Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Tirta Sakti


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.


Happy reading


***


"Iya, beliau akan menunjukan lewat sebuah cerita yang terkandung dalam tirta ini. Kamu harus bisa menafsirkan maknanya agar nanti malam kamu bisa melakukan itu membebaskan para pangeran." kata Adhiraksa


"Mari, kita ke petirtaan. Izin saya akan jelaskan tentang cerita tentang mata air ini." kata Jero Mangku.


Kami pun lalu mengikuti langkah Jero Mangku masuk ke dalam petirtaan.


"Oh iya, tadi ingin sekali tahu tentang Prasasti Manukaya kenapa? karena sedikit sekali orang yang ingin tahu?" tanya Jero Mangku


"Entah kenapa Jero, mendengarnya tadi darah saya seperti mendesir." kataku


"Saya akan jelaskan tentang Prasasti Manukaya. Itu penting kau ketahui untuk mu nanti malam." kata Jero Mangku


Kami berempat lalu menoleh kepada Jero Mangku. Hebat sekali, beliau. Kami tidak menceritakan apapun tapi dia tahu.


"Jero tahu apa tujuan kami kemari?" tanyaku


"Ya" katanya singkat.


(Penjelasan Jero Mangku)


Prasasti Manukaya yang sangat disucikan oleh masyarakat setempat dipahatkan pada sebuah batu kedua sisi, namun huruf-huruf yang terpahat sudah demikian ausnya, sehingga tidak semua isi prasasti dapat dibaca.


Sisi pertama (A) terdiri atas 15 baris tulisan, sedangkan sisi kedua (B) terdiri atas 8 baris tulisan. Prasasti Manukaya menggunakan bahasa dan huruf Bali Kuno. Sisi A yang masih dapat dibaca antara lain menyebut tahun dikeluarkan prasasti yaitu 882 Saka /960 Masehi, serta menyebut nama raja Jayasingha Warmadewa.


Selain itu, prasasti ini juga memuat perintah raja untuk memugar atau memperbaiki telaga atau tirtha di air Mpul (sekarang Tirta Empul di Tampaksiring) yang setiap tahun mengalami kerusakan akibat derasnya aliran air.


Telaga itu sampai saat ini masih dianggap suci oleh masyarakat terutama sekaa barong di daerah Gianyar. Setiap tahun sekali diadakan odalan, dan prasasti batu tersebut diarak ke Pura Tirta Empul untuk disucikan.


Dengan demikian, jika angka tahun prasasti tersebut di atas dianggap sebagai tahun berdirinya tempat suci ini, maka dapat dipastikan bahwa umur Pura Tirta Empul saat ini sudah mencapai 1050 tahun.


*


"960 M" kataku


"Ya, ketika putra mu meresmikan Candi Prambanan terjadi pada tahun 856 M." sahut Adhiraksa


"Artinya 100 tahun kemudian tirta ini baru di bangun?" tanyaku


"Ya, itu artinya periode raja ini setara dengan usia buyut mu. Makanya mereka menghormatimu sebagai nini haji (nenek raja)." kata Adhiraksa.


"Itu artinya periode cucuku Maharaja Dyah Balitung?" tanyaku


"Betul, untuk itu lah putri, kamu harus belajar di sini. Karena Balidwipa bukan daerah kekuasaanmu. Sehingga kau harus tahu bagaimana mengalahkan musuh di tanah ini." kata Adhiraksa.


Wira pun kemudian menyentuh pundakku. Dia menyangka kalau aku sedang melamun. Padahal aku sedang berkomunikasi dengan Adhiraksa.


"Kakak tidak apa - apa kan?" tanya Wira


"Kakak capek?" tanya Jofel


"Mau minum?" sahut Andi

__ADS_1


"Tidak, Kak Nara hanya sedang berpikir usia pembangunan oleh Raja Jayasinga Warmadewa semasa dengan pemerintahan Dyah Balitung." kataku


"Apakah bisa kita lanjutkan?" tanya Jero Mangku


Aku pun hanya mengangguk. Aku merasakan hawa dingin dan sejuk. Aku melihat ada banyak pancuran di sini. Tapi yang membuat kami heran. Tempat ini kosong, wisatawan pada keluar. Hanya tinggal kami ber lima.


"Kemana perginya para wisatawan?" tanyaku


"Kita ada di dimensi lain. Sehingga kita tidak akan terganggu dengan mereka." kata Jero Mangku.


"Siapa kau?" tanyaku


"Kau akan tahu aku siapa setelah kau mendapatkan apa yang akan lakukan nanti malam." kata Jero Mangku sambil tersenyum.


Kami berempat pun hanya membalasnya dengan senyum. Kami tidak akan bertanya lagi tentang siapa dia. Tentunya dia orang baik, yang akan membantu kami.


"Apa kalian tahu tentang cerita lain dari tirta ini?" tanya Jero Mangku


"Mayadenawa dan Dewa Indra" sahut Andi


"Bagaimana ceritanya?" tanya Jero Mangku.


*


(Penjelasan Andi)


Tirta Empul juga dapat diketahui berdasarkan cerita rakyat yang berkembang hingga saat ini yang bersumber dari Kekawin Usana Bali. Isi lontar itu terutama mengisahkan bahwa pada zaman dahulu pasukan apsara dari surga yang dipimpin oleh Dewa Indra berangkat dari Kahyangan ke Bali.


Dewa Indra dengan pasukannya turun di Kahyangan Basukih, kemudian berangkat melanjutkan perjalanan ke barat untuk menyerang Raja Mayadanawa di Bedahulu. Raja Mayadanawa adalah raja yang sangat sombong, angkuh dan melarang rakyat mengadakan persembahan kepada Dewa.


Sikap Mayadanawa yang demikian menyebabkan para Dewa menjadi marah. Dewa Indra dengan Patih Citranggada, Citrasena dan Jayanta beserta pasukankannya membagi tugas mengatur siasat perang untuk melawan Mayadanawa. Suara kendang berdentuman alunan gong bergemuruh, bendera berkibar, bala tentara berjalan menjejal menuju Desa Bedahulu.


"Lanjutkan" perintah Jero Mangku


Andi sepertinya tidak sanggup lagi. Dia kelelahan dalam menjelaskan cerita sakti penuh aura sakral itu.


"Lanjutkan olehmu" kata Jero Mangku yang menunjuk ke arah Wira.


(Penjelasan Wira)


Maka terjadilah pertempuran yang sangat dasyat antara pasukan Dewa Indra melawan pasukan Mayadanawa. Beribu-ribu pasukan bertempur bergemuruh hingga banyak korban bergelimpangan.


Entah beberapa lama perang berlangsung, akhirnya pasukan Dewa Indra berhasil mendesak mundur pasukan Mayadanawa.


Dari keretanya Mayadanawa melihat kekalahan pasukannya, sehingga ia turun ke medan perang. Pertempuran dasyat kembali terjadi. Mayadanawa sangat marah gemertak giginya dan bersuara menggelegar. Mayadanawa menantang berperang berhadap-hadapan (perang tanding), sementara Dewa Indra dengan tenang terus mendesak raksasa itu dengan melepaskan beberapa anak panah.


Karena terdesak, Mayadanawa akhirnya melarikan diri ke arah utara dan terus dikejar oleh pasukan Dewa Indra. Sampai di Desa Manukaya, raja Mayadanawa berubah wujud menjadi manuk (ayam jantan). Akhirnya manuk ini dipanah oleh Dewa Indra, maka matilah raksasa itu. Konon darah Mayadanawa dari mulutnya menyembul pusaran air, aliran air Petanu namanya. Air sungai itu tidak boleh diminum, tidak boleh digunakan untuk mandi atau cuci muka karena air itu dipercaya bersumber dari darah raksasa.


*


"Kira - kira seperti itu anak mas." kata Jero Mangku


"Masih ada kelanjutannya lagi." tambah Jero Mangku


"Setelah itu kami tidak tahu, Jero." kata Wira.


Jero Mangku tersenyum dan kemudian berkata


"Sebelah selatan desa Manukaya terdapat suatu tempat yang bernama Alas Pagulingan. Di tempat inilah Patih Kalawong (Patih Mayadanawa) membuat tirta mala yang menyebabkan kematian pasukan apsara. Melihat keadaan seperti itu, lalu Dewa Indra menciptakan air suci. Air ini lalu diperciki kepada para pasukan apsara yang telah mati, sehingga berhasil hidup kembali. Air suci ini kemudian bernama Tirta Empul." jelas Jero Mangku


"Apakah tirta mala itu dapat digunakan untuk melumpuhkan seseorang melalui ilmu pelet?" tanyaku


"Tentu saja bisa, untuk itu kamu harus menemukan tirta Sudamala untuk mengalahkan tirta mala." kata Jero Mangku.

__ADS_1


"Lalu setelah kami mengumpulkan tirta itu dan diperciki kepada orang yang terkena tenung. Apa yang harus kami lakukan jika teman kami nanti terbebas dari ilmu itu?" tanyaku


"Pertanyaan ini lah yang saya tunggu. Kau sangat berbudi luhur nak mas. Kamu tidak melupakan untuk bersyukur jika keinginanku tercapai." kata Jero Mangku


Jero nya pun kemudian melanjutkan perkataannya.


"Jika kaum Brahmana dan ksatria mandi dan cuci muka di sini, wajah dan tubuhnya akan segar serta terhindar dari dosa dan malapetaka. Jika kaum Wesya dan Sudra yang berdosa mau datang ke sini, pasti selamat, sedangkan yang berbudi luhur akan mendapat keberuntungan. Mereka yang datang diharapkan menghaturkan sesaji diiringi puja mantra memuja Dewa Siwa. Jika kaum wesya dan sudra yang berdosa mau datang ke sini, pasti selamat, sedangkan yang berbudi luhur mendapat keberuntungan. Begitulah permohonan Dewa Indra saat memuja Dewa Siwa, terdengar sabda dari angkasa kemenangan yang mengharumkan. " kata Jero Mangku


Setelah mengucapkan itu, kami dikembalikan ke alam kita. Wisatawan yang datang tidak banyak. Hanya sekitar 5 orang saja. Kami pun kemudian sadar bahwa Jero Mangku tadi tidak lagi ada bersama kita.


"Kemana Jero Mangku tadi?" tanya Andi


"Oh iya ya kemana dia?" sahut Jofel yang celinggukan mencari kanan dan kiri.


"Apa kalian tahu sesuatu dari makna dan omongan dari Jero Mangku tadi?" tanyaku


"Kita harus mandi di sini, Kak. Agar nanti malam kita bisa melawan mereka. Dengan mandi di air ini, maka kita akan terbebas dari pengaruh negatif itu." kata Wira.


"Oke kalau gitu ayo kita turun dan mandi." kataku


Kami pun lalu turun ke kolam dan ketika tubuh kami menyentuh air ini. Rasa segar serta beban yang ada dalam hidup seperti lenyap. Aku melihat ada aliran hitam keluar dari tubuh kami berempat.


"Bagus putri, hawa jahat yang ditebarkan oleh balian suruhan Aura telah hilang." kata Adhiraksa


"Maksudmu, balian itu menanamkan aura jahat pada kita?" tanyaku


"Jika kalian tidak mandi di sini. Bisa - bisa mereka ber tiga nanti malah menyerang mu, putri." kata Adhiraksa.


"Baiklah adik - adik ayo kita bersihkan diri kita dengan air pelebur jiwa ini." kataku


Kami pun lalu berendam dan memuja kehadapan Siwa agar senantiasa dilindungi. Tak lupa aku mengambil tirta dari beberapa pancuran ini. Setelah semuanya selesai. Aku mendengar suara tak kasat mata.


"Meningkat kalian di sebuah tempat yang akan menyatukan seluruh tirta itu menjadi sempurna. Datanglah ke tempat yang hening yang terdapat banyak pancuran suci. Satukan seluruh tirta itu di sana." kata suara tak kasat mata.


Sadar akan hal itu yang penting. Aku pun lalu berbicara kepada Wira dan lainnya.


"Kita akan satukan 7 mata air ini. Aku dikasih kabar kalau tempat itu sangat hening. Tempat yang akan sangat spesial dan sakral untuk menyatukannya. " kataku


"Ya Kak, kita ke sana." kata Wira


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya. Maaf ya telat update, lagi banyak deadline ni. Selain itu, menulis beberapa episode ini diperlukan studi dan referensi. Sehingga informasi yang saya sampaikan valid.


next :


Apakah Nararia akan berhasil menyatukan 7 tirta itu?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


With love


Citralekha


*


Pancuran di Tirta Empul


__ADS_1



__ADS_2