
**Sebelum membaca jangan lupa untuk klik like, vote, rate, dan comment ya**
Happy reading.
.
.
"Sebaiknya pangeran bertapa. Memohon kekuatan dan kedigdayaan kepada Dewa." saran Astana
Mendengar saran Astana, Balaputra nampak manggut manggut. Sepertinya dia setuju dengan usul Astana.
"Apa kau ada saran, dimana aku harus bertapa?" tanya Balaputra
Astana masih memikirkan dimana tempat pangerannya akan bertapa. Dia nampak mondar - mandir tidak jelas. Demikian juga dengan Balaputra yang nampak bingung.
"Pangeran bagaimana kalau anda bertapa di Goa Rancang Kencono." kata Astana
Balaputra memicingkan kepala serta nampak berpikir keras.
"Pangeran" tegur Astana
Bala kemudian menyetujui usul Astana. Nampaknya dia setuju dengan apa yang dikatakan abdi setianya.
"Kenapa kamu menyarankan di Rancang Kencono?" tanya Bala
Astana kemudian menjelaskan kepala Bala. Alasan kenapa Bala harus bertapa di Goa tersebut.
"Ampun pangeran, Goa itu dipercaya sebagai tempat untuk mengatur strategi perang dari moyang anda." kata Astana
"Moyang?" tanya Bala
"Moyang anda, Raja Sanjaya ketika menghimpun kekuatan nya dilakukan di Goa itu. Jadi kemungkinan disana ada anugrah dari moyang anda. Sang Rakai Mataram Ratu Sanjaya." jelas Astana
Mendengar penjelasan Astana, Bala sangat antusias. Dia pasti menerima saran dan usul dari Astana. terlebih, Goa itu pernah digunakan untuk menghimpun kekuatan.
"Ya, aku pernah tahu jika kakekku menyusun strategi perang di Goa itu. Bagus Astana, aku akan segera berangkat bertapa." kata Bala
"Pangeran, kau harus bertapa untuk mendapatkan anugrah strategi perang. Berharap anda akan berhasil dan kembali dengan amunisi yang lengkap." kata Astana
Bala dan Astana segera mencari Pandita kerajaan. Dia ingin meminta petunjuk. Berharap mendapatkan jawaban kapan Bala harus bertapa. Mereka percaya bahwa hari baik akan mendatangkan kemasyuran.
"Pangeran, hamba akan ke Brahmanan. Hamba akan tanya kepada Pandita kerajaan. Kapan anda harus berangkat ke goa." kata Astana
"Ya pergilah, segera kembali kapan aku harus berangkat." kata Bala
Astana pun segera pamit mundur untuk ke pendopo Brahmana. Balaputra hendak masuk ke kamar. Tapi tiba - tiba diurungkan niatnya.
"Kakak" tegur Widasari
"Widasari." kata Balaputra
Bala kemudian memeluk Widasari. Detak jantung mereka sangat kencang.
"Wida, aku merindukan mu." kata Bala
Widasari kemudian tersentak tatkala mendengar perkataan Bala.
"Apa yang kakak katakan barusan?" tanya Widasari
"Wida, kakak serius padamu. Tinggalkan Pasopati untukku." kata Bala
Mendengar ungkapan hati Balaputra. Widasari kemudian berusaha melepas pelukan dari Balaputra.
"Kakak, apa yang kakak katakan? adik sangat sayang dengan Pasopati." kata Widasari
"Apa lebih nya Pasopati denganku, Wida?" tanya Balaputra
"Wida mencintai kak Paso. Wida hanya menganggap kak Bala sebagai kakak saja." kata Wida
Setelah itu, Wida pergi meninggalkan Balaputra. Sesekali Wida menoleh kebelakang. Balaputra Tak kuasa dan tak percaya jika cintanya ditolak.
"Kurang ajar, berani sekali kelinci kecil itu menolakku. " kata Balaputra sembari memukulkan tangannya ke tiang kayu.
**
Astana dan Pandita
Astana segera menuju Bale Pandita. Lokasi itu berada di pusat kerajaan.
__ADS_1
"Pungawa Astana, ada keperluan apa anda datang kemari?" tanya Pandita
"Ampun Pandita, hamba ke sini atas perintah dari pangeran Balaputra." kata Astana
Mendengar nama orang yang menyuruh Astana. Pandita segera mempersilahkan nya duduk.
"Terimakasih Pandita." kata Astana
"Ada perintah apa dari pangeran ke dua?" tanya Pandita
Pangeran kedua adalah sebutan dari Balaputra. Sehingga perintahnya juga merupakan titah yang harus dijalankan.
"Pandita, pangeran Balaputra berkeinginan untuk melakukan meditasi. Hamba mengusulkan untuk bermeditasi di Goa Rancang Kencono. Hamba ke sini untuk konsultasi dengan Pandita." kata Astana
"Konsultasi seperti apa?" tanya Pandita
Astana lalu menjelaskan kepada Pandita tentang tujuannya datang. Dia berharap Pandita akan menghitung hari baik tatkala pangeran bertapa.
"Jadi kamu ke sini untuk bertanya hari baik?" tanya Pandita
Astana hanya mengangguk. Setelah itu, Pandita segera mengeluarkan pustakanya. Dia menghitung dengan cermat dan teliti.
"Astana, waktu terbaik untuk pangeran sudah ketemu." kata Pandita
"Kapan itu Pandita?" tanya Astana
Astana sangat senang ketika hari sudah ditemukan. Dia akan mendapatkan pujian dari pangeran.
"Waktu yang tepat ialah saat purnama pada hari anggara kasih (selasa kliwon)." kata Pandita
"Baiklah Pandita, terimakasih. Jadi minggu depan adalah saat yang tepat." kata Astana
Setelah mengucapkan terimakasih. Astana segera kembali ke Ksatria Balaputra.
**
Nampaknya Balaputra sudah stand by ada di depan biliknya. Dia nampak sedang menikmati minuman khas Medang. Melihat kedatangan Astana, Balaputra tersenyum sinis.
"Sudah dapat jawaban, As?" tanya Balaputra
"Sudah, pangeran." jawab Astana.
"Kapan aku harus berangkat, As?" tanya Balaputra
"Anggara Kasih, pangeran." kata Astana
Balaputra kemudian berpikir sejenak dan setelah itu dia tertawa.
"Baiklah, artinya selasa depan. Aku akan berangkat." kata Balaputra
"Persiapkan dengan baik, pangeran." saran Astana
Balaputra kemudian melamun. Dia masih khawatir, jika dirinya terlalu lama pergi. Dia takut tidak mendapatkan kesempatan memiliki Widasari.
"Astana, boleh minta tolong?" tanya Balaputra
Astana kaget, tatkala mendengar perkataan permohonan dari Balaputra. Tidak seperti biasanya, pangerannya bersikap manis seperti itu.
"Apa yang bisa hamba bantu, pangeran?" tanya Astana
Bala nampak ragu untuk mengatakan keinginannya. Tapi karena desakan dari Astana. Akhirnya dia mengatakan
"Aku mau minta tolong padamu. Selama aku pergi, tolong jaga dan perhatikan Widasari, untukku." kata Balaputra
Mendengar permintaan pangerannya, Astana kaget. Ini kali pertama Balaputra memperhatikan seorang wanita.
"Putri Widasari?" tanya Astana
"Betul, manjakan dia dengan untaian mutiara dan bunga. Sampaikan kalau itu semua dariku." kata Balaputra
Astana kemudian berpikir, kalau pangerannya sedang jatuh cinta dengan seorang putri.
"Tapi putri Widasari adalah kekasih pangeran Pasopati." kata Astana
"Aku harus memenangkan Widasari." kata Balaputra
Astana segera menyetujui apa perintah dari Balaputra untuknya.
**
__ADS_1
Aku dan Pasopati
"Putri, aku hanya ingin mengingatkanmu. Jika kamu harus terus menjaga hatimu untuk pangeran Satria." kata Pasopati
"Iya, So. Pasti, tidak mungkin aku menghianatinya." kataku
Pasopati hampir setiap hari selalu mengingatkanku. Dia selalu menasehati untuk terus setia dengan Satria. Aku harus sadar, bahwa pangeran yang bersama kita adalah pangeran Adhiraksa.
"Aku paham, So. Kami hanya memerankan peran kami masing - masing." kataku
Tak berapa lama, Adhiraksa menyusul kami. Dia datang dengan tiga buah tangkai mawar merah dan dua buah teratai biru.
"Untuk tuan putri yang paling cantik." kata Adhiraksa.
"Terimakasih pangeran Satria." kataku
Aku reflek langsung memeluknya. Aku tidak sengaja dan lupa jika dia bukan Satria. Sontak membuat Pasopati segera membuyarkan pelukan kami.
"Maaf pangeran dan putri, inget kan kalian siapa?" tanya Pasopati
Aku dan Adhiraksa kemudian melepaskan pelukan kami.
"Maaf, So. Reflek." kataku
"Sebaiknya tidak perlu minta maaf, karena kita sedang bermain sandiwara." jelas Adhiraksa
"Maafkan aku, So." kataku
Demikian juga dengan Adhiraksa. Kami kemudian menyusun strategi untuk membuka kedok siperusuh. Tak berapa lama Widasari datang sambil berlari.
"Ada apa Wida?" tanya Pasopati heran
"Kak Paso, ada yang harus aku omongkan. Ayo kita keluar dulu." kata Wida
Pasopati segera pamit mundur untuk berduaan dengan Widasari. Sepeninggalkannya mereka, Adhiraksa mengajakku berdiskusi tentang kerajaan besar Medang dan Pikatan.
Dia pribadi yang sangat menyenangkan. Pengetahuan tentang kerajaan dan politik sangat ia kuasai. Dia belajar banyak hal tentang kepemimpinan.
"Pangeran dari mana kamu belajar ilmu pemerintahan?" tanyaku
"Saya belajar dari kitab Nitisastra, putri." kata Adhiraksa
"Bisakah kau mengajariku tentang pemerintahan?" tanyaku
Adhiraksa mengangguk, dia kemudian mengajakku menuju perpustakaan istana. Sepanjang jalan, semua mata tertuju pada kami. Mereka melihat kekompakan dan keserasian kami.
"Putri, selain Nitisastra kamu juga wajib tahu tentang kitab Manawadharmasastra." kata Adhiraksa
"Kitab ala itu, pangeran?" tanyaku
Dia segera menjelaskan, bahwa Manawadharmasastra adalah kitab yang membahas tentang pemerintahan yang adil dan bijaksana.
Aku semakin tertarik belajar tentang politik dengan Adhiraksa. Tak lama kemudian, kami sampai di perpustakaan. Ternyata banyak sekali koleksi sastra yang ada di sini.
"Putri, apa kau tahu tentang Astabrata?" tanya Adhiraksa.
Aku pernah mendengar istilah itu. Tapi secara luas, aku kurang begitu paham.
"Belum terlalu paham, boleh ajarin saya?" tanyaku
"Baiklah putri cantikku." katanya
Wajahku merona ketika mendengar pujian dari Adhiraksa. Kami cukup lama berada di perpustakaan. Diskusi kecil kami lakukan untuk membangun suasana yang hangat.
"Pangeran, jadi Astabrata itu apa?" tanyaku
"Akan aku jelaskan tentang ajaran Astabrata, putri." kata Adhiraksa
***
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya. Maaf telat update. Jangan lupa untuk like, vote, dan rate ya.
Apakah ajaran Astabrata itu?
Kenapa Adhiraksa mengajarkan pada putri Nararia tentang ilmu pemerintahan?
Tunggu episode selanjutnya ya.
With love
__ADS_1
Citralekha