
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, comment, dan rate bintang ya*
Happy reading
Aku masih di pesanggrahan Gandapura. Tempat itu merupakan tempat yang indah, sejuk, penuh tanaman bunga. Aku berkeliling lokasi itu. Di dalamnya terdapat 2 buah kolam kecil yang ditumbuhi pohon teratai biru dan merah.
"Rakyan, apa kamu suka tempat ini?" tanya Satria.
Entah sampai kapan ia berada di belakangku. Ia sudah menggunakan pakaian yang lebih santai. Wajah tampannya selalu menyihirku. Aku merasakan bahagia yang tidak terkira. Ternyata pasanganku di abad ini adalah seorang pangeran yang gagah dan cakep.
"Rakyan ..." sapanya lagi.
Aku masih mematung dan memandangi wajah tampannya. Entah ini mimpi atau nyata, aku bisa menatap wajah ksatria yang ada di depanku. Wajahnya terasa tak asing di ingatanku.
Aku berusaha mengingat tentang wajah yang familiar itu. Aku perhatikan dia baik - baik. Aku baru sadar bahwa wajah cakep itu seperti wajah teduh arca Dewa Siwa Candi Prambanan. Aku kemudian tersenyum.
"Eh iya Kak Satria. Suka banget kok, indah dan nyaman." kataku
"Tempat ini di desain agar penghuninya tidak merasakan penat. Harapannya selalu memberikan kebahagiaan." terangnya
"Siapa yang membangun ini, Kak?" tanyaku
"Kakekmu." katanya
Aku kaget dengan perkataan Rakai. Apakah kakekku Harjo Driyo. Tapi bagaimana ini bisa terjadi. Tapi di abad ini kalau menurut cerita mas Fais. Kakekku adalah seorang raja yang gagah berani. Namanya Tejahpurna Panangkaran (permata Dinasti Syailendra). Beliaulah pendiri Tara Bawana (Candi Kalasan).
"Kakekku siapa?" tanyaku penasaran
"Tejaning Syailendra Wangsa." katanya
Teja adalah sina. Bisa diartikan sebagai sinar permata. Aku ingat perkataan Fais. Permata Dinasti Syailendra adalah Rakai Panangkaran. Benar saja apa yang diceritakan oleh Fais sebelum aku masuk ke sini.
Aku berpikir bahwa pertemuanku dengan Fais merupakan harus hidup. Serta bekal ku untuk masuk ke dunia ini. Agar aku tidak terlalu buta dengan abad ini. Setidaknya aku tahu bahwa kehidupan ku di dunia ini baik - baik saja.
"Rakai Panangkaran?" tanyaku mengkorfirmasi.
Satria hanya mengangguk dan mengajakku masuk ke dalam. Dia sembari menjelaskan kehebatan kakekku. Dia juga menceritakan, bahwa kita berdua adalah saudara misan. Kami berasal dari satu Dinasti besar, yaitu Syailendra Wangsa.
Selama ini aku hanya mengetahuinya dari buku sejarah dan cerita dari Mas Fais.
"Mau kemana?" tanyaku.
"Makan malam ... emang kamu nggak lapar?" tanyanya
Aku baru ingat kalau aku belum makan malam. Perutku juga sudah berbunyi. Aku penasaran dengan makanan pada abad ke - 9. Apakah makanannya sama seperti yang ada di relief Candi Brahma.
"Rakyan ... semoga kamu suka dengan masakan juru masak istana." katanya
"Aku mau coba." kataku
Tak berapa lama, kami sampai di sebuah ruangan besar. Ada beberapa meja yang terbuat dari kayu jati. Ada juga vas bunga dan api dipa. Benar - benar mewah ruang makan ini.
"Hei ... lilin ini mirip dengan relief Candi Sewu." kataku
"Kamu pernah melihat lampu seperti itu di dunia barumu?" tanyanya
"Pernah ... aku ingat ini ada di relief candi." kataku
__ADS_1
Aku heran, Satria bisa mengingat candi Sewu. Tapi dia tidak mengingat tentang Candi Prambanan. Dalam hati aku hanya ngebatin, kalau apa yang dikatakan Pandita Narada benar. Satria hanya akan mengingat ttg Manjusri Grha.
Dayang yang mendengar ucapanku kemudian menjatuhkan piring perunggu yang penuh dengan buah.
Sepertinya dia kaget tatkala aku bilang dari masa depan. Aku kaget dan khawatir jika dia akan curiga dan membocorkan rahasiaku.
"Maaf paduka Rakai." katanya gemeteran.
Aku kemudian mendekati dayang itu. Aku juga membantu mengambil piring dan beberapa buah yang berserakan. Aku bingung harus bagaimana menjelaskan pada dayang.
"Terimakasih paduka Rakyan. Hamba bisa melakukannya sendiri." katanya gemetaran.
"Lain kali hati - hati." kata Pasopati. Ia muncul dari balik pintu dan langsung memarahi dayang.
Pasopati segera menjelaskan bahwa apa yang dayang dengar tadi salah. Dia menjelaskan kalau kami habis dari sebuah tempat yang jauh sebelum bertemu kembali dengan Satria.
"So, kamu dari mana saja?" tanyaku
"Aku tadi membereskan sesuatu." kata Pasopati
Aku tahu apa yang dimaksud Pasopati. Ia membereskan prajurit dari Kerajaan Keling. Aku kemudian mempersilahkan Pasopati untuk makan malam bersama. Aku juga menceritakan tentang kejadian tadi siang bersama para berandal. Tapi pertemuan dengan Pandita Narada tidak aku ceritakan.
"Pasopati, ayo ikut makan malam bersama kami." ajakku.
Ia kemudian menoleh ke arah Rakai. Maksudnya ialah meminta izin dari sang pangeran.
"Nggak usah Rakyan. Kalian makan berdua saja." kata Pasopati kemudian keluar dari tempat makan.
Pasopati segera melangkahkan kaki keluar ruangan. Aku melihat wajah Satria yang tak bersahabat. Terlebih seharian ini aku sudah bersama Pasopati.
"Rakyan ... ayo makan. Kembul bujono raja mangsa sudah bisa dinikmati." katanya
"Rakyan kamu mau makan apa?" tanya Rakai sembari memberiku piring perunggu.
"Eeh iya ... bagaimana kalian mendapatkan cumi - cumi, udang, dan kepiting?" tanyaku.
Jelas aku penasaran, karena laut dari istana Medang lumayan jauh. di masa depan saja dari daerah Prambanan menuju pantai butuh waktu satu jam naik motor. Jadi jika di abad ini mau ke pantai mungkin butuh waktu sehari dengan menggunakan kereta kuda. Apalagi jalannya tidak seperti jalan di masa depan.
"Kami mendapatkan dari daerah Wuatan Tija. Daerah pesisir selatan. Mereka kemudian menjual dan memberikan kepada istana. Apa kamu suka?" katanya.
Aku masih bingung. Mereka masak dengan bumbu apa. Aku kemudian mengambil beberapa makanan yang menurutku menarik.
Aku mengambil udang, ayam kampung, dan ikan gabus, juga menyendok beberapa sayur daun ketela
"Coba bungkusan ini, Rakyan." katanya.
Satria mengambilkan sebuah bungkusan dari daun pisang.
"Apa ini?" tanyaku
"Buka saja." katanya
Aku kemudian membuka bungkusan itu. Ternyata pepes ikan gabus dan cumi. Aku kemudian mencicipinya.
"Enaaak kak." kataku
"Ini dimasak dengan cara di bakar dan dibumbu dengan garam, air nira, bawang, dan cabe." katanya menerangkan makanan itu.
__ADS_1
"Air nira?" tanyaku.
Ia kemudian mengambil sebuah kendi dan kemudian menuangkan dalam gelas gerabah.
"Ini air nira. Petani menyadap dari pohon nira pilihan." katanya.
"Maniiis ... enaak banget kak." gumamku sambil menghabiskan air dalam gelas.
Satria kemudian mengambil kendi lainnya.
"Ini coba." katanya
"Air gula aren ya Kak." kataku
Ia hanya mengangguk kepala. Tak berapa lama kami selesai makan malam. Satria mengajakku menuju sebuah kamar.
"Kamu istirahat di sini ya." katanya
Aku mengamati kamar ini lumayan besar dan mewah. Ada lampu minyak yang ditata dengan indah.
"Wah kamarnya bagus, Kak." kataku
"Kamu suka?" tanyanya
"Suka." jawabku singkat.
Aku kemudian memeluk Kak Satria, sebagai tanda terimakasih. Dia mengelus kepalaku dengan lembut. Ia juga melepaskan pelukanku. Ia memandangiku, aku kemudian menutup mata.
Ia menciumku. Ini adalah ciuman pertamaku. Ciumanku diambil oleh seorang lelaki yang belum lama ku kenal.
Aku tidak bisa bertahan lama. Aku tidak bisa bernafas.
"Huuuuh ... Aku nggak bisa bernafas." kataku
"Maafin kakak ya, terlalu semangat." katanya
"Oh iya, kakak nggak tidur di sini kan?" kataku khawatir.
Ia hanya menggelengkan kepala dan mencium keningku. Ia meninggalkanku sendiri di kamar itu. Aku masih tidak percaya ini semua terjadi padaku. Ada rasa senang yang luar biasa. Rasa ingin memilikinya.
"Kak Satria tunggu." kataku
"Kenapa? kamu ingin mengajakku tidur dalam kamarmu?" tanyanya sambil tersenyum.
"Tidaaak ... jangan harap." kataku
"Lalu?" tanyanya?
"Bisakah kamu bawa aku bertemu dengan orang tuaku di dunia ini?" tanyaku
"Tentu, besok setelah mandi dan sarapan kita langsung berangkat ke kota raja." katanya.
Aku kemudian masuk ke dalam kamar. Aku penasaran siapa orang tuaku di abad ini. Aku harus mencari tahu tentang aku di dunia ini. Aku ingin segera kembali ke duniaku abad 21.
**
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah mampir dalam ceritaku.
__ADS_1
With love
Citralekha.