
*Sebelum membaca jangan lupa like, vote, dan comment ya*
Happy reading
.
.
**langsung lanjut ke ketika aku kelas 6 SD ya..
Kehidupan sehari - hariku terbilang lumayan indah ketika hanya aku dan mama. Kami hidup bahagia tak berkurang satu apapun. Jualan mama ku semakin laris. Mama juga memiliki banyak simpanan uang dan perhiasan. Hingga suatu ketika memutuskan untuk menganti bilik bambu rumah menjadi batako.
Mama memperkerjakan beberapa tukang untuk mengganti bilik bambu tersebut. Istilah jawanya adalah 'nyambat'. Rumah gedhek (dari anyaman bambu) dibongkar secara bertahap. Agar aku dan mama tidak kedinginan saat malam. Akan tetapi kami memutuskan untuk tidur di pawon (dapur). Barang - barang kami pindahkan ke pawon.
"Sementara di sini dulu ya." kata mama
"Iya Ma, rumah kita akan jadi tembok dan bagus." kataku
"Iya, kehidupan kita nggak boleh ketinggalan dengan orang yang mempunyai sawah, pekerjaan, dan jabatan yang bagus." kata mama
Mama memang selalu memperhatikan gizi dan kehidupan ku. Meskipun mama single parent tapi sosoknya bisa jadi ayah dan ibu sekaligus untukku.
Rumah kebanyakan di desaku masih terbuat dari bilik bambu. Baru sekelumit orang yang rumahnya sudah diganti dengan batako atau batu. Para tukang bekerja dengan sepenuh hati. Mereka adalah tetangga - tetangga kami. Mereka membuat adonan untuk kontruksi yang baik.
"Mbak Sri semennya mau habis." kata Pak Min, salah satu tukang dan juga sebagai kepala tukang.
"Yaudah sana beli, ini uangnya." kata mama
Mama kemudian menyerahkan beberapa lembar ratusan ribu untuk membeli semen dan keperluan kontruksi lainnya.
Beberapa bulan kemudian, rumahku jadi. Aku bahagia bisa menempati rumah yang jauh lebih baik dan layak dibandingkan dengan tetangga ku lainnya yang masih bertirai bambu.
"Astungkare, Hyang Widhi rumah kita sudah jadi." kata mama
"Iya Ma, terus mau selamatan?" tanyaku
"Pasti, orang Jawa itu tidak boleh meninggalkan jawa nya. Besok mama mau minta tolong Mbok Temu dan beberapa orang lainnya untuk membantu masak." kata mama.
__ADS_1
Bagi orang Jawa, wajib hukumnya jika sesudah merenovasi rumah harus kenduren. Tradisi di desaku masih sangat kental dengan adat istiadat jawa. Dalam satu grup kenduren terdiri dari 13 rumah. Mama kemudian memanggil dan minta tolong saudaraku yang menjadi pemangku adat untuk memimpin upacara selamatan tersebut.
Sesaji yang disajikan, ialah ayam jantan ingkung, nasi tumpeng, nasi gurih, nasi golong, sego liwet, kerupuk udang, tempe goreng, rempeyek kacang, ikan asin, tonto (terbuat dari kelapa dan tahu yang dibuat secara membulat kemudian digoreng).
Tidak lupa terdapat sayur berupa sambel pecel (terbuat dari irisan kacang panjang atau buncis dan kubis mentah, kemudian dibumbui santan dengan kelapa muda dan dibuat pedas manis). Pada sego liwet terdapat kotosan (rebusan daun Dadap serep dan daun turi), juga terdapat telur rebus.
Sedangkan untuk yang tidak bisa dimakan terdapat air kembang setaman, air kembang wangi (kemudian dipercikin pada seluruh rumah). Tujuannya agar orang yang menghuni rumah ini menjadi damai dan sejuk, serta bebas dari gangguan makhluk gaib.
---
Mamaku memutuskan untuk menikah lagi dengan seorang duda beranak 2.
di sini lah asal mulanya penderitaan secara lahir dan batinku**.
----
Tahun 2003.
Aku sudah kelas 6 sekarang, prestasiku lumayan bagus. Aku selalu mendapatkan ranking kelas. Tabunganku sekolah juga lumayan banyak. Teman - temanku sedang ngetrend belajar naik motor. Tapi aku tak berniat minta motor ke mamaku.
Beberapa hari ini, di rumahku kedatangan tamu 2 lelaki. Satu lelaki itu merupakan teman SD mamaku (mamaku sekolah hanya sampai kelas 2 SD, karena mamaku menderita penyakit aneh dan sempat meninggal (chapter sebelumnya). Jadi mamaku bercita - cita menyekolahkan aku sampai lulus SMK.
Mereka tampaknya ingin meminang mamaku. Aku memiliki feeling yang tidak baik terhadap lelaki yang akan melamar mamaku itu. Aku berusaha menasehati dan protes terhadap mama, karena ak pun sudah nyaman hidup berdua dengan mama.
----
"Ma, jangan nikah lagi ya. Aku nggak dapat kasih sayang bapak ngak papa kok. Ada Mas Antong (dia sepupuku anak dari bude Temu)". kataku.
Mama kemudian berkata padaku
"Sebentar lagi kamu kan SMP, SMA, mama takut nggak bisa membiayai sekolahmu. Makanya mama mau menikah lagi".
Sambil nanggis aku diem saja dan masuk ke kamarku. Dalam hatiku selalu tidak menerima kehadiran orang asing itu di rumahku. Feelingku dia orang yang akan mendatangkan bencana bukan kebahagiaan. Tapi, begitu melihat mamaku bekerja keras tiap hari. Aku jadi kasian. Mama harus bangun pagi - pagi, kepasar, naik sepeda, dan berjualan keliling. Aku tidak tega. mamaku sudah berkeinginan untuk menikah lagi dengan pria yang belum pernah dikenal sebelumnya.
----
Lelaki itu tiap kali ke rumahku selalu merayuku. Ia membawakan aku banyak mainan, boneka, dan apapun itu. Meskipun dia baik padaku, tapi hatiku tetep bilang lelaki itu pasti memiliki jiwa yang kejam dan jahat.
__ADS_1
Hari pernikahan mama dan lelaki itu pun tiba. Meskipun banyak tamu yang datang. Aku tetap nggak bahagia. Aku merasakan ada ancaman yang akan siap menyiksaku. (dalam sinetron yang namanya ayah dan ibu tiri pasti kejam).
Malam harinya
"Rara, mulai hari ini, kamu manggil dia dengan bapak." perintah mama.
Aku hanya berlalu dan kemudian merebahkan badanku di kamar.
"Sepertinya, Rara belum menerimaku menjadi bapaknya." kata Pak Kasno.
Mamaku kemudian memberikan pengertian ke suami barunya.
"Sabar, Mas. Dia belum pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang lelaki. Biasanya hanya hidup ber dua semenjak Simbok nggak ada. Jadi wajar kalau dia masih kikuk."
Nama bapak tiriku itu Pak Kasno. Dia memiliki 2 anak dari istri sebelumnya, 1 lelaki dan 1 wanita. Aku belum pernah ketemu dengan 2 anaknya. Berharap tidak akan bertemu dengan mereka. Feeling buruk terus menghantuiku tiap malam. Aku tidak tenang memikirkan kehadiran bapak tiriku itu.
----
Flashback seminggu sebelum pernikahan bapak dan mama.
"Dik, ayo ikut aku ke Jakarta. Aku akan kenalkan dengan saudara - saudaraku." ajak Pak Kasno.
Mama akhirnya setuju diajak ke Jakarta. Aku ditinggal di rumah sendiri. Ini kali pertamanya, mama meninggalkanku seorang diri di rumah. Meskipun aku dititipkan dengan bude. Tapi tetep saja aku sudah merasakan kalau mama berubah. Mereka berangkat bertiga bersama anak perempuan Pak Kasno.
"Hati - hati di rumah ya, cuma seminggu kok. Ntar kalau makan minta di tempat Mbok Temu ya." pesan mama.
Aku hanya tersenyum melihat mama sudah berubah saat ini. Feelingku semakin yakin kalau akan terjadi suatu hal buruk dengan mreka. Entah karma dari mama atau bapak tiriku.
**
Episode kali ini cukup ya.
Terimakasih telah berkenan mampir
With love
Citralekha
__ADS_1