Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Kedatangan Aura


__ADS_3

Haaai ...


Kembali lagi,..


Spesial di Season 2,. i am back.


Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis.


Happy reading


***


Ternyata mereka melihatku. Mereka segera menyapaku.


"Ada yang bisa di bantu, mbok?" tanyanya


Mbok adalah sebutan untuk orang perempuan yang lebih tua. Atau bisa juga menyebut "luh" untuk orang yang lebih muda.


"Saya mau minta air putih" kataku mencari alasan


Mbok Putri salah seorang pengurus vila kemudian menunjukan tempat minum. Aku pun kemudian mengambil gelas dan minum. Padahal aku tidak haus. Setelah itu, aku kembali ke ruang tengah.


"Naaah ... bos nya datang.. yang baru datang harus mbayari." kata Pak Gede


Pak Gede juga mem punyai selera humor yang baik. Beliau lakukan itu untuk mencairkan suasana. Serta menambah keakraban sesama anggota peneliti.


"Ada apa ini, apa yang sudah aku lewatkan?" tanyaku


"Kami mau lihat pertunjukan Topeng Rangda. Nah, kamu kan baru saja datang. Jadi kamu yang harus bayari tiketnya." kata Gusde disambut tawa yang lainnya.


"Tenaang ... duit ku banyak kok," kataku sambil melirik ke Pak Gede.


Maksud aku tu meminta izin secara tersirat untuk menggunakan uang kas yang aku bawa. Sepertinya beliau tahu makna lirikan. Pak Gede hanya menganggukan kepala.


"Emang tiket nya berapa?" tanyaku


"Rp 100rb per orang, ini ada 10 orang. Cuma sejuta ini, Nara. Skalian nanti beli minum dan cemilan. Jadi total Rp 1,5 jt." tetang Gusde lebih lanjut


"Gampaaang ... tinggal potong honor kalian saja, hahah" kataku sambil tertawa. Pak Gede pun ikut tertawa.


"Mr Prasta, sekretaris saya ini memang cerdas. Solutif banget, jadi setuju ya potong honor?" tanya Pak Gede sambil bergurau.


"Nggak jadi deh kalau gitu." kata Gusde sambil manyun


Kami pun lalu tertawa bersama. Kecerian dan candaan memang kita lakukan. Sebelum besok pada stres dengan instalasi peralatan. Gusde pun mempunyai tugas untuk membeli tiket. Kami harus booking lebih dahulu, sebelum kehabisan.


"Bli Putu kita ke Batu Bulan sekarang saja ya. Nara mana duitnya, skalian uang bensin, uang jajahannya Gusde dan Bli Putu. Trus ..." kata Gusde menghitung rinciannya. Tapi belum selesai merinci, aku sudah memotongnya


"Trus ... habis itu honor kamu yang ditangguhkan." kataku sambil tertawa kemenangan


"Curang mah Nara, dikit - dikit potong honor." kata Gusde sambil manyun. Teman lainnya pada pecah ketawanya.


Mas Adi yang biasanya kalem pun ikut nimbrung.


"Gusde, jangan lupa nyonyo." kata Mas Adi


Orang Bali lainnya yang ngerti dengan bahasa itu langsung tertawa ngakak. Aku, Mbak Yesi, dan Prasta hanya saling lirik.


"Sing nawang Nara apa itu nyonyo?" tanya Mas Arya.


Aku yang paham Bahasa Bali dikit - dikit. Tahu maksud pertanyaan Mas Arya. Dia bertanya apakah aku tidak tahu apa itu nyonyo.


"Sing nawang tiange, Bli. Apa itu nyonyo?" balasku


Kemudian diikuti tawa dari yang lainnya. Bahkan kami bertiga tidak pernah diberitahu apa artinya nyonyo. Baiklah karena tidak ada yang ngasi tahu. Kami pun tidak mengungkitnya lagi.


Gusde dan Bli Putu berangkat ke Batu Bulan. Mereka akan membeli 12 tiket. 2 tiket untuk Satria dan Tamara. Meskipun Tamara bukan bagian dari tim peneliti. Tapi kami sudah menganggapnya sebagai teman.


*


Bandara (Satria dan Tamara).


Mereka landing pukul 14.00. Kami tidak perlu menjemput mereka. Menurut Tamara, temannya akan menjemput. Tamara pun menghubungi Aura untuk stand by.

__ADS_1


^Aura, kami sudah landing^ pesan Tamara


^Pintu keluar langsung ya say^ kata Aura


Aura pun sudah menunggu mereka di pintu keluar. Tak lama kemudian mereka bertemu. Mereka seperti cewek - cewek lainnya. Cipika cipiki.


"Mana lelaki yang hendak kamu kenalkan sama aku? Kamu enggak mungkin kan memberikan Satria untukku?" tanya Aura


Tamara pun langsung mencubit pinggang Aura.


"Jangan berani merebut Satriaku" kata Tamara diikuti dengan tawa


"Mau ngobrol di sini? kalau gitu aku pesan taxi saja." kata Satria


Obrolan 2 cewek itu lalu terhenti. Aura mempersilahkan mereka berdua naik ke mobilnya. Selama perjalanan, Tamara selalu membahas Prasta. Tapi Satria mendukung Aura untuk mendekati Prasta.


"Kamu mendukung sayang?" tanya Tamara


"Iya, kasihan dia masih jomblo." kata Satria


Tamara merasa senang sekali. Usahanya mengenalkan Prasta dan Aura akan berjalan lancar.


*


Satria POV


Aku mengizinkan Tamara menjodohkan Prasta dan Aura. Sebenarnya aku tidak rela sahabatku bersama Aura. Tapi demi usahaku mendekati Nararia. Aku akan mendukung Tamara. Aku merasa ada yang lain dengan Nara saat pertama bertemu.


"Mungkinkah aku jatuh cinta dengan Nara?" tanya Satria dalam hati.


Tapi Tamara adalah putri Medang. Dari dulu, aku ingin sekali bersanding dengannya. Kali ini adalah kesempatan emasku. Tapi kenapa ya, hatiku condong ke Nara. Kalau aku merebut Nara, pasti Prasta akan marah padaku. Persahabatabku bisa retak karena seorang wanita.


Tapi mereka berdua (Tamara dan Nararia) tidak tahu kebenarannya. Nara hanyalah wanita biasa. Tidak mungkin aku menikah dengan wanita biasa. Dia akan kalah dengan aura dari dalam tubuhku. Aku kasihan dengan dia. Tapi jika dia dengan Prasta. Dia bisa hancur, karena keagungan Prasta.


*


Aku dan Prasta


Kami berdua sedang berjalan - jalan menghirup udara segar vila. Prasta lalu menuju sebuah pohon kamboja warna kuning.


"Iya, lebih cantik lagi jika ada di telingamu." kata Prasta sambil menyelipkan bunga itu di telingaku.


Sesaat mata kami beradu.


deg


"Makasih" kataku lalu menundukan kepala


"Maaf Nara, aku ..." kata Prasta tertahan karena ada yang memanggil kami.


"Prasta, Nara" suara seorang wanita


Kami berdua pun lalu menoleh. Terlihat oleh kami. Mereka adalah Tamara dan Satria. Prasta segera memeluk Satria. Sedangkan aku memeluk Tamara.


"Prasta kenalkan ini sahabatku namanya Aura." kata Tamara


Aku kaget, ternyata Tamara ke sini bersama temannya. Aura pun mengulurkan tangannya. Tapi Prasta masih ragu. Dia melirik ke arahku. Aku hanya tersenyum.


"Oh hai ... Prasta" kata Prasta sambil menjabat tangan Aura.


"Semoga kalian berjodoh ya." kata Satria


Aura terus memandangi wajah tampan Prasta. Mereka berempat pun seolah melupakan aku. Aku pun hendak pergi, tapi lenganku ditahan oleh Prasta.


"Kenalkan ini Nara" kata Prasta


"ups.. maaf Nara aku lupa." kata Tamara


"Never mind" kataku


Aku pun kemudian menjabat tangan Aura. Ada tatapan sinis pada matanya.


"Aku merasakan hawa kurang baik" bisik Adhiraksa

__ADS_1


Aku pun kaget bukan main. Hantu itu selalu muncul tiba - tiba.


"Iya aku juga, ada bayangan hitam." batinku


Mas Arya pun kemudian nyamperin kami. Dia mempersilahkan Satria, Tamara untuk masuk. Tapi seperti biasa Tamara merengek agar Aura bisa tinggal bersama mereka. Alasannya agar selama project. Tamara bisa temani oleh Aura. Tentu saja Pak Gede tidak bisa menolaknya.


Tamara pun satu kamar. Sedangkan Satria bersama Prasta. Aku pun masih ingin berkeliling desa ini.


"Prasta ayo masuk temani Aura" kata Tamara


"Maaf tidak bisa, aku dan Nara mau jalan - jalan." kata Prasta lalu menggandeng tanganku dan pergi dari hadapan mereka.


"Kalian jalan - jalan saja, aku akan selidiki Aura. Tapi tangannya tolong dilepas." kata Adhiraksa


"Sirik saja jadi orang, eh jadi hantu ding." kataku sambil tertawa


"Wooy aku pangeran Medang bukan hantu" kata Adhiraksa tak terima.


Ternyata tawa kecilku karena ulah Adhiraksa menarik perhatian Prasta.


"Kamu kenapa tersenyum gitu?" tanya Prasta


"Eh tidak, aku hanya membayangkan saja. Betapa Tamara kecewa karena kamu tidak mau menemani aura. Tapi Aura itu cantik lho. Kalian serasi dan cocok." kataku


"Tapi maaf Nara, aku sudah jatuh cinta pada seorang wanita." kata Prasta


Mendengar penuturan Prasta Aku sedikit kecewa. Entah kenapa, aku nyaman dengan Prasta. Tapi ternyata Prasta sudah mencintai orang lain. Aku pun langsung melepaskan tangannya


"Kenapa?" tanya Prasta


"Kamu sudah milik orang lain." kataku


"Bukan Nara, aku belum berani mengungkapnya. Aku masih harus membuktikan. Apakah dia bener- bener cintaku atau tidak." kata Prasta


Prasta pun kemudian mengenggam tanyaku dengan erat.


"Kenapa?" tanyaku


"Aku nyaman sama kamu." kata Prasta


Setelah itu, kami lanjut berjoging. Pemandangan dan sedikit angin membuatku nyaman. Demikian juga dengan Prasta.


"Nara apa kamu tentang leak?" tanya Prasta


"Hah leak?" tanyaku


"Iya, itu semacam ilmu gaib yang berkembang di Bali." kata Prasta


Aku memang pernah mendengarnya. Tapi tidak tahu bagaimana dengan wujud dan rupa nya.


"Kenapa tiba - tiba tanya itu?" tanyaku penasaran.


"Kita harus waspada, aku merasakan ada bayangan hitam pada diri Aura." kata Prasta.


*


Gusde dan Mas Putu sudah kembali. Betapa senangnya kami. Kami berhasil mendapatkan tiket. Jadi besok sore, kami semua akan menonton pertunjukan Rangda.


***


Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.


Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment ya.


next :


Kejadian apa yang akan terjadi setelah kedatangan Aura?


Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.


terimakasih


With love

__ADS_1


Citralekha


__ADS_2