Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Mencari Tirta Sudamala


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.


Happy reading


***


Balian lalu bersemadhi untuk mengembalikan kekuatannya lagi.


*


Aku pun minta izin kepada Pak Gede untuk keluar. Aku membuat alasan akan pergi ke Bali Arkeologi Denpasar. Tapi sebenarnya, aku sedang mencari sumber air Sudamala.


"Pak Gede, terimakasih ya sudah memberikan izin kepada saya." kataku


"Mbak, apa perlu saya temani?" tanya Mas Putu


"Nggak papa, Mbak.. santai saja. Iya, apa perlu sama Putu?" tanya Pak Gede


"Tidak pak, terimakasih. Saya sudah janjian dengan yunior saya. Kebetulan mereka sudah ada di depan." kataku


Setelah berpamitan, aku sempat melirik ke arah Satria dan Tamara. Tapi Tamara langsung bergelayut manja. Melihat itu, aku hanya tersenyum kemudian hendak keluar. Saat berbalik badan, tak sengaja aku menabrak.


Bruug


"Maaf" kataku


Ternyata yang aku tabrak adalah Prasta.


"Kalau jalan hati - hati, Mbak." kata nya


Baru ini pertama kali, Prasta memanggilku dengan kata Mbak. Aku pun lalu minta maaf. Tak lama kemudian Aura datang. Dia segera bergelayut manja sambil tersenyum.


"Oke, kalian menang saat ini. Tunggu aku mendapatkan penawar itu." batinku


"Mau kemana mbak Nara?" mau kita temani nggak?" tawar Aura


"Tidak, terimaaksih" kataku lalu keluar dan segera menemui yuniorku.


Benar saja, di luar sudah ada wira dan 2 orang temannya. Mereka menggunakan motor.


"Duuuh sang putri dijemput pakai motor." ledek Aura


"Sayang, ayo segera antar aku ke salon. Kamu kan harus kerja." kata Tamara


"Gue bunuh kalian" teriak Adhiraksa tiba - tiba muncul di sampingku


Aku pun menatap tajam pada sosok lelaki tampan itu. Tapi ternyata lirikanku di salah artikan oleh Satria.


"Kenapa? ada masalah, saya jalan dengan tunangan saya?" tanya Satria


"Oh itu hak anda, saya menatap tajam kepada yunior saya kok. Ayo adik - adik, segera kita pergi. Kalian belum sarapan kan? kita sarapan dulu ya." kataku


Kami pun lalu pergi meninggalkan mereka. Aku meminta kepada Wira untuk berhenti ke sebuah warung. Sebenarnya aku sudah sarapan. Tapi aku harus memastikan ke 3 anak ini sudah sarapan. Selain itu, aku ingin tahu kemana tujuan kita.


(Sampai di warung)


Warung ini merupakan warung pinggir jalan yang menjual sarapan khas Bali. Ada bebek betutu, ayam betutu, dan nasi jenggo. Aku pun mempersilahkan anak - anak untuk makan sepuasnya. Tentu saja aku yang bayar.


(30 menit kemudian)


Setelah mereka sarapan. Aku pun membuka diskusi.


"Kemana kita akan pergi?" tanyaku


"Kalau yang Kak Nara cari adalah air Sudamala. Maka ada pura deket rumah Wira. Namanya Pura Tirta Sudamala. Tapi kalau kak Nara butuh air untuk panglukatan bisa nunas (minta) ke Pura Mengening dan Tirta Empul." kata Wira

__ADS_1


Kami pun lalu menyusun cara dan waktu tempuh. Dari Tabanan menuju Bangli butuh waktu sekitar 2 jam. Selama perjalanan, aku banyak melihat pura dan ritual adat. Bener - bener indah pura dan adat budaya Bali.


(2 jam kemudian)


Kami sampai di halaman atau parkiran. Kami langsung turun. Kami juga di sambut oleh beberapa orang yang bertugas di pura itu.


"Swastyastu, selamat pagi. Mohon untuk mengisi buku tamu dan punya seikhlasnya ya." kata nya


Aku pun lalu menulis nama dan alamat. Serta memberikan punia seikhlasnya. Setelah itu, kami ke bawah dan dipandu oleh seorang petugas. Pada saat di mata air, kami pun di sambut oleh Jero Mangku.


"Swastyastu Jero, maaf menganggu. Kami ingin sembahyang dan nunas tirta." kata Wira


"Jero maaf, kenapa pura ini dinamakan Pura Tirta Sudamala?" tanyaku


"Karena air dalam pura ini dapat digunakan untuk mengobati penyakit non medis" katanya


Aku pun lalu mengiring pertanyaan untuk mendapatkan informasi.


"Apakah bisa untuk menyembuhkan orang yang terkena pelet dari pangleakan?" tanyaku


Mendengarkan pertanyaanku, Jero Mangku pun lalu mengajak kami ke tempat yang agak sepi.


"Apakah mbak nya ingin menyembuhkan seseorang dari pelet?" tanya Jero Mangku


"Betul, Jero ... teman saya terkena pelet." kataku


Jero Mangku pun lalu menjelaskan tentang Ilmu pelet akibat pangleakan.


"Kalau seseorang sudah terkena ilmu itu. Maka tidak hanya sebuah mata air. Tapi butuh 7 buah mata air kuna." kata Jero Mangku


"7 mata air kuna, Jero?" tanyaku


Jero Mangku lalu menjelaskan ke 7 mata air itu. Ternyata letak 7 mata air itu letaknya tersebar di seluruh Bali. Aku pun jadi bingung bagaimana mungkin dalam waktu sehari, Aku bisa mengumpulkan mata air itu.


"Gimana ya Wir, solusinya?" tanyaku


"Paling tidak butuh waktu 2 hari, Kak." kata Wira.


Kami pun lalu berpamitan kepada Jero Mangku. Tapi setelah sampai di parkiran. Aku ingat sesuatu.


"Wira, aku lupa mengucapkan terimakasih kepada Jero Mangku. Aku akan turun ke bawah sendiri. Kalian tunggu aku di sini." kataku


Aku pun lalu turun kembali ke bawah. Aku berusaha mencari Jero Mangku tadi. Tapi aku tidak menjumpai orang yang ku cari. Aku pun mencarinya dan akhirnya aku bertanya kepada pemangku lainnya.


"Permisi Jero Mangku, maaf ingin tanya. Dimanakah Jero Mangku yang tadi stand by di bawah, ya pak?" tanyaku


"Jero Mangku yang stand by di bawah? maksudnya yang ada di tirta panglukatan?" tanyanya mengkonfirmasi.


Aku pun kemudian menjelaskan ciri - ciri nya. Serta bagaimana perawakan Jero Mangku. Tapi begitu aku jelaskan, pemangku ini sangat kebingungan dan kaget. Dia pun lalu mengajakku duduk di balai pura.


"Nak, apakah kamu yakin tadi bertemu dengan sosok orang yang kamu jelaskan?" tanya pemangku itu.


"Iya Jero,. Bahkan adik2 saya juga melihatnya. Memangnya beliau siapa?" tanyaku


"Nak,. Kamu siapa?" tanyanya


Aku bingung dengan perkataan Jero Mangku yang saat ini ada di depanku.


"Saya Nararia, Jero. Saya dari Klaten, Jawa Tengah." kataku agak ketakutan.


Pada saat itu pula, aku memanggil Adhiraksa. Tak lama kemudian dia datang di sampingku.


"Ada masalah tuan putri?" tanya Adhiraksa


"Entah lah,. temani aku saja." batinku


Jero Mangku yang saat ini bersama kami lalu meminta seseorang untuk mengambilkan air yang ada di tempaan depan padmasana.


"Kamu istimewa, kamu bukan wanita sembarangan. Kamu punya penjaga yang sangat hebat. Sehingga Sang Bhatara yang melinggih di sini berkenan turun." kata nya


"Maksud Jero Mangku apa?" tanyaku bingung.

__ADS_1


"Artinya, Sang Hyang Pasupati telah turun dan memberikan bantuannya untuk melepaskan ke 2 pangeran Medang." kata Adhiraksa


Jero Mangku lalu menjelaskan bahwa Dewa Siwa telah turun. Tidak sembarang orang yang akan mendapatkan anugrah luar biasa itu.


"Sekarang pergilah Nak, tugasmu masih banyak. Dewa Siwa merestui perjalanan mu." kata Jero Mangku


Aku pun kemudian pamit dan sembahyang sebentar di depan padmasana suci itu. Hingga akhirnya Wira pun turun. Dia menyusulku, mungkin karena terlalu lama aku pergi.


"Kak Nara kok lama banget?" tanya Wira.


"Iya dik, ayo kita lanjutkan perjalanan." kataku


Kami berdua pun kemudian berpamitan dengan Jero Mangku.


"Kenapa Kak Nara lama sekali?" tanya Wira


"Maaf ya Wira sudah membuat mu khawatir. Tadi Kak Nara diajak ngobrol sama Jero nya. Kan enggak enak ditinggal. Untung kamu datang, jadi bisa menyelamatkan kakak, hehehe" kataku bohong pada Wira.


Kami pun lalu diskusi kemana 6 sumber mata air yang dimaksud sama Dewa Siwa. Ya Dewa Siwa telah menyamar sebagai seorang pemangku. Beliau memberi petunjuk bagaimana kekuatan pelet itu bisa dihalau.


"6 sumber air itu dimana ya?" tanya Jofel.


"Menurut Jero Mangku tadi, 7 Sumber mata air kuna. Kita akan mudah menemukannya. Baiklah selanjutnya kita ke sebuah tempat yang sangat istimewa." kata Andi


"Dimana itu, Ndi?" tanyaku


Andi pun lalu tersenyum. Duh, bener - bener deh misterius banget si Andi ini.


"Putri, perjalanan ini akan sangat menantang. Selalu waspada ya" kata Adhiraksa


"Makanya kamu harus selalu ada di sampingku. Jangan jauh - jauh. Tapi aku ingin kamu mengawasi 2 pangeran itu. Tolong jaga mereka dari pengaruh Aura." kataku


"Bukannya tadi putri minta aku harus selalu di samping putri?" tanya Adhiraksa.


"Aku punya Pancaroba juga Puspa dan Kencana. Tapi Kencana sudah aku tugaskan untuk menjaga Prasta. Sedangkan kamu harus menjaga Satria. Aku akan bersama Puspa dan Pancaroba " kataku.


Setelah semuanya sepakat. Akhirnya kami melakukan tugas maisng - masing.


"Kak Nara, kenapa melamun. Pura itu terletak di Goa. Di pura itu terkenal dengan suara gamelan." kata Andi


"Dimana?" tanyaku


Mereka ber 3 pun hanya senyum - senyum saja. Bahkan mereka akan membuat kejutan katanya. Duuuh... dasar ngeselin.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya.


next :


Dimanakah kira - kira tempat ke dua Nara mengambil air ?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


With love


Citralekha


*


Maaf ya, telat update. Kemarin ada meeting seharian. Trus hari ini tadi sore sudah mau upload tapi aku lupa nyimpan. Sehingga data nya terhapus padahal sudah siap upload. Maaf yaa harus mengeluarkan tenaga untuk membuat mood naik lagi.


Jangan lupa ya kasih dukungan.


Terimakasih.


berikut adalah potret Tirta Sudamala yang ada di Bangli.

__ADS_1



__ADS_2