Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Candi Tebing Gunung Kawi


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.


Happy reading


***


Aku selalu berdoa, semoga Adhiraksa dan Kencana berhasil. Semoga mereka berhasil menggagalkan rencana Aura malam ini. Jika sampai malam ini, Satria dan Prasta bersama mereka. Maka sia - sia perjalanan yang telah aku lakukan.


"Malam ini aku harus meraga sukma lagi. Aku harus memastikan mereka baik - baik saja." batinku


Kami ber 4 pun lalu bebersih dan memasak makanan. Andi dan Jofel ternyata seorang Arkeolog yang multitalent. Mereka lah yang menyiapkan makan malam kita. Meskipun hanya masak mie bakso. Tapi makanan menyegarkan itu sangat cocok dinikmati pada malam hari. Kami memang sudah memutuskan tidak akan keluar dari mes lagi.


Aku juga sudah memasang pagar gaib. Siapapun itu, entah manusia atau makhluk lain yang datang dengan niat buruk akibat kekuatan jahat. Mereka tidak akan bisa masuk.


*


(Malam hari pukul 21.00).


Aku berkomunikasi dengan Puspa. Aku ingin agar puspa memastikan Adhiraksa dan Kencana bisa diandalkan.


"Puspa apakah bisa kamu menemui Adhiraksa dan Kencana?" tanyaku


"Baiklah putri, jika itu keinginan putri. Aku akan menemui mereka. Aku akan pastikan Satria dan Prasta akan baik - baik saja." kata Puspa


Tak lama kemudian Puspa menghilang dari hadapanku. Aku dan Wira sepakat untuk melantunkan doa. Kami juga memutar maha mantra gayatri. Serta Andi melakukan sholat. Sedangkan Jofel tidak lepas dari rosarionya.


*


(Villa Tabanan milik Bli Putu)


Hari ini sangat melelahkan bagi para tim peneliti ini. Mereka tidur lebih cepat dari biasanya. Tapi tidak dengan Aura dan Tamara. Mereka ingin membawa pergi Prasta dan Satria. Mereka akan melancarkan aksi nya malam ini.


"Apakah kau siap Tamara?" tanya Aura


"Apapun untuk Satria, aku akan lakukan." kata Tamara


"Tapi kami tidak akan membiarkan kalian berhasil." kata Adhiraksa


Adhiraksa dan Kencana memang telah menyiapkan siasat. Tapi mereka tidak tahu, apakah bisa melakukan itu atau tidak.


"Kencana ayo kita ke kamar Prasta dan Satria." ajak Adhiraksa


Dalam waktu sekejab mereka telah sampai di kamar mereka ber 2.


"Hari ini aku capek banget, Pras" kata Satria


"Ya tapi pacar kita ingin pergi nonton." kata Prasta


"Demi cinta ku pada Tamara. Aku akan pergi. Aku tak tega melihat dia menanggis." kata Satria


"Sama Aku juga, tidak akan membiarkan Aura sedih." kata Prasta


Sementara itu Kencana dan Adhiraksa mencoba masuk ke dalam tubuh mereka. Tapi beberapa kali di coba. Kencana dan Adhir tidak bisa masuk.


"Aneh sekali ini, kenapa kita tidak bisa masuk?" tanya Adhiraksa


"Karena pasangannya Kencana adalah diriku, Dewi Puspasari. Jadi kau tidak akan bisa masuk." sahut Puspa


"Puspa kenapa kamu ada di sini? Akan sangat berbahaya buat putri Nararia." kata Adhiraksa


"Apa kau lupa pangeran Adhiraksa. Putri Nararia mempunyai panah sakti. Selain itu, dia adalah murid Dewi Sakti. Jadi tenang saja. Aku tidak ada banyak waktu. Sebaiknya kita bertukar tugas. Kamu Adhiraksa pergilah bersama putri Nararia. Urusan Satria dan Prasta menjadi urusanku dan Kencana." kata Puspa

__ADS_1


Setelah melakukan pertukaran tugas. Akhirnya Adhiraksa pergi kepadaku. Sedangkan Puspa dan Kencana akan mengalahkan lelembut yang masuk ke tubuh 2 pangeran itu. Setelah pertarungan itu, akhirnya Puspa dan Kencana bisa masuk. Mereka akan mengendalikan Prasta dan Satria.


*


"Adhiraksa kenapa kamu disini?" tanyaku


"Aku mendapatkan tugas dari Dewi Puspasari untuk bersamamu." terang Adhiraksa


Dia pun lalu menjelaskan tentang keadaan di vila. Serta aku yang harus tenang. Semua akan aman karena ada Puspa dan Kencana.


"Apakah aku bisa meraga sukma?" tanyaku


"Tidak putri, akan sangat berbahaya." kata Adhiraksa.


Aku pun lalu menggunakan indra penglihatanku yang terhubung dengan Puspa. Aku bisa menyaksikan apa yang terjadi dengan suasana Vila.


*


tok tok tok


Pintu kamar Satria dan Prasta diketok oleh dua wanita itu. Mereka telah berdandan dengan begitu seksi nya.


"Ayo sayang kita pergi." kata Tamara yang lalu melingkarkan lengannya pada lengan Satria


"Apapun yang kamu minta sayang." kata Satria.


Kencana dan Puspa memang ingin mengetahui apa yang sebenarnya akan terjadi malam ini. Tapi tiba - tiba turun hujan. Hujan yang sangat deras dan disertai angin. Tentu saja itu hujan buatan dari Kencana. Dia bisa mengendalikan hujan, karena memiliki kekuatan dari Dewa Indra.


"Sayang sepertinya kita tidak bisa pergi malam ini. Hujannya sangat lebat." kata Prasta


"Tapi ini seperti hujan buatan." kata Aura


"Akan sangat berbahaya kita bepergian pada kondisi saat ini." sahut Satria


Setelah melakukan perdebatan panjang. Akhirnya, malam ini mereka tetap atau di Villa Tabanan. Prasta dan Satria pun kemudian melirik. Mereka pun kembali ke kamar masing - masing. Sedangkan Aura sangat marah. Dia tidak berhasil membawa ke 2 pangeran itu.


"Tapi jelas - jelas itu hujan buatan. Kita tak masalah pergi dengan cuaca seperti itu." kata Aura


"Tidak, aku tidak mau membahayakan nyawa Satria." kata Tamara


Akhirnya mereka berdua pun istirahat dalam diam. Mereka seperti perang dingin malam ini. Ya setidaknya aku bisa lega. Malam ini kami berhasil menggagalkan rencana itu.


"Putri, sekarang tidur lah. Besok kau harus menyelesaikan perjalananmu." kata Adhiraksa


Betul sekali apa yang dikatakan Adhiraksa. Badan manusia sangat capek dan lelah. Tapi aku meminta kepada Adhiraksa untuk menjaga kami semua.


*


(Pagi hari).


Aku dibangunkan dengan aroma mie instan yang di buat oleh Andi. Ya andalan kita adalah mie, hehehe... Kami bangun kesiangan ternyata. Jam 9, kami baru bangun. Ya, mereka tentu juga sangat capek dan lelah.


"Oh iya, kita mau pergi kemana?" tanyaku


"Banjar Panaka, Desa Tampaksiring, Kabupaten Gianyar Bali." kata Wira


"Sekali kita pergi maka akan dapat semuanya kak. Ke 3 mata air kuna ini letaknya berdekatan." sahut Jofel.


Setelah semua siap, kami pun lalu melajukan motor menuju lokasi tujuan.


*


(1 jam kemudian)


Kami sampai di lokasi pertama yaitu Situs Gunung Kawi. Kompleks Candi Gunung Kawimerupakan salah satu tinggalan arkeologi yang cukup monumental di Bali dan merupakan salah satu bangunan suci masa Bali Kuno yang terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Pakerisan.


"Candi Gunung Kawi, tempat yang sangat kaya dengan kandungan Arkeologi. Oh iya, bagaimana sejarah ditemukannya situs ini?" tanyaku

__ADS_1


"Gunung Kawi pertama kali ditemukan oleh H.T. Damste pada tahun 1920. Penelitian terhadap Kompleks Candi Gunung Kawi sudah dilakukan sejak tahun 1951 oleh J. C. Krygsman dan terus berlangsung hingga saat ini, kak." kata Jofel


Kami pun lalu menggunakan kamen dan senteng. Serta memberikan punia seikhlasnya.


Keberadaan bangunan suci di DAS Pakerisan pernah disebutkan di dalam prasasti, di antaranya adalah Prasasti Batuan yang berangka tahun 944 Saka (1022 Masehi) dan Prasasti Tengkulak A yang berangka tahun 945 Saka (1023 Masehi) yang keduanya dikeluarkan oleh Raja Marakata.


Situs Gunung Kawi dapat dikelompokkan menjadi dua yakni kelompok candi tebing dan kelompok ceruk pertapaan. Candi Tebing Gunung Kawi dipahat pada tebing cadas, berjumlah sepuluh candi terdiri atas tiga kelompok yaitu: kelompok lima candi, kelompok empat candi, dan sebuah candi yang dikenal dengan candi ke-sepuluh. Kelompok lima candi terdiri atas lima candi yang dibangun berderet, terletak di sebelah timur sungai Pakerisan menghadap kebarat.


"Apa bunyi prasasti pada Candi itu, Wir?" tanyaku


"Pada candi terbesar (No1 paling utara) terdapat tulisan Kediri Qwadrat “aji lumah ing jalu” artinya raja yang dicandikan di jalu (Pakerisan). pada candi No 2 dari utara terdapat tulisan Kediri Qwadrat “rwa nakira” artinya dua anaknya. Menurut Goris dan Kempers, candi yang bertuliskan “aji lumah ing jalu” merupakan candi untuk raja Udayana dan candi yang bertuliskan ”rwa nakira” untuk anaknya yakni raja Marakata dan Anak Wungsu." jelas Wira


"Pada candi kesepuluh ini terdapat tulisan Kediri Qwadrat “rakyan”. Candi kesepuluh merupakan candi untuk Perdana Menteri (jabatan Rakyan\=perdana menteri). Berdasarkan studi paleografi atas tulisan Kediri Qwadrat pada kelompok lima candid an candi kesepuluh, diduga Candi Gunung Kawi dibangun pada abad XI Masehi." sahut Jofel.


Kami pun lalu berjalan menuju ke sebuah ceruk. Sepertinya ceruk itu dahulu digunakan untuk bertapa.


"Ceruk pertapaan yang mengelompok terletak disebelah selatan kelompok lima candi. Ceruk ini menghadap kebarat dilengkapi dengan sebuah pintu masuk (gapura). Ceruk-ceruk pertapaan ini terdiri atas tiga bagian yaitu bagian utara, bagian tengan, dan bagian selatan. Masing-masing bagian terdapat pintu sebagai penghubung antara ceruk yang satu dengan yang lain. Bagian utara dapat dicapai melalui sebuah pintu yang menghadap ke selatan, di dalamnya terdapat dua ceruk yang berhadap-hadapan. Ceruk utama berbentuk gua dengan pintu masuk menghadap ke barat. Pada bagian dalam ceruk utama terdapat sebuah altar batu yang memanjang." terang Andi.


"Ceruk pertapaan Gunung Kawi disebut Amarawati." sahut Jofel


Asrama Amarawati didirikan oleh raja yang dicandikan di Air Wka yaitu Raja Udayana yang memerintah Bali pada Tahun 979-1011 M (abad X). sesuai dengan data dalam prasasti tersebut, maka Situs Gunung Kawi telah dibangun pada abad X-XI Masehi. Pada abad ke-10 (979-1011 M) Bali diperintah oleh Raja Udayana dan abad ke-11 (1049-1077 M) yang memerintah Bali adalah Anak Wungsu. ketika itu Situs Gunung Kawi berfungsi sebagai media pemujaan terhadap roh leluhurdan sebagai tempat meditasi dan pendidikan agama.


"Ayo segera kita ambil air nya kak." kata Andi


"Iya, selepas ini kita ke tempat mata air yang sangat terkenal itu." sahut Jofel


"Oke, Kak Nara dan Wira akan sembahyang dulu ya." kataku


Setelah sembahyang, kami pun lalu mengambil air itu. Air yang kita ambil dari DAS Pakerisan.


"Semoga air yang mengalir ini mampu melarutkan pengaruh ilmu pelet." kataku


"Terimakasih nini haji paduka rakyan Sanjiwani telah berkenan menengok kami." sahut orang yang menggunakan pakaian kebesaran bangsawan


"Apakah kamu Maharaja Marakatapangkaja?" tanyaku


Bangsawan itu hanya tersenyum dan kemudian menghilang.


"Jadi ini adalah keturunanku juga. Hebat sekali generasi Mataram yang dahulu mengadakan pernikahan beda pulau." batinku


"Kak, ayo kita ke tempat dimana Mayadenawa dapat dikalahkan oleh Dewa Indra." kata Wira


"Baik, Wir." kataku


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya. Maaf ya telat update, lagi banyak deadline ni. Selain itu, menulis beberapa episode ini diperlukan studi dan referensi. Sehingga informasi yang saya sampaikan valid.


next :


Apakah Nara akan berhasil mendapatkan 2 tirta yang sisa?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


With love


Citralekha


berikut adalah potret Candi Tebing Gunung Kawi



Berikut adalah aksara Kediri Kwadrat

__ADS_1



__ADS_2