
*Sebelum membaca jangan lupa untuk vote, like, dan comment ya*
Happy reading
.
.
"Balaputra" gumamku
Aku terkejut bahwa orang yang sedang berbisik - bisik di serambi joglo kecil adalah Balaputra dan seorang lelaki yang sepertinya seorang pungawa kerajaan. Hal tersebut ku ketahui dari jamang (mahkota kecil melingkari kepalanya).
"Mereka sedang ngomongin apa ya." kataku sendirian.
Aku pun iseng ingin mengetahui apa yang sedang mereka bicarakan. Aku memang sedikit curiga dengan adikku. Meskipun dia adikku tapi gelagat yang ditunjukan beberapa tahun, aku di istana membuatku harus was was.
"Gimana ya caranya, apa aku harus mendekatinya. Tapi kalau terlalu dekat, aku takut ketahuan." kataku
Aku terus memikirkan cara. Aku melihat ada cahaya yang keluar dari kalung.
"Ah iya, kalung pancaroba." kataku
Aku kemudian memejamkan mata dan mengucapkan doa. Aku berdoa dan berharap bisa mendengarkan obrolan mereka.
"Dewa, aku mohon berikan aku ketajaman mata dan pendengaran. Niatku hanya ingin mengetahui rencana dari Balaputra." kataku sambil memegang kalung pancaroba.
Kalung itu terus memancarkan cahaya yang semakin terang dan samar - samar aku mulai mendengar dan semakin jelas apa yang mereka bicarakan.
"Astana, aku mau kau melakukan satu hal untukku." kata Balaputra
Lelaki yang sedang berbicara dengan Balaputra ternyata bernama Astana.
"Apa itu pangeran?" tanya Astana
"Kau harus mencari warok untuk membuat huru hara saat pernikahan kakak dan si tengik." kata Balaputra
Aku tertegun ketika adikku menyebut Satria dengan kata 'tengik. Aku juga penasaran, kenapa adikku teramat benci dengan Satria.
__ADS_1
"Maksud pangeran apa? Kenapa pangeran ingin membuat kacau pernikahan kakak, anda." kata Astana
"Aku tidak rela 'tengik itu menjadi raja menggantikan ayah Samaratungga." kata Balaputra.
"Tapi pangeran Pikatan hanya sebagai Rakai i Hino (wakil sebagai kakakmu)." kata Astana.
Astana nampaknya ingin menggali informasi lebih lanjut tentang rencana Balaputra.
"Kalau dia menikah dengan kak Pramodha, otomatis semua kendali kerajaan akan diserahkan ke dia." kata Balaputra
"Bukannya memang seharusnya kerajaan ini untuk putri?" tanya Astana
"Astana!!! kau ini ada di pihakku atau pihak si tengik?" bentak Balaputra
Astana langsung pucat begitu dibentak oleh Balaputra.
"Ampun pangeran, seperti biasa. Hamba akan melakukan perintah pangeran tapi setelah tahu alasannya." kata Astana.
"Baik, Aku ingin berkuasa di tanah Jawa Dwipa." kata Balaputra
Dengan bangga Bala tertawa setelah menuturkan maksud dari Balaputra. Mungkin ia sudah membayangkan akan menjadi raja di jawa, karena negri ini sangat makmur dan strategis.
Suwarna Dwipa adalah nama lain dari Pulau Sumatra yang kaya dan terkenal sebagai negara maritim terkuat saat ini di Dwipantara. Pulau ini juga dikenal sebagai penghasil emas yang terbaik. Oleh karena itu pulau ini diberi nama 'Suvarna' yang artinya emas. Seperti diketahui bahwa, Sumatra sampai saat ini banyak ditemukan tambang emas.
"Aku memang cucu mahkota dan berhak atas tahta di Sriwijaya. Tapi aku ingin menjadi raja di wilayah Suwarna dan Jawa. Apalagi jika aku bisa menundukkan seluruh kerajaan yang ada di Dwipantara ini, seperti misi dari kakek buyutku dulu."
Dalam prasasti disebutkan bahwa telah ada penyerangan dari Sriwijaya ke tanah tanah pada abad ke VII. Saat itu kerajaan yang diserang adalah Tarumanegara dengan rajanya yang bernama Purnawarman. Akan tetapi Sang Matahari (nama lain dari Purnawarman karena memiliki baju zirah yang kuat seperti baju zirah milik Dewa Surya, yang diberikan kepada Karna / kakak tertua Pandawa).
"Pernikahan ibu dan ayah, sebenarnya hanyalah perkawinan politik agar Sriwijaya dan Medang tidak lagi menumpahkan darah." kata Balaputra.
Kemungkinan pernikahan antara Dewi Tara dan Samaratungga merupakan perkawinan politik untuk menyatukan dua kerajaan besar di tanah Sumatra dan Jawa. Pada waktu itu, ayah Dewi Tara yang bernama Raja Dharma Setu dan Tejahpurna Penangkaran mungkin melakukan negosiasi.
"Lalu apa rencana pangeran?" tanya Astana
"Buat huru hara dan datangkan seorang putri atau wanita dari wanua yang jauh untuk berpura - pura sebagai wanita atau pawestri dari Pikatan." kata Balaputra
"Apa tidak terlalu beresiko, pangeran?. Jika pernikahan itu gagagl, apakah Kerajaan Jawa akan menanggung malu?. Ini sama saja dengan penghianatan, pangeran" kata Astana.
__ADS_1
"Astana, aku yang akan menyelamatkan di depan semua masyarakat dan tamu kerajaan. Agar seolah - olah aku telah berjasa dan aku diangkat oleh masyarakat. Tugasmu adalah menyanjungku dan membuat rakyat dan tamu untuk mendukung tekadku. " kata Balaputra
Astana kemudian manggut manggut dan memikirkan sebuah rencana untuk membantu pangerannya itu. Akan tetapi Astana bukanlah bawahan yang mudah diperintah dan tanpa imbalan yang besar.
"Baik pangeran, aku akan melakukannya. Tapi apa imbalan bagiku?" tanya Astana
"Kau akan menjadi Rake di salah satu watak, pilihlah sesuka hatimu." tawar Balaputra
Astana tersenyum licik dan sambil geleng - geleng. Tentu saja Ia menginginkan yang lebih besar dari sekedar menjadi penguasa di sebuah watak (desa).
"Itu terlalu kecil, pangeran, Jika kau berhasil atas tahta ini" kata Astana
"Lalu apa keinginanmu?" tanya Balaputra
"Jika pangeran berhasil menjadi raja, maka aku mau pangeran mengangkat ku menjadi Rakyan Mapatih." kata Astana
Mendengar hal itu, Balaputra nampak emosi dengan permintaan Astana yang sangat tinggi. Tapi Balaputra memikirkan jika Astana berhasil membantunya maka jabatan Mapatih tentu saja akan ditentukan dan dipilih oleh raja terpilih.
"Baiklah, tapi kalau sampai gagal. Aku akan membunuhmu. " ancam Balaputra
Setelah melakukan kesepakatan. Mereka pun diam - diam pergi dan akan menjalankan rencana mereka. Aku sendirian kemudian berpikir dan tidak menyangka demi sebuah tahta, seseorang rela melakukan apapun untuk mencapai keberhasilannya. Termasuk melukai perasaan kakaknya sendiri.
"Hmmm.. apa yang harus aku lakukan. Coba ada Puspa dan Kencana." kataku
Aku kemudian terlintas untuk memberitahu Satria. Tapi jika dia tahu pasti akan terjadi pertumpahan darah. Lagi pula, aku belum mempunyai bukti yang kuat untuk berkata pada Satria. Jika Satria percaya padaku dan menuduh Balaputra, maka ayahku bisa salah paham dan akan terjadi hal buruk. Aku pun kemudian terlintas di pikiran untuk berdiskusi dengan Pasopati. Dia pasti memiliki cara untuk membuat strategi tandingan.
"Baiklah, besok pagi - pagi. Aku akan menemui Pasopati dan akan kuceritakan semuanya. Berharap Pasopati akan membantu dan memiliki rencana." kataku
Aku kemudian mengambil minuman yang ada di kendur untuk mengurangi hausku. Air kendi sangat dingin seperti air yang dimasukan dalam kulkas. Setelah itu aku istirahat, karena aku bener - bener sangat capek dan lelah. Tidurku malam ini tidak nyenyak, karena sebelum tidur aku dibangunkan oleh Pasopati. Setelah itu, hampir tertidur aku melihat dua orang yang mencurigakan dan harus menguping pembicaraan mereka. Sebenarnya tindakan itu tidak benar, tapi kalau aku tidak tahu rencana adikku maka aku akan rugi sendiri.
Aku beruntung memiliki kalung pancaroba yang sangat membantu. Meskipun Puspa dan Kencana tidak ada lagi bersamaku tapi ini sudah cukup menjadi temanku. Demikian juga dengan adanya Pasopati yang akan selalu mendukung dan membantuku. Dia seperti diutus oleh dewa untuk membantuku di abad 9.
**
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih, oh iya ... mulai minggu kemarin, update nya akan 2 hari sekali ya. Maaf ya karena saya harus menyelesaikan buku ilmiah yang akan diterbitkan. Jadi harus membagi waktu.
Untuk teman teman yang sedang merayakan Idul Fitri, selamat Hari Raya Idul Fitri, Mohon maaf lahir dan bathin ya.
__ADS_1
with love
Citralekha