
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.
Happy reading
***
Tapi Aura langsung mengeluarkan para prajurit nya dari telapak tangan. Sedangkan dia dan Tamara kabur membawa Prasta dan Satria menghilang. Aku tidak mau bermain dengan para makhluk itu. Semuanya langsung aku akhiri.
Aku terus berjalan, dan aku melihat 2 orang yang sedang diikat di bawah pohon. Orang tersebut seperti kehabisan tenaga. Mereka tak berdaya. Kondisinya mengenaskan.
Aku penasaran dengan ke 2 orang itu. Lalu aku berjalan mendekatinya.
"Hei, kalian siapa? Kalian manusia atau hantu?" tanyaku
Dengan tertatih salah satu dari mereka mengangkat kepala. Luka lebam dan rambut yang acak - acakan.
"Pu ... Pu... putri" katanya
Aku membelalakan mata, ternyata dua orang itu adalah
"Puspa, Kencana... apa yang terjadi. Kenapa kalian seperti ini?" tanyaku
Aku lalu bersimpuh dan melepaskan ikatan pada mereka.
"Siapa yang melakukan ini?" tanyaku
"Ra ... Ra ... Ra Nini" katanya terputus
"Ra Nini?" tanyaku
Aku segera melepaskan ikatan pada Puspa. Aku tak tega melihatnya. Aku pun lalu memeluknya. Segera aku berikan tirta yang aku bawa. Perlahan mereka mulai pulih.
" Apa yang terjadi pada kalian berdua?" tanyaku
"Ra Nini tahu kalau kita berada di dalam jiwa Prasta dan Satria. Sehingga kami dilumpuhkan dalam waktu singkat. Kamu tahu putri, kekuatan kami bukan apa - apa di hadapannya." kata Puspa
"Lalu bagaimana kita menyelamatkan Prasta dan Satria" tanyaku
"Tentu saja kita harus mengalahkan Ra Nini. Tapi tidak dengan kekuatan." kata Kencana
Aku bingung dengan maksud Kencana. Apa yang sedang dipikirkan kencana. Jika tidak dengan kekuatan lalu bagaimana kita akan melawan Ra Nini. Sungguh sangat membingungkan.
"Tapi yang pertama kita harus menyelamatkan Prasta dan Satria." kataku
"Mereka akan terbebas secara otomatis jika kita bisa mengalahkan Ra Nini." kata Kencana
"Kencana, jika tidak dengan kekuatan lalu dengan apa kita akan mengalahkan Ra Nini?" tanyaku
"Ingat pertunjukan Barong Rangda?" tanya Puspa
Tapi belum sempat aku mengingatnya. Kami ber tiga sudah diserang oleh pasukan mayat hidup. Aku pun lalu berdiri di hadapan Puspa dan Kencana. Aku akan segera menyelesaikan ini semua. Pedang Jiva dengan segenap rasa cinta akan ku gunakan untuk menghabisi mereka semua.
"Putri, hati - hati dengan para mayat hidup itu." kata Kencana
"Mundur" kataku
Aku lalu membuat gerakan memutar yang seolah - olah sedang membuat pusaran angin. Semakin cepat aku berlari dan membentuk lingkaran. Suara itu menderu dan langsung menghabisi mayat hidup itu. Seketika itu, aku bisa melihat keberadaan Aura dan Tamara.
Mereka sedang berusaha merayu ke dua lelaki itu. Tanpa ada penolakan sama sekali. Dua pangeran itu hampir menodai Tamara dan Aura. Tapi sebelum semua terlambat. Aku segera menggunakan pedang Jiva. Pedang itu menebas ke arah dua wanita itu.
Seketika itu mereka berdua ambruk. Aku melihat ada bayangan hitam keluar dari tubuh Aura dan Tamara. Bayangan hitam itu kemudian berwujud Rangda. Ya sepasang Rangda yang siap menyerangku.
"Puspa Kencana, selamatkan Prasta, Satria, Tamara, dan Aura." kataku
Aku lalu menuju 2 Rangda itu. Ya aku memang menduga bahwa Tamara dan Aura dirasuki. Dia dikendalikan oleh sebuah ilmu hitam. 2 Rangda itu, semakin membabi buta menyerangku. Aku pun jatuh berkali - kali. Lenganku terkena cakaran nya. Perih banget, tapi aku harus bertahan.
__ADS_1
"Putri hati - hati, jangan sampai dia menangkapnmu." kata Kencana
"Sepertinya pedang Jiva tidak berfungsi, Ken Pus. Apa yang harus aku lakukan." kataku
Aku pun menyerang 2 Rangda itu dengan segenap kemampuan yang aku bisa.
"Putri gunakan tirta nya. Segera haduh pedang Jiva dengan tirta itu." teriak Puspa
Aku pun kemudian mengeluarkan kendi itu. Tapi sayangnya, kendi itu terlepas dari tanganku. Kendi itu berhasil direbut oleh salah satu Rangda. Aku lengah dan hendak mengambil kembali. Tapi hal itu digunakan oleh rangda satu nya untuk menyerangku. Sontak aku menjadi tidak konsentrasi. Dia berhasil mencakar baju depanku hingga robek.
"Sialan" kataku
Rangda satu nya pun kemudian akan melempar kendi itu. Ketika kendi itu hendak dipecahkan. Aku segera melempar pedang Jiva ku. Ya kendi itu dilempar dan mengenai pedang Jiva ku. Sehingga kini pedangg itu menjadi sangat sakti. Tapi sayang tirta itu telah habis. Bener - bener berantakan. Seketika itu aku langsung marah. Sorot mata, perasaan benci, cinta, sayang menjadi 1.
"Pedang Jiva kembali" kataku
"Hahahahhaha...kau tidak akan bisa mengalahkan kami. Tamat riwayatmu putri mahkota." teriaknya
Secepat kilat dia langsung menyambar ke arahku. Tapi kini kesaktian dari pedang Jiva luar biasa. Pedang itu memancarkan cahaya kuning keemasan yang menjadi perisaiku.
"Putri, segera habisi dua makhluk itu." kata pedang Jiva
Aku kaget ternyata pedang nya bisa berbicara. Aku pun langsung mengangguk dan mengayunkan pedang itu.
Braaash... aaaaaaakkksss
Teriakan 2 makhluk jahat sangat menyakitkan telinga.
"Aku akan balas dendam, Ra Niniiiiii" katanya
Seketika itu seorang makhluk menghilang. Tapi makhluk 1 nya kemudian menyebut nama Ra Nini. Dewi ilmu kejahatan yang sangat sakti. Suasana sekitar menjadi mencekam. Langit bergemuruh, lentur menyambar, matahari naik turun dan berganti dengan bulan.
"Putri, ini sangat berbahaya... Ra Nini datang." kata Puspa
"Putri, kami tidak bisa membantu. Jika kami membantu kami akan musnah selamanya. Maafkan kami putri." kata Kencana sambil menundukan kepala.
"Aku akan baik - baik saja. Demi cinta dan kasih sayang" kataku
Seketika itu aku berteriak memanggil nama Kencana. Dia kembali terluka.
"Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa hanya menyebutkan bagaimana cara mengalahkan Ra Nini. Kencana bisa terpental dan terluka." gumamku
Hahahhaha...ih ih ih ih... ggggggrrrrr
Suara menakutkan serta memekikan telinga. Aku pun menutup mata. Mencoba melihat sekelilingku. Aku merasakan ada derap kaki pasukan. Ya pasukan yang sangat banyak. Lalu aku membuka mata. Betapa kaget nya aku. Ribuan mayat hidup sudah mengepungku. Maluku menjadi ciut.
"Putri tenangkan dirimu. Jika kau takut, makhluk itu tidak akan musnah. Lawan ketakutanmu, mereka hanya ilusi. Kau harus bisa mengalahkan dirimu sendiri." kata pedang Jiva
Tidak mungkin aku menghadapi ribuan mayat hidup itu. Aku duduk dan ditancapkan pedang itu di hadapanku. Lalu bersemadhi dan mengucapkan mantra suci "Om Nama Siwaya"
"Dewa lindungi kami" kataku
Setelah beberapa saat, aku membuka mata. Ribuan mayat hidup itu menghilang. Kini di depanku muncul 3 orang makhluk sangat mengerikan. Ya mereka adalah Ra Nini dengan 2 hantu pengawalnya.
"Anak manusia kamu sudah berani mengusik ketenangan Setro Gondho Mayit. Terimalah hukumanmu." kata Salah satu pengawalnya
Mereka berdua masih membelakangiku. Mereka membalikan badan, dan betapa terkejutnya aku. Dua pengawal Ra Nini adalah Retno dan Mbak Yesi. Mereka lalu maju menyerangku.
"Retno, Mbak Yessy... sadarlah. Aku temanmu, Nararia." kataku
Tapi mereka tidak memperdulikanku. Mereka menyerang ku. Aku hanya bisa menghindar. Aku tidak mau melukai teman - teman terbaikku. Beberapa kali mereka menyerangku, mencakar lenganku. Memandangku, hingga aku terguling - guling. Aku pun menanggis, aku takut jika menggunakan pedang Jiva. maka aku bisa membunuh mereka.
"Mereka adalah gandharwa wanita yang kejam. Mereka lah yang menebar aura jahat, putri. Hati - hati, gunakan aku tidak dengan emosi. Tapi gunakan aku dengan penuh cinta." kata pedang Jiva.
Aku lalu menutup mata serta mohon perlindungan Dewa. Dan benar saja, 2 makhluk itu bukanlah Retno dan Yessy. Aku sekarang tak ragu lagi untuk menghabisi mereka berdua. Segera ku gunakan pedang Jiva lagi dengan penuh ketenangan dan rasa sayang.
"Kau sudah menipuku, dengan rasa sayang ku pada teman - temanku. Aku akan menghabisi kalian." kataku
Aku lalu mengarahkan pedang Jiva kepada mereka. Tanpa ampun lagi segera aku tebas kepala mereka. Serta jantungnya aku tusuk. Mereka berdua berteriak sekencang mungkin dan lalu menghilang.
Mengetahui bahwa 2 pengawal setia nya menghilang. Ra Nini menjadi murka. Dia mengeluarkan banyak ajian sakti. Aku hanya bisa menghindarinya. Pedang Jiva ku benar - benar tidak berfungsi sama sekali. Berkali - kali aku juga jatuh. Aku pun hampir pingsan, karena tidak sanggup lagi.
__ADS_1
Bener - bener telah habis tenagaku. Terakhir Ra Nini menyabetkan kain kafan kepadaku. Aku pun tak sadarkan diri. Semuanya gelap, lalu aku masuk ke dalam sebuah tempat yang indah. Tempat yang penuh dengan bunga dan berbagai macam burung yang cantik.
"Apakah aku sudah mati?" tanyaku
"Tidak, kau hanya sementara di sini, Anak mas" kata suara lembut itu.
Aku pun langsung menoleh pada sumber suara itu.
"Dewi Sakti" kataku
Aku langsung menghaturkan sembah dan bhaktiku.
"Bangunlah, Ra Nini bukanlah tandinganmu. Tidak ada kekuatan manusia atau Dewa yang bisa mengalahkan dia. Kecuali oleh suaminya sendiri." kata Dewi Sakti
Aku bingung dengan perkataan Dewi Sakti. Jika memang, hanya suami nya. Itu artinya aku harus meminta bantuannya.
"Betul, hanya suaminya yang bisa mengalahkannya. Ketahuilah untuk mu, bahwa Ra Nini adalah bentuk ugra dari Dewi tertinggi kami. Dia dikutuk oleh suaminya dan menjelma menjadi Ra Nini. Dia hanya akan kalah jika dilukat oleh suaminya. Temukan dan kenali siapa Ra Nini. Serta suami Ra Nini. Anak Mas, suami Ra Nini selalu bersamamu. Dia yang membantu mu memberikan petunjuk tatkala kau mencari tirta suci." kata Dewi Sakti
Setelah itu, aku langsung terkena cahaya lagi. Aku pun menggerakan tubuhku. Tubuhku yang penuh luka dan lemah. Tapi beruntungnya aku. Aku jatuh di tanah bekas atau dimana saat tirta itu terjatuh. Tetesan tirta itu masih tertahan oleh sebuah tumbuhan. Kemudian air itu menetes ke mulutku. Aku bangun dan kondisiku kembali seperti semua. Tidak ada luka, tidak ada sakit.
"Kurang ajar kau anak manusia ... Aku akan membunuhmu." kata Ra Nini
Dia lalu hendak menyerangku. Tapi aku sudah siap dengan segala sesuatunya.
Aku lalu berdiri serta menghadap ke arah utara. Aku memohon kepada Dewa Siwa. Aku terus mengucapkan mantra saktinya. Aku panggil sang dewa dan memohon perlindungan. Tak lama Kemudian, aku merasakan tanganku disentuh.
Aku membuka mata, dan ....
"Jero Mangku," kataku
"Kau sudah menyadari apa kesalahanmu?" tanya Jero Mangku.
Aku lalu menundukan mata. Ya, selama ini aku sombong dengan apa yang aku punya. Aku sombong dengan status putri mahkota. Aku sombong dengan kekuatanku. Mendengar perkataan Jero Mangku, segera aku bersujud di hadapannya. Aku tahu siapa Jero Mangku itu.
"Dewa, ampuni aku. Aku siap menerima hukuman dari mu, Dewa." kataku
Jero Mangku lalu tersenyum dan berganti wajah menjadi Dewa Siwa. Ya Dewa Siwa yang sangat menyejukan hati. Aku pun tersenyum,.
Tapi Ra Nini terus menyerang kami. Kini tak ada satupun kekuatan Ra Nini yang mampu melukai kami. Dewa Siwa lalu mengangkat tangannya dan memercikan tirta yang ada pada kamandalu nya. Seketika itu Ra Nini berteriak kesakitan. Dia roboh dan memegangi wajahnya. Tak lama kemudian, wajahnya kembali cantik. Ra Nini kembali menjadi Dewi Parwati.
Aku pun lalu bersujud di hadapannya. Sang Dewi lalu bangun dan menghampiri Dewa Siwa. Mereka berdua kemudian bergandengan tangan.
"Anak mas, kesombongan akan menghancurkan segalanya. Terimakasih kau sudah membantu ku keluar dari kutukan ini. Sekarang aku berkati kamu dengan kekuatan welas asih. Aku kembalikan teman - teman mu seperti sedia kala. Kenali siapa musuh mu, karena dia adalah karma mu di masa lalu." kata Sang Dewi.
Ke dua nya lalu menghilang..
Aku segera mencari Puspa, Kencana, Prasta, Satria, Aura, dan Tamara.
"Putri" kata Kencana
"Mereka aman ada di dalam cupu manik ini. Sekarang ayo kita kembali ke dunia mu." kata Puspa
Tapi sebelum kami kembali, aku melihat sekelebat bayangan hitam.
"Lelaki ber hodie hitam" kataku
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya. Maaf ya telat update, lagi banyak deadline ni.
next :
Siapakah lelaki ber hodie hitam itu sebenarnya?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
With love
__ADS_1
Citralekha