
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate ya, coin juga boleh, kasih masukan juga boleh ya*
Happy reading
.
.
Aku langsung tertuju pada sebuah prasasti batu. Aku pun melirik pada Puspa. Berharap dia akan melantunkan slokanya lagi. Meskipun aku sudah beberapa waktu di sini, tapi aku masih belum paham akan tulisan dan aksara Jawa Kuna awal.
"Puspa" kataku merajuk
"Iya putri." kata Puspa sambil tersenyum.
Puspa pun kemudian melangkahkan kaki menuju linggotpala (sebutan untuk prasasti batu). Puspa pun mengamati dengan seksama aksara itu.
"Sanskerta" kata Puspa
"Pakai bahasa Sanskerta dari Jambu Dwipa?" tanyaku memastikan.
Puspa hanya menganggukan kepala. Dia pun mulai meraba tulisan itu dan mulai bersenandung membacakan isi dari Prasasti Tara Bawana.
(Suara merdu Puspa)
Namo bhagavatyai āryātārāyai yā tārayatyamitaduḥkhabhavādbhimagnaṃ lokaṃ vilokya vidhivattrividhair upayaiḥ Sā vaḥ surendranaralokavibhūtisāraṃ tārā diśatvabhimataṃ jagadekatārā
āvarjya mahārājaṃ dyāḥ pañcapaṇaṃ paṇaṃkaraṇāṃ Śailendra rājagurubhis tārābhavanaṃ hi kāritaṃ śrīmat
gurvājñayā kŗtajñais tārādevī kŗtāpi tad bhavanaṃ vinayamahāyānavidāṃ bhavanaṃ cāpyāryabhikṣūṇāṃ
pangkuratavānatīripanāmabhir ādeśaśastribhīrājñaḥ Tārābhavanaṃ kāritamidaṃ mapi cāpy āryabhiksūṇam
rājye pravarddhamāne rājñāḥ śailendravamśatilakasya śailendrarajagurubhis tārābhavanaṃ kŗtaṃ kŗtibhiḥ
śakanŗpakālātītair varṣaśataiḥ saptabhir mahārājaḥ akarod gurupūjārthaṃ tārābhavanaṃ paṇamkaraṇaḥ
grāmaḥ kālasanāmā dattaḥ saṃghāyā sākṣiṇaḥ kŗtvā pankuratavānatiripa desādhyakṣān mahāpuruṣān
bhuradakṣineyam atulā dattā saṃghāyā rājasiṃhena śailendrarajabhūpair anuparipālyārsantatyā
sang pangkurādibhih sang tāvānakādibhiḥ sang tīripādibhiḥ pattibhiśca sādubhiḥ, api ca
sarvān evāgāminaḥ pārthivendrān bhūyo bhūyo yācate rājasiṃhaḥ, sāmānyoyaṃ dharmmasetur narānāṃ kāle kāle pālanīyo bhavadbhiḥ
anena puṇyena vīhārajena pratītya jāta arthavibhāgavijñāḥ bhavantu sarve tribhavopapannā janājinānām anuśsanajñāḥ
kariyānapaṇaṃkaraṇaḥ śrimān abhiyācate bhāvinŗpān, bhūyo bhūyo vidhivad vīhāraparipālan ārtham iti.
Artinya :
Hormat untuk Bhagavatī Ārya Tārā setelah melihat makhluk-makhluk di dunia yang tenggelam dalam kesengsaraan, ia menyeberangkan (dengan) Tiga Pengetahuan yang benar, Ia Tārā yang menjadi satu-satunya bintang pedoman arah di dunia dan (tempat) dewa-dewa.
Sebuah bangunan suci untuk Tārā yang indah benar-benar telah disuruh buat oleh guru-guru raja Śailendra, setelah memperoleh persetujuan Mahārāja Dyāh Pancapana Panamkarana
Dengan perintah guru, sebuah bangunan suci untuk Tārā telah didirikan, dan demikian pula sebuah bangunan untuk para bhiksu yang mulia ahli dalam ajaran Mahāyana, telah didirikan oleh para ahli
Bangunan suci Tārā dan demikian juga itu (bangunan) milik para bhiksu yang mulia telah disuruh dirikan oleh para pejabat raja, yang disebut Pangkur, Tawan, dan Tirip.
Sebuah bangunan suci Tārā telah didirikan oleh guru-guru raja Śailendra di kerajaan Permata Wangsa Śailendra yang sedang tumbuh
Mahārāja Panangkarana mendirikan bangunan suci Tārā untuk menghormati guru pada tahun Śaka yang telah berjalan 700 tahun
__ADS_1
Desa bernama Kalasa telah diberikan untuk Samgha setelah memanggil para saksi orang-orang terkemuka penguasa desa yaitu Pangkur, Tawan, Tirip
Sedekah “bhura” yang tak ada bandingannya diberikan untuk Sangha oleh “raja yang bagaikan singa” (rājasimha-) oleh raja-raja dari wangsa Śailendra dan para penguasa selanjutnya berganti-ganti
Oleh para Pangkur dan pengikutnya, sang Tawan dan pengikutnya, sang Tirip dan pengikutnya, oleh para prajurit, dan para pemuka agama, kemudian selanjutnya
“Raja bagaikan singa” (rājasimhah) minta berulang-ulang kepada raja-raja yang akan datang supaya Pengikat Dharma agar dilindungi oleh mereka yang ada selama-lamanya
Baiklah, dengan menghibahkan wihara, segala pengetahuan suci, Hukum Sebab Akibat, dan kelahiran di tiga dunia (sesuai) ajaran Buddha, dapat dipahami
Kariyana Panangkarana minta berulang-ulang kepada yang mulia raja-raja yang akan datang senantiasa melindungi wihara yang penting ini sesuai peraturan.
...
Aku mendengarkan suara Puspa sangat indah. Pada saat dia melantunkan sloka. Aku bisa melihat relief kinara- kinari yang ada di atas kepala Kala hidup. Aku pun tertegun melihat hal itu.
"Kencana?" tanyaku
Kencana hanya tersenyum dan kemudian memberikan komando kepada para kinara (bidadari surga). Mereka kemudian menari mengikuti alunan dari Puspa. Bahkan ada beberapa kinara yang memainkan musik. Dari atas ada yang menaburkan bunga melati ke kami.
"Ini hebat, seperti hujan bunga." kataku
"Apa kau senang, putri?" tanya Kencana
Aku kemudian mendekat kepada Kencana dan mengucapkan terimakasih padanya.
"Makasih ya." kataku
"Putri lihatlah." tunjuk Kencana
Aku kemudian melihat pada telunjuk Kencana. Ternyata ada pasukan bidadari yang mengitariku. Mereka mengajakku menari bersama.
"Oh dewa, terimakasih." gumamku
"Makasih Puspa, aku sayang sama kamu." kataku
Aku segera berlari ke Puspa dan memeluknya. Tak terasa air mataku menetes. Aku tidak menyangka kalau aku bakalan sebahagia ini. Sejenak aku bisa melupakan Rakai yang tak kunjung kembali.
"Puspa, tadi aku mendengar kata 'Maharaja Dyah Pancapana Panangkaran'. Apakah itu gelar dari kakekku?" tanyaku
"Iya putri, gelar abhiseka dari kakek mu memang banyak." kata Puspa
"Itu wajar, karena kakekmu sangat terkenal dan termasyur." kata Kencana
Dalam bincang - bincang itu, tiba - tiba aku kaget. Lonceng atau gentha perunggu yang digantungkan dalam sebuah bangunan kecil berbunyi.
(Klinting klinting klinting)
"Kau kaget putri?" tanya Puspa sambil tertawa nakal
"Sedikit, hehehe." kataku
Aku melihat banyak bhiksu yang hadir. Mereka menggunakan jubah kuning. Di belakang mereka banyak para pengikut yang membawa bunga dan persembahan.
"Puspa, Kencana, aku mau ikut sembahyang boleh?" tanyaku
"Tentu, ayo kita sama - sama memohon perlindungan pada Dewi Arya Tara." kata Kencana
Kami kemudian melangkahkan kaki mengikuti bhiksu. Mereka tidak menyadari keberadaan kami. Kami mengikuti ritual pemujaan. Setelah itu aku berdoa pada Dewi Tara.
"Dewi Tara, aku mohon padamu. kunjungilah Satria, jangan biarkan dia terluka sedikitpun. Segera kembalikan dia padaku." doaku dalam hati.
__ADS_1
Setelah selesai sembahyang. Puspa mengajak kami untuk keluar dan duduk di bawah pohon bodhi.
"Puspa, tahun berapa candi ini diresmikan?" tanyaku
"Tahun 700 Saka atau 778 M." jawab Puspa.
Mataku kemudian tertuju pada sekelompok bhiksu yang baru datang. Mereka membawa banyak persembahan.
"Mengapa mereka membawa persembahan begitu banyak?" tanyaku keheranan
...
Kencana menjelaskan
Suatu Wanua atau desa yang di dalamnya terdapat sebuah bangunan suci. Apalagi bangunan tersebut merupakan candi kerajaan. Maka sang raja akan memberikan anugrah berupa tanah perdikan atau sima.
Tanah sima adalah tanah swatantra (tanah yang bebas dengan pajak). Tapi hasil buminya sebagian digunakan untuk pemeliharaan bangunan suci yang telah ditetapkan sebagai sima. Selain itu Wanua juga berkewajiban untuk berbakti kepada pada bhiksu. Kebaktian mereka kepada bhiksu berupa makanan, pakaian, keperluan upacara.
...
"Apa kau paham, putri?" tanya Kencana
"Ya, aku paham. Jadi pada masa ini pajak telah ditetapkan ya?" tanyaku
"Iya, nanti akan kami beritahu berapa besaran pajak yang harus dibayarkan kepada pejabat setempat." kata Puspa.
"Kalau tara Bawana ini, berapa pajak yang harus dibayarkan?" tanyaku
"Pajaknya dengan menggunakan uang emas, perak, dan berbagai hasil bumi. seperti yang putri lihat tadi." terang Kencana
Masyarakat Kalasa (nama Wanua pada saat itu). memberikan beberapa keranjang hasil bumi seperti buah, sayur, dan beras. Saya memberikan ternak, seperti ayam, kambing, dan susu sapi. Emas juga diberikan dan ditempatkan pada sebuah wadah perunggu.
"Lalu jika daerah ini telah ditetapkan sebagai daerah sima. Mereka tidak perlu membayar pajak kepada kerajaan ya?" tanyaku
"Betul putri." jawab Puspa.
Aku menyimpulkan bahwa daerah sima pada masa ini. Sama dengan daerah otonom pada masa depan. Mereka dapat mengelola hasil kekayaan daerahnya untuk kepentingan wilayahnya.
"Puspa, Setelah kakek Panangkaran, siapa pengganti beliau?" tanyaku
"Kita akan menuju ke sebuah tempat lagi." kata Kencana
Kencana kemudian menjelaskan, bahwa lebih enak jika menjelaskan kepada ku di tempatnya langsung.
"Kemana kita akan pergi?" tanyaku
"Siwa Sthana. " kata Puspa.
Aku berpikir, bahwa tempat yang akan kita datangi merupakan candi dengan latarbelakang Siwa. Jadi telah terjadi pergantian agama di kalangan elit kerajaan.
Aku segera mengajak mereka untuk segera menuju Siwa Sthana.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Jangan lupa untuk mengunjungi karya baruku yang berjudul "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku".
With love
Citralekha
Berikut adalah Prasasti Kalasan.
__ADS_1