
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Maaf ya baru update,. kemarin full acara.
Happy reading
*Spesial update hari ini ya gais, Jangan lupa untuk vote*
***
"Aku ikut" kata Nara.
Setelah sepakat, maka para Ksatria lalu membagi tugasnya. Mereka akan menjalankan tugas baru.
"Ayo segera berangkat ke Liyangan" kata Adhiraksa.
Kami berempat pun lalu bersiap berangkat ke Liyangan. Tapi sebelum berangkat.
"Nara" sapa Prasta
"Ada apa?" tanya Nara.
"Hati - hati di jalan" kata Prasta
Aku pun hanya menganggukan kepala. Ada rasa aneh, entah rada apa itu.
"Nara, jaga diri mu baik - baik ya" pesan Satria.
"Iya" kataku
Aku merasakan keanehan pada kedua pemuda itu. Sepertinya itu sebuah pertanda. Hmmm... aku harus segera tahu siapa Rakai Pikatan diantara mereka berdua.
*
Prasta dan Satria kini sedang mengantikan Dika dan Ivan. Mereka mengikuti pendidikan komando. Tentu saja, mereka berdua sangat unggul. Kadang mereka latah mengunakan tenaga dalamnya. Sehingga hal itu yang membuat beberapa teman - teman nya kagum. Tapi ada juga yang iri dengan kemampuan mereka.
"Dika Ivan, aku ingin menguji kesaktian kalian berdua. Rupanya kalian memiliki tenaga dalam." kata Hainan
Hainan adalah seorang pasukan khusus dari Thailand. Dia merasa iri, seharusnya dia lah yang unggul. Hainan juga memiliki kekuatan supranatural seperti mereka.
"Maaf Hainan, ilmu kami hanya sebatas dasar saja. Tentu saja saya tidak ada apa - apanya dibandingkan kamu." kata Prasta.
"Kamu sudah berani menunjukkannya di depan pelatih senior. Sehingga aku ingin menjajal kesaktianmu." pinta Hainan.
Prasta pun kemudian membuang nafasnya dengan kasar. Ini salahnya, dia lupa bahwa dirinya sedang menyamar.
"Sat, kita ladeni saja, seberapa besar kemampuannya. Apakah sebanding dengan mulutnya itu!" tukas Satria.
"Hahahha... Tuan Ivan, jika tuan Dika tidak berani. Sebaiknya kau bertarung denganku." kata Hainan.
"Baik, akan aku ladeni. Tapi apa taruhannya?" tanya Satria.
Satria juga sangat bosan dengan tingkah sombong Hainan. Dia ingin menjajal seberapa besar kekuatan spiritualnya. Sisi lain, Hainan sangat puas. Dia ingin menunjukan bahwa dirinya yang lebih unggul. Dia pun punya ide untuk menunjukkannya di depan komandannya.
"Kita akan bertarung di depan komandan besar. Apakah kau berani? Taruhannya adalah jika kau kalah, maka kau harus menjadi pengawalku dan tunduk pada perintah ku." kata Hainan yang menyombongkan dirinya.
"Kalau kau yang kalah gimana?" tanya Satria.
Deg... Hainan pun dengan sombong lalu berkata.
"Aku akan tunduk pada semua perintahmu." kata Hainan.
"Oke deal, kapan kita akan bertarung?" tanya Satria.
__ADS_1
"Besok malam" kata Hainan
Setelah itu, Hainan meninggalkan Prasta dan Satria. Tapi tim Indonesia pun pergi dengan Tim Thailand. Mereka akan menghadap komandan besar. Tentu saja untuk sebuah latihan tenaga dalam dan adu fisik. Dengan begitu, komandan akan setuju dengan usul mereka.
"Satria sepertinya Hainan memiliki kekuatan mistik seperti kita. Kau harus berhati - hati. Dia pasti mempunyai kekuatan yang hebat. Sehingga berani menunjukan kemampuannya." kata Prasta memperingatkannya.
"Untuk itu lah, aku ingin menjajal kemampuan dia. Jika kita tidak mencoba. Kita tidak tahu seberapa besar kekuatan dia." kata Satria
Setelah itu, mereka pun bersiap untuk adu tanding besok malam. Pada awalnya komandan besar tidak setuju. Tapi Hainan terus melakukan trik. Sehingga membuat komandan besar menyetujui.
"Baiklah, tapi dalam pertandingan itu adalah pertandingan persahabatan. Tidak ada saling membunuh." kata komandan.
"Baik komandan, selain itu kita juga bisa mengetahui kekuatan spiritual para pasukan khusus." kata Hainan.
Komandan besar pun setuju dengan usul dari Hainan. Setelah itu, Hainan kembali ke kamarnya. Ternyata dia sudah ditunggu oleh seseorang.
"Ketua," kata Hainan.
Orang yang dipanggil "ketua" itu pun menggunakan tudung merah. Entah siapa dia, yang jelas dia punya niat tidak baik.
"Hainan.. kau harus menjejal dan membunuh 2 ksatria itu. Aku merasakan dia memiliki kekuatan spiritual. Tapi seberapa besar kekuatan mereka aku tidak tahu. Aku akan memberikanmu sebuah pedang sakti. Aku harap kau bisa membunuh mereka." kata seseorang itu.
"Baik ketua, saya akan membuat kematian Ivan atau Dika seperti kecelakaan adu ketangkasan. Saya memang sudah lama ingin membunuh mereka." kata Hainan.
"Pastikan kau tidak menyebut namaku, jika kau terluka. Atau aku akan membunuhmu dengan senapan peluru emas." kata seseorang itu.
Setelah mengatakan hal tersebut. Orang itu lalu keluar dari kamar Hainan (secara diam - diam).
"Sebenarnya, apa masalah ketua dan 2 prajurit dari Indonesia itu. Tapi bodo amat, yang penting aku nanti bisa membunuh mereka. Membunuh salah satu saja sudah membuatku untung. Bagaimana kalau aku membunuh keduanya?" batin Hainan.
Dia pun lalu membelai pedang sakti itu.
"Dari mana ketua mendapatkan pedang ini?" tanya Hainan dalam hati.
*
"Saatnya memberikan pelajaran bagi manusia yang sombong. Aku harus tahu ada apa dibalik semua ini. Ternyata Adhiraksa benar. Para Ksatria itu harus diasah kekuatannya. Ternyata musuh mereka selain dari kalangan makhluk gaib juga manusia. Ini sangat menarik" gumam Satria.
"Dan kau tidak boleh menggunakan kekuatan supranaturalmu. Jika Hainan tidak menggunakannya. Kau harus bisa mengimbangi Hainan dengan kekuatan manusia. Jangan terlalu mencolok, karena mereka kira kita adalah Dika dan Ivan." sahut Prasta.
Satria pun mengerti maksud Prasta. Setelah itu mereka beristirahat. Tapi pada waktu hendak tidur. Ada bayangan yang mengendap di jendela kamar nya. Manusia itu berjumlah dua orang. Mereka lalu melempar koin beracun. Tapi secepatnya, Senopati Dandaka menangkapnya.
"Heh, kenapa mereka tidak bangun sama sama sekali?" tanya orang itu.
Senopati pun lalu melempar kembali koin itu. Betapa terkejutnya setelah tahu bahwa koin yang seharusnya untuk Dika dan Ivan. Ternyata ada di tangan mereka.
"Ko ko koin ini" kata orang itu.
Seketika itu mereka berdua langsung pingsan. Senopati pun lalu mengirim dua manusia itu ke kamar Hainan. Betapa terkejutnya Hainan.
"Kurang ajar!! benar apa kata ketua. Bahwa dua manusia itu sangat sakti. Aku harus berhati- hati. Tapi, aku lebih cerdik dari dia. Aku pasti akan menang." kata Hainan sombong.
*
Adhiraksa, Nara, Dika, dan Ivan pun sampai di Situs Liyangan.
Ya, Situs Liyangan adalah sebuah permukiman kuna masa Mataram. Situs ini berada di kaki gunung Sindoro. Dengan Sang Giri (Sindoro) jaraknya sekitar 7 km. Situs Liyangan terletak di Desa Purbosari, Ngadirejo, Temanggung, Jawa Tengah.
Situs ini sangat kaya dengan tinggalan Arkeologi. Tinggalah tersebut berupa tempat peribadatan. Hal tersebut ditemukan dengan adanya yoni. Ya, Yoni adalah lembar dari unsur wanita (Parwati). Ada yang unik dari Yoni Liyangan. Dimana yoni tersebut memiliki 3 buah lubang lingga. Serta Yoni terbuat dari susunan batu. Bukan dengan menggunakan sebuah batu monolit.
"Itu kah Situs Liyangan?" tanya Ivan.
"Ya, ini adalah Situs Liyangan. Desa yang hilang karena terkena letusan gunung merapi." kata Adhiraksa.
"Jadi, Situs ini awalnya terkubur?" tanya Dika.
"Kelihatan banget ogeb nya. Lihat tuh! dinding akibat erupsi Sindoro segitu tingginya." kata Adhiraksa sembari menunjuk galian pasir sambil terkekeh.
__ADS_1
"Dasar pangeran tengik, gue cuma mau ngetes kepintaran elo saja, hahaha" kata Dika membalas tertawa
Ivan pun lalu menggerutu tentang tingkah konyol 3 sahabatnya itu.
"Mending, kamu jelasin deh Ra tentang Situs Liyangan ini. Lalu kenapa, kita harus bertapa di sini. Dimana pula kami bertapa? enggak ada tempat tertutup." kata Ivan kebingungan.
Nara pun tersenyum memperhatikan wajah polos Ivan. Ya bagi Ivan dunia spiritual baru saja ia kenal.
"Jadi ini adalah Situs yang berasal dari kisaran abad ke 9-10 M. Ini adalah kawasan utara Jawa. Kemungkinan letak kerajaan Mataram Awal ada di sekitar kini. Kemudian berpindah ke selatan (daerah Prambanan). Daerah yang ditinggalkan mungkin masih ada. Sehingga membuat perkampungan di sini." kata Nara.
"Ya, ini termasuk dalam pengawasanku. Jadi wilayah kerajaanku sangat luas. Elo berdua bakalan bertapa di jalan Makadam itu" tunjuk Adhiraksa.
Adhiraksa menunjuk pada sebuah tatanan jalan yang tertata rapi.
"Itu jalan pada masa masyarakat membangun candi ini?" tanya Ivan.
"Ya betul, keturunan kami memang hebat. Pola pikir kami sangat maju. Kita menggunakan bahan alam untuk kehidupan sehari kita. Ya, berusaha agar para Ksatria juga raja yang datang kemari. Jika hujan kaki nya tidak terkena air yang bercampur dengan lumpur. Untuk itu lah di buat susunan batu. Bahasa kerennya adalah aspal pada masa lalu. Jadi dengan cara menata batu boulder dengan perekat dari tanah liat." jelas Adhiraksa.
Ivan pun masih agak sedikit bingung. Tapi dia sangat kagum dengan kemampuan berpikir. Sungguh sangat membanggakan.
"Tunggu, Pangeran Tengik jika kita bertapa di tengah jalan itu. Mana bisa, kita akan menjadi tontonan banyak orang. Bisa jadi mereka mengira kita sinting." kata Dika.
Adhiraksa pun lalu tertawa
"Dasar, aku kan mau menjadi seorang ksatria. Ya elo jangan sampai terlihat dengan mata manusia biasa dong. Elu kan bisa menghilang dari pandangan manusia." kata Adhiraksa.
"Benarkah?" tanya Ivan dan Dika.
"Biasa dong, tatapannya" kata Adhiraksa.
Mereka pun kemudian berkeliling (secara tak kasat mata).
"Hum... kenapa ya orang jaman dahulu itu suka banget membuat candi di tempat berbahaya seperti ini?" tanya Ivan.
"Ini adalah konsep Dewa Gunung. Dimana gunung yang paling tinggi akan disucikan. Selain itu, semakin tinggi tempat nya. Maka nilai kesakralan akan semakin bagus." sahut Nara.
Setelah itu mereka pun kembali berkeliling ke Situs Liyangan.
"Oh iya, lalu dimana kami harus membersihkan diri?" tanya Dika.
"Air kali, hahaha" goda Adhiraksa.
"Kampret lu, gue nanya serius" kata Dika sembari melempar Adhiraksa dengan sesuatu yang dia pungut.
"Hei ini apa?" tanya Dika.
Dia memegang sebuah benda yang sangat banyak. Tapi benda tersebut dalam keadaan gosong.
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
terimakasih
with love
Citralekha
**
Oh iya, jangan lupa ya untuk membaca novel baru lho. Judulnya "Cinta Arkeolog dan Perwira Kopassus".
jangan lupa dapatkan souvenir cantik dari author ya... dengan terus vote sebanyak - banyaknya.
juga jangan lupa mampir di karya "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku"
__ADS_1