
*Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, rate, dan vote ya.
Happy reading.
.
.
Perjalanan spiritual bersama Puspa dan Kencana mengunjungi tempat suci membuatku senang. Kali ini mereka akan mengajakku ke sebuah bukit yang tak jauh dari Avatar Grha. Seperti biasanya aku selalu di buat penasaran oleh mereka berdua.
"Kita mau ke candi mana lagi?" tanyaku
"Nanti kamu akan tahu, putri." kata Kencana
"Kalau gitu ayok kita pergi." ajakku
Kencana menggandeng lengan kiri dan Puspa di sebelah kanan. Kali ini mereka mengajakku terbang. Bukan menghilang seperti biasanya.
"Kenapa kita melayang?" tanyaku
"Ini spesial, putri. Kamu bisa melihat pemandangan di bawah." kata Puspa
Aku pun mengamati pemandangan di bawahku. Seperti naik pesawat dan melihat melalui foto udara. Pemandangan bawah sangat indah.
"Gimana putri, apa kau senang?" tanya Kencana
"Iya seperti mimpi rasanya." gumamku
Aku terus melihat ke arah bawah. Meskipun begitu, aku harus kalem dan tidak boleh banyak gerak. Takut aku jatuh apabila terlepas dari tangan mereka berdua.
"Puspa kalau kalian melepas tanganku. Apa aku akan jatuh?" tanyaku
"Hahahha ... tentu putri" kata Kencana
"Ah tidak kok putri, kamu bisa melayang seperti burung itu." kata Puspa sambil menunjuk kawanan burung yang melintas di depanku.
Tapi aku masih takut jatuh. Aku memutuskan untuk terus menggandeng tangan mereka berdua. Tiba - tiba aku tertuju pada sebuah bukit yang memancarkan sinar.
"Kenapa bukit itu bersinar?" tanyaku
"Itu karena ada sebuah kekuatan besar yang ada di sana." kata Kencana
"Apakah aku boleh ke sana?" tanyaku
"Kita memang mau ke sana, putri." kata Puspa
Aku seneng banget mendapatkan jawaban dari Puspa. Ternyata mereka tahu apa yang aku inginkan. Tapi jantungku tiba - tiba berdetak sangat kencang tatkala semakin mendekati bukit itu.
"Putri, jika kita nanti sampai di bawah. Berjanjilah untuk tetap manis di samping kami." kata Puspa
"Iya, aku janji." kataku
Tak berapa lama, kami masuk dan menembus lebatnya pohon. Tapi ini sebuah keajaiban, bahwa kami bisa menembus dahan dan ranting.
"Hei kenapa kita tidak terluka?" tanyaku
"Apanya yang terluka?" tanya Puspa balik
__ADS_1
"Seharusnya kita terluka atau tergores karena terkena ranting pohon." kataku menjelaskannya
Mereka berdua kemudian tertawa bersamaan dan memberitahunya
"Putri ini gimana, kan putri punya kekuatan ghaib juga. Jadi putri bisa menembus semuanya." jelas Puspa
"Kekuatan ghaib? seingetku aku hanya mempunyai panah pancaroba dan teratai emas." kataku
"Ke dua pusaka itu lah kekuatan ghaib mu, putri." kata Puspa
Tapi aku masih bingung dengan cara kerjanya. Seingat dan setahu ku, senjata pusaka itu memang memiliki kekuatan yang dasyat. Daya hancur yang sangat hebat. Tapi aku baru tahu jika bisa digunakan untuk keperluan lain.
Kami terus menembus dalam Hutan dan semakin dalam. Aku jadi teringat saat menyelamatkan Pasopati di Hutan Dandaka.
"Apakah kita akan menjumpai raksasa lagi?" tanyaku
"Putri masih trauma dengan Hutan Dandaka, kah?" tanya Kencana
"Iya, karena hutan itu aku menyamar menjadi siluman untuk membebaskan Pasopati." kataku
Puspa menjelaskan kepadaku kalau hutan ini tidak seseram Dandaka. Tapi banyak binatang buas dan beracun di sini. Tibalah kami ke sebuah sudut hutan yang penuh dengan berbagai jenis ular. Melihatnya, aku jadi gemetaran dan terus memegangi Puspa.
"Kamu kenapa, putri?" tanya Puspa
"Aku takut" kataku
"Tenang putri, ada kami." kata Kencana
Tiba - tiba kami dihadang oleh seekor ular cobra yang besar. Dari mulutnya mengeluarkan semburan api yang mematikan. Sekali sambur banyak pohon yang langsung terbakar. Aku pun panik melihat hal itu.
"Ular memiliki mata yang tajam putri. Jadi dia bisa menembus ajian ini. Selain itu, ular yang ada di hadapan kita adalah ratu ular." kata Kencana
"Hati - hati putri." kata Puspa
Salah bertindak dan tidak menjaga keseimbangan. Kita bisa jatuh ke tanah dan siap disambut oleh ular yang di bawah. Aku berniat mengeluarkan pancaroba agar segera berakhir. Tapi ratu ular itu tidak memberikan kesempatan kepadaku untuk mengeluarkan pusaka itu.
Dia terus menyerangku. Menyembur, berusaha melilit, dan mengigit.
"Puspaaa!!" teriakku
Ak hampir saja jatuh ke tanah. Ular di bawah segera mengangga. Mereka siap menginggit dan menyantapku. Aku terus berdoa agar selamat. Aku belum mau mati, karena aku mau melihat secara langsung bagaimana Candi Prambanan di bangun.
"Putrii" teriak Kencana
Aku terus menukik ke bawah karena menghindari serangan raja cobra yang bertubi - tubi. Kencana segera mengeluarkan jerat gaib. Jerat itu, seperti menangkapku. Tepat di atas sekitar 1m. Ular itu seperti meloncat. Tapi tidak dapat menyentuhku. Aku terlindung karena jerat ghaib.
"Hampir saja" gumamku
Aku segera berdiri dan menyeimbangkan badanku. Aku berusaha menguasai diriku agar bisa berdiri. Dengan ingatan dan pelajaran dari Dewi Sakti. Aku mulai terbiasa berjalan melayang.
"Ini hebat bukan." gumamku
"Putri awas!" teriak Puspa
Tapi terlambat, aku sudah terlilit oleh raja cobra. Melihatku terlilit raja cobra senang dan berusaha memakanku. Kencana dengan sigap menolongku dari lilitan ular cobra.
"Jangan banyak bergerak, putri." kata Kencana
__ADS_1
Semakin aku bergerak, lilitannya semakin kencang. Aku hampir kehabisan nafas.
"Putri segera panggil teratai emas!." perintah Puspa
Aku pun segera memejamkan mata. Tubuhku bersinar dan teratai emas terus berputar dan mengeluarkan sinar. Melihat teratai emas, ratu cobra sempat kaget. Tapi dia semakin bernafsu ingin membunuhku.
"Oh jadi kau adalah putri dari kerajaan Medang?" tanya ratu cobra
Secepat kilat kepala cobra berubah menjadi kepala manusia seorang wanita. Dia lumayan cantik, tapi sayangnya badannya masih berekor. Ekornya masih terus melilitku
"Siapa kau?" tanyaku
"Aku bisa membalas dendam kepada keturunan Sanjaya. Dulu aku dikurung oleh kakek buyutmu. Sekarang saatnya pembalasan." kata ratu cobra
"Jangan harap, kalau begitu. Aku yang akan memusnahkanmu." teriakku
Teratai semakin bersinar terang. Cahaya itu secepat kilat membebaskan diriku dari lilitan ratu cobra.
"Aku akan membunuhmu!." kata ratu cobra.
"Coba saja kalau bisa." kataku
Teratai emas terus membuat perisai. Serangan ratu cobra tidak berarti apa - apa buat diriku.
"Putri segera selesaikan. Keluarkan Pancaroba." kata Kencana
Aku segera mengeluarkan pancaroba. Kini bersatunya teratai emas dan pancaroba. Panah sakti itu sangat mematikan. Aku langsung memanggil busur sakti. Kini busur dan anak panah sudah di tanganku.
"Hati - hati ratu cobra." kataku
Aku segera merentangkan gandiwaku. Secepat kilat, panah sakti meluncur dan memusnahkan ratu cobra. Pasukan ular di bawah kami juga ikut musnah.
"Selesai sudah putri. Ayo segera ke puncak bukit." ajak Kencana
Aku segera mengikuti mereka berdua. Kali ini aku bisa terbang sendiri tanpa bantuan mereka. Tak lama kemudian, kami melewati sebuah danau yang penuh dengan buah - buahan hutan. Hingga akhirnya sampai di sebuah goa yang memancarkan cahaya.
"Kenapa goa itu bersinar?" tanyaku
"Karena ada seorang ksatria hang sedang bertapa di dalamnya putri." kata Kencana
Aku penasaran dengan orang yang ada di dalam Hutan itu. Aku segera melesat dan ingin masuk. Tapi sayang, tubuhku terpental. Puspa dengan sigap menahanku.
"Putri, apa kau lupa dengan pesan kami sebelum kami mengajakmu ke sini?" tanya Kencana
"Apa aku tidak boleh melakukan apa - apa." kataku
"Iya, tapi kamu bisa melihat siapa orang yang ada di dalam goa itu." kata Puspa
"Gimana caranya? mendekat saja aku terpental." kataku bingung.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.
with love
citralekha
__ADS_1