
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
*Spesial update hari ini ya gais, Jangan lupa untuk vote*
***
Orang yang ada di balik pintunya segera menatapnya dengan tajam.
"Ka ... Kau..." kata Tamara
"Aku sudah tahu semua kebusukanmu." kata pria itu
Tamara pun berusaha setenang mungkin. Dia tidak mungkin tahu. Lelaki itu hanya bersiasat untuk mencari tahu rencananya.
"Patih, aku tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan." kata Tamara sambil tersenyum.
Tamara pun lalu tersenyum kepada Patih Kegelapan itu.
"Sudahlah, aku tahu semuanya. Cepat katakan apa yang kau rencanakan? Sehingga kau menipu Maharaja." kata Patih berusaha mencekik leher Tamara.
Tapi Tamara dengan sigap lalu menepis tangan Patih.
"Jaga sikap dan omonganmu, Patih. Atau aku akan mengadukanmu pada Raja Arda." ancam Tamara.
Patih pun kemudian tersenyum menyeringgai. Patih masih bersikekeh, bahwa Tamara telah menghianati Raja. Untuk itu, Patih berusaha untuk mengetahui rencana Tamara. Dengan siasat penjebakan, Tamara tidak mempan.
"Putri Tamara, dimana putri Aura? Kenapa pada saat pernikahan raja dengan putri Nara, dia tidak kelihatan?" tanya Patih.
Tamara sudah menduga bahwa hal ini bakalan terjadi. Sehingga dia sudah menyiapkan sebaik mungkin. Tamara pun lalu tersenyum.
"Patih, apa kau mencurigai Aura?" tanya Tamara.
"Tentu saja, apalagi dengan budak cinta itu. Apakah dugaanku benar, jika putri Nara itu adalah Aura? Jika bukan, maka dimana putri Aura berada" selidik Patih.
"Aura ada, dia kemarin pada waktu pernikahan raja sedang meditasi. Sehingga dia absent tidak hadir." kata Tamara.
"Semadhi? semadhi dimana? hahahah... Jangan harap aku akan tertipu dengan akal bulus kalian. Cepat katakan, dimana putri Aura? Aku akan menyeret kalian ke Balai Ageng Kerajaan Ilusi. Semua pasti akan terbukti di sana. Bahwa putri Nara itu adalah putri Aura." ancam Mahapatih.
Patih pun lalu meninggalkan Tamara seorang diri. Tapi lak lama kemudian dia berbalik badan dan mengikat tubuh Tamara.
"Patih, kurang ajar!! Apa yang kau lakukan padaku? Apa mau mu?" bentak Tamara.
"Aku hanya mau kau tidak berbuat curang. Sekarang kau akan aku bawa ke Balai Ageng." kata Patih.
"Aku tidak mungkin berbuat curang. Lepaskaaan!! Aku tidak akan kabur" teriak Tamara.
"Rantai itu akan terlepas, jika kau bisa membawa putri Aura ke hadapan raja dan permaisuri." kata Patih.
*
Balapati
Putra patih kegelapan.
Dia sedang menuju kamar raja kegelapan. Sebenarnya dia ragu. Dia takut jika raja akan murka, karena kesenangannya diganggu. Apalagi, sang raja sedang dimabuk cinta dengan permaisurinya.
"Pengawal, apakah raja sudah bisa ditemui?" tanya Balapati.
"Ampun pangeran, Maharaja masih menghabiskan kebersamaan dengan permaisuri. Harap pangeran jangan menganggu." kata pengawal.
Balapati pun tidak memaksa. Dia tahu betul sifat raja kegelapan. Tapi intruksi dari ayahnya juga harus dijalankan. Sehingga dia menjadi dilema.
Sisi lain di kamar Arda dan Aura. Arda bisa melihat apa yang sedang terjadi di Istana nya. Dia lalu menyelesaikan hal yang membuatnya bahagia.
"Permaisuriku, kamu baik - baik di sini ya. Aku harus menyelesaikan urusan kerajaan." kata Arda.
Tapi Aura yang tidak mau berpisah sama sekali dengan Arda. Dia memutuskan untuk ikut kemanapun Arda pergi.
__ADS_1
"Raja, aku adalah permaisuri. Bisakah aku ikut denganmu?" tanya Aura.
Arda pun tersenyum manis. Sebenarnya, dia ingin mengajak Aura. Tapi, Arda menyadari jika istri nya pasti kelelahan.
"Apa kau yakin mau ikut aku ke Balai Ageng?" tanya Arda.
"Iya, tentu saja ... sepertinya ada masalah penting. Sehingga kau nampak tergesa - gesa." kata Aura.
"Kau snaagt cerdas permaisuri. Ini menyangkut tentang diri mu." kata Arda.
"Kalau begitu aku akan ikut denganmu. Kita ini sudah sepasang suami istri. Sehingga kemana pun raja pergi. Aku pasti ikut." kata Aura.
Arda pun tersenyum dan mengajak permaisurinya untuk ke depan. Di luar kamar Balapati masih mondar mandir. Ketika pintu kamar terbuka. Balapati pun berjingkat.
"Maharaja" sapa Balapati sembari memberinya hormat.
Arda hanya membalas dengan senyum. Tanpa berkata dia lalu menuju balai ageng. Balapati pun mengikuti Arda.
"Perasaan tidak ada yang salah dari putri Nara. Tapi kenapa ayah curiga pada nya." batin Balapati
Suara hati Balapati pun didengar oleh Arda. Sang pendengar pun hanya tersenyum.
"Ada apa Raja? kenapa kau tersenyum?" tanya Aura.
"Aku snaagt bahagia karena memiliki mu." kata Arda.
Aura pun semakin lengket dengan Arda. Balapati pun hanya tersenyum melihat raja dan ratu nya.
"Putri Nara benar - benar sangat cantik. Pantas saja, Maharaja tidak mau berpaling darinya" batin Balapati.
Arda pun kemudian berhenti dan berbalik badan. Dia lalu tersenyum dan menunggu Balapati berhenti di depannya.
"Maaf Maharaja, apakah ada suatu hal yang salah?" tanya Balapati.
"Balapati, aku sangat tidak suka jika kau terpesona oleh permaisuri ku. Dia adalah Ratu mu, jadi jangan sesekali untuk bertingkah kurang ajar. Atau kau akan terima akibatnya." kata Arda.
Balapati pun tersentak, bagaimana dia bisa lupa. Jika Maharaja adalah pembaca pikiran yang ulang. Dia segera menyadari kesalahannya.
"Raja, saya mohon maaf atas kelancangannya" kata Balapati sambil menunduk.
Balapati pun nurut dengan ajakan Arda. Mereka lalu sampai di Balai Ageng. Betapa terkejutnya, Aura ketika tahu jika Tamara diikat dan dirantai.
"A.. ah Ratu ... tolong saya" kata Tamara.
Dia hampir saja menyebut Nara dengan panggilan Aura. Orang yang dipanggil pun, sebenernya juga deg - degan. Dia takut penyamaran mereka ketahuan. Aura pun lalu bersikap cool dan tenang.
"Apa kau mau menyebut wanita bersama raja itu dengan nama Aura? sejak kapan kau akrab denvan putri Nara??" tanya Patih.
Upps... patih ternyata sangat jeli. Dia hampir membuka penyamaran. Kini yang dia mau adalah agar bisa melindungi Aura.
"Ada apa patih? kenapa putri Tamara harus diikat?" tanya Arda.
"Ampun Maharaja, putri Tamara dan putri Aura telah berdusta." kata Patih.
"Berdusta? berdusta apa maksudmu?" tanya Arda.
Patih lalu menjelaskan, jika Tamara telah menggunakan kekuatan ilusi nya. Dia telah merubah Aura menjadi Nara. Tentu hal itu membuat Arda tertawa.
"Patih, aku adalah raja nya ilusi. Bagaimana aku tidak tahu, jika ada kekuatan ilusi menyelimutinya. Asalkan kau tahu, Patih. Permaisuri Nararia memiliki teratai emas. Dia tidak akan bisa ditiru oleh makhluk apapun. Jadi, jika ini adalah Aura, itu jelas tidak mungkin. Aura tidak bisa malih rupa menjadi Nara." kata Arda.
Deg, Patih pun baru menyadari jika Nara adalah pewaris pusaka teratai emas. Tapi dia tetap bersikukuh jika Nara itu adalah Aura.
Aura terlihat sedang melirik pada Tamara. Tapi langsung ditenangkan oleh Tamara. Entah rencana apa yang sudah direncanakan oleh Tamara. Tapi yang pasti Aura sangat gugup. Tapi dia berusaha serenang mungkin.
"Raja, aku tidak terima patih menuduhku. Paman patih, apa salah saya? Sehingga paman menuduh saya." kata Aura.
"Tutup mulut mu, kau adalah Aura." kata Patih.
Aura pun lalu bergelayut manja di lengan kekar Arda. Dia sedang mencari simpati dari Arda.
"Raja, aku sangat sedih, perkataan patih sangat kejam." kata Aura.
Arda pun menjadi murka, serta langsung membanting Patih. Tentu saja dengan kekuatan ilusi. Tapi Patih juga memiliki ilmu yang hampir setara dengan Arda. Dengan mudah, Patih menghindari serangan itu.
"Kau mau melawanku, patih??" tanya Arda.
"Ampun Maharaja, saya tidak berani. Tapi saya mohon agar Raja bersikap adil." pinta Patih.
__ADS_1
"Keadilan apa yang kau maksud patih?" tanya Arda.
Tentu saja, Arda berpikir reasonal. Dia sebenarnya hanya ingin menyertai saja. Dia tidak mungkin mengorbankan pengikut setianya demi wanita. Meskipun dia sangat mencintai Nara. Tapi, kekuatan pasukan juga bagian paling penting.
"Raja, saya akan terima jika putri Tamara berkenan memanggil putri Aura. Tapi jika putri Tamara tidak bisa menghadirkan putri Aura. Maka putri Nara yang berada di samping Maharaja adalah putri Aura." kata Patih.
"Apa alasanmu berkata seperti itu, Patih?" tanya Arda.
"Mohon ampun, Maharaja. Putri Tamara adalah bagian dari kerajaan Medang. Dia memiliki mustika sakti yang bahkan tidak bisa ditembus dengan kekuatan ilusi. Bisa jadi Tamara menggunakan mustika sakti itu. Saya curiga dan terus terngiang perkataan ksatria yang menyelamatkan para Ksatria. Kenapa mereka tidak menyelamatkan putri Nara? Jika mereka sudah terbebas. Pasti mereka akan langsung menyerang kerajaan ilusi untuk membebaskan putri Nara. Selain itu, Pasukan Hutan Dandaka dan Krendhawahana juga langsung ditarik. Apakah ini tidak janggal, Maharaja?" tanya Patih.
Deg ... Arda lalu menyadari sesuatu. Benar apa yang dikatakan oleh patih nya. Jika benar, Nara yang disampingnya adalah asli. Pasti para Ksatria akan menyerang nya habis - habisan. Mereka siap berkorban untuk menyelamatkan Nara.
Aura dan Tamara pun nampak saling melirik. Mereka sudah was - was dengan perkataan Patih. Mereka takut jika Arda akan terpengaruh.
"Maharaja, sebelumnya memang pangeran Adhiraksa ingin membawa kabur saya. Tapi, saya tidak mau. Karena saya ingin agar tidak terjadi peperangan diantara kita lagi. Saya rela dan sungguh sangat mencintaimu. Sejak pertama aku melihatmu. Aku langsung jatuh cinta. Jika aku ingin kabur, maka pada saat aku sadar akan ilusi mu. Tentu saja dengan mudah aku bisa keluar dari sini, bukan? Tapi aku tidak kabur dan tidak meninggalkanmu. Aku sudah memberikan penjelasan kepada para Ksatria. Untuk mengikhlaskan aku tinggal di Istana Ilusi." kata Aura.
Mendengar jawaban Aura yang cerdas. Arda juga bingung. Jawabannya sangat masuk akal. Tapi perkataan patih juga ada benarnya. Hal itu lah yang membuat Arda sangat bingung. Baru kali ini dia dibuat bingung oleh para pengikutnya.
Kebingungan Arda lalu dimanfaatkan oleh Aura. Dia membelai, bergelayut manja, memeluk, bahkan mencium di depan umum. Dia menunjukan rasa sayang dan cinta nya. Tapi hal tersebut malah membuat sang Patih menjadi semakin curiga.
"Ampun Maharaja, jika benar dia adalah putri Sanjiwani. Dia tentu nya tidak akan melakukan hal menjijikan seperti itu di depan umum. Putri Nara pasti tahu batasan. Dia seorang putri mahkota yang terhormat." kata Patih.
Arda pun lalu melihat ke arah Aura. Perkataan patih benar - benar sangat masuk akal.
"Tidak Raja, aku sangat tulus mencintaimu sejak pertama aku melihat wajahmu. Apa kau ingat, kita pertama kali ketemu di hutan bersama Widasari. Suara seruling mu selalu terngiang dalam benak ku. Sebenarnya aku tertarik dengan mu. Tapi aku harus menikah dengan Rakai Pikatan. Guna menyelamatkan kerajaanku." kata Aura.
Ya, Aura tahu semua kejadian itu. Tentu saja Nara yang cerita. Adhiraksa sebelumnya telah menduga bahwa kejadian ini pasti akan terjadi. Adhir sudah melihat kemampuan membaca situasi dari sang patih. Sehingga pada waktu di kamar rias. Nara menceritakan bagaimana awal mula Nara dan Arda ketemu.
Sisi lain, Arda sangat terpukau dengan penjelasan Aura. Hanya dirinya dan Nara lah yang tahu tentang cerita itu. Sehingga Arda yakin bahwa Nara yang ada di sampingnya adalah Nara yang asli.
"Maharaja, itu pasti mereka telah merencanakan semuanya. Raja, tolong berikan kami keadilan agar kami tidak ragu. Permaisuri maaf, izin kan saya meminta kepada putri Tamara untuk membawa putri Aura. Jika dia berhasil membawa putri Aura maka kami akan percaya jika dia adalah putri Nara yang asli." kata Patih.
Aura pun masih menolaknya. Dia berusaha agar Arda meminta itu. Tapi tiba - tiba Tamara ikut bicara.
"Baik lah patih, jika itu yang kau inginkan. Maharaja, mohon waktu nya agar saya dapat memanggil Aura. Saya akan melakukan komunikasi mata batin. Setahu saya dia sedang bermeditasi di hutan salju." kata Tamara.
"Baiklah, kalau begitu segera panggil dia." titah raja
"Tapi raja, dia menyukai mu. Aku takut dia akan merebut mu dari aku. Sebenarnya, aku lah yang mengusir Aura keluar dari kerajaan ilusi. Aku tidak mau ada wanita lain yang suka denganmu." kata Aura.
Arda pun semakin bahagia dengan karakter Aura. Dia tidak menyangka jika Nara - Aura sangat cemburu. Tentu saja Arda ingin agar Aura didatangkan. Dia akan bisa mengetahui seberapa besar cinta Nara yang ada di sampingnya.
"Sayang, aku tidak akan berpaling darimu. Biarkan Tamara memanggil Aura. Aku tidak akan membiarkanmu diragukan orang lain. Kau akan menjadi rayu kerajaan ilusi. Kau akan menjadi ratu dunia kegelapan. Aura tidak ada apa - apanya dibandingkan kau. Sungguh kau sangat menawan." kata Arda.
Tanpa rasa malu, Arda pun langsung merengkuh bibir mungil Nara. Peristiwa itu membuat Balapati menahan emosinya. Sejak pertama kali dia melihat Aura sebagai Aura dia telah jatuh cinta. Tapi setelah dia tahu, bahwa Aura sangat mencintai Arda. Membuat Balapati harus menahan perasaannya.
"Maharaja, apakah boleh Tamara memanggil Aura sekarang juga?" tanya Patih
Arda pun dengan muka merah marah nya. Menghentikan aktivitasnya pada Aura. Dia segera mempersilahkan Tamara untuk memanggil Aura. Tamara pun lalu tersenyum pada Aura. Sebagai isyarat jika semuanya akan baik - baik saja.
"Raja, mohon ampun, saya semakin curiga dengan tingkah putri Tamara dengan putri Sanjiwani. Kenapa mereka berdua terlihat sangat akrab satu sama lain?" tanya Patih.
"Patih, Putri Sanjiwani dikehidupanku yang dulu adalah kakakku. Dia adalah permaisuri Kerajaan Medang. Jadi di kehidupan sekarang, aku ingin berdamai dengannya." kata Tamara.
Patih pun lalu menginformasikan bahwa Tamara harus segera memanggil Aura.
"Jika kau gagal dan tidak bisa membawa Aura datang. Maka wanita yang ada di sampingku ini adalah Aura." ancam Maharaja.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
__ADS_1