
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Happy reading
***
Satria pun menjadi terpikirkan kata dari Prasta. Di sisi lain dia ingin bersanding dengan 'reinkarnasi' putri mahkota. Tapi di sisi lain, hati kecilnya mengatakan jika Tamara bukanlah putri mahkota.
"Sat, kenapa kamu diam?" tanya Prasta.
"Aku kepikiran dan ragu. Apakah Tamara itu sebenarnya putri mahkota atau selir?" tanya Satria.
Mendengar percakapan mereka (eh nguping ding). Aku pun lalu nimbrung. Soalnya mereka tu nggak peka banget. Aku lah putri mahkota. Kenapa mereka tidak bisa merasakan aura ku. Kan jadi sebel.
"Untuk membuktikan akan hal itu. Kamu harus ke Jerman, Sat. Cari tahu siapa sebenarnya Tamara itu. Tapi jika Tamara adalah putri mahkota. Kenapa dia bertindak sangat kejam dan bekerjasama dengan pangeran kegelapan?" kataku
Mereka berdua pun lalu menoleh kepadaku.
"Setuju, Sat, kamu ke Jerman. Biarkan aku yang menjaga Nararia." kata Prasta
Satria pun masih menimbang tentang usul Prasta. Tapi jika tidak ke Jerman. Dia tidak akan tahu sebenarnya Tamara itu siapa.
"Baiklah aku akan ke Jerman. Tapi bagaimana mungkin bisa aku kembali ke Tamara? Dia pasti telah menilai ku sebagai lelaki yang tidak bisa dipercaya." kata Satria.
"Tamara tu sangat mencintaimu. Dia pasti dengan mudah akan menerimamu." kataku
"Baiklah, aku akan minta asisten untuk menyiapkan tiket pulang ke Jerman." kata Satria.
*
Jerman
(Dika dan Ivan)
Ivan masih sangat sebal dengan Dika. Bahkan di saat sore setelah latihan. Ivan melihat Ara dan Ciki menemui Dika. Ivan pun menatap tajam kepada dua wanita itu.
"Mau ngapain lagi kalian kemari?" tanya Ivan dengan ketus.
"Ivan, ramah lah sedikit pada wanita. Kamu ke sini hanya untuk mengucapkan terimakasih." kata Ciki
"Sangat tak tahu malu." kata Ivan lalu berlalu begitu.
Ciki hendak memukul Ivan. Tapi langsung dicegah oleh Ara.
"Kendalikan amarahmu, Ciki. Atau raja kegelapan akan mengetahui kehadiran kita." kata Ara
"Tapi laki - laki itu tak tahu diri. Seharusnya dia yang terimakaish dengan kita." kata Ciki
"Itu sangat bagus kalau dia merasa curiga. Itu artinya dia waspada pada orang yang baru dikenal." kata Ara.
Tak berapa lama Dika pun keluar dari kamarnya. Dia berpapasan dengan Ivan. Hanya tatapan dan senyuman getir yang keluar dari ekspresi mereka. Dika pun lalu menemui Ara dan Ciki.
"Hai ... maaf menunggu terlalu lama." kata Dika
"Tidak mengapa, oh iya kenapa kamu memanggil kami?" tanya Ara
"Ada hal yang ingin aku sampaikan. Tapi sebaiknya kita mencari tempat yang aman" saran Dika.
"Baik" kata Ara dan Ciki
Dika pun lalu memimpin dan mengarahkan kemana mereka akan berbicara. Ivan dari kejauhan pun hanya bisa melihatnya. Dia sangat penasaran dengan apa yang akan diobrolkan. Sampai harus menjauh segala. Ivan pun lalu memanggil Senopati Dandaka. Serta minta tolong kepadanya untuk mengawasi mereka. Sang Senopati hanya menurut perkataan Ivan. Bagi senopati, keselamatan Dika dan Ivan adalah tanggungjawabnya.
Dika, Ara, dan Ciki pun sampai di meja batu yang terletak pada seberang asrama mereka.
__ADS_1
"Ada apa Dika? Kenapa kau membawa kami jauh ke sini?" tanya Ara.
Dika pun langsung menjatuhkan dirinya dihadapan Ara dan Ciki. Dika langsung berlutut dan mencium kaki mereka. Sontak membuat mereka kaget.
"Dika kamu kenapa?" tanya Ara yang agak risih dengan pemandangan itu.
"Dewi, terimakaish karena Dewi telah melindungi kami dari raja kegelapan." kata Dika
Ara dan Ciki pun saling tatap. Tapi sebelum menangani Dika. Mereka pun merasakan ada yang sedang mengawasi. Lalu mata Ciki menarik keluar senopati Dandaka.
"Tidak baik menguping pembicaraan seseorang, bukan?" tanya Ciki dengan sorot mata tajam.
"Tugasku adalah melindungi Dika dan Ivan" kata Senopati.
"Tapi kau tidak bisa melawan raja kegelapan." kata Ciki.
Dika pun lalu melihat siapa yang sedang ditangkap oleh Ciki.
"Dewi, mohon ampuni senopati Dandaka." kata Dika.
"Karena permintaan Dika. Maka kamu aku ampuni. Katakan pada yang mrnyuruhmu. Kalau kami tak mempunyai niat jahat." kata Ciki.
Senopati pun lalu pergi meninggalkan mereka. Dika masih mencakupkan kedua tangannya.
"Kenapa kamu bertingkah seperti ini?" tanya Ara bingung.
"Ampun dewi, bermurah hatilah kepada hamba. Agar hamba dapat melihat wujud asli Mahadewi Kali." kata Dika
Ara dan Ciki pun saling menatap lagi. Lalu mereka tersenyum.
"Apa yang kamu katakan Dika? Siapa Mahadewi Kali itu?" tanya Ciki berusaha menutupi.
"Aura keibuan dari Mahadewi Kali sangat bisa hamba rasakan. Bermurah hatilah dewi." kata Dika memohon.
"Apa yang membuat mu yakin kalau kami adalah Mahadewi?" tanya Ara
Dika diam sejenak dan kemudian menarik nafas serta membuangnya.
Ara dan Ciki pun kemudian tersenyum dan merubah wujud mereka. Dika pun terpukau dengan wujud yang maha dasyat itu. Berkali Dika mengeluarkan air mata kebahagiaan.
"Aku tahu siapa diri mu, anak mas." kata Ara
"Ampuni hamba, Dewi. Jika dewi berkenan untuk merahasiakan siapa sebenarnya hamba ini. Belum waktunya yang lain tahu siapa hamba, Mahadewi." kata Dika
"Baiklah, karena kamu telah mengetahui wujud asli kami. Maka kami akan pergi meninggalkan kalian. Jagalah diri kalian baik - baik. Anak mas, sebagai tanda bhaktimu. Terimalah kalung Padma Locana. Kalung itu akan melindungimu dari kekuatan sihir manapun juga. Berhati - hati lah dengan raja kegelapan. Suatu saat kalung itu akan berguna." kata Mahadewi.
Dika kemudian menunduk dan kembali menatap sang dewi. Dika bisa melihat persatuan tubuh antara Ara dan Ciki. Kemudian menjadi wujud Mahadewi yang dasyat. Sete ah itu tersenyum dan berubah menjadi Dewi Sakti. Lalu menghilang dari hadapan Dika.
Sepeninggalnya Mahadewi Kali. Dika pun memegang kalung sakti itu.
"Kini aku juga memegang kalung sakti ini. Semoga aku bisa mengimbangi kekuatannya nanti." kata Dika
*
Beberapa hari ini Ivan tidak menyapa Dika sama sekali. Tapi hati kecilnya tidak tega. Bagaimanapun juga mereka telah berteman bahkan seperti saudara. Hanya karena wanita, masa tega mengadaikan kekeluargaannya. Tapi sebelum itu, Ivan menutup kamarnya. Setelah penat seharian latihan komando.
"Senopati Dandaka." kata Ivan yang memanggil sang senopati dengan mata terpejam.
Tak berapa lama Senopati pun muncul.
"Ada apa pangeran Ivan?" tanya senopati.
"Senopati, kamu pasti tahu apa yang ingin aku tanyakan." kata Ivan.
"Pangeran tidak baik anda marah terlalu lama dengan pangeran Dika." kata Senopati.
Ivan pun terlihat tidak suka karena senopati telah memihak kepada Dika. Tapi sebelum Ivan marah. Pintu kamarnya diketok oleh seseorang.
tok tok tok
__ADS_1
Ivan pun lalu melangkahkan kakinya menuju gagang pintu. Dia lalu membuka pintunya.
"Dika, ngapain kamu kemari? aku kira kamu lupa padaku karena 2 wanita itu." kata Ivan sinis.
"Ivan cukup, apa kamu tidak menyadari bahwa Ara dan Ciki itu adalah perwujudan Mahadewi Kali?" tanya Dika
Ivan pun kaget dengan perkataan Dika. Dia benar - benar tidak tahu jika Ara dan Ciki adalah Dewi Kali.
"Kamu pasti berbohong kan?" tanya Ivan
"Tidak pangeran Ivan, benar apa yang dibilang pangeran Dika. Bahwa Ara dan Ciki adalah perwujudan Mahadewi Kali." sahut senopati Dandaka.
Ivan pun masih tak mengerti dengan semuanya ini.
"Lalu untuk apa sang Mahadewi sampai merubah dirinya dan ada di dunia ini?" tanya Ivan
"Untuk melindungi kita dari raja kegelapan." kata Dika.
*
Satria pun telah siap dengan segala sesuatunya. Dia sudah ada di bandara Soekarno - Hatta. Perjalanan yang sangat melelahkan. 14 jam kemudian, Satria sampai di Frankfurt. Bahkan dia telah menelpon Tamara sebelumnya. Sontak membuat Tamara sangat senang akan kedatangan Satria.
Tapi Aura telah memperingatkan Tamara. Bisa saja kedatangan Satria ke Jerman untuk menyakiti mereka. Tapi Tamara menjelaskan bahwa Satria tidak akan bisa menyakitinya.
"Satria, i miss you so much" kata Tamara bergelayut manja.
"Tamara, i miss you too" kata Satria membalas Tamara. Sebenarnya dia masih ragu dengan Tamara. Tapi dia harus mendapatkan jawaban kenapa Tamara inginkan dirinya.
Tamara pun lalu mengajak Satria untuk makan malam. Tentu Satria pun tidak menolak. Setelah Satria pulang dan bertemu orang tuanya. Mereka pun makan malam bersama. Ya makan malam romantis.
"Tamara, maafkan aku ya. Aku tidak berdaya saat Prasta memaksamu pulang." kata Satria.
"Tak apa sayang, aku paham. Tapi apa tujuanmu kembali ke Jerman. Sebelum project mu selesai?" tanya Tamara.
"Aku ingin memastikan dan memantapkan hatiku." kata Satria.
Tamara pun kalau tersenyum lebar dan bahagia. Ternyata dia maish memiliki kesempatan untuk mencintai lelakinya.
"Tamara, katakan padaku apa yang membuat kamu mencintaiku. Serta apa yang harus aku pertahankan dari hubungan kita?" tanya Satria.
***
Haii... jangan menghujat ya teman2,. maaf ini sedang banyak deadline. Jadi jangan menghujat konten sedikit, lama update ya. Ini sudah berusaha disempatkan untuk diketik.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Apakah Tamara akan mengaku siapa dirinya dan memberitahu apa alasannya?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk mulai nanti pukul 15.00 novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
Oh iya, untuk memaksimalkan karya. Maka, akan ada switch ya.. 1 hari update novel kekasih dan 1 hari berikutnya update cinta Arkeolog.
__ADS_1
Semoga dapat membaca semua karya ku yah.
Terimakasih.