Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Rakai Walaing Pu Kumbhayoni


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...


Happy reading


***


Aku pun lalu menajamkan mataku kepada Prasta.


"Tadi kamu bilang musuh utama kerajaan Rakai Walaing Pu Kumbhayoni?" tanyaku memastikan


Prasta pun hanya menganggukan kepala.


"Prasta, siapa sebenarnya Walaing Pu Kumbhayoni itu?" tanyaku


Prasta pun lalu masuk ke dalam kamarku tanpa permisi. Tak lupa dia menutup dan menguncinya. Tak ada rasa khawatir sedikitnya. Bagaimana tidak, karena di dalam ruangan ini ada Puspa dan Kencana. Jadi mana mungkin aku khawatir. hehehe


"Nara ... Kamu kok nggak protes kalau aku masuk ke kamarmu? Kamu tidak takut kalau aku macam - macam?" tanya Prasta


"Coba saja kalau bisa" kataku sambil tersenyum.


Prasta pun juga tersenyum. Sepertinya dia merasakan aura. Ya ada aura kekuatan yang besar dalam ruangan ini. Tentu saja hal itu karena kehadiran 2 pengawal ku yang sangat sakti.


"Kenapa kamu senyum sendiri gitu?" tanyaku curiga


"Pantas saja kamu nggak ada khawatirnya sama sekali. Soalnya aku merasakan di dalam ruangan ini ada kekuatan besar yang melindungimu." kata Prasta.


Aku pun hanya tersenyum.


"Prasta, kamu belum menceritakan padaku. Siapa itu Rakai Walaing Pu Kumbhayoni" kataku


"Menurut yang kamu tahu, siapa dia?" tanya nya balik.


"Yang aku tahu, dia telah melakukan penyerangan terhadap Rakai Pikatan. Karena dia tidak puas atas keputusan putri mahkota (Pramodhawarddhani) yang menyerahkan kekuasaannya kepada suaminya (Rakai Pikatan). Tapi siapa sebenarnya Rakai Walaing, aku tidak tahu dengan jelas." kataku


Aku memang tidak tahu siapa itu sebenarnya Rakai Walaing. Karena aku lupa dengan masa lalu setelah aku kembali. Apa yang terjadi dengan diriku di masa lalu hanya sepotong yang aku tahu.


"Kenapa kamu ingin tahu banget, ra?" tanya Prasta


"Yaudah kalau nggak boleh tahu. Ngak papa kok, Prasta sebaiknya kamu kembali sana ke kamarmu. Aku capek mau istirahat." kataku


Aku lalu melangkahkan kaki dan hendak membukakan pintu untuk Prasta. Tapi Prasta lalu menahannya.


"Baiklah aku akan menceritakannya." kata Prasta.


Prasta kemudian duduk di kursi hotel ku. Sedangkan aku duduk di kasur sembari memegang bantal.


"Jadi Walaing adalah musuh utama kerajaan. Kamu tahu kan, kalau jaman dahulu itu konflik perebutan kekuasaan adalah pemicu utama perang." kata Prasta


"Ya, apakah penyerangan Walaing itu karena dia ingin menjadi raja mengantikan ayahku?" tanyaku


"Hah?? ayahmu? maksudnya?" tanya Prasta lalu berdiri.


"Bukan, maksudku leluhur pembuat candi itu sudah seperti orang tuaku." kataku mencoba menjelaskan setenang mungkin.


Prasta pun terus memandangku. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

__ADS_1


"Prasta kamu kenapa? Bisa dilanjutkan ceritanya?" tanyaku


"Ah iya, oke ... tadi sampai mana. Lupa, aku" kata Prasta sambil cengar cengir


"Walaing kenapa menyerang Medang ri Mamratipura?" tanyaku


"Walain ingin menguasai Mamratipura. Sehingga dia menghimpun kekuatan untuk menyerang kerajaan. Pasukannya sangat kuat banget. Selain itu Walaing telah mempelajari sastra perang. Sehingga Pikatan sangat kewalahan mengalahkan Walaing." kata Prasta


Aku pun tertarik dengan cerita Prasta. Selain aku ingin tahu. Aku juga harus mengetahui kekuatan apa saja yang dimiliki Walaing. Sehingga pada saat perang nanti. Kami bisa menggunakan strategi untuk mengalahkannya.


Aku pun lalu inisiatif membuatkan teh untuk Prasta. Ya meskipun dia lelaki. Tapi dia tidak suka mengkonsumsi kopi. Setelah itu, aku memberikannya teh itu.


"Makasih, aku lanjutkan lagi ya." katanya


"Oh iya, sebenarnya Walain itu putra nya siapa?" tanyaku penasaran


Prasta pun tersenyum dan menarik nafas.


"Walaing mengaku sebagai cicit dari adik Sang Ratu Mataram. Sehingga dia juga merasa berhak atas tahta Mataram." kata Prasta


"Tapi kan yang berhak itu adalah keturunan Sang Ratu Rakai Mataram. Jika dia adalah keturunan dari Ratu Mataram. Dia sebenarnya tidak berhak kan?" tanyaku


"Permasalahannya dia adalah ketidaksukaan karena Pikatan yang menjadi raja. Bukan Pramodhawarddhani." katanya


"Kalau seandainya yang menjadi ratu adalah Pramodhawarddhani. Apakah Walaing tidak akan menyerang istana?" tanyaku


Prasta pun lalu meneguknya teh nya.


"Iya, siapapun yang akan me jadi raja dan ratu. Dia pasti akan tetap menyerang. Ambisinya menguasai Mataram sudah terlihat." kata Prasta


"Tapi kan Pras, Mataram menjadi semakin besar karena dipimpin oleh Pikatan dan Pramodha kan? Kenapa dia tidak mendirikan kerajaan sendiri saja sih dari pada menyerang kerajaan keluarganya." kataku sebal


Prasta pun kembali menjelaskan kembali tentang Walaing.


"Ya, tahu ... Dia memanfaatkan Abhayagiri Wihara sebagai enteng pertahanan. Nah karena lokasi benteng itu tinggi serta strategis. Sehingga dia dengan mudah mengawasi kerajaan dan pandai mematahkan strategi dari musuh." jelas Prasta


Jadi bener apa yang dikatakan dalam Prasasti Siwa Grha. Kalau ada seorang musuh kerajaan yang sakti. Dia membangun benteng pertahanan di atas bukit. Kemungkinan bukit yang dimaksud adalah Ratu Boko. Lokasinya yang tinggi dapat melihat dengan jelas keberadaan di bawah nya (Read : Prambanan). Usaha Pikatan untuk mengalahkannya sangat sulit. Sehingga dia pun memerintahkan putra nya yang paling bungsu.


"Prasta, lalu Walaing itu kenapa dia merasa lebih pantas memimpin Mramatipura?" tanyaku


"Mungkin itu tadi, karena terlalu cintanya putri Pramodhawarddhani pada Pikatan. Sehingga dia rela memberikan tahta nya kepada suami. Tapi sang permaisuri tidak berpikir panjang. Tahta Mataram itu menjadi incaran banyak bangsawan." kata Prasta


Mendengar perkataan Prasta, aku pun tidak terima. Karena bagaimana pun juga penyerahan tahta itu karena perjanjian politik.


"Prasta bukannya Rakai Pikatan yang menyerang Raja Sanggramawijaya? Sehingga guna mengurangi norman diadakanlah perkawinan politik?" tanyaku dengan sinis.


"Lho kenapa kamu jadi marah - marah dan tidak terima?" tanya Prasta


"Aku adalah wanita, jadi aku akan membela Pramodha." kataku


"Prasta lalu Walaing dapat dikalahkan oleh Kayuwangi dengan cara apa?" tanyaku


Aku berharap jawaban Prasta adalah petunjuk agar nanti akan menjadi petunjuk untuk mengalahkan Walaing.


"Kayuwangi menggunakan formasi perang ganda. Formasi Gandawyuha dan Cakrabirawa. Kedua formasi itu menjadi formasi perang Cakrabirawawyuha. Formasi baru yang disusun sendiri oleh Kayuwangi dan gurunya. Sungguh hebat kemampuan anak bungsu itu." puji Prasta


Aku pun seneng banget ternyata putraku sangat hebat. Iyalah, emak nya saja ketje kok. Sudah sepatutnya anaknya juga keren., hehehe


"Ra, kenapa kamu senyum - senyum?" tanya Prasta


"Ternyata Kayuwangi lebih cerdik dari pada ayahnya. Pasti kecerdikannya itu menurun dari ibunya, Pramodhawarddhani." kataku bangga

__ADS_1


"Enak saja, enggaklah. Bagaimanapun juga kecerdasan Kayuwangi itu menurun dari Pikatan. Emaknya kan terlalu mrmanjakan dia. Untung ada ayahnya yang berhasil mendidiknya" protes Prasta sambil tersenyum.


Malam ini pun sangat seru. Kami sama - sama membela tokoh kami. Heheheh


*


Jerman


Beberapa hari ini, Tamara merasa galau. Pasalnya Satria menghilang. Dia sudah ke rumah nya tapi tidak dijumpai.


"Satria memang kenapa tiba - tiba dia datang trus sekarang menghilang? Aku sudah curiga dengan dia. Pasti kedatangan nya hanya untuk mencari informasi. Kamu benar - benar ceroboh Tamara. Jika kamu memberitahu yang sebenarnya. Dia pasti akan mengejar cinta nya permaisuri." omel Aura.


"Aku kira dengan berkata jujur dia akan menghormati perasaanku. Tapi kalau begini adanya, aku harus melakukan 1 hal." kata Tamara


"Apa? Sudah pasti sekarang Satria berusaha mencari permaisuri." tanya Aura


"Tidak akan aku biarkan. Jika aku tidak bisa mendapatkan Satria. Maka Nararia juga tidak bisa. Aku akan bunuh dan sandra Dika. Agar Nararia menyerahkan Satria padaku." kata Tamara


"Kamu mimpi ya? sampai sekarang saja kita tidak bisa menemukan Dika." kata Aura


Tamara hanya tersenyum sinis kepada Aura. Tak lama kemudian pangeran kegelapan muncul.


"Salam kami pangeran, apakah kau sudah menemukan dimana keberadaan Dika dan Ivan?" tanya Tamara


"Hahahha..tentu saja, bagaimana mungkin aku tidak bisa menemukan mereka." kata Walaing dengan sombongnya.


Tamara dan Aura pun seneng sekali mendengar perkataan Rakai Walaing.


"Cepat katakan pangeran, dimana mereka? Aku sudah tidak sabar untuk menangkapnya." kata Tamara


"Dia ada di bukit hijau, hutan terpencil di kota Aachen." kata Walaing


Setelah mengetahui keberadaan Dika. Tamara pun tertawa puas. Setelah itu juga, Walaing menghilang.


"Tunggu Nararia, aku akan menyakiti orang - orang terdekatku. Aku akan membuat mu memohon ampunanku." kata Tamara


***


Haii... jangan menghujat ya teman2,. maaf ini sedang banyak deadline. Jadi jangan menghujat konten sedikit, lama update ya. Ini sudah berusaha disempatkan untuk diketik.


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.


next :


Apakah rencana Tamara akan berhasil?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


with love


Citralekha


**


Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".


jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.

__ADS_1


juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"


__ADS_2