Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Selamat Jalan Simbok


__ADS_3

*Sebelum membaca jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*


Rate bintang 5 juga boleh.


Happy reading


.


.


Aku dan mama kemudian bersiap untuk kembali balik ke Desa Tambakan. Kakek dan nenek tak lupa memberikan kami oleh - oleh.


(Alam Gunung Kidul).


Pegunungan selatan yang terkenal dengan tanah gersangnya. Masyarakat di sini kebanyakan sebagai petani palawija. Mereka memanfaatkan tanah tadah hujan. Apabila kemarau kondisi tanahnya pecah - pecah. Akan tetapi alam Gunung Kidul terkenal dengan kandungan batu putih yang sangat bagus. Selain itu pantai pasir putih yang mempesona.


"Sri ini nanti untuk oleh - oleh." kata kakek


Kakek memberi kami kacang tanah yang telah dikupas. Biji jagung, kacang hijau, tolo (semacam kacang - kacangan). Kakek juga memberikan kepadaku uang selembaran Rp 100.000,-


"Rara, ini untuk biaya sekolah nanti ya." kata kakek


"Makasih kek" kataku


Mereka semua kemudian memeluk dan mencium kami satu per satu. Saudaraku yang seumuran sama aku namanya mbak Mika, memberikanku sebuah buku.


"Dik, ini untuk mu" katanya


Mbak Mika usianya setahun di bawahku. Tapi aku memanggilnya 'mbak' karena dia anak dari budhe (kakaknya bapak).


"Apa ini mbak?" tanyaku


"Ini buku isinya foto - foto keluarga Gunung Kidul." katanya


"Makasih ya mbak." kataku


Mbak Mika nasibnya sama sepertiku. Ayahnya meninggalkan dia dan mamanya sejak kecil. Jadi impas, aku ditinggal bapak. Mbak Mika juga ditinggal bapaknya.


Kami kemudian berpelukan dan pamit. Pakdhe ku (suaminya budhe ke tiga ku), membantu kami mencegat mobil dari desa simbah menuju kota wonosari. Rumah simbahku berdekatan dengan jalan yang dilalui oleh kendaraan umum.


Sesampainya di rumah ku sudah petang. Kami disambut oleh Mas Antong dan Mbok Temu.


"Dapat saku berapa?" tanya Mas Antong.


Aku kemudian menunjukan selembar seratus ribuan.

__ADS_1


"Asyik sini buat aku saja." goda Mas Antong.


"Nggak mau, nggak boleh." kataku kemudian masuk kamar dan menyembunyikan uang itu.


Mama kemudian menceritakan tentang kondisi keluarga mertua dan suaminya. Mbok Temu kemudian meminta agar Mama lebih bersabar dan semangat dalam menjaga dan mendidik ku. Tak lupa mama juga memberikan sebagian oleh - oleh dari Gunung Kidul untuknya.


"Ini nanti dimasak, oleh - oleh dari Gunung Kidul ya cuma seperti ini." kata mama


"Iya daerahnya memang kering." kata Mbok Temu.


Mama tidak perlu menjelaskan tentang kondisi lingkungan tempat nenek. Dia sudah pernah ke Gunung Kidul ketika mengantar mama saat nikah. Mbok Temu mempersilahkan kami untuk mandi dan istirahat. Perjalanan panjang pasti membuat kami menjadi lelah dan ngantuk. Terlebih aku, badannya seperti mau patah. Soalnya aku tidak nyaman selama perjalanan. Aku mabuk kendaraan. Mulai berangkat hingga pulang, aku selalu mabuk.


...


Pagi - pagi.


Simbok batuk - batuk. Mama pun menjadi kawatir dan mengambilkan air putih hangat.


"Mbok, nggak papa kan?" kata Mamaku.


"Aku, nggak papa kok, Sri, jika aku nanti dipanggil Gusti Alloh. Aku nitip cucuku, Nara. Sayangi dia, jangan dibentak - bentak, sabar, terutama jika dia bertanya tentang bapaknya, jelaskan dan beri pengertian." pesan Simbok.


" Simbok, tu ngomong opo to (Simbok berbicara apa sih), kok seperti mau ninggalin aku dan Rara. Simbok masih harus jaga Aku dan Rara. Kalau simbok pergi aku dah nggak punya siapa - siapa lagi buat jadi tuntunanku." isak mamaku.


Simbok kemudian berdiam dan memejamkan mata


"Wektu ne Simbok iki ora suwe meneh, Sri (Waktu ku ini tidak akan lama lagi). Kamu harus ikhlas dan satu pesenku, jaga baik - baik Rara. Sebentar lagi dia akan merasakan Penderitaan dan tekanan batin yang hebat karena ulah dan nafsumu." kata Simbok


"Maksudnya, Mbok?" kata mamaku binggung.


Simbok hanya tersenyum dan kemudian berbaring.


-------


Sore menjelang malam, badan Simbokku panas dingin


Mamapun memanggil dokter Parno untuk memeriksa keadaan Simbok. Dokter kemudian memeriksa Simbok dan diberikan obat. Simbok kemudian istirahat dan tidur. Kebetulan malam ini, Simbok tidurnya di dalam rumah. Aku pun sedikit curiga dan merasa aneh. Simbok nggak seperti biasanya tidur di dalam rumah. Aku pun nggak berani menganggu tidurnya Simbok, yang ku tau Simbok lagi sakit.


Aku pun tidur sama Mama di kamar kami. Dalam lelapku, ku mendenggarkan isak tangis Mamaku, yang mengusap kepalaku dan meminta maaf karena sudah membentakku dan sedikit menceritakan tentang bapakku. Mama pikir aku sudah tidur pulas. Padahal, Aku masih mendengar Mama. Entah kenapa malam ini aku tidurnya tidak nyenyak. Aku kepikiran Simbok terus.


----


Pagi - pagi subuh, Mamaku sudah histeris memanggil - manggil Simbok dan teriak minta tolong. Aku masih belum bangun tapi tetanggaku sudah banyak yang berdatangan. Ada yang menanggis dan menyiapkan segala sesuatunya.


Aku bangun dan kaget, karena rumahku banyak orang.

__ADS_1


Bude cuma bilang "Ra, hari ini kamu nggak usah sekolah dulu, ya. Cuci muka, gosok gigi, gek sarapan, ini bude sudah nggorengke telur."


Aku lihat ruangan depan kemudian keluar rumah. Aku melihat Simbok sudah dipangku oleh tetangga dan dimandikan. Aku tahu bahwa ritual itu adalah proses memandikan jenazah.


"Simbook, simboook...simboook" teriakku dan kemudian aku menanggis sejadi - jadinya. Aku sangat kehilangan sosok Simbok yang sangat aku sayang.


Mama kemudian menghampiriku dalam tangisan dan berkata "Ra, Simbok wes tenang saiki neng Swargaloka ro Mbah Kakung (Ra, Simbok sekarang sudah tenang di surga bersama kakek). Sekarang kita hidup berdua ya." isak mamaku.


Aku hanya menanggis sambil melihat jenazah Simbokku. Simbok kemudian ditidurkan di atas meja yang penuh dengan bunga dan sesaji. Tetanggaku sibuk memasak, membuat rangkaian bunga, dan menyiapkan segala sesuatunya. Aku kemudian mendekati jenazah Simbok sambil menanggis dan berkata


"Mbok, kok kamu tega ninggalin aku dan mama to, Mbok?"


Pakde Lulu kemudian menghampiriku dan berkata "Wes, Nduk, Simbok wes tenang. Doakan saja Simbok yo mugo - mugo Simbok manunggal dengan Brahman. (doakan simbok semoga menyatu dengan Tuhan)"


Aku kemudian meninggalkan Simbok dan Aku mandi. Aku menggunakan baju yang baru saja dibelikan oleh mamaku.


-----


Kawan - kawan sekolahku pun berdatangan untuk melayat bersama guruku. Mereka menyalamiku satu per satu dan mengucapkan bela sungkawa.


Prosesi meninggalnya Simbok dilakukan dengan menggunakan cara Hindu. Umat Hindu desaku sembahyang dan mendoakan Simbok agar diterima di sisi Brahman. Ku dengarkan kidung layu - layu, panjang ilang, dan mantra - mantra kematian lainnya.


Aku hanya bisa menanggis terus. Aku lihat Mamaku yang juga tak pernah berhenti menanggis.


------


Pukul 13.30 adalah saatnya jenazah Simbok dimasukan dalam peti mati. Peti dihias dengan untaian bunga - bunga segar nan cantik. Aku dan Mamaku kemudian 3 kali menerobos dibawah peti mati Simbok. Aku juga kurang tau maksudnya apa, tapi aku ikuti saja perintah Mama.


Pukul 14.00 saatnya jenazah Simbok dikebumikan. Daerahku jika orang Hindu meninggal tidak dikremasi atau di Aben tapi dikebumikan seperti yang lainnya. Aku melihat salah seorang warga menaburkan beras kuning dan recehan uang. Aku juga memcium aroma kemenyan yang sangat menyengat.


Aku hanya melihat usungan jenazah Simbok menuju pemakaman.


"Selamat jalan, Mbok. Terimakasih sudah menjadi pelita di kehidupan ku. Terimakasih telah menyayangi kami." kataku dalam hati.


Upacara atau selamatan kematian di rumahku digelar secara rutin selama 7 hari. Banyak keluarga, kerabat, dan tetangga yang datang untuk tirakatan dan sembahyang mendoakan arwah Simbok.


Selamatan orang meninggal bagi orang jawa dilaksanakan pada kurun waktu tertentu. Diantaranya selama 7 hari berturut - turut. 40 hari, 100 hari, 2 tahun, dan terakhir adalah 1.000 hari. Setelah itu maka akan dipasang batu nisan (nyandi). Tanah kuburan diganti dengan semen kemudian dipasang keramik.


-------


**jangan lupa vote and like ya teman - teman.


Terimakasih atas waktunya


tunggu episode berikutnya ya**

__ADS_1


with love


Citralekha


__ADS_2