Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Terharu


__ADS_3

** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**


Happy reading.


.


.


Aku antusias dengan perkataan Kencana. Ternyata orang yang penculiknya adalah orang baik.


"Kencana, apa boleh aku ke sana?" tanya ku


"Tentu putri dan Pasopati juga sudah sembuh. Pasopati ditolong dengan menggunakan mustika sakti milik sang ratu." kata Puspa


"Sang Ratu? ratu siapa?" tanyaku penasaran.


Mereka berdua hanya tersenyum. Lalu menggandeng tanganku.


Kami melakukan perjalanan gaib kembali. Perjalanan yang hanya aku rasakan saat bersama mereka. Melihat kabut dan pemandangan di bawah. Indahnya ciptaan Tuhan jika di lihat dari udara.


"Mau kemana kita?" tanyaku


"Sabar putri, kita akan sampai sebentar lagi." kata Puspa.


Selama perjalanan aku berdecak kagum. Senang mempunyai dua sahabat tak kasat mata. Tiba - tiba kami menghilang dan sampailah di tepi hutan. Ya hutan, hutan yang sangat aku kenal.


"Hutan Dandaka?" tanyaku


"Iya putri, mari." ajak Kencana


Aku bingung, kenapa mereka mengajakku ke hutan Dandaka. Prajurit perbatasan hutan telah menyambut kedatangan kami. Mereka memberikan hormat padaku. Ya hanya padaku. Meskipun mereka dedemit, tapi mereka tidak bisa melihat Puspa dan Kencana. Mereka bisa melihatnya jika Kencana dan Puspa mengizinkannya.


"Selamat datang putri Nararia. Kenapa putri datang seorang diri?" tanya salah satu denawa


"Aku sedang mencari Pangeran Pasopati. Apakah dia ada di dalam?" tanyaku


"Kami kurang tahu, putri. Tapi senopati meminta kami untuk menjemput putri." katanya


Berarti senopati Dandaka tahu, kalau aku bakalan datang. Hebat kan senopati hutan terseram di tanah Jawa ini. Langkah kakiku terus masuk ke dalam tanpa hambatan.


Tak berapa lama, aku sampai di gerbang utama istana. Gerbang yang di hias dengan tulang belulang binatang buas. Serta terdapat kain warna hijau. Ya kain warna hijau, khas hutan Dandaka. Hijau melambangkan suasana Hutan Dandaka yang masih asri. Selain itu, hutannya sangat terjaga. Bahkan sedikit sekali manusia yang berani masuk ke hutan ini.


Aku kemudian mengeluarkan kain sobekan. Aku pun mencocokkan dengan kain hijau yang ada di gerbang utama Istana Dandaka.


"Bagaimana putri, sama kan?" tanya Kencana


"Iya betul, makanya ketika melihat kain ini. Aku seperti pernah lihat." kataku


"Ayo masuk, penghuni istana ini sudah menunggu kedatangan putri." kata Puspa.


Senopati Dandaka pun segera menghampiriku. Dia menghaturkan sembah, demikian juga aku mengucapkan rasa hormat kepadanya. Bagaimanapun juga, senopati usianya sudah ribuan tahun.


"Putri, anda datang sangat cepat. Mari ikut saya. Ratu Kala Bang dan pangeran Pasopati sudah menunggu anda." kata senopati.


"Terimakasih senopati." jawabku


Aku segera melangkahkan kaki masuk ke dalam singgasana sang ratu. Ketika sampai di singgasana, aku mendapatkan senyuman manis dari sang ratu. Dia pun turun dari kursi kebesarannya.

__ADS_1


"Selamat datang putri mahkota." katanya lembut


"Terimakasih ratu Kala Bang." kataku sambil memeluknya.


Setelah itu, aku dipersilahkan duduk. Mataku terus mencari keberadaan Pasopati. Tapi aku tidak menemukan dia disitu.


"Putri, kau sedang mencari siapa?" tanya ratu Kala Bang


"Pasopati, ratu." kataku


Tapi sang ratu hanya tersenyum. Tak berapa lama senopati Dandaka datang sambil tertawa. Aku melihatnya menjadi bingung. Demikian juga dengan Puspa dan Kencana saling tertawa.


"Kalian kenapa sih?" tanyaku


"Putri, apakah kau kaget dengan hilangnya pangeran Pasopati?" tanya Senopati.


Aku hanya mengangguk dan kemudian mengomel kepada senopati Dandaka. Dia kemudian menceritakan kejadian saat hendak mengambil Pasopati.


**


(Flash back rencana Ratu Kala Bang).


Ratu Kala Bang sedang berada di singgasana bersama para perwira dan pungawa kerajaan. Dia meminta kepada pasu gerabahnya untuk melihat keadaan istana Medang.


Dia sangat kaget, saat Sanjiwani mengeluarkan ajian Wirabuana. Kekagetan semakin menjadi, setelah melihat jika Pasopati terkena dampak dari ajian itu.


"Senopati, segeralah kau berangkat ke Medang. Selamatkan pangeran Pasopati." perintah Ratu Kala Bang


"Apa yang terjadi, ratu?" tanya Senopati


Pasu segera memperlihatkan apa yang dia lihat. Senopati nampak geram karena dia telah menganggap Pasopati sebagai saudaranya. Mukanya merah, melihat Pasopati tubuhnya terpotong. Dia sangat marah dan bermaksud membunuh Widasari dan Sanjiwani.


"Tidak senopati, Pasopati masih bisa hidup. Wirabuana hanya akan berpengaruh dengan yang dituju. Segera ambil Pasopati. Kita akan menggunakan mustika Hijau Dandaka." kata Ratu Kala Bang.


"Tapi ratu, jika mustika itu dipakai untuk menyembuhkan Pasopati. Maka kerajaan kita akan goyah." kata penasehat istana Dandaka.


Penasehat, Ratu, dan senopati menimbang atas keputusannya itu. Sisi lain, istana Dandaka membutuhkan pusaka hijau. Sedangkan di sisi lain, seseorang yang sudah dianggap keluarga membutuhkan pertolongan.


Saat semuanya bingung dalam pikiran masing - masing. Tiba - tiba datang seseorang yang penuh cahaya. Orang berpakaian serba putih. Orang yang bisa disebut sebagai pertapa.


Melihat kedatangannya, semua prajurit siaga. Termasuk senopati sudah bersiap akan menyerang penyusup.


"Kalian tidak perlu bingung, mustika Hijau Dandaka gunakanlah untuk menolong Pasopati. Sedangkan keamanan Hutan Dandaka akan saya tukar dengan sebuah pusaka sakti." kata pertapa itu


"Siapa kau?? berani sekali memasuki wilayah Dandaka. Serta mencampuri urusan kerajaan kami." gertak Senopati.


Pertapa itu hanya tersenyum. Setiap kara, senyum, dan tingkahnya mengeluarkan cahaya. Layaknya pertapa sakti Mintaraga. Ya Arjuna yang terkenal dengan ketampanan, keelokan, dan kesaktiannya. Wajahnya teduh dan tenang.


"Berangkatlah segera ke istana Medang. Ambil Pangeran Pasopati kemari." kata pertapa itu


"Tapi keamanan istana Medang sangat sulit ditembus." kata Senopati


"Kau seorang senopati hebat. Pasti tahu celah masuk ke istana." kata pertapa


Senopati nampak berpikir keras. Dia memikirkan perkataan dari pertapa itu. Lama dia berpikir dan akhirnya tawanya pecah.


"Apa kau sudah menemukan caranya, senopati?" tanya sang ratu.

__ADS_1


"Sudah ratu. Hamba akan menggunakan gelang tangan pemberian pangeran Pasopati. Dengan gelang tangan ini, dengan mudah saya bisa masuk." kata senopati


Ya gelang tangan dari istana Medang. Gelang itu dapat digunakan sebagai media dan kunci melewati gerbang gaib. Bagi keluarga kerajaan yang menggunakan tanda kebesaran istana Medang. Dia dengan mudah akan masuk ke istana.


Setelah semuanya dipikirkan. Senopati berangkat dengan cara menyusup ke istana. Dia lalu masuk melalui celah candela balai obat. Akhirnya tanpa mengalami kesulitan, dalam sekejab Pasopati dibawa pergi menuju Dandaka.


Pasopati diobati dengan menggunakan mustika Hijau Dandaka. Mustika itu adalah mustika kehidupan. Bagi yang menggunakan mustika itu. Dia akan hidup kembali, bahkan mempunyai kesaktian yang berlipat. Dia juga dapat menjadi pemimpin para Denawa.


**


Mendengar penuturan dari Senopati. Aku sangat terharu. Ternyata denawa seperti mereka memiliki hati yang tulus. Mereka rela memberikan mustika Hijau Dandaka untuk menolong Pasopati.


"Ratu, hamba ucapkan terimaaksih karena telah menyelamatkan Pasopati." kataku sambil menangis.


Tak berapa lama, aku mendengar suara langkah kaki mendekat. Di sana berdiri dengan gagah. Seorang lelaki yang memancarkan cahaya hijau. Seorang lelaki yang memiliki kharisma yang berbeda.


"Putri, dialah pangeran Pasopati." kata ratu Kala Bang.


Aku tak percaya melihat Pasopati. Dia sangat berwibawa dan gagah.


"Benarkah dia Pasopatiii?" tanyaku


"Benar putri, akulah Pasopati sais keretamu." katanya


Aku segera berlari dan menghampirinya. Segera ku pandang tubuhnya. Ya tubuh yang sebelumnya terpisah - pisah. Kini utuh seperti tidak terjadi apa - apa. Aku pun memeluknya, sebagai ungkapan syukur.


"Pasopati kau membuatku khawatir." kataku


"Maafkan aku putri. Tapi aku tidak akan meninggal. Aku akan menjagamu" kata Pasoapti


Aku sangat terharu. Tapi tiba - tiba tangan lembut segera menarik lenganku. Aku kaget pada seorang pertapa itu. Aku marah dengan kelakuannya. Dia seorang pertapa. Tidak seharusnya dia menyentuh seorang wanita sembarangan.


"Maaf pertapa, apa maksud anda bersikap seperti ini?" tanyaku mencoba pelan dan sopan.


Bagaimanapun juga, pertapa adalah orang suci. Dia harus dihormati dan dijaga. Tapi pertapa itu terus menatap dengan tajam. Wajahnya sangat menenangkan. Mata indah dan senyum manis itu.


"Maaf anda siapa ya? kenapa anda menggunakan topeng emas?" tanyaku


"Putri kenapa kau ingin melihat wajahku?" tanyanya


"Maaf tuan pertapa, menurut saya. Jika ada seseorang yang mengajak berbicara. Maka harus saling menghargai. Saya ucapkan terimaaksih, karena anda telah turut andil menyelamatkan Pasopati." kataku


Pertapa itu hanya tersenyum. Dia kembali menatap. Harapannya membuat jantungku berdebar kencang.


"Maaf pertapa sakti, mohon untuk menjaga diri anda. Ini adalah putri Nararia. Putri Mahkota kerajaan Medang. Calon ratu tanah Jawa serta calon permaisuri Rakyan Pikatan." kata Pasopati


Pertapa itu kemudian tersenyum. Dia berbalik badan. Dia memegang topeng emasnya. Nampaknya dia akan melepaskan topengnya.


***


Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe


next :


Siapakah pertapa sakti itu?


Temukan jawabannya di episode selanjutnya ya.

__ADS_1


With Love


Citralekha


__ADS_2