
**Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**
Happy reading.
.
.
Wajahku merona ketika mendengar pujian dari Adhiraksa. Kami cukup lama berada di perpustakaan. Diskusi kecil kami lakukan untuk membangun suasana yang hangat.
"Pangeran, jadi Astabrata itu apa?" tanyaku
"Akan aku jelaskan tentang ajaran Astabrata, putri." kata Adhiraksa
Asta Brata adalah Contoh Kepemimpinan Hindu yang terdapat dalam Itihasa Ramayana. Asta Brata ini merupakan, Delapan Tipe kepemimpinan yang merupakan Delapan Sifat Kemahakuasaan Tuhan. Ajaran ini diberikan Sri Rama kepada Wibhisana sebagai Raja Alengka Pura menggantikan kakaknya Rahwana.
"Jadi, ajaran itu diberikan oleh Sri Rama kepada pangeran Wibisana?" tanyaku
"Betul putri, Rama adalah raja yang adil dan bijaksana." kata Adhiraksa
"Lalu apa saja bagian dari Astabrata?" tanyaku
Adhiraksa kemudian menjelaskan kepadaku. Apa saja bagian dari Astabrata. Secara harafiah, asta artinya delapan. Sedangkan brata artinya sifat.
"Dengarkan putri, jika kau belum paham bisa langsung tanya." kata Adhiraksa
(Penjelasan Adhiraksa)
Bagian- bagian ajaran Asta Brata sebagai berikut:
Indra Brata \= Artinya pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Dewa Indra sebagai dewa pemberi hujan, member kesejahtraan kepada rakyat.
Yama Brata \= Artinya pemimpin hendaknya mengikuti sifat-sifat Dewa Yama yaitu menciptakan hukum, menegakkan hukum dan memberikan hukuman secara adil kepada setiap orang yang bersalah.
Surya Brata \= Hendaknya pemimpin memberikan penerangan secara adil dan merata kepada seluruh rakyat yang dipimpinnya serta selalu berbuat berhati-hati seperti matahari sangat berhati-hati dalam menyerap air.
Candra Brata \= Pemimpin hendaknya selalu dapat memperlihatkan wajah yang tenang dan berseri-seri sehingga masyarakat yang dipimpinnya merasa yakin akan kebesaran jiwa dari pemimpinnya.
Bayu Brata \= Pemimpin hendaknya selalu dapat mengetahui dan menyelidiki keadaan serta kehendak yang sebenarnya terutama keadaan masyarakat yang hidupnya paling menderita
Kuwera Brata \= Pemimpin hendaknya harus bijaksana mempergunakan dana atau uang serta selalu ada hasrat untuk mensejahtrakan masyarakat dan tidak menjadi pemboros yang akirnya dapat merugikan Negara dan Masyarakat.
Baruna Brata \=Pemimpin hendaknya dapat memberantas segala bentuk penyakit yang berkembang di masyarakat , seperti pengangguran, kenakalan remaja, pencurian dan pengacau keamanan Negara.
Agni Brata \= Pemimpin harus memiliki sifat-sifat selalu dapat memotivasi tumbuhnya sifat ksatria dan semangat yang berkobar dalam menundukkan musuh-musuhnya
"Paham putri?" tanya Adhiraksa
"Ya, berarti ajaran Astabrata itu mengambil dewa - dewa Lokapala?" tanyaku
"Betul putri, diharapkan setiap pemimpin mempunyai sifat seperti dewa." kata Adhiraksa
Aku kagum banget dengan sifat Adhiraksa yang terbuka soal pengetahuan. Dia tidak segan membagikan ilmunya pada orang lain.
"Putri, kau harus memiliki sifat seperti dewa untuk menjadi seorang pemimpin. Kau adalah putri mahkota. Tahta Medang akan menjadi milikmu. Kau calon pemimpin. Jadi harus memahami ajaran kepemimpinan." nasihat Adhiraksa
Aku tertegun dengan nasehat Adhiraksa. Dia sangat mendorongku untuk menjadi seorang ratu. Padahal, aku berencana menyerahkan tahtaku kepada Satria. Ketika aku kembali, pasti tidak akan bisa mendampingi menjadi ratu. Ada raut kesedihan di hatiku. Perpisahan, ya kata yang ingin aku hindari.
"Putri, hai kamu kenapa? kamu menangis?" tanya Adhiraksa sambil menghapus air mataku
"Aku terharu saja dengan dirimu." kataku
"Kak Satria lebih hebat dariku, lho." katanya
"Terimakasih ya pangeran Adhiraksa." kataku
Kami melanjutkan diskusi tentang kerajaan besar ini. Aku takut jika berita dalam prasasti itu benar. Adikku Balaputra akan memberontak.
"Pangeran, apakah kau nantinya akan menjadi raja di Pikatan?" tanyaku
"Aku ingin bertapa dan melanjutkan hidupku sebagai seorang Pandita." kata Adhiraksa
Sungguh sebuah niat yang suci dari seorang pangeran. Dia tidak gila hormat dan harta, juga tahta. Dia bisa saja merebut tahta Medang saat ini. Tapi ternyata dia mendampingiku selama Satria pergi.
"Putri, ada sebuah ajaran kepemimpinan lagi." kata Adhiraksa
"Apa itu?" tanyaku penuh semangat.
"Namanya adalah Nawa Natya. " kata Adhiraksa
__ADS_1
"Apa itu?" tanyaku penasaran
Nawa Natya adalah Sembilan sifat dan sikap teguh serta bersusila yang harus dimiliki oleh para pemimpin dan para pembantunya, guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan bangsa dan negara yang dipimpinnya
"Jadi ini tambahan ilmu kepemimpinan yang harus aku tahu?" tanyaku
Betul putri, ajaran ini harus diamalkan bersama Astabrata. Maka sempurnalah untuk menjadi pemimpin yang adil bijaksana." kata Adhiraksa
Aku hanya tersenyum dan mangut - mangut saja. Ternyata menjadi seorang pemimpin tidak serta mudah. Tapi harus menguasai beberapa ilmu dari sastra suci.
"Siyap menyimak dengan baik?" tanya Adhiraksa
Aku hanya mengangguk. Adhiraksa pun kemudian tersenyum manis. Dia membuka sebuah buku yang dipegangnya.
(Penjelasan Adhiraksa).
Pradnya Widagda
Pradnya Widagda maksutnya adalah seorang yang bijaksana dan mahir dalam berbagai ilmu pengetahuan serta teguh pendirian.
Wira Sarwa Yudha
Wira sarwa yudha maksutnya adalah seorang pemimpin harus pemberani, pantang menyerah dalam menghadapi berbagai masalah atau tantangan.
Paramartha
Paramartha maksutnya adalah seorang pemimpin hendaknya memiliki sifat yang mulia dan luhur.
Dhirotsaha
Dhirotsaha maksutnya adalah seorang pemimpin hendaknya memiliki ketekunan dan keuletan dalam semua pekerjaan.
Pragiwakya
Pragiwakya maksutnya adalah seorang pemimpin pandai berbicara di depan umum dan pandai berdiplomasi.
Samaupaya
Samaupaya maksutnya adalah seorang pemimpin hendaklah setia pada janji yang dibuatnya dengan pihak lain atau masyarakat.
Laghawangartha
Wruh Ring Sarwa Bastra
Wruh Ring Sarwa Bastra maksutnya adalah seorang pemimpin tahu cara mengatasi macam-macam kerusuhan atau permasalah yang ada di lingkungan masyarakat dan sekitarnya.
Wiweka
Wiweka maksutnya adalah seorang pemimpin dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
"Gimana putri, bingung?" tanya Adhiraksa
"Sedikit, hehehe" kataku
"Apa yang membuatmu bingung, putri?" tanya Adhiraksa
Dia merasa bersalah, karena menjelaskan terlalu panjang. Sebenarnya aku sudah paham dengan apa yang dijelaskan oleh Adhiraksa.
"Aku paham kok, pangeran. Terimakasih ya." kataku.
"Ini sudah sore, ayo aku antar kembali ke Keputren." kata Adhiraksa
Kami kemudian beranjak keluar perpustakaan. Kami melewati tempat gladen. Aku lihat Pasopati sudah siap dengan peralatan perang. Dia juga menggunakan baju zirah.
"Mau kemana, So? apa ada serangan dari musuh?" tanyaku penasaran.
"Siapa yang berani menyerang kerajaan Medang, So?" tanya Adhiraksa
Pasopati kemudian tertawa. Baginya kami sangat lucu dengan ekspresi khawatir.
"Mana berani musuh menyerang Medang. Selama pangeran dan putri ada di sini." kata Pasopati
"Lalu mau kemana kalian?" tanyaku
"Berburu." jawab Pasopati singkat
Mendengar kata berburu. Sebenarnya aku kasian pada binatang yang akan diburu. Tapi perburuan pada abad ini adalah sebuah kebiasaan. Jadi ya sudahlah, hukum alam.
"Berburu dimana, So?" tanya Adhiraksa
__ADS_1
"Hutan Kunjara Kunjadesa." kata Pasopati
Aku teringat dengan ucapan Puspa tentang lokasi itu. Ya betul, lokasi tempat ditemukan banyak candi.
"Alas ing Saliman?" tanyaku
"Darimana kau tahu tentang itu, putri?" tanya Pasopati yang terus mendekatiku
Aku keceplosan. Nggak mungkin, kan aku jelaskan ke mereka.
"Hmmm.. Aku pernah baca di perpus." kataku bohong.
"Kamu mau ikut berburu, nggak?" tanya Pasopati
"Enggak, putri akan tetap di istana." kata Adhiraksa
"Siapa elo, berani sekali melarang - larangnya. " kata Pasopati sinis
Tak berapa lama, pasukan pemburu siap berangkat. Pasopati pamit padaku dan Adhiraksa.
"Pangeran, inget ya jangan dekat - dekat iparmu." kata Pasopati
"Rakyan selama aku berburu, jauh - jauh lah kau dari dia." kata Pasopati lagi
"Emang aku penjahat apa, kenapa Rakyan harus menjauh dariku." kata Adhiraksa
Akhirnya rombongan Pasopati pun mulai bergerak. Tapi sebelum itu, Pasopati kembali menghampiriku.
"Ada apa?" tanyaku
"Mau dibawakan buruan apa, tuan putri?" tanya Pasopati
"So, jangan kamu bunuh sembarangan binatang, ya." kataku
Setelah itu selesai dan mereka siap berangkat. Pasopati segala menghilang dari rombongan dengan berjalannya kereta. Tiba - tiba Widasari datang dengan berlarian.
"Kamu kenapa, Wida?" tanya Adhiraksa heran
"Kak Paso dimana?" tanyanya
"Sudah berangkat berburu barusan." kataku
Nampak wajah kecewa dan sedih menghampirinya. Dia terlambat, karena ingin dandan semenarik mungkin. Eh malah orang yang ingin ditemui sudah berangkat.
"Percuma deh ah, dandan cantik kek gini." kata Widasari
"Wida, lelaki seperti Pasopati tu butuh wanita yang lembut dan tidak manja. Hati - hati ya, bisa jadi di perburuan nanti dia bertemu dengan seorang wanita cantik." kata Adhiraksa sambil tersenyum
Wida malah ngomel - ngomel tidak jelas. Dia kemudian mendorong Adhiraksa.
"Wida apa yang kamu lakukan?" tanyaku
"Habis kak Satria ngeselin. Wida nggak akan membiarkan wanita manapun menyentuhnya." kata Wida berapi - api
"Apa yang kamu lakukan jika ada wanita lain di sisi Paso?" tanya Adhiraksa
"Aku bunuh wanitanya " kata Wida
Akhirnya aku menengahi perkataan Widasari dan Adhiraksa. Setelah itu Wida pergi meninggalkan kami. Sepeninggalnya Wida, jelas aku marah - marah dengan Adhiraksa karena sudah menggoda Wida.
"Pangeran apa yang kamu katakan pada Wida? kasian tau !!" kataku
"Lha aku benar, putri. Pasopati akan bertemu dengan seorang gadis yang sangat cantik." kata Adhiraksa sambil tersenyum.
Aku bingung dengan perkataan Adhiraksa. Apakah benar, kalau Paso akan bertemu dengan wanita. Penasaran aku. Dari mana coba Adhiraksa tahu tentang masa depan.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate
Apakah Pasopati akan berjumpa dengan seorang gadis cantik di Hutan?
Episode Selanjutnya Satria akan muncul, horee ...
ikuti terus ya,.
jangan lupa like, vote, rate, dan comment ya.
With Love
__ADS_1
Citralekha