Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Mencari Pasopati


__ADS_3

** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**


Happy reading.


.


.


Tiba - tiba Adhiraksa memunggut sesuatu. Aku mendekatinya.


"Bagaimana, apa kau menemukan sesuatu?" tanyaku


"Pasopati diculik oleh kekuatan yang sangat kuat." katanya


"Diculik? siapa yang menculiknya " tanyaku


"Mana aku tahu, kan kita sama - sama tidak ada di sini." kata Adhiraksa yang membuat aku sebal.


Aku kemudian melirik tajam ke arah Adhiraksa. Dalam keadaan genting, dia malah bercanda. Aku hendak keluar dari balai obat. Tapi dia segera menghalanginya.


"Mau kemana tuan putri?" godanya


"Minggir!!" kataku


"Katakan padaku dulu, mau kemana?" kata Adhiraksa


"Mencari Pasopati lah." kataku sewot.


Setelah itu, aku menepiskan tangannya. Tapi tubuhku segera dibalikkan oleh Adhiraksa.


"Lihat Widasari." tunjuk Adhiraksa


Aku segera berbalik badan. Aku kaget, karena melihat Widasari batuk - batuk. Segera aku samperin dia.


"Wida ... Wida,. kau tidak apa - apa kan?" tanyaku


"Nggak papa, kak. Tapi badanku masih lemas dan tidak dapat leluasa gerak." kata Widasari.


Aku tersenyum pada Sanjiwani.


"Putri Sanjiwani, terimakasih atas kebaikan hatimu." kataku


"Tak masalah putri" kata Sanjiwani


"Wida" kataku lirih


"Kak Rara, Sanjiwani ... maafkan saya yang telah salah paham dengan mu." kata Widasari sambil menangis.


Dia berusaha bangun. Tapi segera dicegah oleh Sanjiwani. Wida harus banyak istirahat dan menerima tenaga dalam. Tujuannya, agar tenaganya kembali. Wida pun nampak mencari sekelilingnya.


"Apa yang kau cari, Wida? Kau lapar?" tanyaku


"Tidak kakak, tapi aku mencari pangeran Pasopati." kata Widasari


"Sudahlah Wida, kamu istirahat saja. Pasopati baik - baik saja kok." kataku


"Tapi aku ingin bertemu dengannya dan meminta maaf." kata Widasari


Aku tahu perasaan Widasari. Tapi untuk sementara dia harus dijauhkan dari Pasopati. Dia tidak boleh tahu jika Pasopati menghilang. Dia harus banyak istirahat. Serta memulihkan tenaganya.


Adhiraksa pun telah memerintahkan kepada dayang dan tabib. Mereka harus tutup mulut, jika Pasopati menghilang.


Wida sangat bandel. Dia teringat, bahwa Pasopati telah terbebas tubuhnya. Dia pun kemudian menangis. Dia mengingat kejadian beberapa hari.

__ADS_1


"Putri Sanjiwani, maafkan saya." kata Widasari


"Sudahlah putri Widasari. Aku sudah memaafkanmu." kata Sanjiwani


Setelah itu, aku keluar dari balai obat. Adhiraksa kemudian menghampiriku.


"Mau kemana sayang?" tanyanya sok imut


"Sayang ... sayang ... aku bukan sayangmu" kataku ketus.


"Aku anter ya, sambil kita diskusi tentang misteri hilangnya Pasopati." kata Adhiraksa


Akhirnya aku ngalah. Aku memang butuh bantuan nya untuk menemukan Pasopati. Kami melangkah menuju bilik kamarku. Sesampainya, aku meminta dayang untuk menyiapkan makanan dan minuman.


"Adhir apa yang kau temukan tadi?" tanyaku


"Aku menemukan sobekan selendang hijau." kata Adhiraksa sambil memberikan sobekan kain.


Aku berusaha mengingat - ingat sobekan selendang itu. Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi aku lupa dimana aku pernah melihat selendang itu.


"Rara ... apa kamu tau sesuatu?" tanya Adhiraksa


"Aku pernah melihatnya, tapi aku lupa dimana." kataku


"Aku pun sudah menggunakan ilmu penerawanganku. Tapi sepertinya aku tidak dapat menembus pagar gaib yang menyelimutinya." kata Adhiraksa.


"Baik Adhir, kalau gitu aku mau istirahat dulu. Kamu kembalilah ke ksatrianmu" kataku


Awalnya Adhiraksa menolak. Tapi setelah aku rayu dan jelaskan, akhirnya mau. Tapi aku mengambil sobekan kain. Adhiraksa nampak curiga karena aku memintanya.


"Aku akan mencoba untuk menerawangnya." kataku


"Baik" kata Adhiraksa singkat.


**


Balaputra sudah sampai di goa pertapaan. Kehadirannya disambut oleh angin kencang. Serta serangan dari denawa penunggu goa itu.


"Gggrrrrrrr... anak manusia. Apa mau mu menganggu tempat kami?" tanya denawa


"Aku ingin menggunakan goa ini untuk bertapa." kata Balaputra.


"Tidak akan aku ijinkan, kau menggunakan goaku." kata denawa


Setelah itu terjadilah pertarungan antara Balaputra dan denawa. Pertarungan tidak imbang, karena denawa mengeluarkan pasukan. Sementara Balaputra seorang diri. Tapi bukan Balaputra namanya jika tidak mempunyai cara. Dia memanggil denawa miliknya. Denawa Tri Muka adalah denawa berwujud ular yang memiliki tiga kepala.


"Kau kira, hanya kau saja yang bisa mendatangkan pasukan?" tanya Balaputra


Tanpa menunggu perintah Tri Muka langsung menyerang prajurit denawa musuhnya. Terjadilah pertarungan yang seru. prajurit lawan kalah dan hancur oleh ekor Tri Muka. Sementara pimpinan denawa mulai kewalahan. Dia melihat hampir sebagian pasukannya musnah.


"Siapa kau sebenarnya?" tanya pimpinan denawa.


Mendengar pertanyaan pimpinan denawa, Balaputra tertawa terbahak - bahak. Ada rasa puas karena telah membuat pimpinan denawa nyalinya ciut.


"Aku adalah pangeran Balaputra, putra dari Maharaja Samaratungga." kata Balaputra


Mendengar hal itu, pimpinan denawa segera memerintahkan prajuritnya untuk menyerah. Dia lalu menyembah kepada Balaputra.


"Ampun pangeran, kami bodoh. Kami tidak mengenali pangeran." kata pimpinan denawa


"Apa maksudmu?" tanya Balaputra heran.


"Kami ditugasi oleh nenek moyang anda, Raja Sanjaya. Beliau berpesan bahwa suatu saat keturunannya beliau akan datang ke sini." terang pimpinan denawa.

__ADS_1


Balaputra kemudian mendekati pimpinan denawa. Mereka berbincang dan saling bertukar pikiran. Ternyata kehadiran Balaputra sudah dinantikan sejak lama.


"Jadi kau tahu apa maksudku datang ke sini?" tanya Balaputra


"Tentu pangeran, semua itu sudah tersirat dalam catatan suci" kata denawa


"Baik denawa, aku ingin bertapa di sini. Aku ingin merebut tahta Mataram. Aku berhak atas tahta, itu" kata Balaputra


Balaputra mengutarakan maksud kedatangannya. Tentu saja denawa penghuni goa Rancang Kencono mengizinkannya. Pasalnya goa ini adalah goa yang pernah digunakan leluhur kami.


Balaputra kemudian masuk ke dalam goa. Dia menuruni anak tangga. Suasananya sunyi, hening, dan pemandangan goa dengan stalaktif dan stalakmit. Ruangan utama lumayan luas.


Terdapat ruangan kecil di bagian dalam. Sebuah lubang yang hanya muat untuk 1 orang. Depan lubang (ruangan kecil) terdapat lingga dan yoni.


"Denawa, dimana kakek buyutku bertapa?" tanya Balaputra


"Ampun pangeran, Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya bertapa di ruangan paling dalam. Ruangan yang hanya muat untuk 1 orang." kata denawa


"Baik, aku akan bertapa dimana kakek buyutku bertapa. Sekarang keluarlah dan jaga goa ini dari gangguan makhluk lainnya." pesan Balaputra


Balaputra pun mulai dengan tapanya. Dia berharap akan berjumpa dengan Dewa Brahma. Tujuannya ialah meminta kekuatan untuk menjadi raja di Medang.


**


(kembali ke kamarku)


Sepeninggalnya Adhiraksa, aku langsung masuk kamar. Aku panggil Puspa dan Kencana. Tak lama mereka keluar dari tubuhku.


"Ada apa putri? apa kau mau marah dengan kami?"tanya Puspa


Aku hanya menggelengkan kepala. Serta memberikan sobekan kain hijau kepada mereka.


"Coba kalian lihat, Pasopati hilang dan diduga keras pemilik kain itu yang menculiknya." kataku


Kencana lalu mengambil sobekan kain itu. Dia konsentrasi pada benda itu. Setelah itu, dia tersenyum.


"Ada apa? sudah tahu?" tanyaku


"Saya menemukan sebuah gambaran kalau Pangeran Pasopati berada di tempat yang aman." kata Kencana


Aku antusias dengan perkataan Kencana. Ternyata orang yang penculiknya adalah orang baik.


"Kencana, apa boleh aku ke sana?" tanya ku


"Tentu putri dan Pasopati juga sudah sembuh. Pasopati ditolong dengan menggunakan mustika sakti milik sang ratu." kata Puspa


"Sang Ratu? ratu siapa?" tanyaku penasaran.


Mereka berdua hanya tersenyum. Lalu menggandeng tanganku.


***


Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe


next :


Ratu siapa kah yang telah menyelamatkan Pasopati?


Temukan jawabannya di episode selanjutnya ya.


With Love


Citralekha

__ADS_1


__ADS_2