
** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**
Happy reading.
.
.
"Pangeran Satria... jaga ucapanmu! kata kepala prajurit
"Mau aku luluh lantakan kerajaan mu ini, hah maharaja Samaratungga?" tanya Adhiraksa
"Pangeran, apa maksud dari perkataanmu, Nak. Bunda tidak paham" kata Dewi Tara
"Dengarkan baik - baik oleh kalian semua .... " kata Adhiraksa yang belum seselai mengatakan sesuatu.
Tiba - tiba Adhiraksa diserang oleh sebuah kilatan hijau. Adhir terpental beberapa meter setelah terkena sabetan itu.
"Kurang ajar!! Siapa yang berani melakukan hal licik ini." kata Adhiraksa terhuyung.
Adhir segera bangun dan mencari sumber orang yang menyerangnya. Betapa terkejutnya, tatkala melihat orang yang menyerangnya.
"Pasopati!! berani sekali kau" gertak Adhiraksa
"Adhiraksa, aku sudah muak dengan tingkahmu yang sok baik itu." bentak Pasopati
Keluarga kerajaan semakin bingung dengan kemunculan Pasopati. Ada beberapa keluarga yang belum tahu, jika Pasopati telah kembali utuh. Bahkan dia kembali dengan kekuatan yang luar biasa.
"Adhiraksa??" tanya ayah Samaratungga
"Benar paman raja. Dia bukanlah pangeran Satria yang sesungguhnya." kata Pasopati
Mata Pasopati telah memerah. Dia menunjukan betapa marahnya dirinya saat ini. Tapi bukan Adhiraksa, jika dia tidak bersilat lidah.
"Maksud kamu apa sahabatku? aku ini pangeran Satria dari Pikatan." kata Adhiraksa
"Hentikan sandiwaramu itu, Adhir. Kehadiranmu malah membuat semakin kacau." kata Pasopati
"Jangan dengarkan Pasopati, paman. Aku ini pangeran Satria. Asal paman tahu saja, bahwa putri mahkota ..." kata Adhiraksa terpotong
Dia kembali mendapatkan serangan dadakan dari Pasopati. Kali ini Adhiraksa sangat murka. Dia lalu mengeluarkan ajian seribu tangannya. Segera ia raih leher Pasopati. Tapi Pasopati dengan sigap dapat menghindarinya. Bahkan salah satu tangan Adhir tertebas oleh pedang hijau Pasopati.
"Ooh ... jadi kau bisa hidup lagi karena bantuan mustika Dandaka?" tanya Adhiraksa sinis
Kali ini Adhiraksa menendang Pasopati. Paso tidak fokus terhadap gerakan kaki Adhiraksa yang sangat cepat. Sehingga dia terlempar jauh ke balai Witana. Tak membiarkan Pasopati beristirahat. Adhiraksa sudah mencekik leher Pasopati.
"Kau bukan tandinganku, Pasopati." kata Adhiraksa
Tubuh Pasopati terangkat oleh tangan Adhiraksa. Pasopati kemudian menciptakan mata pisau di ujung kakinya. Pisau itu langsung mengores perut Adhiraksa. Secepatnya, Adhiraksa melepaskan cengkeraman leher Pasopati.
Tapi tak butuh waktu lama, Adhiraksa kembali sembuh. Lukanya tertutup sempurna. Bahkan seperti tidak terjadi apa - apa.
"Hanya segini kemampuanmu, setan cilik?" tanya Adhiraksa meremehkan kekuatan Pasopati.
Terjadilah pertarungan antara Adhiraksa dan Pasopati di balai Witana. Orang kerajaan semakin bingung dengan perkelahian mereka berdua. Tapi apa daya, prajurit pun tak mampu mendekati mereka berdua bertempur.
__ADS_1
**
(Satria menemui Rakyan Sanjiwani)
Satria segera menuju goa pertapaan Sanjiwani. Dalam penglihatannya, dia menemukanku dalam bentuk Sanjiwani. Satria memang tidak bisa mendeteksi dimana keberadaanku. Danau Merah yang menjadi tempat meditasiku telah terlindung dengan ajian halimunan dewa. Jadi tak seorang pun dapat menembus ajian itu.
"Akhirnya aku menemukanmu, kekasih hatiku." batin Satria
Dia segera melangkahkan kaki masuk menuju mulut goa. Tapi sebelum dia masuk, Sanjiwani telah keluar lebih dahulu. Betapa terkejutnya ketika melihat Satria ada di depannya. Air matanya meleleh. Dia menahan rasa rindu yang teramat dalam pada kekasihnya itu.
Satria segera berlari menghampiri Sanjiwani. Tanpa menunggu aba - aba, Satria langsing memeluk Sanjiwani. Ketika mendapatkan pelukan dari Satria. Sanjiwani terus menangis, dia tidak menyangka akan secepat itu kembali mendapatkan cintanya.
"Aku merindukan mu, pangeran." kata Sanjiwani
"Aku juga, putri Nararia. Jangan pergi dari ku lagi." kata Satria
Mendengar nama Nararia yang disebut. Sanjiwani langsung melepaskan pelukan itu dengan kasar. Sanjiwani kembali menangis. Tapi kali ini bukan menangis bahagia. Tapi menangis karena Satria telah menggeser posisinya. Meskipun aku dan Sanjiwani satu. Tapi kali ini raga kita berbeda.
"Ada apa putri?" tanya Satria heran
"Tidak pangeran, aku... aku ingat dengan Adhiraksa." katanya mencoba berbohong.
Satria segera tersadar, bahwa tujuan dia adalah mencari Adhiraksa. Tapi sebelum mencarinya, dia memutuskan untuk mencariku. Menurut dia, dengan kembalinya aku bersama Satria. Maka kekacauan akan berhenti.
"Ayo segera kembali ke istana." ajak Satria
"Tapi pangeran, Adhiraksa." kata Sanjiwani
"Kita akhiri sandiwara ini. Kita harus kembali melanjutkan mimpi kita yang tertunda." kata Satria
"Mimpi yang tertunda?" tanya Sanjiwani
Sanjiwani hanya bisa membalas dengan senyuman. Meskipun hatinya sakit. Dia tahu bahwa Satria belum sadar. Dia bukanlah Nararia yang dia cintai. Meskipun Nararia datang mengantikan posisinya. Tapi Satria tidak sadar bahwa kekasihnya yang beberapa tahun bersamanya. Bukanlah putri Pramodhawarddhani di abad 9. Tapi reinkarnasi dirinya di abad 20 dan 21.
"Pangeran apa kau mencintai Nararia?" tanya Sanjiwani
"Kamu bicara apa hah? aku sejak pertama dan selamanya akan tetap bersamamu." kata Satria
Sanjiwani kemudian berbalik badan. Dia kembali menangis. Melihat hal itu, Satria menjadi bingung dengan tingkah kekasihnya di depan matanya itu.
"Ada yang aneh, kenapa hatiku seperti biasa - biasa saja ketika memeluk dia?" batin Satria
Tapi rasa itu segera ia tepis. Intinya, dia ingin membawa kembali putri mahkota ke istana. Satria ingin mengungkapkan kebenaran. Bahwa dirinya yang ada di istana bukanlah dirinya yang sesungguhnya.
"Ayo sayang kita segera ke Medang. Pasopati membutuhkan bantuan kita." kata Satria
Satria segera mengenggam tangan Sanjiwani. Mereka kemudian menghilang secara bersamaan. Tujuan mereka ialah istana Medang.
**
(Danau Merah)
Danau Merah adalah pintu dan portal menuju istana Dewi Sakti. Aku masih bermeditasi dengan sangat khusuk. Tanpa memperdulikan lingkungan sekitar. Hati mu masih bingung dan bimbang. Aku hanya ingin bertemu dengan Dewi Sakti.
Tiba - tiba aku dikejutkan dengan sentuhan tangan yang sangat lembut. Tangan yang dingin dan lembut itu mengusap pipiku.
__ADS_1
"Bangunlah putriku." sapa suara lembut itu
Aku lalu membuka mataku secara perlahan. Lama - lama aku membuka mataku secara sempurna. Senyum seorang wanita terpampang di hadapanku.
"Dewi" kataku
"Bangunlah Nak, aku sudah datang." kata Dewi Sakti
Aku segera menghaturkan sembah sujud dan kemudian memeluk sang dewi. Aku merasakan aura dan kebahagian yang sangat dalam. Dewi Sakti lalu mengusap keningku. Seketika tenagaku kembali segar.
"Dewi, aku ..." kataku yang langsung terpotong oleh Dewi Sakti
"Akan aku perlihatkan sesuatu padamu." kata Dewi Sakti
Sang dewi kemudian menunjukan padaku sebuah gambaran yang sedang terjadi di Medang. Aku melihat kekacauan di istana. Aku juga melihat pertarungan Adhiraksa dan Pasopati. Bahkan yang membuatku tersentak ketika melihat Satria bertemu dengan Sanjiwani. Hatiku terasa sakit dan teriris. Meskipun yang sedang bersama Satria adalah diriku di masa kini.
"Apa pendapatmu, Nak?" tanya Dewi Sakti
"Kekacauan itu karena kehadiranku, kan dewi?" tanyaku sambil teruarai air mata.
Dewi Sakti hanya tersenyum.
"Lalu?" tanyanya
"Putri Sanjiwani sangat bahagia dengan pertemuan itu. Aku nggak mau menyakiti diriku di masa kini, dewi." kataku
"Apa mau mu, Nak?" tanya Dewi Sakti
Sejenak aku terdiam. Tiba - tiba bayangan masa depan ada di pikiranku.
"Kau mau kembali ke masa depan?" tanya Dewi Sakti
"Tapi kata resi ..." kataku terpotong lagi
"Kau bisa kembali ke masa depan, tapi dengan sebuah pengorbanan." kata Dewi Sakti
Aku kemudian mengeryitkan dahiku. Serta mataku yang memandang ke arah Puspa dan Kencana.
"Pengorbanan?" tanyaku bingung
"Kau tetap bisa ada di sini. Tapi kau akan melukai hati dirimu di masa kini. Kau menyalahi kodrat yang seharusnya kau tidak ada di sini. Kau juga akan menghilangkan peradaban yang adi luhung. Keturunanmu akan selalu berperang satu sama lain. Jika Satria tahu tentang dirimu. Tapi jika kau kembali ke masa depan. Kau akan melukai pangeran Satria. Setelah dia tahu dan ingat, bahwa dialah yang membawa dirimu kembali ke masa kini. Kelak di masa depan, kau yang akan kebingungan dalam mencari cinta sejatimu. Satria akan reinkarnasi kepada seorang pria yang sulit kau temukan. Kau akan terus berkelana dalam cintamu yang tak kunjung datang. Hingga kau merasa putus asa. Kau akan didekati dengan banyak lelaki, tapi kau tak akan pernah merasa cocok dengannya. Kau juga akan kehilangan Puspa dan Kencana. Kau akan kehilangan kekuatanmu. Kau juga tak akan pernah ingat sepenuhnya dengan masa kini. Kau akan kembali dengan keadaan luka yang berat. Sekarang kau pilih mana?" tanya Dewi Sakti
Aku kemudian memandangi Puspa dan Kencana. Mereka berdua nampak meneteskan air mata. Aku benar - benar bingung. Air mataku terus mengalir tanpa henti.
***
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe
Spesial buat pembaca setia Kekasih dari abad ke - 9. Karena 2 hari ini akan sibuk dengan kegiatan penelitian. Jadi gantinya hari ini, yah.. see you 2 hari lagi,. jgn lupa kasih masukan yaa...
Jadi Aku mohon jangan lupa untuk like, comemt, vote, dan rate ya..
next : Apa pilihan putri Nararia?
Kasih saran di kolom komentar ya..
__ADS_1
With Love
Citralekha