
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*
Happy reading
.
.
Aku dan Widasari kembali ke tenda. Tapi ak merasa lelaki misterius itu mengikuti kami. Aku mencoba tidak mempedulikannya. Aku takut Widasari akan kawatir.
"Putri Widasari, ayo lebih cepat lagi." kataku
"Kenapa kak?" tanya Widasari.
"Aku kangen sama Satria, hahaha" kataku mencoba berbohong agar Widasari mengejarku.
Lelaki itu terus mengikuti kami. Tapi selama dia tidak bereaksi yang membahayakan aku akan diam saja. Widasari akhirnya menyadari bahwa kita diikuti.
"Kak, sepertinya ada yang mengikuti kita." kata Widasari
Aku mencoba celinggukan dan mencari orang yang dimaksud Widasari.
"Enggak ada tuh, perasaan mu saja, Wid." kataku
Aku berusaha menenangkan Widasari agar dia tidak takut.
"Ayo kak lebih cepat." kata Widasari
"Gimana kalau kita lomba lari sampai di tenda?" tanyaku
Kami setuju untuk berlomba. 1,2,3 lariiiiiii. Itulah yang kami lakukan untuk menjauh dari pria asing itu. Tak berapa lama kami pun sampai tenda dengan tergesa - gesa
"Kalian kenapa?" tanya Satria
Ia langsung memeluk dan menenangkan kami. Demikian juga dengan Pasopati yang langsung menghampiri Widasari.
"Coba katakan pada kami, apa yang terjadi?" tanya Pasopati.
Widasari hampir memberitahu tentang pria misterius itu. Tapi aku langsung mencegah dengan memberikan alasan perlombaan.
"Kami sedang lomba lari, iya kan Widasari?" kataku
"Iy ... iya be betul, kami sedang lomba lari." kata Widasari terbata - bata.
"Lalu yang menang hadiahnya apa?" tanya Satria
"Dapat pelukan mesra dari kekasih hatinya." kata Widasari bersemangat
Kami langsung tertawa bersama begitu mendengar jawaban dari Widasari. Sais kereta pun juga sudah menyiapkan sarapan untuk kami sebelum kembali ke Istana.
"Ayo sarapan kemudian kita kembali ke Istana. Aku memiliki feeling yang kurang bagus terhadap istana." kata Satria
'Andai saja Kencana dan Puspa masih bersamaku. Maka aku dengan mudah mengetahui kejadian di istana.' gumamku
"Kenapa tidak di makan, sayang?" tanya Satria
Aku kemudian sadar dari lamunan ku, dan merajuk pada Satria untuk menyuapiku.
"Suapin aku, sayang." kataku manja
Malah Pasopati yang sudah lebih dahulu menyuapi Widasari.
"Tukan, kenapa Widasari duluan?" kataku sambil manyun
"Buka mulut mu sayang" kata Satria
Sarapan telah usai dan kami bersiap untuk kembali ke Istana. Kami dengan posisi semula, aku dan Satria satu kereta. Sebelum berangkat aku memandangi sekeliling tempat ini. Ada rasa sedih yang menyelimuti diriku. Aku telah kehilangan sahabat terbaik.
__ADS_1
"Ayo segera kembali." kata Satria
Aku lalu naik kereta dan siap jalan. Perjalanan yang akan melelahkan. Aku juga masih ngantuk tapi tiba - tiba mataku terbelalak dengan hadirnya lelaki misterius itu. Aku melihat ke arah luar tirai kereta.
"Kenapa sayang?" tanya Satria
"Aku akan merindukan tempat ini, kak." kataku mencari alasan
Satria kemudian melihat keluar. Ia tidak melihat lelaki misterius itu.
"Iya, suatu saat aku akan membangun kompleks percandian yang indah, sayang." kata Satria
Aku merasa senang dengan rencana yang diungkapkan Satria. Aku senang bercampur sedih, karena kalau candi sudah berdiri. Aku akan kembali ke masa depan. Entah aku bisa kembali lagi atau tidak jika aku sudah kembali.
Aku kemudian tidak menghiraukan dengan pria misterius. Rasa ngantuk dan lelah membuatku tertidur pulas di bahu Satria.
Kami sampai di sebuah desa yang membuat sais kereta menghentikan kereta. Satria meminta kepada sais untuk menyelidiki daerah itu. Daerah yang teramat sepi. Aku pun terbangun dari tidur ku
"Kenapa berhenti, kak?" tanyaku
"Desanya sangat sepi, mungkin terjadi sesuatu. Sais cepat turun dan cari tahu" perintah Satria
"Baik pangeran" kata sais
Sais pun turun dan tiba - tiba kereta kami dikeroyok oleh orang - orang desa.
"Keluar ... Keluar !!!!!" teriak mereka
"Sayang tetap di dalam, biarkan aku yang turun. Sais jaga sang ratu." perintah Satria
Satria pun turun demikian juga dengan Pasopati. Nampaknya Widasari juga tetap berada di dalam kereta.
"Ada apa ini?" tanya Satria
"Bunuuuuuh mereka!!" teriak penduduk desa.
"So, jangan sakit mereka. Kita harus cari tahu dulu ada apa." kata Satria
"Baik, lumpuhkan saja mereka agar tidak bisa melawan" usul Pasopati
Aku mengintip dari tirai kereta. Aku juga bingung apa yang terjadi dengan masyarakat ini.
"Sais kira - kira apa yang terjadi ya?" tanyaku
"Entahlah tuan putri, mungkin ada kesalahpahaman." kata Sais.
Pertarungan masih berlangsung dan tak berapa lama kemudian penduduk desa terlepas karena terkena ajian dari Pasopati untuk melumpuhkan tenaga dalamnya. Begitu masyarakat sudah tidak bisa melawan. Aku pun turun dari kereta
"Kenapa sayang?" tanya Satria.
Tapi aku tidak menggubris pertanyaan Satria. Aku langsung mendekat ke warga yang masih terduduk lemas.
"Ada apa? kenapa kalian menyerang kami?" tanyaku
"Ampun paduka, jangan hancurkan desa kami dan jangan baikan pajak kepada kami." kata mereka..
Mendengar hal itu Satria langsung mendekat ke arah kami.
"Apa yang terjadi, apaan kalian ini. Siapa yang meminta naik pajak dan menghancurkan desa?" tanya Satria keheranan
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Pasopati.
Masyarakat saling tatap begitu mengetahui kebingungan kami.
"Ampun paduka, segerombolan yang mengaku utusan dari istana masuk ke desa kami dan membuat kekacauan." kata salah satu warga.
----
__ADS_1
(flash back) di sebuah desa
Keluar !! keluar !!
Kami membawa woro - woro dari istana. Kalian semua berkumpul atau akan kami hancurkan desa ini.
Masyarakat pun kemudian berkumpul dan duduk menyembah segerombolan orang yang mengaku utusan dari istana.
"Ada apa paduka, kenapa ingin menghancurkan desa kami?" tanya salah satu warga.
Dengarkan pengumuman ini.
Diberitahukan kepada seluruh penduduk desa di wilayah Medang. Keadaan istana saat ini sedang kacau, mengalami masalah keuangan untuk itu kami menaikan tarif pajak desa dan meminta untuk menyerahkan upeti berupa harta benda, ternak, dan hasil pertanian.
jika kalian menolak, maka desa akan kami hancurkan.
tertanda (stempel kerajaan)
Medang
"Kekacauan apa yang sedang terjadi istana, paduka. Kenapa pajak harus naik?" tanya mereka.
"hahaha ... Apa kalian tidak tahu? Pangeran dari Pikatan dan Prameswari akan menikah. Istana butuh anggaran besar untuk mengadakan pesta yang mewah." kata segerombolan orang.
"Kenapa pernikahan bangsawan harus rakyat yang menanggung?" tanya masyarakat
"Aku tidak tahu, ini perintah dari istana. Jika tidak terima, kalian bisa memberontak dan membunuh pangeran dari Pikatan. Aku dengar beberapa hari ini pangeran akan kembali dari perjalanannya. Kalian bisa mencegat mereka." usul perampok
Segerombolan yang mengaku - Aku utusan dari istana lalu menarik pajak. Akan tetapi masyarakat kemudian melawannya. Perlawanan dari rakyat tidak berarti apa - apa bagi perampok. Dengan mudah masyarakat segera ditaklukkan dan mereka menjarah barang - barang yang dimiliki masyarakat.
Anak - anak dan para wanita menangis, karena persediaan makanan .mereka diambil dengan paksa. Masyarakat lainnya hanya bisa melihat kekacauan yang terjadi dan menerima nasib mereka. Perampok pergi dengan puas karena telah menjarah harta benda yang mengatasnamakan istana.
---
Salah satu masyarakat (di duga sebagai pimpinan desa) menjelaskan kepada kami.
"Apa Apaan ini, istana tidak pernah mengeluarkan maklumat seperti itu." teriak Satria.
"Tapi itulah kenyataannya, paduka. Anda jangan egois pangeran jika ingin membuat pesta pernikahan maka jangan siksa rakyat." kata masyarakat.
Pasopati dan Satria saling bertatap muka. Aku lihat kebingungan dan rasa geram dari mereka berdua.
"Pasti sudah terjadi kesalahpahaman, mana mungkin Raja Samaratungga berlaku demikian." kata Pasopati.
"Aku juga tidak yakin, kalau ayahku bisa berbuat demikian." kataku
Kami langsung berdialog dengan masyarakat dan memberikan mereka sekantong mata uang perak.
"Masyarakat, kami minta maaf atas kejadian ini. Pasti telah terjadi kesalahpahaman. Kami akan segera selesaikan." kata Satria.
"Lalu kemana perginya perampok itu?" tanya Pasopati.
"Mereka menyerang desa sebelah, pangeran." kata mereka.
Kami kemudian berdiskusi dan bergegas untuk ke desa sekitar dan akan menyelesaikan hal ini.
"Pasti telah terjadi konspirasi dari orang yang ingin merusak cintamu, Ya." kata Pasopati.
"Kita selidiki." kata Satria.
**
Episode kali ini cukup ya. Maaf telat update, saya sedang tidak enak badan. Happy day dan tetap di rumah ya, jaga kesehatan.
with love
Citralekha
__ADS_1