
*Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Perjalanan ku kali ini sangat menyenangkan. Dimana bisa masuk ke masa lalu dan mengenal siapa kakek buyutku. Perjalanan selanjutnya adalah kita menuju Siwa Sthana.
Aku sudah membayangkan jika rumah untuk Siwa adalah sebuah candi. Ya, candi dengan latar belakang agama Hindu Siwa.
Aku sudah tidak sabar ingin segera sampai ke Siwa Sthana. Maka dari itu, aku segera mengajak Puspa dan Kencana untuk menuju ke lokasi yang mereka maksud.
"Ayo segera kita ke Siwa Sthana." ajakku
"Baik putri, ayo kita ke sama." kata Puspa
Segera aku menggandeng ke dua lengan mereka. Kali ini aku yang inisiatif untuk segera sampai ke lokasi yang dituju.
Tak berapa lama kita sampai di sebuah candi yang pada bangunan utamanya terdapat sebuah bangunan pendopo dari kayu.
Candi yang megah. Terdapat sebuah candi utama dan 3 buah candi pendamping. Candi itu terbagi menjadi 3 halaman. Halaman utama yang seperti tadi (1 candi induk, 3 perwara, 8 lingga semu (pembatas santuary area).
Halaman 2 dipakai sebagai tempat tinggal para pendeta dan pengikutnya. Sedangkan halaman 3 digunakan untuk aktivitas keagamaan yang lain, seperti kegiatan meditasi, belajar agama, belajar membuat relief candi.
Siwa Sthana bentuknya sangat unik dan mungil. Tidak seperti Candi Kalasan (Tara Bhawana), yang kaya akan relief kala yang sempurna. Siwa Sthana adalah kompleks percandian yang sederhana.
"Inikah Siwa Sthana?" tanyaku
"Iya putri, candi yang dibuat oleh salah satu anak dari Rakai Panangkaran." jawab Puspa.
"Aku boleh masuk?" tanyaku
"Tentu saja, kenapa tidak." kata Puspa
Kami melangkahkan kaki masuk ke santuary area. Sebelum itu, aku melakukan pembersihan diri. Menggunakan tirta panglukatan (membasuh muka, tangan, kaki, dan ubun - ubun kepala dengan air).
Aku perlahan - lahan mengamati lingkungan sekitar. Aku juga heran dengan lingga kecil yang dipasang mengelilingi lokasi suci
"Kenapa lingga ini bentuknya sangat kecil?, lalu kenapa lingga ini tidak dimasukan ke dalam bangunan candi saja" tanyaku penasaran
Melihat hal itu, Kencana tersenyum dan mengajakku untuk menuju sebuah lingga semu.
"Ini bukan lingga pemujaan, putri." kata Kencana
"Lalu?" tanyaku
"Ini adalah lingga patok. Sebagai tanda batas area suci. Secara mistis untuk menghalau kekuatan jahat hang hendak masuk ke santuary area." jelas Kencana
__ADS_1
Setelah itu, aku menjadi paham akan penjelasan dari Kencana. Selanjutnya aku mengajak mereka masuk ke bangunan perwara sebelah selatan.
Pada candi ini ukurannya lebih kecil dari bangunan utama. Terdapat tangga masuk. Sedangkan pagar langkan tak berelief. Akan tetapi terdapat antefik (hiasan segitiga) yang terdapat pada pagar atas candi.
Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam. Aku juga melihat ada kala dan Mama dan pada tangga dan ambang pintu.
"Di dalam sini ada apa?" tanyaku
"Ada ibu Parwati sebagai Yoni." jawab Puspa
Ternyata di dalam candi perwara selatan terdapat sebuah Yoni yang besar. Yoni tersebut sama seperti yoni kebanyakan. Terdapat cerat yoni sebagai lubang untuk mengalirkan air tatkala air suci di siram di atas lingga. Cerat Yoni disangga oleh naga raja. Mitologinya adalah dewa Basuki sedang menyangga ibu pertiwi (ibu bumi).
Aku melakukan doa kepadanya. Tak lupa aku berdoa agar Satria berhasil dalam semadhinya. Berharap dia akan segera kembali padaku membawa senjata dan pelajaran kehidupan sebelum nantinya dia menjadi maha raja di raja.
Setelah itu, aku turun ke bawah. Aku tidak melakukan pradaksina, karena ruangannya kecil.
"Sudah putri?" tanya Puspa
"Sudah, selanjutnya a kju ingin bertemu dengan Sang Nandi terlebih dahulu." kataku
Aku segera masuk dan melangkah menuju perwara tengah (perwara utama). sama seperti perwara selatan, terdapat kala dan makara. Sampai di dalam, aku melihat sang lembu sedang duduk menghadap sang dewa utama.
"Nandi, kita bertemu lagi. Meskipun sekarang kamu berupa arca batu. Tapi aku masih ingat bagaimana tingkah polahmu saat di Kailasha." kataku
Tiba - tiba aku mendengar suara damaru. Aku langsung membuka mata dan di depanku sudah duduk diatas arca nandi.
Aku segera mengucapkan salam dna hormat kepada pimpinan para sapi.
"Apa kabar putri?" tanyanya
"Aku baik dewa Nandi, tapi..." Aku tak jadi melanjutkan perkataanku
Nandi pasti tahu apa yang sedang aku khawatirkan.
"Tenang lah pangeranmu sedang berada di Kawah Candradimuka untuk melakukan latihan perang dan berbagai petuah suci dan ajaran Astabrata." kata Nandi
"Kapan dia akan kembali?" tanyaku
"Tunggulah, Setelah kau selesai mengenali leluhurmu. Dia akan kembali." katanya
Setelah itu dia menghilang. Itu artinya Satria sedang berada di alam dewa menerima pelajaran sebelum menjadi raja. Sedangkan aku mendapatkan tugas untuk mengenali silsilah keluargaku.
Setelah itu aku turun dan naik ke perwara utara. Di dalamnya tidak terdapat apa - apa. Tapi aku melihat bahwa ada pendeta hang menggunakan tempat itu untuk menyalakan api pemujaan. Aku tak mau menganggu mereka. Meskipun mereka tidak dapat melihatku.
Aku turun ke bawah dan tiba - tiba mendapatkan sebuah gambaran yang mengerikan. Banjir lahar dan dentuman Gunung Merapi. Semua lahar masuk dan memendam candi ini. Aku pun segera jongkok dan menutup kepalaku dengan kedua tangan.
Melihat hal itu, Puspa langsung menyentuh bahuku.
"Ada apa putri?" tanya Puspa khawatir
__ADS_1
"Puspa, aku melihat ada banjir lahar dan Gunung meletus." kataku
"Itu lah yang akan terjadi di masa depan." kata Kencana
"Suatu saat kamu akan tahu. Ayo naik ke candi utama." kata Puspa
Sepertinya mereka belum ingin memberitahukan kepadaku apa yang akan terjadi di kemudian hari. Aku pun tidak menghiraukannya lagi. Segera melangkah naik. Desiran angin menyibakan kain yang aku pakai. Itu sebagai pertanda bahwa aku diterima di candi ini.
Aku kemudian melakukan pradaksina terlebih dahulu. Sama seperti Candi Siwa kebanyakan. Sisi utara terdapat sebuah relung yang berada Arca Dewi Surga. Sisi timur terdapat Ganesha, dan sisi selatan terdapat Maha guru.
Pada kanan dan kiri pintu masuk terdapat arca Nandiswara dan Mahakala. Setelah itu, aku masuk ke dalam. Di dalamnya terdapat sebuah Lingga dan Yoni yang besar.
Batu lingga terbuat dari batu andesit pilihan. Batu itu mengkilat Pada lingga terdapat 3 bagian. Brahma bhaga berbentuk persegi. Wisnu bhaga berbentuk segi enam, dan Siwa bhaga berbentuk silinder.
Aku kemudian melakukan doa dan puja. Setelah itu, aku melakukan pradaksina sebanyak 3x. Aku juga merasakan ada seseorang yang sedang menuangkan air di atas lingga. Karena pada cerat yoni mengalir air yang membasahi kepalaku tatkala aku duduk bersimpuh di hadapan naga raja.
Aku segera mendongak dan ternyata Sang Rsi Narada yang memberikan air tirta itu kepadaku. Setelah itu beliau langsung menghilang tanpa bersuara apapun juga.
Aku segera turun ke bawah menemui Puspa dan Kencana. Tiba - tiba aku melayang bersama mereka. Aku melihat sebuah keajaiban. Dimana aku bisa menembus masuk ke dalam candi.
"ahei apa itu yang bersinar terang?" tanyaku
Aku melihat sebuah cahaya berasal dari dasar candi utama. Setelah itu cahaya naik dan tepat berada di depanku. Sinar itu lama kelamaan redup dan membentuk sebuah lempengan emas.
"Apa ini?" tanyaku
"Itu adalah peripih atau pusat energi dari sebuah candi. Itu juga sebagai tanda bahwa bangunan suci ini bernama Siwa Sthana." kata Puspa
Jadi lempengan emas itu berupa mantra suci yang berbunyi 'Om Siwa Sthana'. Hormat kepada rumah Dewa Siwa. Dan aku paham sekarang, bahwa candi ini bernama Siwa Sthana. Emas itu adalah peripih emas sebagai pusat energi dari candi ini.
"Kencana, aku masih penasaran. Setelah Rakai Panangkaran, siapakah pengganti beliau?" tanyaku
"Namanya Sri Maharaja Rakai Panunggalan." kata Kencana
Setelah itu, mereka mengajakku ke sebuah tempat yang menurut mereka adalah Bhiksu Grha. Sebelum itu, sekali lagi aku melihat keindahan Siwa Sthana.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya.
Siwa Sthana pada masa sekarang dikenal sebagai nama Candi Sambisari. Candi tersebut letaknya berada di seberang Kesatrian Akademi Angkatan Udara DIY (sekitar 1 km).
Jangan lupa untuk mampir di karya baruku yang berjudul "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku".
With love
Citralekha.
__ADS_1