Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2

Kekasih Dari Abad Ke -9 Season 1 & 2
Pertapa Tampan itu


__ADS_3

** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**


Happy reading.


.


.


Pertapa itu hanya tersenyum. Dia kembali menatap. Tatapannya membuat jantungku berdebar kencang.


"Maaf pertapa sakti, mohon untuk menjaga diri anda. Ini adalah putri Nararia. Putri Mahkota kerajaan Medang. Calon ratu tanah Jawa serta calon permaisuri Rakyan Pikatan." kata Pasopati


Pertapa itu kemudian tersenyum. Dia berbalik badan. Dia memegang topeng emasnya. Nampaknya dia akan melepaskan topengnya.


Aku sangat penasaran dengan wajah pertapa itu. Topeng emas yang terpasang di wajahnya membuat ku semakin antusias.


'Siapa ya dia, apa aku mengenalnya. Kenapa aku jadi deg - deg an sih?' batinku


Pertapa itu kembali tersenyum. Tangan halus dan putih mulusnya mulai melepas topengnya. Tapi tangannya kembali diturunkan. Itu membuatku sangat sebal.


"Putri, jika saya membuka topeng ini. Apakah kau mau berjanji akan memelukku?" tanyanya


"Berani sekali kau!! Aku memang berhutang budi padamu. Tapi tak akan ku biarkan, kau menyentuh putri mahkota kami." gertak Pasopati


Pasopati segera menyerang pertapa itu. Terjadilah pertempuran yang seimbang. Kesaktian Pasopati bertambah berkali - kali lipat. Ini sangat luar biasa.


"Apakah ini efek mustika Hijau?" tanyaku pada Senopati


"Betul putri, Pasopati tenaganya sangat berlipat." kata Senopati


Aku kemudian fokus pada perkelahian dua manusia sakti itu. Saling baku hantam, tendang, dan mengeluarkan pusakanya. Mereka kemudian bertarung di luar singgasana.


Pertarungan yang hebat itu membuat penghuni Dandaka ketakutan. Alam berguncang, Gunung tiba - tiba meletus.


"Aku harus menghentikan semua ini" kataku


"Ini sangat berbahaya, putri" cegah Senopati


"Tapi jika tidak dihentikan, aku takut hutan ini akan kacau. Percayalah padaku" kataku


Senopati dan Ratu Kala Bang pun akhirnya mengizinkanku. Tapi sebelum aku maju, Pasopati terkena pukulan. Dia terhuyung di depanku. Aku melihat ada darah yang keluar dari bibirnya. Sontak membuatku marah dan langsung menyerangnya.


"Aku pada awalnya sangat menghormatimu. Tapi melihat kau melukai Pasopati. Aku tidak terima." kataku


"Siapa mu Pasopati itu? sampe kau bela mati - matian." kata pertapa itu


"Bukan urusan mu!" kataku


Aku langsung menyerang dia. Bahkan dengan pukulan dan tendangan mematikan.


"Kau murid Dewi Sakti?" tanya pertapa itu


"Bukan urusan mu!!" kataku lagi.


Aku segera mengeluarkan selendang pemberian Dewa Indra. Dia bisa menghindari seranganku dengan mudah. Tapi anehnya, setiap kali aku menyerang. Dia hanya menghindar. Tanpa membalas seranganku.


"Kenapa kau hanya menghindar?" tanyaku


"Aku takut melukaimu, sayang." katanya


"Berani sekali kau!!" kataku geram


Aku lalu memanggil panah pancaroba. Tak berapa lama gandiwa dan panah Pancaroba ada di tanganku. Pertapa itu segera menahan ku.

__ADS_1


"Putri tunggu, jangan keluarkan pancaroba!" kata pertapa itu


"Kau takut?" tanyaku


Pertapa itu segera membuka topengnya. Seperti petir yang menyambar di siang bolong. Aku terkejut dengan sosok pria di balik topeng emas. Aku masih tidak percaya dengan wajah itu. Dia tersenyum manis dan pancaran cahaya dari tubuhnya.


"Apa aku bermimpi?" tanyaku


Pasopati, Senopati, dan Ratu Kalabang segera bangkit dan mendekatiku.


"Pangeran Satria" katanya berbarengan


"Tidak kekasih hatiku. Aku kembali, ini aku Satriamu." katanya


Aku masih ragu dengannya. Tapi Puspa dan Kencana segera meyakinkan aku.


"Putri, dialah pangeran Satriamu." kata Puspa


Mendengar jawaban Puspa. Aku segera menghampiri tubuh tegap itu. Tangan Satria kemudian direntangkan. Dia berlari ke arahku. Demikian aku juga berlari ke arahnya.


Seperti drama pada film - film gitu. Kalau ada soundtrack India. Ya semacam lagu Kuch Kuch Hotai 😆😆


"Pangeranku" kataku lirih


"Maafkan aku putri" katanya


Tak terasa air mataku menetes. Rasa haru dan bahagia bertemu dengan kekasih hatiku. Seseorang yang selalu aku rindukan.


"Jangan pergi lagi dariku." kataku


"Tidak, aku janji. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Sekarang, besok, dan yang akan datang." katanya


Aku semakin erat memeluknya. Rasa rindu dan kangen yang terasa berat. Kini telah terobati. Pertemuan kami, membuat seluruh hutan Dandaka bahagia. Hal tersebut ditandai dengan semilir angin. Bunga tiba - tiba bermekaran. Merak mengepakan ekornya yang cantik. Burung - burung berkicau. Taburan bunga nan wangi turun dari angkasa.


"Satria" kata Pasopati sambil meneteskan air mata


"Pasopati" katanya


Satria kemudian beralih memeluk Pasopati. Air mataku jatuh tak tertahankan. Rasa haru melihat pertemuan itu. Pasopati ternyata menahan rada rindu pada orang yang sudah dianggap saudara itu.


"Ternyata pertapa sakti itu dirimu. Terimakasih sobat, kamu telah menyelamatkan hidupku." kata Pasopati


"Aku yang seharusnya terimaaksih padamu. Kau telah menjaga Nararia dengan baik." kata Satria


Mereka kemudian tertawa bahagia. Demikian juga dengan Ratu Kalabang dan Senopati. Mereka menyambut haru kedatangan pangeran Satria.


"Pangeran Satria" kata Ratu Kalabang.


Sang Ratu segera menghaturkan salam. Demikian juga dengan senopati. Mereka saling menghaturkan salam.


"Pangeran kau kembali tepat waktu." kata Senopati


"Iya senopati, Ratu Kala Bang. Terimakasih dan mohon maaf telah membuat kacau di istanamu." kata Satria


Pertemuan haru itu kemudian tertahan. Bhatara Narada hadir di hadapan kami.


"Narayan ... Narayan ... Narayan." katanya yang khas.


Kami semua segera menghaturkan sembah ke hadapan orang suci itu.


"Bhatara terimalah sembah kami." kata kami serempak.


"Pasti ada hal yang ingin eyang bhatara sampaikan." kataku

__ADS_1


Bhatara Narada hanya tersenyum. Seperti biasa, dia juga memainkan alat musik wina nya. Alunan yang sangat indah.


"Benar putri, aku menyampaikan pesan dari Dewa Indra." kata Bhatara Narada


"Apa pesan dari Dewa Indra, resi?" tanyaku


"Pertama dewa mengucapkan selamat kepada pangeran. Kau telah berhasil menyelesaikan tapamu di Wana Taas." kata Bhatara Narada


Setelah itu, Ratu Kalabang menyiapkan pesta dan jamuan. Seluruh penghuni Dandaka merasa senang. Terlebih dengan hadirnya pangeran Satria dan Resi Narada.


Berbagai makanan segera tersaji di meja jamuan. Aku merasakan kebahagiaan ini. Kehadiranku ke Dandaka tenyata membuahkan hasil yang berlipat - lipat. Pertama dapat melihat Pasopati baik - baik saja. Kedua adalah bonus yang tak ternilai, aku berjumpa dengan pangeranku.


Dalam jamuan itu, Satria menceritakan bagaimana ketika dia bertapa. Dia juga bercerita kalau pernah dididik oleh Dewi Sakti. Godaan selama bertapa oleh para bidadari cantik.


"Apakah kau tergoda?" tanyaku


"Tentu saja ........ tidaaak" kata Satria sambil tertawa.


"Sat, ada yang ingin aku bicarakan padamu." kata Pasopati.


"Apa?" tanya Satria


Awalnya Pasopati ragu akan menyampaikan hal itu. Tapi Satria terus mendesak.


"Kenapa So?" tanya Satria


"Aku cuma mau bilang, kalau selama kau bertapa. Wanita mu ada yang menggoda. Tapi selalu gagal." kata Pasopati


"Siapa yang berani menggoda wanitaku?" tanya Satria


Pasopati akan menjawab nya. Tapi langsung dicegah oleh Resi Narada.


"Nanda pangeran Satria. Kau belum bisa kembali ke Medang. Untuk sementara kau harus berlatih di Hutan Dandaka bersama senopati. Kau harus mengasah kemampuanmu dulu. Karena musuhmu juga sedang menghimpun kekuatan besar." kata resi.


"Baik resi, hamba akan tinggal di Dandaka." kata Satria


"Tapi resi" iterupsiku


"Nanda Nararia, kau kan bisa sering - sering datang kemari. Sabar lah anak mas, semuanya akan baik - baik saja. Kalau begitu saya pamit akan kembali ke Kahyangan." kata resi.


Kami semua kemudian mengaturkan salam dan sembah. Tak berapa lama, sang resi menghilang.


"Putri, kita harus segera kembali ke Medang." kata Pasopati


"Tapi, So" kataku


"Putri, kembalilah. Jangan membuat ayah dan ibu mu khawatir." kata Satria


Aku ingin berkata tidak. Tapi benar apa yang dikatakan oleh Satria. Aku masih penasaran kenapa sang resi, melarang Satria kembali ke Medang.


***


Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe


next :


Apa alasan sang resi melarang Satria kembali ke Medang?


Apakah alasan berlatih di Dandaka merupakan perintah dewa?


Temukan jawabannya di episode selanjutnya ya.


With Love

__ADS_1


Citralekha


__ADS_2