Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Perang Pandan


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.


Happy reading


***


"Nanti aku belikan." sahut Prasta dan Dika secara bersamaan.


Kain tenun yang dihasilkan oleh penduduk Desa Tenganan dikenal dengan nama Kain Gringsing. Kain tenun khas masyarakat Desa Tenganan ini sangat terkenal bahkan sudah mendunia. Teknik pengerjaannya menggunakan teknik dobel ikat, yang diketahui sebagai teknik tenun satu-satunya di Indonesia.


"Kamu tunggu di sini ya, Ra." kata Dika


"Mau kemana?" tanyaku


"Mencari tenun untukmu." kata Dika


"Nanti saka, ayo kita melihat ke arah orang yang ramai - ramai." kataku


Kami langsung menuju ke tempat orang berkerumun. Pada waktu itu belum covid. jadi masih aman ya buat kumpul- kumpul. Hehehe...


"Mereka sedang ngapain sih?" tanyaku


"Perang pandan" sahut Mas Arya


"Hah?" tanya kami kompak


Setiap tahunnya sekali akan digelar perang pandan (tradisi mageret pandan). Tradisi ini sangat unik yakni sepasang pemuda desa saling memukul dengan menggunakan duri yang ada di daun pandan. Daun-daun pandan berduri ini dipukulkan di atas punggung mereka hingga terluka dan berdarah.


"Kita beruntung ni, ke Desa ini pas ada acara perang pandan." sahut Gusde


"Kami juga penasaran" sahut Ivan dan Dika


"Bukannya kalian sering perang" godaku


"Beda neng" kata Ivan


Perang pandan merupakan tradisi kuno dan hanya dimiliki oleh desa Bali kuno di Desa Tenganan, Karangasem, Bali. Masyarakat Bali biasa menyebut tradisi ini dengan sebutan mekare-kare dan megeret pandan. Tradisi ini adala ritual Sasih Sembah, yaitu ritual terbesar yang dilakukan untuk menghormati Dewa Indra atau Dewa Perang.


Perang pandan, yang manakah yang menjadi perbedaan sebenarnya yang membuat desa - desa Bali Aga khususnya Desa Tenganan yang budayanya berbeda dari yang lain. Perbedaanya terletak pada pemujaan, karena masyarakat Bali Aga adalah pemuja Dewa Inda sebagai Dewa utama.


Sebagian masyarakat Bali yang berasal dari suku Majapahit yang menjadi Dewa utamanya adalah Dewa Siwa. Selain itu juga bisa melihat perbedaan pada pura, mereka juga tidak mengenal sistem “kasta” seperti halnya umat Hindu Bali lainnya.


"Desa ini sangat unik lho, mereka mempunyai hari raya sendiri." kata Gusde


"Maksudnya?" tanya Satria

__ADS_1


"Ketika masyarakat Hindu Bali lainnya melaksanakan Hari Raya Nyepi di desa Tenganan dan desa - desa dengan masyarakat Bali Aga Bali tidak merayakan Tradisi Nyepi." sahut Mas Arya


"Lalu?" tanya Prasta


"Ini lah tradisi perang pandan merupakan perayaan di desa ini." kata Gusde.


Kami lalu mencoba menyibak kerumunan manusia yang padat untuk menyaksikan perang ini.


"Sejarah dari perang pandan ini bagaimana ya?" tanyaku penasaran


"Untuk sejarah awal bagaimana perang pandan ini akhirnya menjadi tradisi turun temurun, berawal dari seorang raja yang lalim dan sangat kejam memerintah masyarakat Bali Aga jauh sebelum kedatangan orang - orang majapahit ke pulau Bali." kata Gusde mengawali ceritanya


"Berarti sebelum Majapahit datang. Bali memiliki raja sendiri?" tanya Ivan


"Tentu lah" kataku


Mas Arya lalu melanjutkan cerita tentang perang pandan. Dia tahu tentang cerita ini, karena kan berada dalam 1 kabupaten.


"Raja tersebut bernama Maya Denawa, karena Maya Denawa memiliki kesaktian yang luar biasa yang membuat dirinya sebagai dewa melarang rakyat untuk menyembah Dewa Indra. Karena masyarakat merasa Raja Maya Denawa sudah diluar batas maka masyarakat kala itu memohon kepada Dewa Indra untuk membebaskan mereka dari kekejaman Maya Denawa." kata Mas Arya


Maka Dewa Indra pun turun ke dunia untuk mengalahkan raja Maya Denawa yang sombong. Pada akhirnya Maya Denawa dapat dikalahkan atas kesombongannya. Sejak itulah masyarakat Tenganan memperingati matinya Maya Denawa.


"Mereka melakukan tradisi perang pandan setiap tahunnya untuk mengenang kembali kebebebasan mereka atas cengrakamn kekejaman Raja Maya Denawa dan untuk menghormati Dewa Indra yang juga dikenal oleh masyarakat Hindu sebagai dewa perang." sahut Gusde.


Pikiranku lalu melayang ke Tirta Mpul. Cerita yang sama dengan Maya Denawa.


"Apakah ada hubungannya dengan Tirta Empul?" tanyaku


"Peserta perang pandan ini dari pemuda desa sini, kan?" tanya Ivan


Pada tradisi perang pandan ini selalu dilakukan oleh pemuda desa Tenganan. Perang Pandan dijadikan tolak ukur seorang bisa dianggap dewasa karena memiliki nyali untuk melakukan perang pandan.


Senjata yang digunakan dalam tradisi perang panda ini adalah menggunakan pandan sebagai senjata utama. Pandan yang digunakan adalah pandan yang berduri. Peserta juga dibolehkan membawa perisai yang terbuat dari anyaman rotan dan peraturannya cukup simpel.


Perserta yang melakukan perang atau duel akan dipilih oleh juri sesuai dengan postur tubuh mereka. Biasanya perang pandan akan dimulai pada pagi hari untuk memohon keselamatan dan kelancaran acara. Dan dilanjutkan oleh tari - tarian untuk menghibur para wisatawan kemudia diakhiri dengan pengobatan bersama - sama antar peserta untuk mengobati bekas tusukan dan goresan dari luka yang ditimbulkan saat mereka melakukan perang panda.


"Berarti hampir sama dengan tradisi loncat batu yang ada di Nias" sahut Dika


"Ya, pemuda yang dianggap telah dewasa harus melewati batu tersebut. Sama hal nya dengan di sini. Para pemuda juga harus melakukan perang pandan." sahut Mas Putu.


"Setelah berperang, bagaimana dengan luka mereka?" tanya Satria


"Apakah mereka dalam keadaan kerawuhan?" tanya Dika


"Mereka sadar kok, tapi ya itu sebelum perang dilakukan mereka akan sembahyang dulu di pura. Mohon keselamatan kepada Dewa Indra untuk merestui perang ini." kata Gusde.


Tradisi perang pandan, dilakukan dengan menggunakan pandan berduri sebagai alat atau senjata untuk berperang. Pandan berduri yang digunakan adalah pandan yang sudah diikat sehingga berbentuk seperti gada. Peserta perang pandan juga menggunakan sebuah tameng. Tameng tersebut digunakan untuk melindungi diri dari serangan lawan. Tameng yang digunakan pada perang pandan terbuat dari rotan yang dianyam.



"Duuh pasti sakit banget ya itu." kataku saat melihat kulit pemuda itu tergores dengan pandan berduri.

__ADS_1


"Ya perih, tapi kata salah satu orang saat perang berlangsung. Mereka tidak merasakan apa - apa." sahut Mas Arya.


"Itu gamelan apa?" tanya Prasta


"Selonding namanya." sahut Mas Arya.


Perang pandan diiringi musik gamelan selonding. Seloding adalah alat musik di daerah Tenganan yang hanya boleh dimainkan oleh orang yang disucikan. Alat musik ini juga tidak sembarangan dimainkan, melainkan hanya pada acara tertentu saja. Alat tersebut memiliki pantangan yang tidak boleh dilanggar yaitu tidak boleh menyentuh tanah.


"Bener - bener sakral ya tradisi ini, luar biasa." kata Satria.


"Itulah kehebatan Bali, selalu memukau setiap apapun itu." kata Gusde bangga


"Oh iya, pakaiannya sangat bagus ya." gumam Prasta


"Peserta perang pandan memakai pakaian adat Tenganan yang bernama kain tenun Pegringsingan. Masyarakat pria hanya menggunakan sarung atau disebut kamen, selendang atau disebut saput, dan ikat kepala atau udeng. Pria tersebut tidak mengenakan baju alias bertelanjang dada." sahut Mas Putu


"Tadi awalnya gimana ya untuk prosesi perang pandan ini?" tanyaku penasaran.


"Aku akan jelaskan." sahut Mas Arya


Upacara perang pandan didahului dengan mengelilingi desa sebagai wujud permintaan keselamatan kepada Dewa. Setelah mengelilingi desa, kemudian dilanjutkan ritual minum tuak bersama. Tuak kemudian di kumpulkan bersama dan dibuang di sebelah panggung.


 Pemangku adat akan memberikan aba-aba tanda perang dimulai.Perang dilakukan berpasangan yaitu sejumlah dua orang. Peserta perang pandan akan menari-nari dan sesekali menyabetkan pandan berduri pada peserta lainnya sealam datu menit lalu bergantian dengan pasangan lain. Meskipun tubuhnya berdarah, pada peserta tetap terlihat senang karena hal itu adalah salah satu ungkapan syukur mereka dan cara menghormati Dewa Indra.


"Setelah itu mereka akan diobati, kan?" tanyaku


"Setelah perang selesai peserta yang terluka diolesi ramuan tradisional yang terbuat dari kunyit. Acara selanjutnya setelah perang usai adalah melakukan sembahyang di pure. Meskipun peserta terluka tetapi tidak ada dendam di antara peserta. Hal tersebut disimbolkan dengan makan bersama yang menunjukkan kebersamaan. Acara tersebut dinamakan mengibung." sahut Mas Arya.


Setelah puas dengan pertunjukan perang pandan. Kami pun menuju ke sebuah rumah.


"Kamu kenapa?" tanya Dika pada ku


"Aku pusing banget ni." kataku


***


Haii... apa kalian merindukan author?


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next :


Peristiwa apa lagi yang akan menimpa Nara?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


With love

__ADS_1


Citralekha


__ADS_2