
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk klik like, vote, dan rate ya*
Happy reading
.
.
Pasopati memberitahu Widasari lokasi bohongan dimana Satria berada.
"Kenapa di Hutan Dandaka? itu kan hutan terlarang." tanya Widasari.
"Di tengah hutan itu terdapat sebuah permata yang sangat langka. Permata hanya ada 1 di dunia ini. Makanya Satria ingin menghadiahkan permata itu untuk Nararia." kata Pasopati
Mendengar penuturan Pasopati, Widasari sangat bahagia. Dia mengecup pipi kanan dan kiri Pasopati.
"Wida, apa kau mencintaiku?" tanya Pasopati
"Pertanyaan macam apa itu, Kak?" tanya Widasari
Tanpa menunggu persetujuan dari Widasari ditambah suasana malam yang indah. Bibir Pasopati sudah mendarat di bibir manis Widasari.
'Kenapa jantungku berdetak kencang. Ini kali pertamanya, Kak Pasopati menciumku.' batin Widasari.
Tidak mendapatkan penolakan sama sekali oleh Widasari. Pasopati terus ******* bibir manis Wida. Pasopati kemudian menggendong Widasari masuk ke dalam bilik kamarnya. Setelah itu, dia meletakan Wida di ranjang nya. Pasopati tak lupa mengunci bilik kamar Wida.
"Wida" katanya lirih
Widasari hanya bisa memandang wajah manis dan kekarnya tubuh Pasopati. Senyum yang mengembang membuat hasrat Pasopati naik. Dia pun lalu menghampiri Widasari di ranjang nya.
Mata keduanya beradu. Lagi - lagi Pasopati ******* bibir mungil Wida. Kali ini Wida juga menerimanya. Meskipun pada awalnya Wida terlihat canggung. Tapi naluri ilmiahnya segera menuntun untuk membalas perlakuan Pasopati.
"Pangeran" kata Widasari
Pasopati segera mencumbu Widasari ke bagian pipi kanan dan kiri. Wida hanya bisa mendesah pelan. Pasopati terus melakukan aksinya ke bagian leher Wida. Tangannya mulai menggerayangi tubuh Widasari. Dia hanya bisa mendesah pelan.
ah ah pangeran jangan berhenti
Hanya itu ucapan yang keluar dari bibir mungil Widasari. Mendengar desahan dan desakan alamiah. membuatnya semakin terbuai dalam asmaranya.
...
(Sisi lain di kamarku)
Puspa segera keluar tubuhku.
"Putri, cepat ke kamar Widasari." perintah Puspa
"Ada apa hah?, aku ngantuk. Kamu ke sana saja, lagian dia tidak bisa melihatmu." kataku
Puspa segera menarik badanku dan berharap aku cepat bangun. Tapi aku masih sangat capek dan ingin tidur.
"Puspaaa... ini sudah malam, Wida sudah tidur" gerutuku
"Apa kau mau membiarkan putri Widasari dinodai oleh Pangeran Pasopati?" tanya Kencana tiba- tiba muncul
Mendengar hal itu, aku langsung tersentak dan memandangi mereka berdua.
"Apa maksud kalian?" tanyaku
"Pangeran dan putri Widasari sedang dimabuk asmara. Mereka terkena tingkah usil dari Kalasmara" kata Puspa
"Kalasmara?" tanyaku
__ADS_1
Puspa Segera menjelaskan bahwa Kalasmara adalah dedemit yang membuat orang untuk melakukan hubungan badan dengan orang yang ada di sampingnya. Tanpa pikir panjang, aku segera bergegas menuju Keputren Widasari.
"Sial, jangan sampai mereka berbuat macam - macam. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk sampai di kamar Widasari. Jika aku terlambat pasti Pasopati akan menodai Widasari." umpatku
Aku berlari tapi Puspa Segera meraih dan menghilangkan ku menuju depan kamar Widasari. Aku sudah mendengar suara desahan mereka berdua dari dalam kamar.
"Lakukan pangeran, aku rela menyerahkan diriku untukmu" rengek Widasari.
"Wida ini akan terasa sakit, bertahanlah. Aku akan mulai" kata Pasopati
Aku sudah tidak tahan mendengar mereka berdua. Tanpa pikir panjang, aku segera mengetok pintu kamarnya. Aku berusaha tenang, agar tidak menimbulkan kecurigaan pada dayang.
(tok tok tok)
"Widasari, Pasopati, keluar." kataku
"Percuma putri, biang keroknya ada di sudut dalam sebelah kanan" kata Puspa
Kencana mengusap mataku dan aku bisa melihat menembus tembok batu kamar Wida. Aku terbelalak tatkala melihat Widasari sudah setengah telanjang. Aku juga melihat bekas ciuman Pasopati ada di sekujur tubuh Widasari.
"Puspa kenapa mereka tidak mendengarkan?" tanyaku
"Kau harus musnahkan pengaruh Kalasmara dulu, putri" kata Puspa
"Caranya?" tanyaku
"Pake pancaroba." usul Kencana
Aku berdebat dengan mereka berdua. Panah pancaroba akan membunuh mereka jika aku mengeluarkannya. Tapi, Puspa berkata bahwa pancaroba dapat membedakan mana musuh mana pengaruh jahat.
Aku semakin kalap ketika Pasopati sudah melucuti semua pakaiannya dan Widasari. Sepasang kekasih dalam satu ranjang tanpa busana. Pasopati siyap berperang dengan Widasari.
"Nggak ada waktu, sekarang putri, cepaat" bentak Kencana
Panah melesat secepat mungkin. Mereka kemudian tersadar.
"Aaaaaaa, apa yang kakak lakukan?" tanya Widasari
Dia nampak ketakutan dan mengambil kain untuk menyelimuti dirinya. Pasopati juga tersadar dan segera menjauh dari Widasari.
"Widasari, kenapa bisa kita seperti ini?" tanya Pasopati
Wida masih menangis, dia mengira Pasopati telah merenggut kesucian dirinya.
"Apa yang harus aku lakukan, Puspa" tanyaku
"Masuk dan jelaskan pada mereka." kata Puspa
"Kita dobrak pintunya?" tanyaku
Kencana segera memegang lenganku dan dalam sekejab langsung ada di dalam kamar Widasari. Melihat Aku muncul secara tiba - tiba, mereka berdua menjadi kaget.
"Kakaak" isak Widasari.
Aku segera menghampirinya dan memeluknya.
"Putri, apa yang terjadi dengan kami?" tanya Pasopati.
Aku segera menjelaskan. Jika mereka berdua telah terkena pengaruh Kalasmara. Sehingga mereka dimabuk asmara dan hasrat untuk melakukan hubungan intim meningkat. Aku juga memberitahu kepada Widasari kalau Pasopati tidak sempat merenggut kesuciannya. Tapi dia tidak percaya.
"Kakak kau pasti bohong. Kau pasti melindungi Pasopati. Karena kakak suka dengannya. Ingat kak, kakak itu putri mahkota calon ratu Mataram dan garwa pawestri kak Rakai." rancau Widasari.
"Widaaaa!!" bentak Pasopati
__ADS_1
"Jadi benar ya, kalau kalian saling mencintai." teriak Widasari.
Aku bingung dengan tingkah Widasari. Kenapa dia selalu menuduh aku dan Pasopati berselingkuh. Padahal kami hanya berteman. Aku juga telah menganggap Pasopati sebagai saudaraku.
"Aku benci kalian, keluar dari kamarku" teriak Widasari.
"Tenang Wida, tenang ... Aku sama sekali tidak ada rasa apapun sama Pasopati." belaku
"Putri Widasari picik sekali pikiran mu. Putri Nararia mana mungkin tertarik padaku!!"
Pasopati segera menarik tanganku untuk keluar dari bilik kamar Widasari.
"Wida, aku sama sekali tidak ada hubungan apa - apa dengan Pasopati" kataku
Tapi Wida sepertinya tidak mau mendengarkan penjelasanku.
"Sudah putri, ayo keluar. Maafkan aku Wida, aku tidak berniat bermaksud untuk menodai dirimu. Satu lagi, jangan pernah tuduh putri Pramodha yang tidak - tidak. Tenangkan dirimu." kata Pasopati
Aku dan Pasopati segera keluar dari bilik kamar Widasari.
"Putri, kenapa sampai ada Kalasmara di sini?" tanya Pasopati
"Aku juga tidak tahu. Puspa dan Kencana yang telah memberitahuku" kataku
"Bukankah mereka sudah kembali ke Kaindran?" tanya Pasopati.
Aku menggelengkan kepala dan memberitahu yang sebenarnya. Pasopati juga memberitahu bahwa tadi siang, Widasari bertemu dengan Balaputradewa.
...
di sisi lain saat Balaputradewa bahagia
Hahahahahhaha
Dia puas karena telah berhasil mengerjai Pasopati. Dia merasa sudah tidak membutuhkan informasi lagi. Dia mendapatkan berita dimana keberadaan Satria karena atas bantuan dari Kalasmara.
"Jadi di cenguk sedang ada di Hutan Dandaka?" tanya Balaputra
"Iya pangeran, tapi pangeran tidak usah khawatir. Hutan Dandaka adalah hutan keramat. Pasti pangeran Satria tinggal nama saja." kata Kalasmara
Mendengar penjelasan Kalasmara. Dia semakin bahagia, ternyata tanpa menggunakan tangannya, Satria pasti mati.
"Aku sudah melaksanakan perintahmu. Sekarang mana bayaran untukku" kata Kalasmara
"Lakukan apa yang kau mau" kata Balaputra
Kalasmara segera berubah menjadi wanita cantik. Pada mulanya bentuk dia seperti hantu wanita. Dia adalah penguasa hawa jahat untuk percintaan. Siapapun yang terkena pengaruhnya. Akan langsung mendapatkan reaksi untuk melakukan hubungan intim.
Dia segera menghampiri Balaputra. Melepaskan pakaiannya satu persatu. Bahkan Balaputra pun juga terkena pengaruh. Sehingga dia menjadi liar dalam melakukan hubungan intim.
"Kalasmara kau sangat hebat. Tidak ada wanita di dunia ini yang sanggup memuaskanku. " rancau Balaputra
"Terus pangeran jangan berhenti, kau selalu tahu dimana titik sensitif seorang wanita." kata Kalasmara
Balaputra terus menjelajahi setiap inci dari tubuh mulus Kalasmara. Dia terus bermain di area dada dan kewanitaan Kalasmara. Suara desahan Kalasmara membuat Balaputra semakin terbuai dalam asmaranya.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.
with love
Citralekha
__ADS_1