
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
***
Sedangkan para pengawal dan dayang mulai bergosip. Bahwa selama ini dugaan Patih benar. Dia bukanlah putri Nara tetapi putri Aura.
"Aku tidak sangka kalau putri Nara sejahat itu dengan Maharaja. Padahal Maharaja sangat mencintainya. Jika raja tahu, pasti akan terjadi peperangan yang dasyat" kata dayang.
"Sudahlah, kita hanya rakyat biasa. Ayo kita pergi" ajak dayang satunya.
Aura sangat licik, dia memerankan perannya dengan apik. Dia menyalahkan orang lain agar dirinya aman. Selanjutnya apa yang akan terjadi?
*
Nara dan Adhiraksa.
Mereka berdua telah meninggalkan Ivan sendirian di Nandi Grha. Adhir bukannya mengajak pulang. Tapi dia membawa ke sebuah tempat.
"Eh, ini bukan menuju rumahku" kata Nara
"Kita akan dharmayatra dulu." kata Adhiraksa.
"Kemana?" tanya Nara.
Tapi Adhiraksa hanya senyum - senyum. Dia lalu meraih tangan Nara dan menghilang bersama.
"Dasar hantu yang aneh" batin Nara.
Adhir pun lalu menyentuh kening Nara.
"Kamu masih saja bilang aku hantu. Padahal aku sudah menjadi manusia tertampan lho." kata Adhir.
Iya in saja deh, dari pada panjang urusannya. Jalan perjalanan spiritual ini. Kami melewati awan dan melihat pemandangan bawah dengan indah. Hingga di suatu titik, aku mengenal kawasan itu.
"Rasanya aku kenal daerah itu deh" batinku.
"Ya, kamu memang kenal tempat itu. Kamu sering ke sana. Tapi belum pernah ke sana denganku." kata Adhir.
"Tapi aku lama banget nggak ke sana, Dhir. Berharap ada banyak perubahan. Serta aku mendapatkan pengetahuan baru dari mu." kataku
"Of course" katanya
__ADS_1
Tak berapa lama kami pun turun ke bawah. Hawa dingin pun langsung menyambut kami. Aku mencium aroma kentang goreng yang menggoda. Sungguh, ingin sekali aku menampakan diri. Serta membeli bakso tusuk atau pentol. Dingin - dingin pasti enak dan nikmat jika memakan makanann yang hangat.
"Kamu mau mereka melihat kita?" tanya Adhir.
Aku hanya menganggukan kepala. Sebagai tanda setuju dengan perkataan Adhir. Tapi, jika kita muncul secara tiba - tiba, mereka akan kaget.
"Tenang saja, kita muncul di tempat yang agak sepi. Aku akan siapkan sesuatu." kata Adhir.
Dia pun lalu memejamkan mata dan tak lama kemudian. Sebuah mobil range rover warna hitam ada di depan kita. Wooow...Sungguh hebat, enggak usah beli mobil tapi langsung ada. Bener - bener pangeran hanya ada dalam khayalanku semata, hehehe...
"Ayo naik, kita akan datang sebagai pengunjung." kata Adhir.
Aku pun lalu masuk ke dalam mobil. Tentu saja dia yang mengendarai. Tak butuh waktu lama. Kami sampai di parkiran. Begitu sampai, aku langsung menyerbu tukang jualan bakso tusuk. Serta memesan sate ayam, dan kentang goreng.
"Kamu habis Ra makan itu semua?" tanya Adhir.
"Aku lapar, Dhir... jangan bilang kau tidak ounya uang untuk membayarnya." lirik ku
Dia pun langsung tertawa dan dengan sombongnya langsung mengeluarkan 3 gepok uang 100 ribuan.
"Apakah itu cukup untuk kamu makan?" tanya Adhir.
Aku pun lalu tersenyum, 30juta guys... buat beli pentol bisa segerobak. Buat beli sate bisa segerobak juga. Buat beli kentang bisa 1 ladang.
Setelah puas dengan pesanan kami. Kita pun lalu masuk dan melewati penjagaan. Tentu saja dengan membayar 50rb rupiah. Kami berdua masuk ke kawasan wisata itu.
"Welcome to Dieng Plateu"
Dataran tinggi dieng berada pada ketinggian 2.000m dpl, terkenal karena tinggalan purbakala dan pemandangan alamnya. Dieng berasal dari dua kata dari bahasa Jawa Kuno di dan hyang. Kata di berarti tempat atau gunung sedangkan istilah hyang mempunyai arti leluhur atau dewa, dengan demikian Dieng atau dihyang dapat diartikan sebagai tempat tinggal para dewa dewi atau leluhur.
Lokasi Dieng yang berada di tempat tinggi tampaknya cocok dengan istilah tersebut sehingga tepat jika tempat tersebut didirikan sebuah kompleks bangunan pemujaan atau candi. Sesuai dengan konsep Hindu, candi adalah replika Gunung Mahameru, tempat tinggal para dewa. Disamping itu didalam kepercayaan Hindu.
Kailasa adalah gunung suci tempat Siwa bertahta, oleh karena itu layak apabila Dieng diibaratkan sebagai sebuah gunung yang suci. Pada tradisi Jawa khususnya, dan di Indonesia umumnya masyarakat beranggapan bahwa gunung adalah tempat yang suci.
"Ini ada pada masa kerajaan awal, yah?" tanyaku
"Ya benar, ini adalah pusat peradaban yang tua di wilayah Jawa Tengah." kata Adhir.
"Adhir, apa kamu tahu kenapa tempat ini dinamakan Dieng?" tanyaku
"Tahu, seharusnya kamu juga tahu dunk." ledek Adhiraksa.
Sampai saat ini, terdapat 22 prasasti berbahasa Jawa Kuno yang berisi gambaran mengenai Dieng sebagai pusat kegiatan religius. Salah satunya adalah prasasti Kuti berangka tahun 809 M yang menyebutkan tentang Gunung Dihyang. Sebagai pusat kegiatan religius, sebagaimana informasi yang terdapat didalam prasasti, sebuah tempat untuk kegiatan religius atau memiliki candi didukung oleh komunitas yang tinggal di desa perdikan.
Masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tersebut mempunyai kewajiban mengelola bangunan suci tersebut dengan dipimpin oleh pemuka agama. Di dataran tinggi Dieng saat ini dijumpai tinggalan purbakala yang dahulu digunakan sebagai pusat kegiatan keagamaan, baik berupa candi sebagai bangunan suci, bangunan profan, dan arca-arca lepas.
"Jadi wilayah ini dahulu nya adalah tanah sima. Daerah perdikan, daerah yang bebas pajak dari penguasanya. Ini daerah banyak sekali candi nya." kata Adhiraksa.
"Ya, aku tahu, bahkan penamaan candi di sini mengambil nama dari pewayangan." kataku
"Coba sebutkan kalau kamu tahu." kata Adhiraksa.
__ADS_1
"Nama yang diberikan kepada candi-candi tersebut berasal dari nama para pahlawan dan panakawan di dalam cerita Bharatayudha. Menurut Kempers nama tersebut mungkin diberikan pada permulaan abad XIX. Saat ini, terdapat sekitar sembilan bangunan yang masih tersisa, seperti Candi Bima, Candi Dwarawati, Candi Gatutkaca dan Candi Setyaki serta Kelompok Candi Arjuna yang terdiri dari Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Semar." kataku
Adhiraksa pun tampak manggut - manggut dengan penjelasanku.
"Candi-candi yang dibangun kemudian seperti Candi Srikandi, mulai memunjukkan gaya lokal dengan mulai terlihatnya relung di tubuh candi dan menara atap. Perkembangan gaya selanjutnya dapat dirunut melalui candi Candi Puntadewa, Candi Sembadra, dan Candi Dwarawati relung dan menara atap semakin terlihat jelas. Sedangkan gaya lokal Dieng ditunjukkan oleh Candi Gatutkaca dengan relung yang sangat tegas dan atap yang menyatu dengan bangunan. Candi-candi lain seperti Candi Parikesit, Candi Antareja, Candi Nakula, dan Candi Sadewa sekarang hanya tinggal nama saja atau tinggal berupa pondasi candi." kata Adhiraksa.
Ya, berbicara tentang Dieng memang sangat luas. Dimana banyak sekali candi yang bisa kita jumpai dan kunjungi. Oh iya, dalam mengunjungi candi dieng itu ada aturannya lho. Bagi masyarakat dan pengunjung yang tahu. Dia akan melakukan kegiatan ini terlebih dahulu.
"Emang kamu tahu apa tahapannya?" tanya Adhir.
Aku pun hanya menggangukan kepala lalu menjelaskan kepadanya.
" para peziarah yang datang harus melewati tangga untuk masuk ke kompleks kegiatan keagamaan (Ondho Budho) kemudian bersuci di pancuran air (Tuk Bimo Lukar) baru menuju ke candi" kataku
"Benar sekali, kamu memang cerdas putri Nara. Kalau begitu, ayo kita menuju kepada Tuk Bimo Lukar. Aku ingin lihat kamu mandi." kata Adhir sambil senyum - senyum.
Aku pun langsung mengetok kepalanya dengan tas aku. Dasar pangeran mesum, jangan - jangan dia sedang membayangkan yang iya iya lagi.
"Hehehe... enggak kok, bercanda.. mana berani aku." katanya.
"Yaudah, ayo segera kita ke Bima Lukar." kataku
Kami pun segera menuju Tuk Bima Lukar. Oh iya, jadi posisi mata air suci itu ada di tanjakan setelah gapura "Welcome to Dieng Plateu". Nanti di sisi kiri ada tulisan Tuk Bima Lukar. Nah parkir saja di pinggir jalan. Kemudian turun tangga. Maka kalian akan melihat keindahan jaladwara yang mengeluarkan Air suci itu.
"Nara, kamu enggak usah mandi saja. Tapi cukup badut muka, usap kepala, tangan, dan kaki." saran Adhir.
Aku pun hanya menggangukan kepala. Kebetulan siang ini, kita sangat beruntung. Petirtaan ini sepi, sehingga tidak ada orang yang menganggu kita.
****
SELAMAT HARI RAYA NYEPI YA TEMAN - TEMAN. SEMOGA TUHAN MEMBERKAHI KITA SEMUA.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
__ADS_1