Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Lembaran Baru


__ADS_3

** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**


Happy reading.


.


.


Dalam keadaan mata terpejam, Aku merasa seperti berada di sebuah tempat tidur. Aku merasakan angin sepoi yang lembut dan sejuk. Lalu ku dengar suara lelaki yang tiba - tiba memanggilku.


"Putri Nararia ... banguuun" teriakan seseorang


Aku pelan - pelan membuka mata. Aku pandangi wajah lelaki yang memandangi ku. Senyumnya sangat manis, ya manis sekali. Aku merindukan wajah itu. Aku tatap 2 orang lelaki yang duduk di sampingku.


Aku seperti orang sakit yang ditunggui oleh 3 lelaki. Lama sekali aku memandang mereka satu per satu.


"Hey, kamu kenapa sih lihatin kami seperti itu?" tanya lelaki manis itu


Aku memejamkan mata. Aku harus memastikan lelaki yang ada di depanku bukanlah ilusi.


"Rara ... ayo banguuun." kata lelaki satunya.


Aku tersenyum dan tanganku mengarah ke pipi gemas lelaki manis itu.


"Dikaaaaaa" kataku


Aku langsung memeluk Dika. Ya lelaki yang aku rindukan. Aku sangat kangen banget sama mereka. Aku makin erat memeluknya. Hingga dia merasa sesak.


"Rara! lepaskan aku. Kamu apa - apa in sih?" tanya Dika


"Diem! biarkan aku memelukmu sebentar saja. Aku kangen banget. Sudah lama sekali kita tidak ketemu." kataku


Tak terasa air mataku menetes. Hingga Dika merasakan bulir bulir dingin akibat air mataku. Dika, Ivan, dan Mas Fais bingung melihat tingkahku.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Dika


Aku semakin erat memeluknya. Dika juga mengusap punggungku. Mas Fais dan Ivan masih saja bingung memandang ku.


"Apa yang terjadi, Ra?" tanya Ivan


Aku lalu melepaskan pelukan Dika. Tangan lembutnya kemudian mengusap bulir air mataku.


"Katakan padaku, apa yang terjadi? apa kau mimpi buruk?" tanya Dika khawatir.


Mukanya sangat bingung melihat tingkahku yang tiba - tiba sangat aneh menurut mereka.


"Aku kembali, Dik." kataku


Kini aku menuju Ivan. Aku memeluk tubuh tegap miliknya itu. Perlakuanku sama seperti ke Dika. Aku sangat terharu bisa memeluk dan melihat kembali sahabat tercintaku ini.


"Van, akhirnya aku kembali." kataku


"Kembali dari mana? kembali bangun dari tidur nyenyakmu itu?" tanya Ivan


Aku lalu melepaskan pelukan ke Ivan. Mas Fais sudah siap merentangkan tangannya. Tapi tiba - tiba Dika menarik tanganku.


"Kok aku enggak sih?" protes Fais.


Dika dan Ivan lalu menatap tajam mas Fais. Akhirnya yang ditatap hanya bisa senyum cengar cengir.


"Kamu kenapa ha tiba - tiba aneh gini? kamu lapar?" tanya Dika


"Enggak, aku seneng banget karena bisa melihat kembali kalian." kataku

__ADS_1


"Dari tadi cuma bilang kembali, kembali, kembali dari mana sih?" tanya Dika yang mulai kesal.


Aku lalu bertanya kepada mereka. Aku memastikan tentang diriku. Bahwa aku sedang tidak bermimpi.


"Berapa lama aku tertidur?" tanyaku


Aku tiba - tiba ingat, bahwa sebelum aku masuk ke masa lalu. Aku sedang tiduran di lantai Candi Sewu.


"Ya sekitar sejam lah." kata mas Fais sambil melihat ke arah jam tangan ya.


"Kami tu hanya meninggalkan kamu keliling candi perwara, saja. Kami kembali dan kamu ternyata sudah tertidur pulas." jelas Dika


Aku lalu meminta air kepada Ivan. Aku merasa tenggorokanku kering. Dia lalu dengan sigap memberikan aku air mineral yang ada di tas ranselku.


"Kamu minum dulu, setelah itu ceritakan pada kami. Apa yang terjadi." kata Ivan dengan sabar terus menungguiku


Setelah minum, aku lalu menarik nafas panjang. Lalu aku mulai menceritakan tentang petualanganku. Tanpa terlewat satupun aku ceritakan dari awal sampai selesai. Hingga aku mendapatkan pilihan dari Dewi Sakti.


Tawa mereka ber tiga. Mereka menganggap bahwa aku sedang mengigau.


"Lalu kalau kamu kembali ke masa depan. Kenapa kamu bisa ingat semuanya di masa lalu?" tanya Ivan.


"Iya, bukannya harusnya kamu lupa dengan kejadian di masa lalu?" tanya Dika


Aku sempat mengeryitkan dahiku. Aku baru menyadari bahwa aku ingat tentang masa lalu.


"Iya ya, kata Dewi Sakti Aku akan lupa. Tapi kenapa aku ingat ya?" tanyaku


"Meneketehe" kata mereka bertiga.


Mereka ber 3 masih saja menganggap bahwa aku telah berbohong dan hanya ilusi. Terlalu banyak hal - hal yang aku ceritakan. Mereka ternyata tidak percaya padaku. Tapi apapun itu, aku merasa bersyukur bahwa aku bisa kembali ke masa depan dengan ingatan yang masih sempurna.


"Ini sudah sore, ayo pulang." ajak Dika


Aku lalu melihat sunset di balik Candi Sewu. Sinar jingga surya sangat menawan. Aku terus memandang indahnya matahari itu. Hingga aku melihat wajah Puspa dan Kencana.


Aku langsung lari ke barat. Dika dan Ivan langsung mengejarku.


"Rara, apa yang kamu lakukan? Ayo pulang, nanti mamamu nyariin." kata Dika


Aku menoleh ke arah Dika. Aku hanya tersenyum tipis dan kemudian kembali menatap Surya. Wajah Puspa dan Kencana telah hilang. Tentu saja aku menangis. Aku telah kehilangan dua sahabat tak kasat mataku. Bahkan aku belum memberikan sesuatu untuk mereka. Mereka telah menjagaku dengan baik selama di Medang. Mungkin mereka juga yang mengantarkan aku menuju masa depan.


"Dik, aku beneran ke masa lalu. Kamu percaya kan?" tanyaku sambil berlinang air mata


Dia tersenyum dan mengusap kepalaku.


"Aku percaya ... ayo kita pulang." ajak Dika


Aku dan Dika, juga Ivan kemudian pamit ke mas Fais. Tak lupa kami ucapkan terimakasi. Karena dia, kami tahu tentang peradaban leluhurku. Terlebih aku memiliki andil yang besar terhadap pembangunan sebuah mahakarya yang indah.


Aku lalu memandang Candi Sewu dalam - dalam. Aku baru sadar, bahwa pintu ku ke masa lalu adalah Candi Sewu (Manjusri Grha). Di masa lalu, aku sebagai seorang putri yang taat kepada Sang Budha. Sehingga tak heran, jika pintu ku adalah Candi Sewu.


Tapi kini di masa depan, aku terlahir sebagai seorang Hindu. Mungkin ini adalah lingkaran karma. Jika di masa lalu, aku seorang Budha dan Satria seorang pemuja Siwa (Hindu). Kini aku sebaliknya, aku yang memuja Siwa.


Langkah kakiku semakin mantap. Kami melewati bebatuan candi yang agung. Sebelum benar - benar keluar kompleks candi ini. Kami melewati dua buah arca penjaga yang ukurannya sangat besar. Aku melihat dua arca itu tersenyum dan menundukkan kepala mereka.


"Selamat menjalankan kehidupan yang baru di masa depan, putri." kata salah satu arca penjaga


Aku hanya tersenyum dan kemudian melewati mereka berdua.


"Mas Fais, kami tidak punya uang untuk membayar mas. Tapi terimalah topi kesayanganku ini." kataku


Aku lalu memberikan topi tanpa penutup atas itu kepada Fais. Itu semua ku lakukan sebagai ucapan terimakasih.

__ADS_1


Kami lalu berpamitan satu sama lain.


"Ra, liburan kali ini menyenangkan, bukan?" tanya Dika


"Iyaaa... aku akan sering - sering datang kemari." kataku


Jalan menuju parkiran sepeda melewati pedagang wisata. Kami bercanda dan membeli beberapa oleh - oleh untuk orang rumah.


Aku membeli jeruk bali. Ya jeruk kesukaan mamaku. Dika dan Ivan memilih membeli gantungan kunci miniatur candi, asbak candi, dan beberapa arca dari resin.


Dika kembali usil, dia menarik rambutku dan kemudian lari.


"Dikaaaa, sakit tauuu" teriakku


Aku langsung mengejarnya menuju parkiran. Tapi di saat hendak menyeberang jalan dari pasar menuju parkiran. Aku tiba - tiba menabrak seseorang. Jerukku jatuh.


"Kalau jalan lihat - lihat mas." omelku


Dia lalu mengambilkan jeruk itu dan diberikan kepadaku. Dia berbalik badan dan


"Satria" kataku


Dia hanya tersenyum dan berlalu begitu saja. Aku mencoba mengejarnya tapi Ivan langsung menarik tanganku.


"mau kemana lagi? pulaaang" kata Ivan


Aku sempat mencari - cari orang yang mirip Satria. Tapi seperti ditelan bumi. Hilang begitu saja.


Kami lalu kembali ke rumah. Orang tua kami tentu saja telah menyambut kedatangan anak nya.


"Mama, aku kembali. Aku merindukan mu." kataku


Aku langsung memeluk erat mamaku. Aku kangen banget sama mama. Meskipun kata Dika Aku hanya tertidur sekitar satu jam.


"Yaudah sana mandi, udah mama rebusin air." kata mama


Aku langsung mandi, ganti baju, makan, dan istirahat. Aku bahagia, bisa kembali ke rumahku. Meskipun sederhana tapi rumah ini sangat nyaman. Lalu kupandangi foto kakek dan nenek ku.


"Kakung dan simbok, aku kembali." kataku sambil berkaca - kaca.


***


Dika POV :


Memandang dan melihat senyumnya adalah kebahagian untuk diriku. Meskipun raga ini bukan jodohnya. Tapi setidaknya aku akan menjaga Nararia sampai Satria nya ditemukan. Meskipun sakit, ketika dia dengan semangat menceritakan tentang kisah cintanya di masa lalu. Tapi melihat senyum nya adalah kebahagianku. Aku memang bukan Satria. Tapi setidaknya aku bisa memilikinya selagi yang punya belum memintanya. Jika yang punya meminta pun, tidak akan ku biarkan dia lepas dengan mudah. Satria harus membuktikan dahulu, bahwa dia pantas bersanding dengan Nararia.


Cinta tidak harus memiliki. Meski sakit harus melihatnya bersama orang lain. Lebih baik kita biarkan cinta itu mencari jalannya sendiri. Jangan pernah putus asa dan pantang menyerah. Berjuanglah demi cinta, meski kau tahu dia bukan milikmu. Setidaknya kita bukan seorang pecundang. Tapi kita seorang pejuang.


Ivan POV :


Sahabat adalah tempat berkeluh kesah. Tempat saling mengasihi. Tidak ada rasa iri dan dengki dengan sahabat baik. Memiliki sahabat yang mengerti keadaan kita adalah sebuah anugrah. Dia tidak hanya datang di saat kita bahagia. Tapi dia juga ada di saat kita terjatuh. Sahabat yang memiliki karakter ke dua lah yang pantas untuk diperjuangkan. Pantas untuk dijadikan saudara. Jangan pernah nodai persahabatan hanya karena cinta. Maka berhati - hati lah dalam main hati diantara sahabat yang memang patut untuk diperjuangkan.


Fais POV :


Menemukan teman di sebuah halaman peradaban adalah sebuah anugrah. Terlebih teman itu memiliki visi dan misi yang sama dengan kita. Sama - sama mendefinisikan untuk menjaga dan mempelajari tinggalan leluhur. Masa lalu bukan untuk dilupakan. Tapi masa lalu kita jadikan pelajaran paling berharga untuk menyongsong masa depan yang gemilang. Menjaga warisan adalah sebuah keharusan. Karena itu adalah bukti hebatnya bangsa ini. Maka hargailah warisan dan keberagaman Indonesia dengan saling mengasihi dan menyayangi.


Terimakasih kepada teman - teman yang telah membaca novel ini. Sekian dan Terimakasih.


Selanjutnya, ikuti terus pada novel "Beasiswa Penuntun Jalan Hidupku".


novel tersebut merupakan lanjutan dari kisah di masa depan Nararia.


With love

__ADS_1


Citralekha


TAMAT


__ADS_2