
***Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, dan comment ya*
Happy reading
.
.
"Apa kita perlu membantunya?" tanyaku
"Kita lihat dulu situasinya, Kak." kata Widasari
Aku dan Widasari masih memperhatikan jalannya pertarungan itu. Tapi aku merasa ada orang yang sedang berjalan mendekati kami datang dari arah belakang. Aku terus waspada dan cepat berbalik badan. Benar dibelakang kami sudah ada 2 orang bergundal yang siap menghunuskan pedang ke kami.
"Cah ayu sini ikut bersama kami." katanya
"Kurang ajar, kau berani membokong kami ya." kata Widasari
"Apa maksudmu membokong kami?" tanyaku
"Kalian akan ku jadikan sandra." katanya
Pertarungan terjadi antara aku, Widasari, dan beberapa perusuh. Widasari memainkan pedang dengan sangat lincah. Aku juga menggunakan busur yang aku keluarkan secara ajaib dari liontinku.
"Ajaib, bagaimana mungkin, kak?" tanya Widasari keheranan.
"Sudah tidak usah dipikirkan, ayo kita habisi perusuh itu." kataku
Liontin busur dan panah dari Dewi Sakti memang sangat ajaib. Bahkan pedang perusuh pun tidak mampu mematahkan busur saktiku.
"Terbuat dari bahan apa, busur itu?" tanya perusuh keheranan.
Begitu mereka lengah, aku langsung memanah para perusuh. Sekali panah 5 anak panah keluar secara bersamaan dan langsung meluncur seperti memiliki mata dan langsung menghujam jantung perusuh.
aaaaaaaakkkkkhhhhh
Teriak mereka secara bersamaan. Widasari langsung melihat ke arahku.
"Kakak bagaimana mungkin bisa kau melakukan ini?" tanyanya heran.
"Aku sudah katakan, kalau Pasopati yang mengajariku." kataku bohong.
"Tapi kesaktian, Kak Pasopati tidak seperti itu." katanya lagi.
Aku kemudian mengalihkan perhatian Widasari untuk terus mengawasi kekasih hati kita di medan laga. Satria dan Pasopati masih terus melawan perusuh itu. Perusuhnya seperti tidak ada habisnya, sebab mati satu tumbuh seribu. Dari berbagai arah mereka muncul dan terus mengepung lelaki kami.
"Ini buruk kak" kata Widasari.
"Lalu?" tanyaku
Aku dan Widasari saling melirik satu sama lain dan bersiap untuk masuk ke tengah arena. Tanpa diberi aba - aba, kami berdua sudah loncat dan berada di tengah - tengah perusuh dan langsung menyerang mereka.
"Apa yang kalian lakukan? ini sangat berbahaya." mata Pasopati
"Apakah melihat kekasih hati kami dikepung, kami akan diam saja?" kata Widasari.
Akhirnya kami sepakat untuk saling bahu membahu melawan para perusuh. Aku menyerang musuh bagian selatan, Widasari utara, Satria timur, dan Pasopati barat.
Suara pedang dan perisai yang membuat telinga dan mata untuk tetap waspada. Aku memainkan busur panah dengan lumayan indah. Busur seperti memiliki mata, dimana tahu siapa saja yang akan menyerangku.
"Kalian akan segera mati, cepat menyingkir cah ayu jika tidak ingin terluka." mata salah satu perusuh.
"Boleh coba, siapa yang akan menang." kataku
__ADS_1
Kami langsung saling serang. Tak butuh waktu lama, kami bisa meringkus para perusuh itu. Pasopati kemudian menyandera salah satu perusuh dan dibawa ke hadapan Satria.
"Katakan pada kami, siapa yang menyuruh kalian menyebarkan berita bohong ini?" tanya Pasopati.
Satria langsung menghunuskan pedang di leher perusuh, dengan harapan mereka akan takut dan akan buka suara. Tapi ternyata strategi itu tidak berhasil. Perusuh terakhir yang masih bertahan hidup tiba - tiba dipanah oleh seseorang.
"Cepat katakan, siapa yang menyuruh kalian?" tanya Widasari
"Kaa mi di suu ruuh oleh Baa .... aaaaaaakkkkkkhhhh." kata terakhirnya
"Sialan siapa yang melakukan ini?" gerutu Satria
Kami melihat sekelebat orang yang berada dari jauh memanah orang itu. Pemanah itu tepat mengenai sasaran (kalau pada masa sekarang bisa disebut dengan sniper).
"Heeeiiiii" teriakku
Pasopati berusaha mengejarnya tapi orang itu sudah pergi secepat kilat.
"Kurang ajar, kira kehilangan jejaknya." kata Pasopati
"Siapa dalang dibalik semua ini?" tanya Satria
"Cepat atau lambat kita akan menemukannya." kataku menghibur mereka
Tak berapa lama penduduk desa menghampiri kami dan mengucapkan terimakasih. Salah satu akuwu menghampiri kami.
"Terimakasih tuan telah membantu kami menumpas para perusuh." katanya
"Kami yang minta maaf karena telah membuat kekacauan dan desa yang indah menjadi berantakan
" kata Satria
"Akuwu kami akan membantu merapikan desa ini. Kami akan tinggal sehari untuk membantu kalian." kataku
Bruuuug
"Aduh, kau tidak apa - apa?" tanyaku
"Tidak, maafkan saya tuan." katanya ketakutan
"Apa yang terjadi sepertinya kau sedang ketakutan." kata Pasopati
Anak wanita tadi langsung menjelaskan bahwa ayahnya telah dipukuli oleh seseorang di rumahnya. Aku kemudian bangun dari duduk dan akan ikut bersama wanita itu.
"Baiklah aku akan ikut denganmu. " kataku
"Tidak, kau tetap di sini. Urusan ini biar aku yang menangani." ucap Pasopati.
Akhirnya Pasopati pergi bersama wanita itu. Aku, Widasari, dan Satria masih melanjutkan membersihkan dan menata desa itu.
"Tuan, bolehkah saya bertanya?" tanyaku
"Silahkan tuan." kata akuwu
"Apa kalian percaya jika pihak istana menaikan pajak dan pajak itu akan digunakan untuk biaya pernikahan Pangeran dan putri?" tanyaku
"Kami sebenarnya tidak percaya, tuan. Tapi melihat stempel kerajaan kami jadi ragu." katanya
Widasari kemudian memungut lontar yang tadi digunakan untuk woro - woro. Ia kemudian menunjukan jika stempel kerajaan Medang yang asli tidak seperti itu.
"Maaf tuan, bagaimana tuan bisa tahu kalau stempel ini adalah palsu?" tanya akuwu
"Pak Kuwu, saya pernah mengabdi di kerajaan jadi aku pernah melihat stempel kerajaan tidak seperti ini." jelas Widasari
__ADS_1
Akan tetapi akuwu dan masyarakat masih belum percaya. Akhirnya Widasari mengeluarkan lontar yang ia bawa di pakaiannya.
"Coba perhatikan ini." perintah Widasari
Widasari meminta masyarakat desa untuk membandingkan stempel kerajaan yang asli dengan yang palsu.
"Bagaimana, apa kalian percaya?" tanyaku
"Kami percaya tuan, tapi bagaimana tuan bisa memiliki dokumen kerajaan?" tanya akuwu
Widasari kemudian melirik padaku dan pada Satria. Ia mempersilahkan kepada kami untuk menjawabnya.
"Kuwu, apa kalian masih percaya dengan desas - desus tentang pernikahan Pangeran dan putri?" tanyaku
"Kami percaya, tapi kami sekarang sudah yakin bahwa ini merupakan konspirasi untuk merusak citra pangeran dan putri." kata akuwu
Tak berapa lama Pasopati kembali dan bergabung bersama kami.
"Gimana, So?" tanyaku
"Sudah beres, tenang saja." kata Pasopati.
Satria kemudian mengambil buntelan dari balik kamennya. Ia mengeluarkan sekantong mata uang mas ma dan mata uang yu.
"Kuwu, selanjutnya tolong rapikan sendiri desamu. Ini ada sedikit sebagai uang ganti rugi atas perusuh tadi." kata Satria sembari menyerahkan buntelan uang.
Akuwu kemudian membuka dan terbelalak, karena buntelan itu berisi uang yang lumayan banyak.
"Maaf tuan, siapakah tuan - tuan ini sebenarnya?" tanya akuwu
"Kenapa kau ingin tahu siapa kami, Kuwu?" tanyaku
"Hanya bangsawan dan orang kaya lah yang memiliki uang sebanyak ini." kata Kuwu
Satria kemudian mendekati Akuwu dan menceritakan siapakah sebenarnya kami. Hal ini harus diungkapkan agar kesalahpahaman selesai.
"Kuwu, kami lah orang yang terkena fitnah itu." kata Satria
Akuwu dan masyarakat terkejut.
"Maaf, apakah tuan ini pangeran Pikatan dan Putri Pramodhawarddhani?" tanya akuwu memastikan
Kami hanya mengangguk dan tersenyum
"Benar Kuwu, aku pangeran Pikatan, ini sang putri mahkota Medang, dan itu namanya putri Widasari, ini pangeran Pasopati." kata Satria memperkenalkan kami semua.
Begitu mendengar perkataan Satria. Akuwu dan semua masyarakat desa kemudian menyembah kami
"Ampun paduka, maafkan kami tidak mengenali paduka pangeran dan paduka putri." kata Akuwu sambil menangis.
"Bangunlah Kuwu, justru kami yang harus terimakasih karena desa ini, kami dapat menumpas perusuh." kata Satria.
Setelah tahu identitas kami, masyarakat desa menyuguhkan kami makanan dan minuman. Kami juga meminta pendapat kepada masyarakat sebaiknya apa tindakan kerajaan untuk membantu masyarakat desa. Kami sedang mengumpulkan masukan dari masyarakat desa untuk proses pemerintahan kami selanjutnya. Kami bertekad akan mendengarkan keluh kesah dari masyarakat dan memperhatikan mereka.
"Kuwu, kami pamit akan kembali ke kota raja." kata Pasopati
Perpisahan dengan masyarakat desa sangat mengharukan. Mereka sangat bersyukur karena desa mereka dikunjungi oleh pangeran.
**
Episode kali ini cukup ya, terimakasih atas waktunya.
with love
__ADS_1
Citralekha