
*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Pagi - pagi aku sudah bangun. Seperti biasanya aku melakukan aktivitas pagi dengan membantu mamaku membuat bubur jawa (bubur dari beras ditambah dengan sayur tahu atau tempe). Bubur dimasak dengan kendil (sebuah tempat dari tanah liat).
"Ra, ini nanti kalau mau berangkat sekolah, bawa sayurnya ya." kata Simbokku.
"Ya, mbok." kataku singkat.
Aku kemudian berdandan dan siap berangkat sekolah. Teman-temanku sudah banyak yang datang. Salah satu temen masa kecilku yang baik adalah Ardika. Dia adalah cinta monyetku.
Pelajaran dimulai seperti biasanya. Tapi, kali ini menurutku adalah pelajaran yang berat, karena guruku Bu Muinah namanya masuk kelas dengan materi "Keluarga".
Bu Muinah membuat kolom tentang nama orang tua (bapak, ibu, adik, dan pekerjaan orang tua). Temanku maju satu per satu dan menuliskan nama keluarga mereka dengan lancar. Tiba giliranku maju, aku menuliskan nama mamaku dan ketika menuju kolom bapak, aku sempat terdiam dan Bu Muinah pun berkata "Nama bapakmu Kastoyo, kan?".
Bu Muinah dan para guru di sekolahku tahu bagaimana kisah keluargaku, terutama bapakku yang entah kenapa meninggalkanku tanpaku tahu alasannya. Mamaku juga nggak pernah cerita. Aku tahu bahwa bapakku namanya Kastoyo asal dari Gunung Kidul. Dulu waktu menikah dengan mama kerja di sebuah bank.
*
Waktu istirahat
Seperti biasa anak-anak pada jajan. Aku juga jajan makanan kesukaanku, yaitu cilok. Kami duduk di depan kelas dan bercakap - cakap, sebenarnya biasa saja tapi yang membuatku sebel dan sedih adalah ketika ditanya "bapakmu kemana?"
Salah satu temenku sebut saja namanya Jamal bertanya "Nara, bapakmu ki nengendi he? kok aku ra pernah ngerti (Nara, bapakmu itu kemana, he? kok aku nggak pernah ngerti). Jangan - jangan kamu nggak punya bapak ya?" kata Jamal diikuti suara tertawa teman - temanku dan pada bilang 'Rara, nggak punya bapak, nggak punya bapak'.
(Aku memang lebih akrab dipanggil Rara).
"Aku punya bapak kok, namanya Mas Janto" belaku.
"Tapi kan dia bukan bapakmu, dia sepupumu" balas Nugroho.
Santi temenku kemudian membelaku "Sssstttt ... kalian tu pada ngapain to, nggak boleh ngomong kayak gitu sama Rara, tak bilangin Bu Guru lho."
Santi kemudian mengajakku ke Ruang Guru dan melaporkan ulah temen-temenku.
"Bu Guru, tadi Rara dibilangin sama temen - temen nggak punya bapak" kata Santi membelaku.
Bu Muinah kemudian memandangku, melihatku yang masih terisak karena teman - temanku.
"Siapa yang bilang, biar bu guru jewer kupingnya, udah nggak usah nanggis Rara. Kamu punya bapak. Tapi bapak Rara kan kerja. Yaudah yuk masuk kelas" ajak bu guru.
Bu Muinah kemudian memberikan pengertian kepada teman - temanku tentang bapakku.
__ADS_1
---
Pulang sekolah Aku mencari Simbok dan bertanya "Mbok, Simbok" panggilku.
Aku mencari simbok di Pawon (dapur). Kulihat Simbok batuk - batuk dan tiduran.
"Mbok, nggak papa kan? Simbok sakit?" kataku penuh khawatir.
"Simbok hanya masuk angin, kok rapopo. Kamu sudah pulang sekolah, Ra?" kaata Simbok menenangkanku.
"Udah Mbok. Mbok, Rara boleh tanya?" kataku lirih.
Simbok kemudian bangun dari tidurnya dan berkata "Mau tanya apa?"
"Mbok, Bapakku ki nengendi to?" Kok nggak pernah pulang?" tanyaku.
Ternyata Simbok kaget dengan pertanyaanku.
Tiba - tiba Mamaku masuk ke pawon dan membentakku (Mama baru saja pulang dari berdagang keliling)
"Rara, nggak usah tanya bapakku dimana. Bapakmu minggat!! nggak usah dicari"
Aku kaget baru pertama kali aku dibentak sama mamaku ketika bertanya tentang bapak. Aku kemudian menanggis dan protes.
"Nggak di sekolah, nggak di rumah sama saja. Orang pada tanya ke aku, siapa bapakmu, kamu nggak punya bapak ya. Aku cuma mau tau Mak, bapakku dimana?" teriakku.
Mama kemudian menanggis dan Simbokku berkata
" Ra, Rara ayo makan siang di rumahku. Aku nggoreng telur, lho." reriak Mbok Temu (budeku yang rumahnya disebelah. Bude sepertinya denger perdebatanku). Bude kemudian mengajakku ke rumahnya. Aku kemudian mengikutinya
---
Hari minggu yang ku tunggu tiba. Mama membangunkanku
"Ra bangun, ayo cepat mandi. Katanya mau ke Gunung Kidul." kata Mama
Aku pun bergegas bangun dan segera mandi. Setelah itu, aku sarapan dan menuju ke rumah Mbok Temu untuk pamitan.
"Ra, ini ada nasi dan telur untuk bekal di perjalanan. Kalau lapar nggak usah minta jajan." kata Mbok Temu
"Jangan lupa minta uang yang banyak dari simbah ya." kata Mas Antong
"Siap bos." kataku
Mas Antong pun mengantarkan kami ke jalan raya samping desaku. Kita hanya jalan kaki, karena jaraknya tidak jauh. Tak berapa lama, angkutan warna kuning datang. Kami naik, setelah sampai di Prambanan kita ganti bis menuju piyungan.
Silih berganti bis, akhirnya kami sampai di Wonosari. Aku ternyata mabuk kendaraan. Jadi aku rada teler, tapi mama dengan sigap memberikanku minyak angin agar aku baikan.
__ADS_1
Tak berapa lama, kami sampai di rumah kakek dan nenek di Gunung Kidul. Kami disambut dengan penuh haru dan suka cita. Ini adalah kali pertamanya, aku mengunjungi mereka.
"Cucuku sudah besar sekarang." kata kakek yang kemudian memgendongku.
"Mbah, bapakku kemana?" tanyaku
Mendengar pertanyaanku, mama, kakek, nenek, dan saudara iparnya mama tertegun. Kakek lalu menurunkanku.
"Bapakmu pergi, Ra. Maafin kakek ya, tidak bisa membawa kembali bapakmu." kata kakek sambil menangis.
"Rara, jangan nakal, jangan membuat kakek sedih." kata mama.
"Ngak papa Sri, sudah seharusnya dia dikasih tahu pelan - pelan, dimana bapaknya." kata nenek.
Budhe ku pun kemudian mengajakku ke rumahnya yang hanya disebelah rumah kakek.
"Ra ikut budhe ya, kita makan dulu ya." kata Budhe
Aku kemudian mengikuti budhe.
(di sisi lain).
"Sri, kamu sudah tidak usah menunggu Kastoyo lagi ya." kata kakek sambil menunduk
"Kenapa pak?" tanya mama
"Dia sudah berkeluarga lagi dengan orang Padang." kata nenek
Kakek dan nenek ku kemudian memberikan surat kematian ayahku. Tujuannya agar jika mama menikah lagi dapat digunakan sebagai salah satu syarat pernikahan.
"Apa ini pak?" tanya mama
"Ini surat kematian. Aku sudah mematikan Kastoyo agar kamu tidak lagi menunggu. Lagi pula dia tidak akan kembali lagi padamu." kata kakek
Mamapun kemudian menangis setelah tahu bahwa bapakku menikah lagi. Kabar yang mama dapatkan ternyata tidak bohong. Bapakku telah menikah dengan wanita lain. Kemungkinan bapak juga mematikan atau memalsukan identitasnya agar dia bisa menikah lagi.
Bapakku memang tampan dan pekerjaan bapakku juga lumayan bagus. Sebelum pergi, bapak adalah seorang pegawai bank BUMN. Sebenarnya kehidupan kami bahagia ketika mama menikah dengannya. Tapi kebahagian itu musnah ketika ada seorang wanita yang merupakan nasabah bapak menggodanya. Mereka kabur berdua meninggalkan mama.
**
Jangan lupa like dan vote ya gais..
maaf baru update, besok dilanjutkan lagi ceritanya..
maaf ya..
Terimakasih sudah berkenan mampir.
__ADS_1
With love
Citralekha