
** Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**
Happy reading.
.
.
Kau juga akan kehilangan Puspa dan Kencana. Kau akan kehilangan kekuatanmu. Kau juga tak akan pernah ingat sepenuhnya dengan masa kini. Kau akan kembali dengan keadaan luka yang berat. Sekarang kau pilih mana?" tanya Dewi Sakti
Aku kemudian memandangi Puspa dan Kencana. Mereka berdua nampak meneteskan air mata. Aku benar - benar bingung. Air mataku terus mengalir tanpa henti.
"Puspaaaa" kataku
Aku langsung berlari menuju Puspa dan segera memeluknya. Kencana juga memelukku dari belakang. Rasanya nyaman dan tidak mau berpisah dengan mereka. Aku sangat menyayangi mereka. Tapi acara mesra - mesran itu segera berakhir. Dewi Sakti kembali memanggilku.
"Putri Nararia, segeralah memutuskan. Waktumutak banyak." kata Dewi Sakti
"Tapi dewi, itu pilihan yang sulit sekali. Saya tidak tahu harus pilih mana." kataku
Dewi Sakti lalu menyentuh keningku. Aku dapat melihat suasana di Medang.
**
Medang
Pertarungan Adhiraksa dan Pasopati masih berjalan dengan semakin ganas. Tendangan mematikan diantara mereka berdua sangat dasyat. Maharaja ingin memisah ke dua nya. Tapi sia - sia, seperti ada pagar pembatas. Sehingga tidak ada seorang pun yang bisa ikut campur dalam pertarungan itu.
*
Satria dan Sanjiwani telah sampai di istana. Mereka langsung menghaturkan sembah kepada ayah dan ibuku. Mereka berdua lantas bingung. Karena ada 2 satria, Sanjiwani kemudian menjelaskan tentang 2 Satria itu. Sementara itu ibuku sangat bahagia. Karena aku sudah kembali dengan selamat. Sanjiwani pun nampak bahagia.
Satria kemudian menghancurkan pagar pembatas itu. Dia sudah sangat geram dengan Adhiraksa.
"Rayi Adhiraksa, sadarlah" kata Satria
Adhiraksa dan Pasopati kemudian berhenti sejenak dalam pertarungan itu. Mereka kemudian menoleh ke sumber suara. Betapa kagetnya, saat Adhiraksa tahu bahwa Satria telah kembali.
"Satria palsu, prajuriiiit segera bunuh satria palsu itu." teriak Adhiraksa
Sebelum prajurit maju, terlebih dahulu ayahku melarang prajuritnya menyerang orang yang salah.
"Prajuriiit hentikan!! Aku lah raja di Medang. Jangan turuti perintah orang lain selain rajamu." kata ayah raja
Prajurit kemudian kembali ke posisi semula. Demikian Pasopati tanpa menunggu waktu lama. Dia memanfaatkan hal ini. Segera dia hantam Adhiraksa. Sehingga Adhiraksa tersungkur. Dia muntah darah,
"Pasopati, sialan kau curaaang!!" pekik Adhiraksa
"Sesekali curang tak mengapa. Bukankah kau selalu curang." sindir Pasopati
Satria lalu mendekati Adhiraksa yang sudah terkapar. Dia melangkah dan duduk di samping Adhiraksa.
"Saudaraku, apa yang kau lakukan? kenapa kau berbuat seperti ini?" tanya Satria
"Ini semua karena kau, Satria. Aku tidak pernah mendapatkan apa yang ku mau. Sekarang aku akan membunuhmu.!!" kata Adhiraksa
Adhiraksa tiba - tiba mengeluarkan pukulan Sakti nya. Dia kemudian menghantam kepala Satria Tapi tiba - tiba selendang hijau telah melilit tangan Adhiraksa.
__ADS_1
"Kenapa kau ingin membunuhku?" aku kakakmu." kata Satria
"Sat, dia sudah tidak bisa diajak kerjasama. Aku akan melenyapkan dia." kata Pasopati
Pasopati kemudian menyalurkan ilmunya melalui perantara kain hijau. Tapi sebelum ajian itu sampai ke tubuh Adhiraksa. Tiba - tiba ada sekelebat bayangan yang menyambar Adhiraksa.
"Sial, siapa orang itu." batin Pasopati
Pertarungan itu akhirnya selesai. Pasopati dan Satria saling berpelukan. Mereka sangat bahagia karena dapat menghalau serangan Adhiraksa.
Ayah dan Sanjiwani langsung turun dari mimbar. Mereka menyambut kemenangan Satria dengan suka cita.
"Selamat nanda." kata ayah raja
"Ini semua berkat Pasopati, ayah." kata Satria
Ibuku juga segera menyusul turun dari mimbar. Ada rona kebahagian yang terpancar dari wajah ibu. Sekali lagi Satria dan Pasopati menghaturkan sembahnya pada ibu dan raja.
"Nanda Satria dan putriku Dyah Pramoddhawarddhani... sudah lama sekali, pernikahan kalian tertunda. Kini saatnya kalian harus menikah." kata ibuku
Satria dan Sanjiwani, juga Pasopati sangat bahagia mendengar hal itu. Tapi Pasopati seperti merasakan bahwa dyah Pramodhawarddhani yang ada di depannya bukan sahabatnya dari masa depan.
"Bagaimana nanda Satria?" tanya ayah raja
"Hamba setuju, jika permaisuri hamba juga berkenan." kata Satria
Sanjiwani sangat berbinar. Dia benar - benar bahagia
Raja kemudian memerintahkan prajuritnya untuk membuat pesta pernikahan antara Pramodhawarddhani dan Satria. Sanjiwani kemudian memeluk Satria.
**
Dalam keadaan terluka, Adhiraksa di papah oleh ksatria bertopeng. Tenaga Adhiraksa sangat lemah akibat pukulan tenaga dalam dengan media selendang hijau.
"Terimakasih pangeran, kau telah menyelamatkan
Katakan ala yang kau mau?" tanya Adhiraksa
ksatria itu hanya tersenyum penuh arti.
"Bekerjasama denganku." kata ksatria itu
"Kerjasama apa?" tanya Adhiraksa
Tapi sebelum melanjutkan perbincangan itu. Adhiraksa kembali batuk darah dan dia pingsan. Dia bener - benar telah lunglai akibat ajian yang dikeluarkan oleh Pasopati. Ksatria bertopeng itu lalu meletakan tubuh Adhiraksa di atas dipan kayu.
Tak lama kemudian Adhiraksa bangun sambil terjatuh- batuk. Dia memuntahkan darah segar kembali.
"Apakah aku terkena racun?" tanya Adhiraksa
"Benar, racun getah hijau. Hanya seorang yang memegang mustika Hijau lah yang dapat melakukan ini. Apakah Pasopati pemegang mustika Dandaka?" tanya ksatria bertopeng.
"Ga betul, Pasopati hidup ke dua karena ditolong oleh keluarga Dandaka. Dia juga sangat sakti saat ini. Hal itu karena efek mustika itu." jelas Adhiraksa
Mereka berdua kemudian mencapai kesepakatan. Mereka akan bekerjasama untuk melakukan satu hal besar. Apalagi Adhiraksa semakin kaget dengan sosok wajah yang ada di balik topeng emas itu.
"Kau?" kata Adhiraksa
__ADS_1
Dia bingung dan tidak menyangka bahwa seorang yang telah menyelamatkan hidupnya adalah orang yang dia kenal.
**
Aku kemudian tersadar dan merasa terharu dengan kebahagian yang terjadi Medang. Dewi Sakti lalu melangkah ke arahku.
"Putriku, kau jadi pilih mana?" tanya Dewi Sakti
"Saya masih bingung bunda dewi." kataku
Karena memang aku sangat bingung.
"Jika kau disini, aku akan kembalikan kau ke Medang. Kau bisa menikah pada pangeranmu." kata Dewi Sakti
"Lalu Pramodhawarddhani?" tanyaku
"Aku akan mengatur semuanya. Pasopati pasti akan membantumu." mata dewi sakti
Aku masih menimbang perkataan dewi sakti. Sekali lagi, aku menatap Puspa dan Kencana dalam - dalam. Aku tersenyum dan melirik ke arah Dewi Sakti. Demikian juga dengan Dewi. Dia tersenyum dan kemudian memelukku.
"Terimaaksih bunda dewi." kataku
"Pengorbanan mu, akan terus menjadi kenangan dan pelajaran bagi umat manusia. Bukan soal lelaki tapi juga soal cinta" kata Dewi Sakti
Aku sangat bahagia bisa berada di masa ini. Bagaikan sebuah mimpi, aku bisa kembali ke masa lalu.
"Apakah kamu siap?" tanya Dewi Sakti
"Tentu bunda dewi." kataku
"Saya akan mengirimu ke tempat yang sudah kau pilih. Berbahagialah" kata Dewi Sakti
Aku lalu memejamkan mata. Aku sudah siap dengan pilihanku kali ini. Seberkas cahaya menghampiriku. Aku bisa merasakan hal itu. Tubuhku seperti terbang dan ringan bagai kapas.
**
Dalam keadaan mata terpejam, Aku merasa seperti berada di sebuah tempat tidur. Aku merasakan angin sepoi yang lembut dan sejuk. Lalu ku dengar suara lelaki yang tiba - tiba memanggilku.
"Putri Nararia ... banguuun" teriakan seseorang
Aku pelan - pelan membuka mata. Aku pandangi wajah lelaki yang memandangi ku. Senyumnya sangat manis, ya manis sekali.
***
Haaai apa kabar teman - teman. Semoga tetap setia menunggu ya. Maaf ya 2 hari tanpa kabar.
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih sudah berkenan menjadi reader. Jangan lupa untuk klik like, vote rate, dan comment ya. Biar aku semangat buat ngetiknya. hehehe
Jadi Aku mohon jangan lupa untuk like, comemt, vote, dan rate ya..
next : Siapa yang putri Nararia lihat?
Kasih saran di kolom komentar ya..
With Love
Citralekha
__ADS_1