
*Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, dan comment ya*
Happy Reading**
.
.
Fais kemudian diam dan dia menggelengkan kepala. Ia tidak tahu. 'Tukan bener, dia bukan Rakai, karena kata Pendeta tadi Rakai tau segalanya. Syukurlah dia bukan Rakai' kataku dalam hati.
"Eh masuk yuk ke dalam" ajak Fais.
Fais sengaja mengajak kami masuk agar kami tidak bertanya hal - hal yang tidak ia ketahui. Kami ini bukanlah anak sembarangan. Terlebih Dika yang memang memiliki insting pemikir yang kuat dan selalu ingin tau.
Tapi Dika sepertinya belum terima dengan ketidaktahuan Fais. Dia terus menghubungkan angka delapan dengan konsep dewata nawa senga.
"Tunggu mas, aku masih penasaran dengan angka 8." kata Dika
"Aku berpikiran jika itu berhubungan dengan asta dala padma anglayang. " kataku
Fais dan Ivan mengeryitkan dahi tatkala aku menyebutkan sebuah istilah asing.
"Apa itu asta dala padma anglayang?" tanya Fais
"Delapan penjuru mata angin dengan pusat sebagai tengah. Candi perwara yang mengelilingi candi induk sama seperti 8 arah mata angin yang memutari pusat." kataku
Mereka ber tiga kemudian menoleh dan mendengarkan dengan seksama.
Asta dala padma anglayang adalah konsep 8 penjuru arah mata angin yang dijaga oleh masing - masing dewa. Dewa di tengah sebagai pusat dan dijaga oleh Dewa Siwa. Setiap arah mata angin memiliki warna yang berbeda - beda.
Warna utara hitam, barat kuning, timur putih, dan selatan merah. Sedangkan tengah merupakan panca warna. Setiap dewa digambarkan dengan kendaraan masing - masing. Senjata, aksara suci, urip, warna, kendaraan adalah kelengkapan nawa sanga.
"Wuah hebat Rara." puji Fais
Aku kemudian menaikan bahu dan tersenyum. Setelah itu, Fais mengajak kami halaman utama candi dan melihat keelokan Candi Prambanan.
"Oke anak - anak, ini adalah halaman utama Candi Prambanan" kata Fais.
Kami melangkahkan kaki ke dalam candi induk. Begitu melihat keelokan dan kemegahan candi. Aku jadi terpesona dan tiba - tiba angin menghampiri dan menghempaskan rambutku. Topi ku juga sempat kabur. Tapi untungnya terdapat tali. Sehingga topi itu hanya terjatuh kebelakang.
"Eh topiku." kataku
"Jangan sampai jatuh, nanti kotor." kata Dika
Aku hanya mengangguk dan membenarkan topi yang sempat terjatuh tadi.
Aku kemudian memejamkan mata dan mengucapkan mantra lagi. Ku buka mata dan ku lihat bahwa halaman utama candi berubah menjadi sungai besar.
__ADS_1
"Hlo kemana Candi Prambanannya" kataku panik.
Aku kemudian clinggukan dan kakiku kemudian mundur dan ak terjatuh. Tiba - tiba ada seorang lelaki yang mengulurkan tangannya. Tangannya lembut, putih, bersih, tapi wajahnya tidak terlihat karena mataku silau terkena pantulan cahaya dari air sungai. Tak sengaja aku nutup mata dan buka mata lagi aku sudah di duniaku.
"Hati - hati jalannya, kok bisa kesandung sih" kata Dika.
"Tadi, halaman ini berubah jadi sungai" kataku.
"Udah, nggak usah menghayal lagi. Kamu haus ya, ni minum" kata Ivan sembari mengambilkan air putih di tasku.
Aku kemudian minum dan aku hanya geleng geleng kepala. 'apa tadi Rakai' batinku. Saat itu, aku takut memejamkan mata dan mengucapkan mantra lagi. Aku takut jika akan nyasar di dunia lain. Aku takut tidak bisa kembali ke duniaku sekarang.
"Oke, buk, sudah ngak papa kan? jangan pingsan di sini ya buk" goda Fais.
Aku kemudian reflek memukul bahu Fais. Dia meringis kesakitan. Tanganku juga panas, hehehe ternyata aku terlalu keras dalam memukul dia.
"Panas tanganku." kataku
"Sakit tauu!!" teriak Fais.
Ivan kemudian mengamati sekeliling dan mulai bertanya ke Fais.
"Mas Fais, di halaman pusat ini ada berapa candi?" tanya Ivan
Fais kemudian menghela napas. Disaat yang sama Dika turun ke bawah. Aku lihat dia sedang membeli air mineral dingin dan kemudian dikasihkan ke Fais. Tak kusangka jiwa sosial Dika muncul.
Dia kemudian meminum air itu dan tinggal menyisakan sedikit saja. Kami melihat dengan keheranan dan sambil cekikikan.
"Haus atau bocor, mas?" godaku.
Kami pun kemudian tertawa ketika mendengar Fais sendawa.
"Sori kelepasan, oke aku jawab sekarang. Jadi di halaman 1 ini terdapat 16 candi. 3 Candi Induk, Candi Brahma, Siwa yang paling tinggi, dan wisnu. 3 candi wahana, Candi Angsa, Nandi, dan Garuda. 2 Candi Apit, 4 Candi Kelir, dan 4 Candi Sudut." jelas Fais.
"pertama kita mau ke candi mana?" tanya Ivan.
Aku kemudian mengusulkan untuk masuk ke candi yang paling besar yang di dalamnya terdapat banyak arca.
"Gimana kalau ke Candi Siwa, dulu?" usulku.
"Sebaiknya di Brahma dulu. Sekalian jalan keluar nanti. Candi Angsa dan Garuda kan kosong nggak ada arcanya" jelas Dika.
Akhirnya kami mengikuti saran Dika dan melangkah menuju Candi Brahma. Langkah demi langkah kami menuju candi brahma. Angin sepoi - sepoi mengiringi langkah kami. Kami harus bersabar menunggu banyaknya wisatawan yang naik dan turun dari atas.
"Tunggu sampai agak sepian bentar ya." kata Fais
Kami menurut saja dan tidak ingin berdesak - desakan. Takut jika nanti saling senggol dan jatuh. Mengingat jika batu candi tidak dipasang menggunakan semen.
__ADS_1
"Dinamakan Candi Brahma karena di dalamnya terdapat sebuah Arca Dewa Brahma. Ia ber-ber-muka empat atau catur mukha. Bertangan empat masing masing membawa kendi, aksamala atau genitri, pustaka, dan teratai" kataku.
Aku menjelaskan itu dan Fais hanya senyum - senyum. Kami kemudian mengamati sejenak arca yang berdiri di hadapan kami. Aku hanya berdoa mengucapkan Gayatri mantra. Aku tidak memejamkan mata. Hanya menatap wajahnya yang tampan.
"Wuah kamu bisa jadi Arkeolog nanti" katanya.
"Dia tau karena dia Hindu" kata Ivan.
"Oh, pantas" kata Fais.
Kita kemudian naik ke Candi Brahma. Fais kemudian mengajak keliling mengelilingi Candi Brahma untuk menunjukan tentang relief dan menceritakan kisah Ramayana.
"Ini adalah relief cerita Ramaya. Dika dan Rara tau kisah Ramayana?" tanya Fais.
"Tau, kisah cinta antara Rama dan Sita" jawab Dika.
"Jadi, aku nggak perlu menceritakan ke kalian, hehehhe" kata Fais.
"Eh, ceritain lah, Aku kan belum tau" kata Ivan.
Fais kemudian mengajak kami mengelilingi Candi Brahma secara pradaksina yaitu memutari candi searah jarum jam.
"Sebenarnya ini adalah lanjutan dari relief yang ada di Candi Siwa, hehehe. Betul usul Rara tadi, harusnya kita ke Candi Siwa dulu. Selanjutnya baru ke Brahma dan Wisnu." kata Fais.
"Tukan... ah Dika, mah" kataku sambil cemberut.
"Iya, maaf kan aku nggak tahu" kata Dika.
Ivan kemudian melerai kami berdua dan dia mulai minta ke Fais untuk menceritakan tentang kisah Ramayana.
"Rama merupakan awatara dari Dewa Wisnu. Dia turun ke dunia karena ingin mengalahkan seorang raja Raksasa yang bernama Rahwana" kata Dika.
Fais juga menjelaskan bahwa relief yang di Candi Brahma adalah lanjutan dari Siwa. Panil dimulai ketika terjadi peperangan antara Rama dan Rahwana. Fais menceritakan secara detail isi dari relief itu.
"Oke ... dimulai dari peperangan antara Indrajit melawan Laksmana. Indrajit kemudian kalah dan meninggal oleh panah Laksamana. Ini adegan prajurit sedang membangunkan Khumbakarna. Mereka membangunkan dengan berbagai alat musik. Kalian tahu nggak sebenernya Khumbakarna tu baik lho" terang Fais.
"Tapi kan dia dipihak yang jahat" kata Ivan.
Fais kemudian menceritakan tentang Khumbakarna
"Jadi ...
**
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktunya telah berkenan membacanya.
with love
__ADS_1
Citralekha