
* Sebelum membaca jangan lupa untuk like, comment, dan vote ya*
makasih
.
Kami berempat kemudian menuju Candi Sewu. Dalam perjalanan kami melihat Candi Bubrah. Akan tetapi kami tidak mampir, karena bentuk dan fungsi hampir sama dengan Candi Lumbung. Jadi kami langsung menuju Candi Sewu. Kompleks percandian ini sangat indah dan sejuk, karena banyak pepohonan. Sayangnya masih banyak reruntuhan candi yang belum dipugar.
"Mas, tadi waktu di Candi Lumbung kan ditemukan prasasti untuk Candi Sewu, itu prasasti apa ya mas?" tanyaku.
"Iya ... tadi Mas Fais janji mau menceritakan tentang prasasti itu." sahut Dika.
Fais kemudian tersenyum dan melihat kami satu per satu.
"Namanya Prasasti Kelurak, yang berangka tahun 782 M." terang Fais.
"Berarti candi ini lebih tua dari Candi Prambanan, ya?" tanya Dika.
"Iya betul, candi ini dibangun pertama kali oleh Rakai Panangkaran, kakek Pikatan dan dislesekan oleh oleh sang Pikatan." jelas Fais.
"Oh iya, candi ini berapa ya jumlahnya mas, banyak banget." kataku
"Sewu, hahahaha." kata Ivan yang kemudian semuanya tertawa cekikikan.
"Udah tahu namanya Candi Sewu, ya pasti ada 1.000 candi laah." ledek Ivan lagi.
Aku kemudian mencubit Ivan dan memasang tampang garang ke Dika dan Fais.
"Oke - oke, candi ini memiliki candi perwara 240, 8 candi apit, dan 1 candi induk. Jadi totalnya 249 buah." kata Fais.
"Eh kok di sini ada 2 patung raksasa penjaga ya, beda seperti Prambanan nggak ada penjaganya." kata Dika sambil berjalan mendekati salah satu arca penjaga yang tingginya sekitar 3 m.
"Itu namanya Dwarapala, arca penjaga, jumlahnya di sini ada 8 buah. Setiap pintu masuk candi ada sepasang arca ini." kata Fais sambil menunjukan ke 3 pasang lainnya.
__ADS_1
"Ukuran candi induk berapa ya mas? gede banget." tanya Ivan, sambil berlari menuju candi yang dimaksud.
"Tinggi bangunan 29,8 m. Denah candi induk berbentuk palang bersudut 20 dengan garis tengah berukuran 28,9 m.
Kami kemudian berlari menyusul Ivan yang sudah lebih dahulu masuk ke candi induk dan langsung tiduran di lantai candi.
"Kalian tau nggak, candi ini melambangkan konsep alam semesta dalam kosmologi Agama Budha lho." kata Fais membuat kami penasaran.
"Konsepnya kek gimana mas? beda dengan Prambanan ya?" tanyaku sambil melihat sekeliling candi yang sangat berantakan.
Fais kemudian menjelaskan tentang kosmologi Candi Sewu. Kami menyimak apa yang Fais jelaskan ke kami.
---
Candi induk Sewu melambangkan benua pusat dengan meru (gunung). Tujuh rangkaian pegunungan digambarkan dalam bentuk pagar keliling I, candi perwara deret I, II, candi apit, candi perwara deret III, IV, dan pagar keliling II. Tujuh lautan dilambangkan dengan halaman I, halaman diantara pagar I dengan candi perwara deret I, halaman diantara candi perwara deret II dan candi apit, halaman diantara candi apit dan candi perwara deret III, halaman diantara candi perwara deret III dan IV, serta halaman diantara candi perwara deret IV dan pagar keliling II.
---
"Kalian tahu nggak kalau bahan inti bangunan Candi Sewu ini dibuat dari batu bata." kata Fais
"Inti itu di dalam jadi ya nggak kelihatanlah, hahaha." kata Fais disertai tawa.
"Kenapa batu bata?" tanyaku.
"Batu bata kan terbuat dari 5 unsur alam dan prakrti. Jadi sangat cocok digunakan untuk inti candi." kata Fais.
Fais kemudian berdiri dan mengajak kami naik ke dalam candi. Adem banget bangunan ini dan di dalamnya kosong tidak ada satu arcapun. Hanya sebuah lapik arca yang besar banget.
"Mas, kenaoa di dalam sini kosong, mana Dewa Manjusri." tanyaku.
"Ooh ... kemungkinan dulu arca Manjusri terbuat dari perunggu yang tinggi dan besar. Akan tetapi sekarang dimana arca itu nggak tahu." kata Fais.
Kita kemudian mengelilingi candi induk sewu dan ada yang membuat kami menarik. Kami kemudian mendekati beberapa baris panil relief.
__ADS_1
"Eh ini relief orang bermain musik." kataku sambil menunjuk beberapa relief yang menggambarkan orang sedang bermain musik.
"Iya, relief yang tergambarkan dalam candi adalah sebagai petunjuk kita untuk masa lalu." kata Fais.
"Jadi, kemungkinan dulu sudah ada alat musik ya." sahut Dika sambil matanya berbinar.
"Iya, ini adalah kendang, trus ini seperti kolintang yang dipegang." kata Fais sambil menunjukan panil relief yang menggambarkan kendang dan kolintang. Ada juga suling dan ceng - ceng.
Kami kemudian turun melalui pintu selatan dan Fais mengajak kami menuju salah satu bangunan candi perwara.
"Ngapain ke sini, mas?" tanya Ivan.
"Mas akan menunjukan sesuatu yang menakjubkan." kata Fais sambil terus melangkahkan kaki menuju relief bagian selatan. Ia kemudian menyuruh kami untuk masuk ke salah satu perwara dan kami takjub dengan apa yang kami lihat.
"Wooow ... mantaap, apakah ini juga gambaran pada zaman dahulu?" kata Dika.
Fais kemudian mengangguk kepala dan sambil tersenyum. Ia kemudian ikut masuk dan menyentuh relief itu.
"Ini relief lampu pada abad ke 8." kata Fais dengan bangganya.
"Luar biasa, lampu nya ini keren banget." kata Dika sambil terus memandangi relief itu.
"Ini adalah lampu untuk ritual. Lihat saja lampunya digambarkan di atas teratai. Kalian tahu kan, teratai adalah lambang kesucian dan memiliki filosofis yang tinggi." kataku
"Iya, yang membuatku heran adalah penggambarannya sangat detail". sahut Dika.
Kami sangat puas dengan suguhan Candi Sewu saat ini. Kami kemudian memutuskan untuk istirahat sejenak dan kembali masuk ke halaman utama Candi Sewu.
*
Episode kali ini cukup ya teman - teman,
terimakasih atas partisipasinya.
__ADS_1
with love
Citralekha