Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Belajar Memanah


__ADS_3

*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


Happy reading


Pagi hari yang cerah untuk jiwa yang bahagia. Aku mengajak beberapa dayang untuk jalan - jalan di taman puspa dharma. Aku ingin menghirup udara segar pada pagi hari.


"Dayang, ayo temani aku ke taman. Aku ingin olah raga agar badanku tetap langsing." kataku


Dayang segera mengikuti dari belakang. Mereka membawa kain yang kemungkinan akan kugunakan sebagai handuk.


"Ayo dayang cepat." kataku


Aku berlari mengelilingi taman yang indah. Kulihat ada sekumpulan putri - putri dari para perwira dan senopati sedang duduk di tepi danau.


"Dayang, apa yang mereka lakukan?" tanyaku


"Mereka sedang meditasi dan melakukan yoga, Rakyan." kata dayang.


"Apa aku boleh ikut bergabung?" tanyaku


Dayang hanya mengangguk. Aku kemudian berjalan menuju tepi danau. Instruktur atau guru yoga mengetahui kehadiranku.


"Selamat datang Rakyan, senang sekali kami dikunjungi oleh paduka. Ada apakah gerangan ini?" tanya yogi.


Yogi adalah sebutan untuk guru yoga dalam artian untuk spiritual. Yoga di abad ini tidak untuk olah raga, melainkan untuk memusatkan pikiran kepada Tuhan dan ketenangan jiwa.


"Yogi, apakah aku boleh ikut meditasi?" tanyaku


"Tentu saja, yoga sangat cocok untuk putri. Putri akan memimpin negri ini, jadi butuh kekuatan spiritual." katanya.


Aku kemudian ikut bermeditasi bersama para putri punggawa. Ini adalah meditasiku yang pertama. Jadi Yogi masih harus mengarahkanku. Aku mengatur nafas dan mencoba mendengarkan suara angin dan alam di sekitarku.


Aku larut dalam meditasi. Aku masuk dalam sebuah alam lain. Alam yang penuh dengan makhluk surgawi dan keindahan yang luar biasa.


"Ini dimana ya?" tanyaku.


'Ini adalah alam Kaindra, Nararia.' kata Puspa.


"Alam Kaindra?" tanyaku


'Ini alamnya Dewa Indra, rajanya para dewa.' kata Puspa.


Aku kaget karena masuk dalam Kaindra. Aku melihat banyak bidadari menari dan memainkan musik. Salah satu bidadari menjemputku.


"Aku bidadari Nilotama. Mari silahkan masuk menghadap Dewa Indra." kata Nilotama.


Aku pernah mendengar nama Dewi Nilotama dalam cerita. Ia seorang bidadari yang paling cantik. Kecantikannya mampu mengundang dewa dan asura untuk meminangnya. Puspa dan Kencana kemudian keluar dari tubuhku.


"Apa kabar Dewi Nilotama." sapa Puspa.


"Aku baik, kalian betah turun ke Bumi?" tanya Nilotama.


"Puspa, Kencana kenapa kalian keluar?" tanyaku


"Ini alam dewa, Nararia. Kami harus keluar dari tubuhmu. Kamu aman di sini." kata Puspa.


"Dewi Nilotama, ada apakah gerangan kami dipanggil sampai ke sini?" tanya Kencana.


Nilotama kemudian menjelaskan, bahwa Dewa Indra yang memintanya.


"Nararia mari menghadap Dewa Indra." kata Nilotama.


Kami bertiga kemudian mengikuti Dewi Nilitama masuk ke istana. Aku melihat istana ini sangat indah. Kemegahannya membuat siapapun akan terpesona melihatnya.


Aku melihat banyak dewa duduk di samping kanan dan kiri kursi Kaindra. Aku menghaturkan salam sama seperti ketika Puspa dan Kencana melakukannya. Aku berusaha menjadi pengikut setia 2 penggawal tak kasat mata.


"Dimana Dewa Indra?" tanya Puspa.


"Tunggulah sebentar, dewa pasti akan segera ke sini." kata Nilotama.

__ADS_1


Kami dipersilahkan duduk dan menunggu Dewa Indra datang. Suguhan alunan musik yang sangat indah dan makanan para dewa yang membuat semua orang pasti berselera untuk makan.


"Ini adalah yogurt dan anggur pilihan." kata Kencana.


Kami menikmati suguhan yang diberikan. Tak berapa lama munculah seberkas cahaya putih menuju singhasana. Cahaya itu berubah menjadi seorang lelaki tampan yang menggunakan mahkota kebesaran.


Aku melihat semua yang hadir menyembah dan mengucapkan salam. Aku juga mengikuti apa yang mereka lakukan.


"Salam Dewa Indra." kataku


"Selamat datang putri Nararia." katanya


"Maaf dewa, apa yang membuat saya bisa sampai di Kaindra?" tanyaku


"Nararia, kau harus belajar memanah dengan Dewi Sakti." kata Dewa Indra.


Aku bertanya kenapa aku harus belajar memanah dan kenapa harus di Kaindra. Aku merasa terhormat dan tidak enak mendapatkan perlakuan yang spesial ini.


"Kenapa harus belajar di sini, dewa?" tanyaku


"Suatu saat akan berguna. Kamu hanya cukup belajar beberapa gerakan. Maka kamu akan menguasainya dengan mudah." kata Dewa Indra.


Aku, Puspa, dan Kencana mengikuti Dewi Nilotama untuk bertemu dengan Dewi Sakti. Aku di bawa ke sebuah tempat gladi, penuh berbagai senjata di ruangan ini.


"Selamat datang Nararia. Aku Dewi Sakti, aku akan mengajarimu memanah dalam 5 gerakan. Setelah itu kembalilah ke Mdang." kata Dewi Sakti


Aku mengikuti pelajaran pertama yaitu pengenalan berbagai jenis panah dan racun. Selanjutnya adalah pengenalan gendewa atau busur. Aku mengikuti gerakan dari Dewi Sakti secara seksama.


"Fokuslah pada titik itu, Ra. Bidik sasaran tepat di pusatnya." kata Dewi Sakti.


"Baik" kataku


Panah pertama, kedua, ketiga melesat semua. Aku merasa gugup dan berkeringat dingin.


"Nararia jangan takut, fokuslah dan coba bayangkan kalau panahmu tepat sasaran." kataku


"Horeee" soraku kegirangan


"Lakukan berulang - ulang, sampai 1.000 X" kata Dewi Sakti.


Aku terhenyak dengan perkataannya. Lama sekali aku mencoba, tapi nggak papa ini adalah materi yang harus ku dapatkan. Dewi Sakti tiba - tiba menghilang.


"Terus fokus pada latihanmu, Ra." kata Kencana.


"Sekarang ayo adu panah denganku." kata Puspa.


Aku dan Puspa kemudian tandingan saling merentangkan gandiwa. Panah Puspa melesat pertama. Ia tepat di tengah sasaran.


"Sekarang jika kau ingin menang, maka kamu harus menancapkan anak panahmu tepat di tengah juga. Tapi sayang tidak ada tempat lagi dan kau kalah, Nararia." kata Puspa.


"Aku nggak akan menyerah, Pus." kataku.


Aku terus memusatkan perhatian pada anak panah Puspa. Aku harus bisa membelah anak panahnya dan menggantinya dengan anak panahku.


Anak panahku melesat dan membelah anak panah Puspa.


"Yeey ... aku yang menang." kataku


"Bagaimana kau bisa melakukannya?" tanya Puspa.


"Aku pernah membaca buku Danur Weda, Pus." kataku


Puspa dan Kencana saling tatap, kemudian mereka menatapku.


"Apa??" kata Kencana.


"Dari mana kau dapat kitab langka itu?" tanya Puspa.


"Rahasia." kataku

__ADS_1


Tak berapa lama Dewi Sakti, Nilotama, dan Dewa Indra muncul. Mereka memberikanku tepuk tangan.


"Selamat anak - anakku." kata Dewa Indra.


Dewa Indra kemudian memberikan sebuah anak panah.


"Ini namanya panah panca roba. Ia akan keluar saat kamu terdesak." kata Dewa Indra.


"Tapi dewa, untuk apa ini? Aku sudah mempunyai Puspa dan Kencana." kataku


"Suatu saat akan berguna." kata Dewa Indra.


Panah itu kemudian menjadi kalung berliontin petir. Aku kemudian memakainya. Saat kalung itu menyentuh leherku. Aku merasakan panas.


"Awww sakit." pekikku.


"Tidak apa - apa, sekarang sudah melekat pada tubuhmu. Kembalilah ke Mdang, Satria sudah menunggumu." pesan Dewi Sakti


Puspa dan Kencana kembali masuk ke tubuhku. Aku pamit kepada Dewa Indra, Dewi Sakti, dan Dewi Nilotama.


"Nararia, jangan kau ceritakan kejadian ini pada siapapun." pesan Dewa Indra


"Dewa, bagaimana aku kembali ke Mdang?" tanyaku


Sang dewa tersenyum dan akan membukakan gerbang. Puspa menghilangkan diriku dan aku kembali membuka mata. Aku tersenyum pada yogi. Aku melihat Satria ada di sampingku.


"Kamu sejak kapan ada di sini?" tanyaku


"Kamu terlalu khusuk meditasi, sayang." kata Satria


"Yogi, terimakasih atas pelajaranmu hari ini." kataku


Aku pamit pada yogi dan pergi bersama Satria. Ia terus menggoda dan mengangkat badanku.


"Satria hentikan, aku malu." kataku


"Jangan bergerak atau aku akan menjatuhkanmu." kata Satria.


Aku memeluk leher Satria dan dia menjatuhkanku di kolam istana.


"Satria, aku basah kan." kataku


"Kamu bau asem belum mandi kan?" tanya Satria.


Aku bermain air dengan Satria. Tapi ada sepasang mata yang melihat kami.


"Balaputra." kataku.


Aku bahkan bisa melihat dengan jelas orang yang sedang mengintai kami.


'Nararia, kalungmu akan membuat kau tajam dalam melihat dan suara orang yang berkata, meskipun itu jauh.' terang Kencana.


"Ini hebat." teriakku


Satria tertegun dengan teriakku. Ia penasaran dengan apa yang aku katakan.


"Apanya yang hebat?" tanya Satria.


"Kamu yang hebat kakak." aku kemudian kembali menyirati Satria dengan air.


Baju kami berdua basah dan aku pun minta pada dayang untuk menyiapkan baju ganti untukku dan Satria.


**


Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktunya


With love


Citralekha

__ADS_1


__ADS_2