
Haaai ...
Kembali lagi,..
Spesial di Season 2,. i am back.
Jangan lupa untuk klik rate, vote, dan comment ya. Biar Authornya semangat buat nulis. Hayooo.. jangan lupa vote dan poin nya yaaa...
Happy reading
***
Aura terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia meresap setiap perkataan yang diucapkan oleh lelaki berhodie hitam itu.
"Kita tidak akan bisa menyakiti Nararia. Kalau begitu, kita harus merubah strategi." kata Aura
"Apa strategi mu?" tanya Tamara
Aura pun tersenyum licik pada Tamara dan lelaki berhodie hitam.
"Jika kita tidak bisa melukai Nararia maka kita bisa melukai orang - orang terkaishnya. Kehilangan orang yang disayangi akan lebih menyakitkan dari pada rasa sakit yang diderita oleh dirinya sendiri." kata Aura
Mendengar perkataan Aura, Tamara dan lelaki berhodie pun tertawa. Sepertinya kemenangan ada di depan mata mereka.
"Tapi bagaimana cara nya kita bisa menyakiti teman - temannya? secara fisik, kita tidak bisa ke Indonesia." kata Tamara
"Dua sahabatnya akan mendatangi negara ini. Tunggulah dan gunakan kesempatan ini sebaik2nya." kata lelaki berhodie
Mendengar informasi dari lelaki berhodie Tamara dan Aura lalu tertawa.
"Kita gunakan 2 sahabat nya itu, Tamara. Aku tahu bahwa 2 sahabatnya itu adalah teman kecilnya." kata Aura dengan licik
"Ya kita akan gunakan mereka untuk balas dendam." kata Tamara.
"Aku mempunyai siasat yang lebih bagus lagi, Tam. Ini akan sangat menyakitkan bagi Nararia." kata Aura
Tamara pun sudah membayangkan jika aku akan tersiksa dengan rencana mereka.
"Ingat, kalian jangan sampai gagal... Kalau kalian gagal, akan aku musnahkan kalian." kata lelaki berhodie itu kemudian menghilang.
Sepeninggalnya lelaki berhodie itu. Tamara lalu menyusun rencana untuk penjebakan 2 temanku itu.
**
Atas kejadian yang menimpa ragaku. Akhirnya teman- temanku memutuskan untuk bergantian berjaga.
"Van, sepertinya aku ingin belajar ilmu tenaga dalam." kata Dika
"Bener, Dik ... meskipun kita kuat secara fisik. Tapi jika lawan yang akan kita hadapi seperti siluman. Kita tidak ada tandingannya." kata Ivan
Percakapan mereka berdua kemudian di dengar oleh Prasta.
"Kalau kalian tidak keberatan, aku bisa mengajari kalian." tawar Prasta
Ivan dan Dika saling berpandangan satu sama lain. Mereka maish menimbang dan berpikir.
"Udah terima saja, Prasta kesaktiannya tingkat tinggi lho." kata Satria
"Baiklah demi Nararia... aku akan belajar dengan kalian." sahut Dika
"Terimakasih ya kalian sudah peduli dengan Nararia. Tapi Nararia pasti akan memilik aku." kata Satria.
"Kamu ngomong apa sih?" tanya Ivan.
Ehem ... Prasta berdehem. Dia berharap Satria tidak bersikap seperti anak kecil.
"Baiklah demi Nararia kita harus bersatu untuk sementara waktu." kata Satria.
__ADS_1
**
Aku dan Puspa masih saja bermeditasi di lautan dalam. Kami masuk ke dalam sebuah kerang laut besar. Tentu bagi manusia biasa itu hal yang mustahil. Tapi bagi seorang Apsari seperti Puspa merupakan hal yang wajar.
Tiba - tiba, mata kali tersilaukan oleh cahaya yang sangat terang.
"Bangunlah kalian berdua" kata sebuah suara
Aku lalu pelan - pelan membuka mata ku. Ternyata kami sudah berada di sebuah istana. Ya istana Otipati yang sangat indah dan nyaman. Tapi kami tidak bisa melihat wujud Otipati. Hanya berupa bola sinar saja yang kami lihat.
"Terimalah sembah sujud kami Sang Hyang Otipati" kata kami bersamaan
"Terberkatilah kalian berdua. Nararia ... sebagai seorang putri mahkota dan salah satu cikal bakal yang akan memperkenalkan ajaran budi dan cinta kasih. Akan banyak sekali ujian yang harus kamu lakukan. Kamu bisa kembali ke raga mu jika kamu mendapatkan permata Kaustub Dewa Wisnu." kata Sang Hyang Otipati
"Permata Kaustub Dewa Wisnu?" tanyaku memastikan lagi.
"Iya, permata Kaustub akan membantu mu membangkitkan kembali teratai emas yang ada di dalam tubuh mu." kata Sang Hyang Otipati.
Setelah mengatakan itu, bola sinar itu lalu menghilang. Aku dan Puspa juga kembali kedalam kerang yang ada di dalam laut.
"Puspa, ini kan kita di laut. Apakah kita bisa ke Vaikunta?" tanyaku
"Tidak putri, bermeditasilah dan pusatkan pikiran mu kepada Hyang Wisnu. Mintalah pada Nya untuk membangkitkan kembali teratai emas." saran Puspa.
"Baik Puspa, aku mengerti." kataku
Setelah mendengarkan nasihat Puspa. Aku pun melanjutkan meditasiku. Kali ini fokus ku terpusat pada Hyang Wisnu. Berharap beliau berkenan mengabulkan permohonanku.
"Putri, kamu fokuslah di sini. Aku harus pergi. Aku akan menemui Kencana. Carilah jalan mu putri. Semoga kau berhasil." kata Puspa
Setelah itu, Puspa lalu menghilang.
**
Serangan demi serangan dilancarkan oleh lelaki berhodie. Dia mengirim berbagai bola api untuk mengalihkan perhatian yang lain. Selain itu, dia juga mengirimkan banyak pengawal tak kasat mata. Tujuan lelaki berhodie itu ialah mengambil raga ku.
Dia sangat ingin sekali menempatkan sukma anak buah nya. Tujuannya ialah agar bisa mengendalikan diriku. Dia tahu, bahwa aku sedang berusaha membangkitkan teratai emas. Pada saat ini lah, dia bisa menyerang ku.
"Pasti dari musuh utama kita. Dia melakukan serangan terhadap orang terdekat kita." kata Prasta.
Dika dan Ivan hanya bisa melihat dan berdoa untuk keselamatan Prasta dan Satria.
"Dika, Ivan ... segera masuk ke ruang perawatan. Jaga raga Nararia." perintah Prasta.
Tanpa bertanya, Dika pun langsung masuk dan terus memegang tanganku. Sedangkan Ivan bertugas untuk memperhatikan sekitar brakar rumah sakit. Sebenarnya selain mereka ber dua. Telah hadir Adhiraksa, Kencana, dan juga Senopati Dandaka.
"Adhiraksa, bantulah Satria dan Prasta untuk membereskan bola api." perintah Kencana
"Baiklah, tolong jaga raga Nararia." kata Adhiraksa
Dia pun langsung keluar dari ruang perawatan. Adhiraksa melihat ke dua lelaki itu merasa kewalahan.
"Dasar lemah, begitu saja tak sanggup mengakhiri bola api itu. Bagaimana bisa mereka adalah pangeran Medang. Mana bisa aku membiarkan Nararia bersama salah satu dari mereka" ejek Adhiraksa
Adhiraksa pun lalu menggunakan tenaga penuh nya untuk mengakhiri serangan bola api. Tapi setelah bola api itu hancur. Muncullah makhluk - mahkluk yang menyerang mereka ber 3.
"Sial, apa lagi ini." keluh Satria
"Sepertinya kita mendapatkan bantuan." kata Prasta
"Iya, udah enggak usah banyak bicara. Segera musnakan makhluk menyebalkan itu." kata Adhiraksa yang tentu saja tidak bisa didengar oleh Satria dan Prasta.
Tapi Prasta dan Satria hanya bisa merasakan ada sebuah kekuatan yang membantu mereka. Sementara di dalam ruanganku, tak kalah seru. Lelaki berhodie tersebut mengirimkan banyak mayat hidup. Tentu saja kencana dan Senopati Dandaka melawannya. Akan tetapi setiap kali makhluk itu dibunuh. Muncullah makhluk lainnya lagi.
"Bunuh bayangan mereka, pangeran Kencana." kata Senopati.
Tapi Kencana sudah tidak sabar, sehingga dia membuat awan gelap. Tujuannya agar mahkluk tersebut dapat terkurung dalam awan yang dia ciptakan. Usahanya tidak sia - sia. Makhluk itu dapat dikurung. Tapi seperti mati satu tumbuh seribu. Kini muncul banyak kelelawar.
__ADS_1
"Senopati tetaplah berada di ruangan ini. Aku takut ini hanya sebuah pengalihan perhatian." kata Kencana
"Baik pangeran, saya juga berpikir seperti itu" kara Senopati.
Tapi kelelawar itu sangat kuat sekali. Di saat yang tepat, Puspa muncul.
"Puspa, kenapa kau kembali dimana Nararia?" tanya Kencana
"Dia aman pangeran ... apa kalian membutuhkan bantuanku?" tanya Puspa.
"Tentu saja Dewi, tolong jaga raga putri mahkota. Saya bersama pangeran Kencana akan menyelesaikannya." kata Senopati
"Jika ingin mengalahkan mereka. Maka hancurkan sumbernya." kata Puspa
Senopati dan Kencana saling melirik. Mereka berdua lalu bermeditasi dan pecah sukma. Satu sukma mereka menuju tempat orang yang mengirim guna - guna itu. Sedangkan sukma lainnya menghalau makhluk itu.
"Ternyata mahkluk berwujud kelelawar itu biang keladi nya." kata Kencana.
"Ayo kita slesekan pangeran." kata Senopati
Tapi makhluk itu ternyata cerdik. Dia segera menghindar. Sehingga terjadilah pertarungan yang sengit. Makhluk itu memang kuat dan sakti. Tapi yang menjadi rival nya ada seorang senopati dan pangeran Kaindra. Sehingga makhluk itu bisa musnah. Seketika itu, bola api, mayat hidup juga musnah.
"Ayo segera kembali ke rumah sakit." kata Kencana
Perasaannya sangat tidak tenang.
**
(Rumah Sakit).
Puspa ternyata sedang bertarung dengan seorang makhluk jahat. Sedangkan pelindung raga ku dapat dihancurkan oleh lelaki berhodie. Dika dan Ivan berusaha untuk mencegahnya. Tapi lelaki itu bukanlah tandingan mereka secara spiritual.
"Aku tidak akan membiarkanmu membawa raga sahabatku." kata Dika.
Ivan juga tak kalah hebat, dia bahkan meninju. Tapi kekuatan tenaga dalam lelaki berhodie hitam itu diatas rata - rata. Sehingga dengan mudah, Ivan dapat dikalahkan. Dika masih berusaha melawan dan mempertahankan ragaku. Sekuat tenaga Dika memegang tangan lelaki itu. Meskipun tenaga dalam lelaki itu dikerahkan. Dika tak bergeming, dia terus menahan luka dalam nya.
"Minggir kau manusia, kau bukan tandinganku." kata lelaki berhodie.
"Tapi aku punya cinta dan kasih sayang." kata Dika
Lelaki berhodie itu pun mengeluarkan pedang pusaka. Dia hendak membunuh Dika.
"Mati lah kau lelaki tak berguna." kata lelaki berhodie.
Tapi sorot mata Dika seperti mata orang lain. Dia bangkit dan menahan pedang sakti lelaki berhodie.
"Dikaaaa" teriak Ivan
Satria, Prasta, Adhiraksa, Kencana, dan Senopati pun terkejut dengan apa yang dilakukan Dika.
"Dikaaaa.... tidaaaak" teriak Prasta
***
Haii... jangan menghujat ya teman2,. maaf ini sedang banyak deadline. Jadi jangan menghujat konten sedikit, lama update ya. Ini sudah berusaha disempatkan untuk diketik.
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktu nya.
Jangan lupa, klik like, vote, rate, dan comment.
next :
Apakah Dika bisa selamat?
Kasih masukan ya, untuk episode berikutnya.
terimakasih
__ADS_1
With love
Citralekha