
*Sebelum membaca, jangan lupa untuk like, vote, dan comment ya*.
happy reading
.
.
Matahari sore di abad - 9 sangat indah. Aku memang sering melihat sunset di samping rumahku. Tapi sunset kali ini terasa istimewa bersama orang istimewa. Satria mengajak untuk segera pulang karena hari sudah larut.
"Hari sudah larut, ayo kita kembali." ajak Satria
"Akan sangat berbahaya untuk dua tuan putri ini." kata Pasopati
"Gimana kalau kita membuat tenda dan bermalam di sini?" usul Widasari.
Satria mempertimbangkan usul dari Pasopati dan Widasari untuk membuat perkemahan.
'Kencana, apa ini tidak berbahaya?' tanyaku
'Aku akan menjaga keselamatan kalian.' kata Kencana
"Gimana sayang, aku nurut denganmu kali ini. Jika kau tidak setuju, kita bisa pulang sekarang." kata Satria.
"Ngak papa, kak. Kita bermalam saja di sini." kataku
Pasopati kemudian menyuruh pada sais untuk mengeluarkan perlengkapan perkemahan.
"Kok mereka sudah siap sih?" tanyaku
"Aku sudah mengantisipasinya, Ra." kata Pasopati sembari mengedipkan mata.
Sais dan kami pun mulai untuk mendirikan tenda. Kami membuat 3 tenda. Satu tenda untukku dan Widasari, tenda Satria dan Pasopati, terakhir adalah tenda sais kereta.
Kami tidak membutuhkan waktu lama untuk mendirikan tenda. Pasopati sangat terlatih untuk hal ini. Sais pun menyiapkan kayu untuk menghangatkan air, badan, dan makan malam.
"Oh iya malam ini kita makan apa ya?" tanyaku
Aku sudah mulai lapar. Aku khawatir karena persedian makan siang tadi telah habis.
"Tenang lah, aku sudah mempersiapkan semuanya." kata Pasopati bangga.
Ia kemudian menepuk tangannya. Sais datang sembari membawa ayam.
"Kita makan ayam panggang lagi, hore." teriakku
"Eh, kalian nggak mau mandi para gadis?" tanya Pasopati.
"Mandi dimana ya?" tanya Widasari
Sais menunjukan tempat untuk mandi para putri. Ternyata tadi siang sais telah membuat sekat pada sidatan air sungai opak yang airnya mengalir di kali kecil.
Satria ingin menemani kami mandi. Tapi ditolak oleh Widasari. ia berpesan pada Satria dan Pasopati untuk menyiapkan makan malam kami. Aku menurut saja dengan Widasari. Tapi ada keraguan di hati Satria dan Pasopati. Mereka mungkin mempunyai firasat yang buruk.
Kami menuju ke bilik yang telah disiapkan oleh sais dengan membawa penerangan obor. Salah satu sais menemani kami membawa obor. Widasari memerintahkan pada sais untuk berjaga dan berdiam diri di situ.
Kami mandi di bawah pohon yang lumayan besar. Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
"Kenapa, Kak?" tanya Widasari
"Tidak apa - apa, ayo mandi." ajakku
Kami masuk ke bilik dan mandi bersamaan. Pohon besar tadi pada dahannya bergerak dengan kencang. Tiba - tiba angin besar datang. Obor mati seketika, Widasari mendekatkan diri padaku.
"Kak, aku takut, menyesal tadi menolak tawaran Kak Pasopati dan Satria." kata Widasari lirih.
"Saiiiis." panggil Widasari
Sais pun datang dan membawa obor. Tapi aku curiga dengan sais yang ini. Ia datang dengan tatapan nafsu yang tinggi.
"Siapa kau?" tanyaku
__ADS_1
Sais itu lalu menarik tangan Widasari sambil tertawa. Suaranya menggelegar membuat Widasari ketakutan dan meronta. Sais berubah menjadi butho yang teramat seram. Widasari pun pingsan seketika. Aku juga melihat sais kereta kami pingsan.
"Apa mau mu?" tanyaku
"Aku akan menjadikan kalian berdua tumbalku." katanya
Aku melawan makhluk seram itu. Kali ini aku mencoba dengan kemampuan yang kumiliki. Aku mempraktikkan ilmu yang Dewi Sakti berikan padaku. Kencana dan Puspa juga tidak bereaksi sama sekali.
"Jangan harap kau butho." kataku
"Kau mau melawanku? cah ayu, ayo sini ikut denganku." katanya
Sebelum maju, prajurit butho tadi keluar dari dahan dan rating pohon besar itu. Berbagai wujud hantu dan makhluk seram muncul. Aku bergidik ngeri melihat mereka semua. Aku tidak mungkin melawan dengan tangan kosong. Aku pun menggunakan panah.
"Kenapa mereka tidak mati?" tanyaku
"Kau bodoh, mereka sudah mati, hahahahha." teriak butho merah.
Aku lalu mengeluarkan panah pancaroba untuk melawan mereka. Sekali panah makhluk mengerikan itu langsung binasa dan lenyap.
"Kurang ajar kau." teriak butho merah.
----
(Perkemahan)
"So, aku merasakan tidak tenang." kata Satria.
"Aku juga, jangan - jangan terjadi sesuatu." kata Pasopati
Tanpa pikir panjang, mereka berdua segera berlari dan menyusul kami.
"Sais, kau tunggu di sini dan siapkan semuanya." perintah Pasopati.
Akan tetapi dalam perjalanan menuju tempat kami, mereka diserang oleh segerombolan perampok.
---
"Oh jadi kau memiliki perewangan. " kata Butho Merah
"Jangan banyak bicara kau butho." teriak Puspa
Terjadilah pertarungan antara butho merah dengan Puspa dan Kencana. Aku pun kemudian menghampiri Widasari yang masih pingsan. Tak berapa lama butho merah binasa oleh dua sahabatku. Pasopati dan Satria juga sampai di lokasi kami.
"Kalian tidak apa - pa kan?" tanya Satria sambil memeluk ku
"Widasari bangun." teriak Pasopati
Aku kemudian menjelaskan tentang kejadian tadi. Satria curiga padaku
"Lalu kemana perginya butho itu? siapa yang mengalahkan butho itu?" tanya Satria
"Aku tadi berdoa dan entah kenapa aku mendapatkan kekuatan untuk mengalahkannya." kataku
Satria terus memeluk dengan sangat erat. Widasari dan sais pun juga sadar. Kami kembali ke perkemahan dan sais satunya sudah menyiapkan makanan untuk kami. Kami makan dengan lahap. Setelah itu Satria mengajakku ke tepi sungai. Pancaran sinar bulan masuk dalam bayangan air sungai.
"Sayang, apakah kau benar tidak memiliki kesaktian?" tanya Satria
"Tidak, Kak." kataku
Satria kemudian memperhatikan kalung berliontin panah yang aku pakai.
"Sejak kapan kau menggunakan kalung ini?" tanya Satria.
Ia berusaha memegang kalung itu tapi aku tepiskan.
"Ini kalung pemberian ibuku sebelum aku masuk ke sini." kataku mencari alasan.
"Sayang, apakah mungkin dengan kau berdoa tiba - tiba butho itu lenyap?" tanya Satria
Aku semakin bingung harus menjelaskan seperti apa agar Satria tidak curiga. Apakah aku harus berkata jujur.
__ADS_1
'Bilang saja kalau sudah diajari oleh Pasopati beberapa gerakan.' kata Puspa
"Kalau aku berkata jujur jangan marah ya, janji." kataku
"Iya." katanya singkat
"Pasopati telah mengajariku beberapa jurus dan kesaktian. Sehingga aku bisa melawan butho tadi." kataku
"Apaaaa?" teriak Satria
"Berani sekali Pasopati." kata Satria marah.
Ia segera bangkit dan mencari Pasopati. Begitu bertemu dengannya, Satria langsung menyerang Pasopati dengan ganas.
"Hei, apa yang terjadi?" tanya Pasopati bingung.
Aku merasa bersalah karena telah mengumpankan Pasopati sebagai alasan. Widasari berusaha melerai mereka berdua tapi aku cegah. Aku takut jika Widasari nanti malah terluka oleh mereka. Aku pun kemudian maju dan memisahkan mereka berdua.
"Kak Satria, hentikan. Atau aku akan membencimu." kataku
Akhirnya Satria menghentikan serangan nggak jelasnya pada Pasopati.
"Ini ada apa?" tanya Pasopati
"So, maafkan aku. Aku tadi bilang jika kau telah mengajariku beberapa jurus dan ilmu kesaktian." kataku sambil mengedipkan mata
Pasopati pada awalnya bingung tapi begitu melihatku ia paham.
"Hanya karena aku mengajarinya kesaktian kau marah, Satria?" tanya Pasopati
"Tidak ada yang boleh menyentuhnya selain aku." kata Satria
Aku akhirnya menjelaskan pada Satria kenapa aku belajar dengan Pasopati.
"Kalau begitu, besok aku yang akan mengajarimu beberapa jurus sakti." kata Satria
"Wowowowo, ternyata pangeran Satria masih saja cemburu padaku." ledek Satria
Kami pun langsung masuk ke tenda tapi Satria bernegosiasi bersama kami.
"Aku nggak mau tidur bersama Pasopati." kata Satria
"Trus kakak mau tidur dimana?" tanyaku
"Aku akan tidur di luar tendamu. Aku akan berjaga." kata Satria.
Akhirnya kami sepakat kalau Satria dan Pasopati akan begadang di luar tenda kami. Sais dan Satria menjaga di sisi sebelah utara, selatan, dan timur. Sedangkan barat dijaga oleh Pasopati. Mereka masih takut kalau kawanan butho nanti menyerang lagi untuk balas dendam.
"Kencana." kataku
'Aku akan berjaga dan melindungi kalian' kata Kencana.
Kencana pun keluar dari tubuhku dan melakukan perlindungan pada lokasi kemah kami. Ia memasang pagar ghaib agar tidak dimasuki oleh makhluk halus yang akan menganggu kita.
'Tenang, Rara ... selama kami ada bersamamu, kami akan melindungimu.' kata Puspa
Hawa dingin dan angin kencang terasa oleh kami. Tanda ini adalah tanda kehadiran makhluk sejenis butho tadi. Widasari pun ketakutan demikian juga dengan ke dua sais kereta. Aku kemudian keluar dari tenda.
"Sais masuklah ke tenda kalian." perintahku
"Baik tuan putri." kata mereka
"Kenapa kau keluar?" tanya Satria.
Pasopati kemudian mendekati kami. Ia merasakan hawa tidak enak tapi ada kekuatan lain yang juga melindungi kami.
**
Episode kali ini cukup ya. Terimakasih atas waktunya
with love
__ADS_1
Citralekha