
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik like, vote, rate, atau coin ya*
Happy reading
.
.
Kami (Aku dan Pasopati) kemudian meminta Satria untuk menjelaskan tentang kejadian yang dia alami. Sampai terjadi pertukaran dengan denawa jahat. Tapi yang membuat kami tidak sabar adalah tatkala dia mengulur waktu untuk makan terlebih dahulu.
"Aku lapar, Dayang siapkan makanan untukku. Sudah beberapa minggu aku dikasih makan binatang. Sekarang saatnya makan makanan manusia." kata Satria
Mendengar hal itu, aku dan Pasopati tertawa mengingat bagaimana dia dikasih makan saat menjadi macan. Sehingga Pasopati pun usil pada Satria.
"Satria, bagaimana rasanya jadi macan?" tanya Pasopati disertai tertawa
Satria pun melirik Pasopati dengan sinis. Tapi dia belum memperhatikan Pasopati. Tangan dan mulutnya terus bergerilya mengambil dan mengunyah makanan yang disajikan dayang.
"Dayang, aku mau makan bebek garang." teriak Satria
Kami hanya memperhatikan bagaimana Satria makan dengan lahap.
"Ra, pangeranmu ternyata rakus ya." bisik Pasopati
Aku hanya tersenyum sambil melihat kelakuan Satria yang seperti anak kecil. Pasopati pun kemudian mengambil seekor bebek yang masih dipegang oleh dayang.
"Makasih ya pangeran, bebek nya." kata Pasopati sambil berlari membawa bebek garang.
Melihat Pasopati merebut makanan kesukaannya. Satria pun kemudian melempar sendok emas yang dipakainya.
"Pasopati kembalikan bebekku!!." gertak Satria
Dia pun mengejar Pasopati. Widasari kemudian datang dan menubruk Pasopati. Hingga bebek garang nya jatuh ke lantai.
"Pangeran maaf, aku tidak sengaja menjatuhkan bebek nya." kata Pasopati
"So, aku bunuh kamu." ancam Satria
Widasari pun kemudian melerai mereka berdua agar tidak berantem.
"Stop!!, kayak anak kecil saja." kata Widasari
"So, sajikan bebek garang ku sekarang juga atau aku tidak segan - segan menghabisimu. " gertak Satria
"Kakaaak pangeran, sudahlah jangan berebut makanan. Wida akan membuat kan untukmu." kata Widasari
Wida pun kemudian menuju dapur Keputren dan akan memasakkan bebek pesanan Satria. Melihat mereka berdua masih berantem. Akhirnya aku mendekati mereka berdua.
"Heh mau berhenti bermainnya nggak?" tanyaku
Aku berkata sambil mengulurkan pedang ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Oh putri Nararia, bukan salahku. Ini salah pangeranmu Satria. Dia lah yang seperti anak kecil." kata Pasopati sambil berlari dan bersembunyi di belakangku.
"Eng engak putri, Pasopati yang telah mengambil bebekku." belanya
Aku masih syok dengan kelakuan mereka berdua. Ternyata dua pangeran itu bisa juga berlagak seperti anak kecil yang suka berantem.
"Mau berhenti dan kembali pada pokok permasalahan atau aku bunuh kalian berdua." ancamku
Akhirnya mereka bisa duduk diam seperti semula. Aku hanya geleng - geleng kepala, serta meminta para dayang untuk menyingkirkan sisa makanan yang disantap Satria.
"Dayang tolong bersihkan meja ini." kataku
"Baik tuan putri." kata mereka
Setelah semua bersih. Aku kembali ke pokok permasalahan. Akhirnya Satria menceritakan tentang kejadian saat di perjalanan menuju Pikatan.
....
Flash back.
Malam hari setelah pulang dari Kalyana Sundara Grha. Satria secara tiba - tiba ditemui oleh seseorang yang mengaku sebagai seorang telik sandi dari Pikatan. Dia menerima surat berstempel kerajaan Pikatan. Surat tersebut menceritakan bahwa ayahnya Sang Raja Pu Palar sedang menderita sakit. Sehingga Satria harus segera kembali ke Pikatan.
"Telik sandi, tunggu dulu. Aku akan pamitan terlebih dahulu dengan kekasih ku." kata Satria
"Mohon maaf pangeran, tapi sebaiknya kita segera berangkat sebelum semuanya terlambat." kata telik sandi
Tanpa rasa curiga, Satria segera berangkat menuju Pikatan tanpa pamitan denganku. Dalam perjalanan malam, Satria naik kuda tanpa dikawal oleh seorang prajuritpun.
"Telik sandi sebenarnya apa sakit dari ayahku?" tanya Satria
"Ampun pangeran, hamba tidak tahu. Tapi sang raja sangat me cerita dengan penyakitnya itu." kata telik sandi
Satria segera memacu kudanya dengan kencang. Hingga akhirnya mereka di tepian Hutan Dandaka.
...
(Hutan Dandaka)
Adalah hutan yang paling angker di wilayah Jawa Tengah. Hutan itu adalah tempat berkuasanya makhluk halus bernama Kala Srengi. Dia adalah denawa atau butho yang gagah perkasa. Dia memiliki ajian malih rupa yang ditakuti oleh semua orang.
Ajian malih rupa adalah ilmu untuk mengubah dirinya menjadi seseorang yang dapat mengabuhi musuhnya. Bisa saja dia berganti wajah menjadi orang yang paling di sayang oleh musuhnya. Sehingga dengan mudah dia dapat mengalahkan musuhnya dengan pelan - pelan.
Ajian malih rupa juga dapat dia gunakan untuk mengadu domba musuh. Sehingga pasukan yang semula memihak musuh jadi memihak dirinya. Dia juga dapat mempengaruhi pikiran orang untuk berbuat jahat. selain itu yang paling ditakutkan ialah dia dapat mengubah wujud musuhnya me jadi bentuk apapun.
Hutan Dandaka yang dipenuhi dengan pepohonan besar, tinggi, dan rindang. Terlihat indah dari jauh tapi merupakan hutan yang mematikan. Siapapun yang masuk ke hutan itu, dia tidak akan selamat. Apabila orang itu berpengaruh maka dia akan mengganti wujudnya menjadi orang itu.
...
Pada saat Satria bersama telik sandi. Mereka melewati hutan itu. Perasaan Satria sebenarnya sudah tidak enak. Tidak seperti biasanya dia pulang ke Pikatan melewati hutan itu. Biasanya dia pulang melewati timur. Tapi telik sandi itu mengajak melewati jalur barat. Dia menghentikan kudanya tatkala akan masuk ke jalan hutan Dandaka.
"Telik sandi tunggu, kenapa kita menuju ke arah hutan Dandaka?" tanya Satria
__ADS_1
"Iya pangeran, karena melalui hutan itu. Kita lebih cepat sampainya." kata telik sandi
Memang benar menuju Pikatan akan lebih cepat melalui Dandaka. Tapi resikonya juga besar. Meskipun Satria memiliki kesaktian yang hebat tapi dia masih mempertimbangkan ajian malih rupa Kala Srengi.
"Tapi disana terlalu beresiko. Apa kau tahu di dalam sana ada raja denawa yang sangat sakti, namanya Kala Srengi." kata Satria
"Itu hanya mitos pangeran. Selama hamba menuju Pikatan, hamba selalu melewati hutan Dandaka. Tapi buktinya, hamba selamat bahkan dengan leluasa keluar masuk hutan tidak berpengaruh apa - apa." kata telik sandi
Melihat Satria masih ragu untuk masuk dan melewati hutan itu. Dia menciptakan ilusi dan membuat pengikutnya berganti muka menjadi diriku (Nararia). Aku yang palsu diikuti oleh Pasopati palsu datang dengan sebuah kereta kencana.
Aku palsu langsung mendekati Satria. Betapa kagetnya dia Melihat Aku dan Pasopati ada dibelakangnya.
"Sayang kenapa kamu menyusul. So, jelaskan apa yang terjadi." tanya Satria
"Maaf Satria, rapi putri Nararia ini tidak sabar dan khawatir terjadi sesuatu. Sehingga dia memintaku untuk menyusul dan menemanimu ke Pikatan." kata Pasopati
"Tapi dari mana kalian tahu kalau aku akan melewati Hutan Dandaka?" tanya Satria
Mendengar pertanyaan itu, Pasopati nampak bingung. Tapi telik sandi kemudian membantu mencarikan alasan agar Satria percaya.
"Pangeran, sebelum saya bertemu dengan anda di istana Medang. Tanpa sengaja hamba bertemu dengan putri Nararia. Sehingga hamba memberitahunya terlebih dahulu." kata telik sandi
Me dengar alasan dari telik sandi, Satria percaya. Terlebih aku palsu meminta kepada Satria untuk segera masuk ke Hutan Dandaka.
"Ayo Satria kita segera ke Pikatan. Kasian ayah raja Pu Palar." kataku
Aku dan Pasopati palsu kemudian meluncur dan masuk ke Hutan Dandaka. Tanpa pikir panjang lagi, telik sandi mempengaruhi Satria untuk ikut masuk ke Hutan Dandaka.
"Ayo pangeran kita segera susul tuan putri ke dalam Hutan Dandaka." kata telik sandi
"Kenapa mereka masuk ke dalam. Apa Pasopati lupa di dalam ada Kala Srengi. Bahkan aku pun masih terkecoh dengannya tatkala dulu hendak membunuhnya." umpat Satria.
"Untuk itu mari segera susul mereka, pangeran. Agar tidak terjadi apapun pada mereka." kata telik sandi.
Satria segera memacukan kudanya untuk masuk ke Hutan Dandaka. Telik sandi tersenyum licik ketika melihat Satria masuk ke dalam Hutan. Dia bahkan telah mempersiapkan jebakan dan perangkap untuk dapat membunuh Satria.
Sampai di seperempat hutan. Dia kehilangan jejak kami. Dia bingung harus mencariku dan Pasopati kemana. mengingat hutan ini sangat luas dan lebat. Juga banyak binatang buas. Pada saat itu, dia dihadang oleh ular besar yang hendak memangsanya dia.
"Telik sandi mundur!!" perintah Satria
Satria kemudian melawan ular raksasa itu. Dia mengeluarkan banyak pusaka dan ajian untuk dapat membunuh ular itu. Tapi ternyata ular itu sangat sakti. Sebenarnya ular itu adalah ilusi yang dibuat Srengi. Ular itu adalah wujud dari sebuah batang pohon.
Fak mau pertarungannya lama, Satria mengeluarkan panah sakti nya. Sehingga ular itu kalah dan berubah menjadi batang pohon.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Jangan lupa untuk klik vote, rate, dan koin ya.
with love
Citralekha
__ADS_1