sekalian. Aku tetap tidak bisa menembus dimana keberadaan putri Nara." kata Kencana.
"Apa??" tanya mereka serempak
"Dimana terakhir kali pangeran melihatnya?" tanya Dika.
"Ketika putri Nara masuk ke Bandara. Saat itu saya langsung kehilangan jejaknya. Saya kira dia kemari. Makanya saya susul ke sini." kata Kencana.
Adhiraksa pun mukanya merah padam.
"Pasti ada menculik Nara. Tapi penculiknya memiliki ilmu yang tinggi." kata Adhiraksa.
"Aku akan coba mendeteksinya" kata Senopati.
"Baik Senopati" kata Puspa.
Senopati pun berusaha mendeteksi keberadaan putri Nara. Beberapa saat kemudian, Senopati membuka mata nya.
"Bagaimana Senopati, apakah kau menemukannya?" tanya Dika sudah tidak sabar.
"Maaf pangeran, dalam bayanganku bahwa putri Nara sedang dalam pengaruh ilusi." kata Senopati.
"Ilusi? Ilusi siapa?" tanya Ivan, tiba - tiba menyahut.
Senopati pun menggelengkan kepala. Kemudian mereka semua sepakat untuk menyatukan kekuatan.
"Ayo satukan kekuatan. Kita tembus ilusi itu." ajak Adhiraksa.
Semuanya pun sepakat, serta memejamkan mata. Mereka membentuk sebuah formasi. Kencana dan Puspa pun juga ikut. Kencana akan menggunakan mata dewa. Sedangkan Puspa akan menggunakan ilmu nya. Kekuatan menjadi satu pun tergabung. Mereka semua seperti menjelajahi waktu.
__ADS_1
Mereka melihat bagaimana saat Nara masuk ke Bandara. Mereka melihat semuanya. Bahkan melihat pertemuan dengan Dipta. Tapi ketika mau menyelami siapa Dipta. Tiba - tiba mereka dihantam oleh sebuah kekuatan yang dasyat. Sehingga mereka semua kembali dengan luka dalam.
Aaaaaah
Teriak mereka semua.
"Energi lelaki bernama Dipta sangat besar." kata Senopati.
Ivan dan Dika pun badannya terkulai. Tapi segera ditolong oleh Puspa.
"Siapa sebenarnya Dipta itu?" tanya Dika.
"Kenapa kita semua tidak bisa mengetahu siapa Dipta." kata Ivan.
Adhiraksa pun lalu berdiam diri. Dia mencoba mencari akal.
"Artinya Nara dalam pengaruh ilusi yang kuat. Si penculik Nara sangat cerdas. Bahkan dia menyiapkan tiruan dari Pangeran Kencana dan Dewi Puspasari. Sehingga Nara tidak menyadari kalau sebenarnya orang- orang terdekatnya adalah ilusi." kata Adhiraksa.
"Bukankah Nara mempunyai Padma Ratni, Liontin Pancaroba, Teratai Emas, kenapa semuanya tidak berfungsi?" tanya Dika.
"Nara juga mempunyai kekuatan ilusi dari Dewi Sakti. Sehingga dia tidak akan terpengaruh ilusi." sahut Ivan.
"Itu semua karena Dipta benar - benar menciptakan apa yang disekeliling Nara nyata. Ketika Nara sedikit tersadar. Dipta segera memberikan pengaruh melalui makanan dan sentuhan." kata Puspa.
Mereka berusaha kembali menembus kekuatan ilusi itu. Tapi kali ini Adhiraksa yang akan memimpin.
"Kita akan masuk dunia ilusi lagi. Tapi tidak dengan mata batin kita." kata Adhiraksa.
"Lalu?" tanya Dika.
"Ada sebuah cara untuk kita tahu. Dimana Nara berada. Hanya ketika Nara tersadar. Kita akan bisa terkoneksi dengannya. Sekarang aku butuh media apa yang pernah Nara gunakan dan sentuh." pinta Adhiraksa.
Dika pun lalu lari ke dalam kamarnya. Dia terlihat mengambil sesuatu. Tak lama kemudian dia keluar.
"Syal ini adalah pemberian Nara sebelum aku berangkat kesini." kata Dika.
"Kalau begitu kita gunakan syal ini untuk menembus Nara." kata Adhiraksa.
Adhiraksa lalu berusaha menelusuri syal itu. Tapi sayang nya usaha nya juga tak berhasil. Malah sebaliknya, syal itu terbakar.
"Ilusinya terlalu kuat, sekarang kita harus gimana?" tanya Ivan.
"Segala macam cara telah kita lakukan. Tapi semuanya sia - sia. Mungkinkah ini perbuatan dari musuh kita?" terka Dika.
"Raja Arda" sahut seseorang yang baru saja datang.
Mereka semua pun menoleh kepada sumber suara itu. Betapa kagetnya setelah mereka tahu siapa yang datang.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next:
Apakah Nara akan bisa diselamatkan dari ilusi itu? Lalu siapa seseorang itu?
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
__ADS_1
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"